Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Epiaode 166. Puasa Sebentar Lagi


__ADS_3

Malam yang sungguh melelahkan bagi para anggota Syubban, mereka sangat ingin sekali pulang kerumah mereka tetapi waktu belum tepat mengingat anggota Syubban yang masih harus mengunjungi beberapa tempat yang telah mengundang mereka.


Setelah berpamitan kepada orangtua masing-masing seluruh anggota Syubban kembali ke pondok pesantren walau dengan perasaan berat tapi mereka harus bisa tegar demi meneruskan impian mereka.


Sampailah pada pesantren, suasana ponpes tidak berubah masih gelap dan suram hanya lampu Masjid dan beberapa kamar yang menyala menerangi pesantren.


Mereka semua berkumpul berbaris di dalam Masjid sementara Hafsah duduk didalam mobil menunggu.


Mufti yang melihat Hafsah tidak ikut masuk mengambil kesempatan dan segera mendekati Hafsah setelah semuanya masuk ke dalam Maajid.


" Heh!" Mufti ia mengejutkan Hafsah dengan suaranya yang begitu keras membuat Hafsah menghela nafasnya keras dan memegang dahinya.


" Huft, ngagetin aja sih, kamu! Aku kira siapa," ucap Hafsah dengan ekspresi sangat kesal dari kaca mobilnya yang terbuka cukup banyak.


" Gitu aja kaget, makanya jangan ngelamun," Mufti.


" Siapa juga yang ngelamun? Kamu gak lihat dari tadi aku megang hape?" Hafsah dengan sentakan.


" Ohh, lagi balasin chat pacarnya, ya? " tanya Mufti.


Hafsah tertawa kecil setelah mendengar ucapan Mufti yang tiba-tiba terlintas.


" Apaan, sih? Aku gak punya pacar, ya. Aku lagi lihat Syubban di chanel terbarunya aja, " Hafsah.


" Hah? Masa, sih cewek secantik kamu gak punya pacar? " Mufti ia berkata tanpa sadar membuat Hafsah kaget dan terdiam menatap Mufti, tubuh mereka seolah kaku saling pandang.


" Apa kamu bilang? Aku gak salah dengar, kan? Kamu bilang aku.. " Hafsah.


" Iya, maksud gue, masa lo gak punya pacar? Gitu aja kok, gak usah gr ya, " Mufti ia sempat mengaruk lehernya terlihat jelas bahwa ia sangat gugup berada di dekat Hafsah.


" Siapa juga yang gr? Aku emang gak mau pacaran, karena pacaran itu haram, dosa tau. Mending ta'aruf aja, terus langsung nikah deh, sama cowok yang sholeh, baik, ganteng dan nerima aku apa adanya, aamiin, ya Allah, " Hafsah ia mengusap wajahnya sangat mengharapkan lelaki impiannya.


Mufti hanya bisa terdiam sambil tersenyum terus melihat Hafsah yang juga menyematkan senyum manis kepada dirinya


...****...


" Puasa sebentar lagi, saya akan usahakan kalau kalian sudah bisa pulang minimal sehari sebelum puasa, " Kyai.


" Maaf Kyai, saya juga kasihan melihat anak-anak Syubban, Insya Allah sehari sebelum puasa saya akan urus kepulangan anak-anak Syubban. Kalian yang sabar, ya." Syafiq.


Mendengar hal itu membuat semua anggota Syubban senang dan mengucap Alhamdulillah sambil mengusap wajah mereka. Ustadz dan Kyai juga ikut senang dan tersenyum melihat para anggota Syubban yang bahagia.


" Iya, tapi Azmi tadi sudah video call, sudah senang kan, Azmi?" Ustadz Mustafa.


" Alhamdulillah, sudah Ustadz, " Azmi.

__ADS_1


" Kalian sekarang istirahat dulu, karena besok kita harus mengunjungi banyak tempat yang sudah mengundang kalian, betul ya, Syafiq? " Hamdi.


" Benar, jaga stamina kalian untuk besok, " jawab Syafiq.


" Saya dan Ustadz Mustafa juga akan diam disini menjaga kalian, malam juga semakin larut ini, " Kyai.


" Mufti mana ya?" tanya Ustadz Mustafa matanya mencari-cari keberadaan Mufti.


Kyai, Hamdi, Syafiq dan anggota Syubban juga hanya menggeleng tidak tau keberadaan Mufti.


" Diluar mungkin, Ustadz. " jawab Firman.


" Wah, pasti lagi sama Hafsah tuh anak, maaf Kyai. Saya harus menghampiri Mufti dulu, " Ustadz Mustafa.


Kyai tersenyum dan mengangguk membalas Ustadz Mustafa.


Benar saja, Mufti dan Hafsah terlihat sangat asyik berbincang terkadang tawa terlukis diantara keduanya tatapan mata jelas terpancar tajam.


" Astagfirullah, keenakan kamu ya, Muf. Berduaan disini, bukan mukhrim! " Ustadz Mustafa.


" Maaf Ustadz, dia nih yang nyamperin saya duluan, " Hafsah.


" Yee, lo juga mau, kan? Ditemenin juga. " Mufti sekilas ia memandang ke arah Hafsah dan kembali menatap Ustadz Mustafa.


" Emmmm, enggaklah, Kak. Oke, aku mau nemenin mereka, " Mufti.


" Emang besok Syubban mau kemana?" tanya Hafsah.


" Kita dapat undangan ke Bandung, udah banyak undangan juga ke berbagai daerah." Ustadz Mustafa.


" Alhamdulillah, heh, Muf! Kamu sekarang lihat, kan? Tim Syubbanul Muslimin udah terkenal mereka akan selalu dikenal sebagai tim hadroh dari pesantren yang berhasil buat masyarakat mau sholawat. Hebat, kan? Masya Allah, " Hafsah wajahnya terlihat sangat berseri sangat bangga kepada anggota Syubban.


" Iya, lo menang, ternyata lo hebat juga ya, bisa nebak kesuksesan seseorang, " Mufti.


" Hush, gak boleh bilang gitu. Mereka sukses karena doa dan kerja keras mereka, " Hafsah.


" Dengar tuh, Muf. Kalau kamu pengen sukses kaya mereka rajin-rajin berdoa, ibadah dan ikhtiar, Insya Allah kamu bisa kaya mereka, " Ustadz Mustafa.


" Aamiin," Hafsah.


" Gimana mau sukses, teman-teman aku aja udah ninggalin, " Mufti.


Ustadz Mustafa dan Hafsah seketika terdiam menatap dalam Mufti yang seketika teringat kembali kepada teman-teman yang telah meninggalkannya.


" Assalamualaikum, " ucap Hamdi dan Syafiq melangkah menghampiri Ustadz, Mufti dan Hafsah.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, " jawab mereka menoleh kearah Hamdi dan Syafiq.


" Kita pamit dulu, Ustadz. Besok pagi-pagi sekali kita akan datang kesini, " Syafiq.


" Baik, saya tunggu besok, " Ustadz Mustafa.


" Mari Ustadz, Mufti. Assalamualaikum, " Hamdi diikuti Hafsah dan Syafiq yang juga mengucap salam.


" Wa'alaikumsalam, hati-hati, " Ustadz Mustafa.


Mobil mereka mulai berjalan sampai keluar pesantren dan tidak terlihat.


" Kalian sekarang tidur, udah malam banget ini, " Kyai kepada anggota Syubban yang memang sudah terlihat sangat kelelahan.


" Baik Kyai, " jawab semua anggota Syubban.


" Mas Mufti, ayo turu, " ajak Azmi kepada Mufti.


" Ya udah Kak, Mufti ke sana dulu, " ucap Mufti dengan nada lemas.


Ustadz Mustafa hanya bisa mengangguk memandang Mufti yang terus berjalan bersama Azmi menuju kamar untuk segera beristirahat.


Tidak langsung tidur para anggota Syubban yang melangkah dengan pelan masih asyik berbincang dengan sangat heboh kecuali Mufti yang masih mengingat teman-temannya.


" Kamu kenapa, Muf? Dari tadi ditekuk gitu mukanya, " tanya Ali.


" Enggak, gue ngatuk aja, " Mufti.


" Kenapa, ya? Aku kalau ngelihat Mufti keingat terus sama Akmal, " Firman membuat semuanya terhenti melangkah begitu juga dengan Mufti yang menatap tajam ke arah Firman.


Mereka semua terdiam mulai sedih mengingat Akmal yang seharusnya ikut hadir dalam kesuksesan ini.


" Gue ngerasa bersalah banget sama Akmal, dia orang yang baik, " Mufti.


Semuanya masih terdiam dengan ekspresi sedih terutama Ali yang mengingat detik-detik Akmal menghembuskan nafas terakhirnya begitu juga dengan Azmi yang ingat betul ketika Akmal sudah mengeluarkan banyak darah dalam rangkulannya.


" Kita berdoa aja yang terbaik buat Akmal, semoga kita bisa bertemu di surga nanti, " Ahkam dengan suara pelan ia mencoba membuat teman-temannya tidak bersedih.


" Aamiin Ya Allah, " Azmi bersama anggota Syubban yang lain sambil mengusap wajah mereka.


" Wes, rek. Kita turu ae aku ngantuk banget," ujar Udin.


Mereka mulai melangkah menuju kamar mereka dengan langkah pelan untuk beristirahat menyusuri kamar-kamar santri yang gelap.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2