
Pada pagi yang cerah tapi tidak dengan Azmi yang duduk di kasurnya sambil melamun, wajahnya tampak sedih walau ia sudah mandi dan rambutnya yang terlihat basah dengan acak-acakan tanpa terpasang peci.
" Assalamualaikum," ucap Ahkam, Aban dan Muhklis yang satu-persatu masuk dari dalam kamar, wajah-wajah mereka terlihat sangat segar.
Azmi yang masih melamun tidak mendengarkan dan tidak menjawab salam yang diucapkan oleh ketiga temannya.
Ahkam bingung memandang Azmi, Aban dan Muhklis saling pandang dan saling bertanya dengan sikap Azmi yang seperti ini.
" Azmi, Mi, Azmi!" teriak Ahkam membuat Azmi kaget dan seketika menoleh ke arah Ahkam.
" Mas Ahkam, kalian kapan datang?" tanya Azmi dengan wajah datar.
Ahkam menggelengkan kepalanya atas sikap Azmi dan melangkah mendekati Azmi begitu juga yang dilakukan Aban dan Muhklis.
" Azmi, kamu kenapa? Salam kita gak dijawab, daritadi ngelamunin apa?" tanya Ahkam.
" Iya, Mi? Kyai, bilang apa semalam? " sambung Muhklis.
" Apa kamu masih kepikiran sama Aisyah? Emang dia ada ngomong sesuatu yang bikin kamu kepikiran kaya gini?" Aban.
Azmi memalingkan wajahnya tidak langsung menjawab semua pertanyaan dari teman-temannya. Azmi menurunkan kedua kakinya untuk bersila yang tadi ia tekuk sampai kedadanya lalu mulai memandang ke arah Ahkam, Aban dan Muhklis yang masih menunggu jawaban dari Azmi. Tatapan mata Azmi sungguh tajam kepada ketiga temannya yang masih mengawasi dirinya.
" Aku gak papa kok, cuma lagi bingung, kacau dan gak bisa berpikir dengan jernih." jawab Azmi.
" Kenapa bingung? " tanya Ahkam.
" Penyebab kamu kacau apa? " tambah Ahkam.
" Nah, kok gak bisa berpikir dengan jernih tho, Mi? Ada apa?" tanya Muhklis.
Pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya membuat Azmi semakin bingung ia mengacak-ngacak rambutnya dan kembali merapikannya dengan cepat lalu menegakkan tubuhnya.
" Wes, lah. Gak ruh, aku." keluh Azmi.
Ahkam mendekati Azmi dan duduk di kasur Azmi tepat dihadapan Azmi. Sementara Aban dan Muhklis ikut duduk tapi dikasur sebelah. Mereka semua khawatir dengan keadaan Azmi.
" Ya sudah, Mi. Apapun masalahnya, kalau kamu gak mau cerita sama kami semua. Cerita sama Allah, minta solusinya sama Allah karena Dialah yang maha mengetahui atas segalanya tentang kita, " Ahkam.
" Allah yang paling dekat sama kita, Mi. Jadi, luapkan semua masalah kamu sama Allah, ambil wudhu, sholat, terus berdoa." Aban.
" Tenang aja, Mi. Aku tau kamu orang yang sabar, kuat menghadapi semua masalah kamu. Ingat, Allah gak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya." Muhklis.
Semuanya mengangguk termasuk Azmi ia mulai lega atas teman-teman yang selalu bisa membuatnya sadar dan tenang menghadapi semuanya.
" Nggih, terima kasih semuanya. Kalian udah ingatin aku. Sungguh aku beruntung banget punya teman-teman yang selalu mengingatkan dijalan Allah, " Azmi.
__ADS_1
" Iya, Mi. Udah kewajiban kita semua, kan." Muhklis.
" Kamu gak usah pusing-pusing lagi, Mi. Apalagi melamun kaya gitu, kasihan aku lihatnya." Aban yang membuat Azmi tertawa kecil memandang ke arahnya
Aban juga ikut tersenyum diikuti Ahkam juga Muhklis yang melukis senyuman diwajah mereka membuat suasana hari ini kembali cerah ikut bergembira.
" Assalamualaikum, " Ali berdiri didepan pintu kamar Azmi bersama tiga temannya.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya.
" Maaf kalau ganggu ya, para akhi. Azmi, kamu dipanggil, Kyai." Ali seketika wajahnya sangat serius layaknya ketua osmad saat mengucapkan amanah yang harus disampaikan kepada Azmi.
" Astagfirullah, Lailahillallah! Iya, aku sampai lupa. Iya, mas Ali. Terima kasih udah kasih tau, aku akan segera kesana." Azmi wajahnya tiba-tiba panik karena baru ingat kalau ia harus bicara kembali kepada Kyai.
" Ya sudah sana, cepat." Muhklis memandang Azmi yang tengah merapikan rambutnya dicermin dan hendak memasang peci.
" Pergi dulu, assalamualaikum, " ucap Azmi ia sungguh sangat terburu-buru.
" Wa'alaikumussalam, " jawab semuanya.
" Hati-hati, Mi!" teriak Ahkam.
" Azmi kenapa dipanggil lagi sama Kyai?" tanya Aban.
Aban hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari Ahkam.
Azmi melangkah dengan mempercepat langkah kakinya sembari membenarkan pecinya.
" Assalamualaikum, " ucap Azmi berdiri didepan pintu kamar Kyai.
" Wa'alaikumussalam warahamtullah, " jawab semuanya.
" Masuk, Mi!" ucap Syafiq yang ada disana, Hamdi dan Ustadz Mustafa juga ada disana tapi Kyai tidak terlihat disana.
Mata Azmi mencari dimana Kyai.
" Kyai, masih bersih-bersih. Duduk aja sini," Ustadz Mustafa.
Azmi menoleh ke arah Ustadz Mustafa yang bicara kepadanya ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Iya, Ustadz." Azmi mulai melangkah untuk duduk disebelah Hamdi yang terlihat serius dengan handphonennya.
" Assalamualaikum," ucap Kyai yang sudah datang dan mulai duduk dikursinya.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya. Ketika melihat Kyai datang serentak mereka berdiri dan menundukkan kepala mereka termasuk Azmi.
__ADS_1
" Sana, Mi." bisik Hamdi mendekatkan wajahnya kepada Azmi.
Azmi mengangguk dan perlahan ia melangkah lalu duduk dihadapan Kyai.
Hamdi, Syafiq, dan Ustadz Mustafa kembali duduk di kasur ikut mendengarkan Kyai yang ingin bucara dengan Azmi.
" Bagaimana Azmi? Sudah tenang, masih ada beban yang kamu pikirkan? " tanya Kyai.
Azmi tidak langsung menjawab matanya turun kebawah dan ekspresinya mulai tegang.
" Alhamdulillah, tidak Kyai, " jawab Azmi berusaha bicara dengan tegas.
" Nanti malam terakhir kita ada disini, jadi saya berniat untuk silaturrahmi ke rumah kamu, boleh, Azmi? " Kyai.
" Tentu boleh, Kyai. Nanti saya kabari Ummi sama Aban, mereka pasti senang kalau Kyai berkunjung kerumah kami, " Azmi.
Kyai tersenyum dan mengangguk atas jawaban Azmi yang begitu semangat.
Tiba-tiba notifikasi dari handphone Hamdi terdengar keras mengagetkan Hamdi. Ia segera melihat handphonenya untuk mengecek apa yang terjadi.
Matanya seketika membelalak lebar ia sangat kaget ketika melihat berita buruk tentang Azmi dimana sudah banyak netizen yang berkomentar.
" Innalilahi, " Hamdi.
" Siapa yang meninggal, Di?" tanya Syafiq dengan wajahnya yang ikut kaget atas ucapan Hamdi.
Tidak hanya Syafiq, Kyai, Ustadz Mustafa dan Azmi ikut kaget dan menoleh ke arah Hamdi, ekspresi mereka terlihat begitu penasaran dengan apa yang Hamdi lihat.
" Bukan, gak ada yang meninggal." Hamdi.
" Terus kok, innalillah?" tanya Syafiq.
" Masalah muncul lagi buat Azmi ya, tim Syubban juga! " jelas Hamdi dengan ekspresinya yang panik menatap ke semua orang secara bergantian.
" Tenang-tenang, coba jelaskan kepada kami ada apa, Hamdi?" tanya Kyai.
Ustadz Mustafa mengangguk karena ucapan Kyai, dan mata Azmi juga Syafiq masih sangat fokus kepada Hamdi.
" Ini, Kyai. Disini ada foto kalau Azmi lagi berduaan sama cewek, gak cuma itu aja. Captionnya juga sangat buruk untuk Azmi, banyak juga yang udah komentar, " Hamdi.
" Astagfirullah, " Kyai.
Azmi seketika memalingkan wajahnya ia sangat bingung dengan apa yang terjadi.
Bersambung. ...
__ADS_1