
" Hamdi sama Syafiq belum sampai?" tanya Kyai pada Ustadz Mustafa.
" Sebentar lagi mereka sampai, ini mereka masih ada dijalan, Kyai." Ustadz Mustafa.
Kyai mengangguk pelan beberapa kali.
" Ya sudah, kalian istirahat dulu. Persiapkan diri untuk nanti malam, " Kyai.
" Baik Kyai, " ucap serentak semua anggota Syubban.
Mereka mulai melangkah satu-persatu dengan koper yang mereka bawa sampai ke kamar mereka yang sudah disiapkan.
Tidak lama kemudian Hamdi dan Syafiq melangkah bersama mereka segera mencium tangan Kyai dan berjabat tangan dengan Ustadz Mustafa.
" Anak-anak dimana, Kyai? " tanya Hamdi.
" Mereka sedang beristirahat dikamar. Sebaiknya kalian juga istirahat, " Kyai.
" Nggih, Kyai. Mari Kyai, kita istirahat dulu, " Hamdi.
Kyai mengangguk begitu juga dengan Syafiq dan Hamdi.
Kyai, Hamdi, Syafiq, Ustadz Mustafa dan semua anak-anak Syubban berbuka di Restoran yang buka untuk waktu berbuka puasa. Restoran itu diramaikan oleh mereka. Banyak juga orang yang datang hanya untuk melihat para anggota Syubban yang viral pada saat itu dari jarak dekat.
" Aku gak enak makan'e," Udin.
" Kenapa Mas? " tanya Azmi yang duduk berhadapan dengan dirinya.
" Kamu lihat sendiri iku, banyak orang yang ngelihatin kita dari tadi," Udin.
" Wes, yo, gak usah dilihat, Din. Kita kan mau buka, " Ali.
" Makan-makan cepat, ayamnya manggil-manggil lho, " Ahkam yang baru saja memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya sangat tampak jelas kalau Ahkam sangat menikmati makanannya.
" Kalian makan saja, jangan pikirkan orang yang yang lagi nontonin kalian." Kyai membuat semua anggota Syubban yang tadi berbincang ria terdiam menghormati sembari menundukkan sedikit kepalanya.
" Biasa itu, mereka semua sekedar pengen tahu, kagum sama kalian, " Syafiq.
" Iya, jangan sampai ada yang aneh-aneh aja. Semoga aman, " Hamdi.
" Amiin, buka dulu kalian sekarang," Ustadz Mustafa.
" Baik Ustadz, " jawab Udin.
Mereka semua mulai menikmati makanan enak yang sudah tersedia di meja makan untuk semua anggota Syubban.
Kehadiran anggota Syubban di Aceh memang membuat senang banyak orang mereka sungguh antusias ingin melihat tim Syubban dari dekat.
__ADS_1
Kemana anggota Syubban melangkah disitulah para cewek-cewek juga berada berbaris merekam mereka.
" Aaaa, Azmi!!!! "
" Masya Allah, ganteng banget."
" Ademnya sholehku."
" Aban!!! Manis banget duh, "
" Mas Ahkam noleh dong, "
Suara-suara itu terdengar jelas pada gendang telinga mereka para anggota Syubban yang tengah melangkah dengan coolnya tapi mereka tetap menunduk.
Syafiq dan Hamdi bertugas untuk menjaga dari belakang tentu mereka tidak ingin sampai ada kejadian buruk terjadi.
Setelah selesai menjalankan sholat taraweh para anggota Syubban sudah bersiap dengan seragam mereka yang berwarna coklat tua dengan garis-garis berwarna hitam di bagian siku dan lengan.
Mereka semua berkumpul terlihat sangat asyik berbincang sambil bercanda gurau. Tawa manis mereka tampak pada wajah-wajah adem mereka.
Apalagi Azmi yang sangat asyik membicarakan sesuatu pada sahabatnya Aban, ia juga berbicara serius kepada Ahkam dan Muhklis. Tak jarang Azmi melukis tawa kecilnya pada mereka begitu juga dengan yang di ajak bicara oleh Azmi.
" Ayo, anak-anak. Ustadz sama Kyai sudah dahulu jalan bertemu dengan orang penting yang mengundang kita. " Hamdi.
" Oh baik, Mas. Ayo kita berangkat, " ajak Azmi.
" Bismillah. yo rek, aku takut ngantuk habis makan soalnya, " Udin.
" Benar, mas. Contohnya kaya ujian kitab waktu itu, " Aban.
" Ya sudah ayo, berangkat." ajak Syafiq.
" Wes rek, ayo jalan, " ajak Ahkam.
Mereka semua segera melangkah bersama menuju lapangan dimana sudah ada banyak orang yang menunggu dan sudah tidak sabar melihat mereka tampil.
Ribuan orang memenuhi lapangan yang dimeriahkan oleh tim Syubban tepatnya dari selesai sholat tarawih sampai tepat jam 12. Sorak-sorak gema sholawat terdengar sampai ke jalan, para vocal berusaha memberikan suara terbaik mereka tetap semangat agar keseruan malam itu bisa konsisten sampai akhir acara. Tidak mau kalah, tim hadroh juga tetap bersemangat menabuh rebana mereka secara beriringan.
Semua orang sungguh menampakkan betapa semangatnya mereka. Serangkaian acara saat itu memang sungguh meriah apalagi hadirnya tim Syubban yang sudah naik daun pada puncak yang tinggi, dikenal banyak orang, dikagumi banyak orang, disukai dan ditunggu-tunggu oleh ribuan orang itulah yang kini mereka alami walau sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran mereka kalau mereka akan se-viral dan se-terkenal sekarang.
Malam semakin larut dan selesailah acara mereka saat itu, ada beberapa orang yang bertugas membereskan tempat. Banyak juga polisi yang siap menjaga kemanan dan mengatur disiplinnya penonton agar tidak timbul bahaya mengingat saking histerisnya mereka.
" Terima kasih kalian sudah mau datang, saya sangat bangga sekaligus senang sekali." seorang bapak yang telah mengundang mereka ke acara yang sungguh meriah itu.
" Sama-sama, pak." jawab Kyai dengan anggukan dan tersenyum kepada bapak itu.
Bapak itu memberikan sebuah hadiah dan amplop untuk satu-persatu anggota Syubban yang sudah berhasil membuat ribuan orang mau datang ke acara ini.
__ADS_1
Acara telah tuntas, kini anggota Syubban sedang bersantai mengistirahatkan tubuh mereka. Ada yang saling bicara penuh tawa dan sungguh ceria, ada yang makan, ada yang tiduran, ada yang sangat fokus pada layar handphonenya. Berbagai hal dilakukan oleh anak-anak Syubban yang sudah tampil kurang lebih 4-5 jam mereka terus menggemakan sholawat. Saat ini di satu kamar yang luas tentu cukup untuk mereka para anggota Syubban itu berkumpul.
Azmi meminum sebotol air dengan sangat lahap.
" Glek, glek, glek..."
Itulah suara yang dihasilkan Azmi ketika meminum airnya dengan sangat lahap tanpa henti hingga ia selesai air botol yang tadinya penuh tinggal setengah bahkan kurang.
" Haus sekali nak? " ucap Ahkam yang sedari tadi duduk dan melihat Azmi dengan wajah yang fokus.
Azmi menoleh ke arah Ahkam sambil tertawa kecil.
" Iya, mas. Dari tadi aku teriak-teriak di acara sampai sakit tenggorokanku, " Azmi.
" Sopo seng suruh? Teriak cek kencenge, " Muhklis ikut menyambung ia duduk disamping Ahkam.
" Akukan membuat suasana menjadi meriah, jadi semua orang itu semangat buat sholawat." jawab Azmi.
" Mereka semua itu ngelihat kamu aja udah semangat, Azmi, Azmi!! Semangat banget teriaknya, " Aban yang sedari tadi bermain handphone juga mulai berbicara dengan gaya meniru bagaimana para jama'ah wanita tadi yang semangat meneriaki Azmi.
" Ya, kalau Azmi gak dengar berarti ada sedikit gangguan pada telinganya. Wong suaranya kenceng banget gitu'e. Aaa... Azmi, Azmi!! Sampai sekarang kaya masih terngiang ditelinga." Muhklis ia juga berteriak layaknya jama'ah wanita yang tadi begitu histeris dengan Azmi membuat semuanya tertawa begitu juga dengan Azmi yang sedari tadi melihat kelakuan Muhklis.
" Aduh, kalian ini. Jangan ngikutin gayanya cewek-cewek tadi, geli aku." Ahkam terus tertawa tak bisa menahan.
" Astagfirullah! Ayo turu ae, daripada bahas sesuatu yang tidak berfaedah," Azmi sambil bangun dan melangkah menuju tempat tidurnya.
" Biasa, itu adalah definisi orang yang merendah, " Ahkam.
" Bukan merendah, itu sedang malu-malu ada yang cantik tadi katanya Azmi
" Mas, yang jilbab merah cantik'e." Ucap Muhklis.
" Gak, gak ada bilang gitu aku. Bang Muhklis sendiri tadi yang bilang terus minta pendapat aku, " Azmi langsung bangun kembali menatap teman-temannya.
" Iya, tapi kamu ngangguk, kan? " Muhklis tambah memojokkan Azmi.
Membuat Azmi seketika menutupi wajahnya dengan bantal.
" Waduh, bahaya ini guys, " Ahkam.
" Ngaku, Mi. Hayo, lo." Aban.
" Cukup, saya tidak mau mendengarkan kalian lagi, " ucap Azmi seketika ia menegakkan tubuhnya dan menyingkirikan bantal dari wajahnya dengan tangan yang seperti pak polisi yang sedang menilang orang lalu Azmi kembali merebahkan tubuhnya memeluk erat bantal gulingnya.
" Kenapa kamu, Mi? " Aban sambil tertawa memandang teman-temannya.
" Sudahlah mungkin dia lelah, " Ahkam tertawa kecil melihat Azm.
__ADS_1
Aban dan juga Muhklis tertawa kecil menatap Azmi yang sudah hendak tidur anteng.
Bersambung....