Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 80. Uang Dari Kyai


__ADS_3

Pelajaran mengaji kitab baru saja selesai, Azmi dan Aban hendak pergi ke kantor atas perintah ustadz.


" Mi, mau kemana?." tanya Ahkam yang baru saja datang dan melihat Azmi dan Aban ingin pergi.


" Ini mas, aku sama Aban mau ke kantor ustadz, " jawab Azmi yang sudah berdiri di depan pintu dengan Aban disampingnya.


" Oooo, karena lomba itu ya, " Ahkam.


" Iya mas," Azmi.


" Ya udah buruan sana, " Ahkam.


" Assalamualaikum. " ucap Azmi dan Aban.


" Wa'alaikumsalam. " Ahkam kembali melangkah kedalam kamar.


Azmi dan Aban berjalan bersama menuju kantor mereka berjalan sembari asyik berbincang.


" Azmi, Aban. " teriak Farist segera menghampiri Azmi dan Aban yang juga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Farist.


" Tunggu, kita jalan bareng." Farist.


" Rist, ngapain sih?, tinggal jalan aja pakek ngajak bareng sama nih 2 anak. " Dimas.


" Apa salahnya si Dimas, lagian kalau rame-rame kan seru. " Farist.


" Ayo mas, " ajak Azmi.


" Ayo, Dimas, ayo. " ajak Farist kepada Dimas yang masih diam memasang wajah malasnya enggan memandang Azmi dan Aban.


" Ayo, " ajak Farist kembali sembari menarik tangan Dimas agar mau melangkah bersamanya.


Sampailah mereka di depan kantor terlihat sudah ada 4 santri yang sudah datang dan duduk bersama di kursi.


" Assalamualaikum. " ucap Azmi, Aban, Farist bersamaan dan Dimas lemas.


" Iya masuk, " ustadz Abdullah.


Mereka segera masuk dan duduk bersebelahan dengan ke 4 santri yang sudah datang.


" Tunggu dulu ya, " ustadz Abdullah.


" Iya ustadz. " ucap semuanya.


Telelelelet.... Telelelet.... Telelelet...


Suara telepon pesantren berbunyi dan ustadz Ridwan yang baru datang segera mengangkatnya.


" Iya assalamualaikum, dengan saya ustadz Ridwan dari pesantren Nurul Qadim. " ucap ustadz Ridwan dengan sangat semangat membuat ustadz Abdullah dan para santri tertawa kecil melihat itu.


" Wa'alailumsalam, iya ustadz saya dengan bapak Shomat yang tadi di Masjid. " pak Shomat


" Oh iya, iya, ada apa ya pak?. " ustadz Ridwan.


" Saya mau tanya, bisa tidak tim hadroh kesini 2 hari lagi. " pak Shomat.


" 2 hari lagi, sebentar ya pak, saya tanya dulu. " ustadz Ridwan.


" Baik ustadz, " pak Shomat.


" Mas, " ucap ustadz Ridwan memanggil ustadz Abdullah yang terlihat sedang menulis.


" Iya, " ustadz Abdullah.


" Ini tim hadroh diundang 2 hari lagi di Masjid yang tadi. " ustadz Ridwan.


" Hmmm, ini ada anak-anak tim hadroh. " ustadz Abdullah.

__ADS_1


Ustadz Ridwan menoleh ke arah Azmi dan Aban.


" Gimana Mi, Ban?. " ustadz Ridwan.


" Saya gak tau ustadz, saya takut salah. " Azmi.


" Iya, mereka pastikan takut kalau disuruh mutusin. " ustadz Ridwan.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. " Kyai yang baru datang.


Serentak para santri segera berdiri dan dengan hormat dan santun satu persatu dari mereka mencium tangan Kyai begitu juga dengan ustadz Abdullah yang segera berdiri dan menghentikan tugasnya.


" Barakallah, " Kyai.


" Gimana pak ustadz?, " terdengar suara pak Shomat yang masih menunggu.


" Oh iya pak, tunggu sebentar ya, saya tanya Kyai. " ustadz Ridwan.


" Iya ,baik, " pak Shomat.


Sebelum berbicara ustadz Ridwan mencium tangan Kyai.


" Ada apa Wan?, " tanya Kyai.


" Ini Kyai, tim hadroh dapat undangan 2 hari lagi di Masjid Al- Qadir." ustadz Ridwan.


" Ya sudah, langsung terima saja. " Kyai.


" Baik Kyai. " ustadz Ridwan kembali berbicara lewat telepon pesantren.


" Maaf pak, jadi nunggu lama, tim hadroh akan hadir dalam acara tersebut. " ustadz Ridwan.


" Alhamdulillah, baik ustadz, 2 hari lagi ba'da maghrib, bisa kan. " pak Shomat.


Sebelum menjawab ustadz Ridwan menoleh ke arah Kyai yang sudah duduk dibangkunya tanpa berbicara Kyai menganggukkan kepalanya.


" Bisa pak, bisa. " ustadz Ridwan.


" Baik pak, " ustadz Ridwan.


" Kalau begitu saya tutup, assalamualaikum. " pak Shomat.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. " ustadz Ridwan menutup teleponnya.


Ustadz Ridwan melangkah dan segera duduk di samping ustadz Ridwan untuk ikut dalam pembicaraan yang akan di sempaikan Kyai.


" Baik Kyai, silakan ." ustadz Ridwan.


" Iya, ini sudah semua datang yang ikut lomba tadi?. " tanya Kyai menoleh ke arah Azmi yang dekat duduknya dengan Kyai.


Azmi kembali menoleh satu-persatu temannya sebelum menjawab.


" Sudah Kyai. " jawab Azmi.


" Alhamdulillah, yang dapat juara, siapa saja?, coba angkat tangan. " Kyai.


Azmi, Aban, Farist dan Dimas mulai mengangkat tangan mereka atas perintah Kyai.


" Baik, Azmi kamu lomba apa nak?,dan dapat juara berapa?. " tanya Kyai kepada Azmi.


" Saya ikut lomba dakwah Kyai dan alhamdulillah saya dapat juara 1." Azmi.


"Masya Allah, selanjutnya Aban, " Kyai menunjuk Aban.


" Saya juara 1 dari lomba tartil Kyai. " ucap Aban.


" Alhamdulillah, tartil ya, anaknya ustadz Fathur ,Farist, kamu dapat juara berapa nak?. " tanya Kyai kepada Farist.

__ADS_1


" Alhamdulillah, saya dapat juara 1 Kyai, dari lomba..... Lomba... " Farist yang lupa karena gugup dipandang oleh Kyai.


" Lomba puisi arab mas, " bisik Azmi yang ada disampingnya.


" Oh ya, dari lomba puisi arab Kyai, " Farist.


" Bagus, Masya Allah, kalau Dimas ya, kamu dapat juara berapa nak?. " tanya Kyai kepada Dimas.


" Juara 2 Kyai dari lomba kaligrafi. " ucap Dimas dengan suara yang tegas.


" Alhamdulillah, yang tidak menang coba satu-satu bilang dari lomba apa saja?." Kyai kepada 4 santri yang tidak menang.


Satu-persatu dari mereka mulai menjawab pertanyaan dari Kyai.


" Baik, baik, untuk yang menang saya ingatkan harus selalu rendah hati dan yang tidak menang harus selalu semangat agar bisa menjadi yang lebih baik, ini saya akan memberi kalian uang dan ini isinya sama semua baik yang menang maupun tidak menang, ayo satu-satu, dari Azmi ambil amplopnya kesini. " Kyai.


" Baik Kyai, " Azmi yang segera bangun dan berdiri menerima amplop yang diberikan Kyai dengan kedua tangannya.


" Syukron Kyai, " Azmi.


" Sama-sama, " Kyai.


Aban juga mulai berdiri dan mengambil amplop dan semuanya dapat bagian tidak lupa mereka mengucapkan terimakasih pada Kyai.


" Saya minta, untuk kalian semua tetap semangat dalam menuntut ilmu tetap istiqamah dan ingat apa yang harus dilakukan setelah sekolah?. " tanya Kyai kepada semuanya.


" Muthala'ah. " jawab semua santri.


" Masya Allah, bagus, terus semangat ya nak, buat orang tua kalian bangga, dan jangan pamerkan uang yang saya beri kepada yang lain, mengerti. " Kyai.


" Mengerti Kyai. " ucap semua santri.


" Yang dari Syubban, Aban sama Azmi nanti bilang sama anggota Syubban ya, kalau 2 hari lagi mereka dapat undangan, nanti saya yang hubungi ustadz Mustafa untuk melatih kalian besok. " Kyai.


" Baik Kyai, " ucap Azmi dan Aban.


" Maaf Kyai, kalau mas Akmal, bagaimana?, mas Akmal juga ikut, saya takut terjadi apa-apa Kyai. " Azmi.


" Hmmm, kita lihat saja kondisinya besok, " Kyai.


" Baik Kyai, " Azmi.


" Itu saja yang saya sampaikan,silahkan istirahat dikamar masing-masing jangan dikamar teman. " Kyai.


Para santri tertawa kecil mendengar ucapan Kyai. Mereka mulai bangun dan menyalam tangan Kyai.


" Assalamualaikum. " ucap semua santri.


" Wa'alaikumsalam. " jawab Kyai, ustadz Abdullah dan ustadz Ridwan.


Azmi, Aban, Farist dan Dimas berjalan bersama menuju kamar mereka yang berdekatan.


" Eh Mi, emang mas Akmal itu sakit apa sih?. " tanya Farist.


" Sakit.... Pne...Pneoumonia, itu pemyakit yang sangat berbahaya mas, " Azmi.


" Kasihan ya mas Akmal, semoga dia cepat sembuh dari penyakitnya." Farist.


" Aamiin. " Azmi dan Aban.


Tanpa mereka sadari Akmal yang ingin menghampiri Ahkam dan sudah berdiri di depan kamar Azmi mendengar semua itu, Akmal tertunduk dan segera pergi karena kaget dengan apa yang ia dengar.


" Ya udah mas, aku sama Aban ke kamar. " Azmi.


" Iya, sampai ketemu besok. " Farist.


" Assalamualaikum, " Azmi dan Aban.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam, ayo Dim. " Farist mengajak Dimas untuk masuk ke kamar mereka.


Bersambung....


__ADS_2