Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 161. Bukan Mufti Yang Dulu.


__ADS_3

Mufti yang sedari tadi tertunduk mengangkat kepalanya menatap kearah Ustadz Mustafa untuk menjawab pertanyaan dari Kakaknya.


" Mereka teman-teman Mufti, Kak. Dari awal mereka semua udah gak setuju kalau Mufti jujur kepada semua masyarakat dan sekarang mereka pasti marah banget sama Mufti mereka bisa melakukan apapun termasuk sama anggota Syubbanul Muslimin, " Mufti mengatakan semuanya dengan nada pelan.


" Astagfirullah, jadi itu teman-teman Band kamu, Muf? Kakak minta sama kamu selesaikan masalah ini, buat mereka mengerti kalau mereka semua salah. Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan, paham?" Ustadz Mustafa setelah selesai bicara ia menyentuh dahinya terlihat sangat pusing dengan masalah yang terus datang.


Mufti mengangguk dengan rasa penuh bersalah tidak tega melihat kondisi lelah Kakaknya.


" Iya, Kak. Nanti aku coba, " jawab Mufti.


" Sudah Mustafa, kamu jangan menyalahkan Mufti tentang masalah ini karena dia sudah mengambil keputusan yang benar mungkin butuh waktu agar teman-teman Mufti mengerti kalau mereka salah, " Kyai.


Ustadz Mustafa terdiam mengangguk setelah mendengar ucapan Kyai.


" Saya pamit pulang Kyai, assalamualaikum," ucap Ustadz Mustafa menyalam tangan Kyai ia pergi begitu saja tanpa mengajak Mufti. Ustadz Mustafa masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya.


Kyai, anggota Syubban dan Mufti hanya bisa memandang mobil Ustadz Mustafa yang terus berjalan sampai ke luar pesantren.


Mufti menghela nafasnya dan kembali menunduk ia bingung harus apa ia sekarang.


" Ustadz Mustafa mungkin capek, kemarin acaranya kan sampai malam, " ucap pak sopir.


" Kalian mau ikut saya, atau disini saja, atau kalian sudah mau pulang? Pasti kalian sudah sangat rindu sama orangtua kalian." Kyai.


Baru saja Udin menjawab tetapi Ahkam mendahuluinya.


" Kita tinggal di pondok dulu, Kyai. Sampai masalah ini selesai, " Ahkam.


Kyai mengangguk pelan beberapa kali.


" Baiklah, kalau itu mau kalian. Nanti saya akan kesini lagi, Mufti kamu harus sabar dan minta pertolongan kepada Allah agar teman-teman kamu bisa kembali mau berteman seperti dulu lagi, " Kyai.


" Baik Kyai, " Mufti.


" Saya pamit dulu anak-anak, assalamualaikum, ayo, pak." Kyai.


" Iya Kyai, baik-baik disini kalian, assalamualaikum, " tambah pak sopir.


" Pasti pak, wa'alaikumsalam, " Ahkam diikuti yang lain menjawab salam.

__ADS_1


Setelah Kyai pergi bersama pak sopir kini hanya tinggal para anggota Syubban dan juga Mufti yang ada di pesantren. Mereka semua dengan wajah melas tidak seperti tadi yang mulanya bahagia.


" Mas Ahkam, kenapa mas bilang kita gak pulang sebelum masalah ini selesai? Aku kangen banget sama ibu dan bapakku, " keluh Udin.


" Kita gak bisa pulang kalau masalah kita belum selesai itu kan moto tim kita, gak ingat? " Ahkam.


" Tapi ini bukan masalah kita, ini masalahnya Mufti sama teman-temannya, " Firman.


" Hushhh! Jangan ngomong gitu ada Mufti," tegur Ali menepuk pundak Firman.


" Masalah mas Mufti ini masalah kita juga, mas. Sekarang mas Mufti udah jadi teman kita masa kita gak mau bantu dia, Ustadz Mustafa udah marah banget sama mas Mufti terus siapa yang mau dukung dia kalau bukan kita? " Azmi.


" Lagian teman-teman mas Mufti kaya gini karena mas Mufti nyelamatin tim kita, ya kan mas? " tambah Aban.


" Setuju, tuh masa Azmi sama Aban lebih ngerti daripada kalian yang udah gede ini," Ahkam.


" Tapi kalau dia gak buat video itu, masalah gak akan terjadi sama kita juga sana Bandnya dia, kan? " Muhklis.


Serentak anggota Syubban tidak bisa menjawab dan menatap tajam Muhklis dengan kompak.


" Maafin gue, ya. Gara-gara gue kalian harus ikut terlibat dalam masalah ini. Gue benar-benar nyesal karena dulu gue gak pernah dengerin omongan Kakak gue, " ucap Mufti dengan nada lirih terlihat jelas wajahnya yang merasa bersalah.


" Dahlah, nyesel sekarang itu gak ada gunanya. Kita harus bantuin Mufti, supaya teman-temannya gak marah lagi sama dia, oke teman-teman! " Ahkam.


Anggota Syubban masih tertunduk seolah mereka masih ragu terkecuali Azmi yang sedari tadi memang ingin membantu Mufti.


" Oke, mas. Aku akan bantuin, " jawab Azmi.


" Ya udah, karena sekarang Mufti juga udah berubah aku juga akan bantuin, " Muhklis.


" Iya, mas. Aban juga ikut bantu masalah mas Mufti, " Aban.


Semua anggota Syubban mulai mau untuk menolong Mufti tetapi tidak dengan Ali yang masih terdiam kaku seperti berat memikirkan sesuatu.


" Mas Ali, mas harus percaya sama mas Mufti, dia bukan mas Mufti yang dulu karena dia udah sadar dengan kesalahannya, " jelas Azmi.


" Oke, aku juga ikut bantuin, " jawab Ali walau masih dengan wajah tidak meyakinkan.


****

__ADS_1


Aisyah yang sedang duduk bersama Fitri walau sedang sibuk dengan dunia masing-masing seketika ia dikagetkan dengan Fitri yang terlihat sangat serius melihat layar handphonenya.


" Aisyah, lihat ini, " Fitri meminta Aisyah untuk melihat hapenya kepada Aisyah yang sedang menghafal Qur'annya.


" Ishh, apa sih, Fit? Kamu ngagetin aku aja tau, " Aisyah dengan wajah kesalnya.


" Makanya kamu lihat dulu, nih, " Fitri kembali menyodongkan hapenya.


Dengan rasa terpaksa Aisyah mau melihat apa yang sedang dilihat oleh Fitri ia meletakkan Qur'annya pada meja yang ada didepannya.


Mata Aisyah mulai fokus melihat isi video yang sedang ditunjukkan Fitri. Begitu terkejutnya saat ia melihat Azmi bersama tim Syubbannya yang ada di video itu. Aisyah semakin mendekatkan wajahnya yang serius menonton itu masih tidak menyangka bahwa apa yang dilihat adalah Azmi yang sedang bersholawat.


" Ini Azmi, kok dia bisa terkenal gini? Dia dapat lagu ini darimana coba? " Aisyah.


" Ya mana aku tau, Syah. Yang aku tau Azmi sama tim hadrohnya udah viral mereka udah terkenal, Sya. Nih, coba kamu lihat lagi, Azmi masih ganteng juga, ya." Fitri terlihat wajahnya berseri-seri ikut senang melihat Azmi yang sudah menjadi viral.


" Enggak, aku gak mau lihat lagi." Aisyah terlihat wajahnya yang sangat kesal.


Fitri yang melihat sahabatnya kesal segera menaruh hapenya dan memegang tangan Aisyah.


" Syah, kamu kenapa? Kamu gak suka kalau Azmi terkenal? Kamu belum maafin dia? " Aisyah.


" Aku gak akan maafin orang yang udah buat aku malu didepan semua orang. Kenapa coba dia yang terkenal? Pakai nama gus lagi," Aisyah.


" Mungkin yang punya youtube ini yang kasih nama gus, tapi ayahnya Azmi juga orang besar dia terkenal diwilayah ini sebagai Kyai, iya kan? " Fitri.


Aisyah terlihat sangat tidak terima ia mengepal kedua tangannya bersamaan dengan menoleh ke arah Fitri sangat jelas tatapan mata indahnya yang sangat tajam.


" Mau dia anaknya Abah, mau dia terkenal saat ini, aku tetap benci sama orang kaya dia. Aku juga benci sama tim hadroh yang udah buat Kak Akmal meninggal," Aisyah.


Fitri mencoba menenangkan Aisyah dengan meletakkan kedua tangannya pada pundak Aisyah.


" Syah, kamu jangan gini terus, Kak Akmal meninggal itu memang udah takdirnya. Kamu harus bisa ikhlas, Syah. Kamu juga harus bisa maafin Azmi." Fitri.


" Gak, aku gak bisa! Maaf, Fit. Aku mau ke kamar dulu, " Aisyah ia melepas tangan Fitri dari pundaknya dan pergi begitu saja masih dengan keadaan marah.


" Kenapa sih, Aisyah selalu aja kaya gitu kalau aku bilang tentang Azmi padahal dia udah minta maaf, " Fitri ia sangat bingung dan harus apa agar Aisyah mau mengerti dan bisa memaafkan kesalahan Azmi dahulu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2