Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 204 Kyai Ingin Bicara


__ADS_3

Azmi menceritakan semuanya kepada semua anggota Syubban agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka dan semua anggota Syubban mendengarkannya dengan serius.


" Oalah, jadi cewek yang tadi itu teman kamu sejak SD dulu, " Udin.


" Wah, masalah yang serius sih, ini. Azmi udah buat cewek itu trauma, lihat aja tadi dia kaya gitu pasti karena ingatan tentang hal buruk itu kembali waktu dia ngelihat Azmi, " Ali.


" Sek, tapi kenapa kamu bisa salah lagu sih, Mi? Emangnya gak latihan dulu? " tanya Ahkam.


" Ya, latihan, mas. Tapi, tiba-tiba ada yang nyuruh buat aku ganti lagu dan orang itu bilang kalau Aisyah udah latihan sendiri, " Azmi.


" Intinya ini cuma salahpaham aja, Azmi, kamu harus bisa buat itu ukhti, gak trauma lagi ngelihat kamu." Ahkam.


" Aku yakin dia punya rasa benci sama kamu dan itu buat semuanya, apa aja yang tentang kamu dah, pasti dia benci dan bawaannya keingat kalau kamu yang salah." tambah Ali.


Azmi menghela nafasnya keras sekilas ia menunduk dan kembali mengangkat kepalanya.


" Padahal aku udah minta maaf sama dia, aku juga bingung harus buat apa lagi, mas? Tiap hari aku minta sama Allah, semoga Aisyah gak benci lagi sama aku." Azmi.


" Sabar aja, Mi. Pelan-pelan Aisyah, pasti bisa ngelupain kejadian itu." Aban.


" Cewek emang biasanya tenang sendiri, biarin aja dia yang tenangin dirinya, tugas Azmi cuma jangan buat dia marah atau keingat tentang kejadian itu." Muhklis.


" Ceritanya Azmi udah kaya film aja, masalah masa lalu yang buat cerita masa depan sulit, " Udin perkataannya yang begitu dalam membuat Azmi tersenyum menoleh ke arahnya.


" Justru flim itu terinpirasi dari kehidupan nyata, mas Udin." Azmi.


" Ah, masa sih, Mi? " Udin.


" Iya, mas." Azmi.


" Iya, iya, Mi. Sekarang kamu harus bisa buat happy ending dalam cerita kamu ini." Ahkam.


" Insya Allah, Ustadz." Azmi memberikan jempol dan tawa kecilnya.


" Azmi, dipanggil sama Kyai. Dan semuanya ayo, kita pulang." Hamdi.

__ADS_1


" Baik, mas. Ayo rek, Mi." Ahkam mengajak semua temannya terutama Azmi yang mulai menunjukkan wajah tegangnya.


Azmi hanya mengangguk dan mengikuti semua langkah teman-temannya melangkah di samping Ahkam dan juga Aban yang selalu mendukungnya.


Kyai bersama santri-santrinya pamit pulang pada semua orang yang masih mengurus Masjid disana terutama mereka juga berpamitan pada pemilik Masjid.


" Nah, ini dia guse. Tadi kamu kemana tho, nak? Semua jama'ah itu pada nyariin kamu." ucap pemilik acara setelah Azmi mencium tangannya.


Azmi menunduk dan menoleh ke arah teman-temannya karena ia bingung harus menjawab apa. Ali menunduk, Udin menoleh ke arah Ali, Firman menatap Azmi, Aban terdiam begitu juga dengan Ahkam yang sekilas menundukkan kepalanya dan Muhklis sempat mengawasi Azmi sekilas. Mereka semua juga tidak bisa menjawab dan dalam keadaan yang cemas.


" Azmi ternyata lagi istirahat, dia sedang tidak enak badan." jawab Kyai terpaksa berbohong untuk menyalamatkan santrinya dan Azmi kembali menundukkan kepalanya sungguh ia merasa tidak enak kepada semuanya apalagi terhadap Kyai.


" Oalah, pasti gara-gara jadwalnya padat ya, gus. Kalau gitu banyak-banyak istirahat dan semoga cepat sembuh. Kapan-kapan kalau ada waktu isi acara ini lagi, ya." bapak pemilik acara.


Azmi hanya mengangguk dan tersenyum menjawab semua perkataan bapak ia sudah tidak sanggup lagi untuk bicara.


" Insya Allah, ya sudah, ayo semuanya kita pulang. Kami pamit, pak. Assalamualaikum," Kyai diikuti dengan semua anggota Syubban yang juga ikut mengucapkan salam.


" Wa'alaimumussalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati, Kyai. Azmi cepat sembuh, dan untuk Syubban sukses selalu." pemilik acara.


" Aamiin, " jawab semuanya.


" Nggih Kyai, " pemilik acara yang membalas senyuman Kyai.


Sampailah mereka pada hotel penginapan dimana disinilah anggota Syubban beristirahat atas pekerjaan yang tiada henti tapi mereka tidak pernah mengeluh akan hal itu termasuk Azmi, Ahkam dan Aban yang selalu menyemangati teman-teman mereka yang lain.


Setelah Kyai mengumumkan sesuatu Kyai memperbolehkan anggota Syubban untuk beristirahat kecuali Azmi.


" Baik, kalian boleh istirahat kecuali Azmi. Saya mau bicara sama kamu, " Kyai.


Wajah Azmi yang sudah lelah sekaligus sedih karena perkataan dan bentakan Aisyah yang terngiang-ngiang dalam pikirannya tapi Azmi berusaha tegar dan menganggungkan kepalanya atas perintah Kyai.


" Baik, Kyai." jawab Azmi setelah mengangguk.


Anggota Syubban ikut merasakan ketegangan Azmi, wajah-wajah mereka sangat jelas tampak tegang memandang Azmi dan satu sama lain.

__ADS_1


" Ya sudah, anak-anak. Sana istirahat." Ustadz Mustafa.


Para anggota Syubban mengangguk dan satu-persatu mereka menyalam tangan Kyai dan Ustadz Mustafa sembari mengucapkan salam.


" Wa'alaikumussalam," jawab Kyai, Azmi dan Ustadz Mustafa.


Aban sempat memandang Azmi dan Azmi memberikan senyuman dan anggukan walau ia saat ini sangat tegang dan takut apalagi jika nanti salah bicara kepada Kyai.


" Azmi, ayo." Kyai.


" Nggih, Kyai." jawab Azmi dengan nada pelan.


Kyai mulai melangkahkan kakinya bersama dengan Ustadz Mustafa yang mengikutinya barulah Azmi ikut melangkah dibelakang Ustadz Mustafa sebelum melangkahkan kaki Azmi sempat membuang nafas keras dan mengusap wajahnya.


Azmi dibawa ke kamar khusus Kyai, Azmi diperintahkan duduk oleh Kyai dan barulah Azmi duduk tepat dihadapan Kyai dan Ustadz Mustafa duduk disamping Azmi menghadap kearah Azmi.


Azmi tidak berani mengangkat kepalanya dan menatap Kyai, matanya terus kebasah dengan kepala yang sedikit tertuduk pencinta juga tidak terpasang dengan benar seperti biasa dengan posisi jomplang.


**


Aban masih memikirkan tentang Azmi ia sungguh terlihat sangat gelisah dan masih belum bisa tidur. Ahkam dan Muhklis yang mengetahui hal itu saling pandang dan mulai bicara kepada Aban.


" Turu, Ban. Ini udah malam, " Muhklis.


" Gimana aku bisa tidur, bang? Aku kepikiran Azmi, dia bakal dimarahin atau mungkin bisa dapat hukuman, " Aban.


" Udah, gak usah mikir macam-mafa, Ban. Azmi pasti bisa menghadapi semuanya. Dia yang harus tanggungjawab atas apa yang dia lakukan, " Ahkam.


" Iya, sih. Tapi.." Aban.


" Sudah, Ban. Tidur aja, gak akan ada apa-apa sama Azmi kok, aku matiin lampunya nih, " Muhklis langsung memotong ucapan Aban dan pergi mematikan lampunya.


Aban hanya bisa terdiam dan menghela nafasnya.


" Wes, tidur, Ban." Ahkam yang sudah merebahkan dirinya.

__ADS_1


" Iya, mas." Aban mulai ikut merebahkan dirinya dan menarik selimutnya walau pikirannya masih tidak tenang karena Azmi.


Bersambung...


__ADS_2