Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 234 Pecah Bagi Azmi Dan Mufti


__ADS_3

" Aisyah, ayo berangkat!" teriak Fitri yang sudah siap terus meneriaki Aisyah dari depan gerbang pintu Aisyah yang sudah terbuka dan kedua orangtua Aisyah juga berdiri disana untuk menunggu putrinya pamit.


" Iya, ini aku udah siap. Ibu, Ayah aku berangkat dulu, ya." Aisyah.


Ibu Aisyah langsung memeluk tubuh putrinya dengan penuh kasih sayang.


" Iya, nak. Belajar yang rajin di pesantren. Ibu disini akan selalu doain kamu, nak." Ibu Aisyah.


Aisyah mengangguk.


" Ayah, Aisyah pamit." Aisyah ia juga mencium tangan Ayahnya.


Ayah Aisyah mengangguk ia mencium kepala putrinya dan mengelus-ngelus pundak putrinya.


" Assalamualaikum, " Aisyah.


" Wa'alaimumussalam, " jawab kedua orangtua Aisyah.


Fitri juga ikut berpamitan dengan kedua orangtua Aisyah. Pagi ini mereka berangkat ditemani Ayah dan Ibu Fitri.


Disisi lain, keluarga Azmi juga bersiap untuk pergi ke pesantren Azmi dan begitu juga yang dilakukan dengan Zakir, orangtua Zakir juga sempat tidak percaya dengan perilaku anaknya yang tiba-tiba berubah seperti ini tapi, disisi lain mereka juga senang akan sikap Zakir yang berubah menjadi lebih baik dan sopan, dan Zakir juga yang kali ini meminta untuk segera kembali ke pesantren walau ia sudah mengatakan yang sejujurnya tentang Azmi.


...****...


Pesantren Nurul Qadim terlihat ramai dari pagi sampai sore hari ini. Bagaimana tidak? Acara meriah gema sholawat akan dilaksanakan malam ini dan hanya tinggal beberapa jam lagi.


Para warga banyak yang ikut turut membantu begitu juga dengan muda mudi atau remaja Masjid sekitar yang dengan senang hati ikut berpartisipasi dalam perapihan acara ini.


Panggung mewah yang terletak tepat dihalaman luas pesantren, batas pria dan juga wanita juga tidak lupa dipasang. Berbagai jajanan dan minuman juga tersedia.


Poster foto Syubbanul Muslimin juga terpampang besar dan lebar di berbagai sudut dekat gerbang yang paling jelas terletak pada atas tiang gerbang.


Tim Syubban juga sudah siap dengan seragam mereka, wajah yang segar terlihat habis mandi, semua anggota Syubban terlihat keren dan tampan dengan pesona mereka masing-masing.


Azmi duduk termenung saat semuanya tertawa ria berkumpul bersama. Tidak dengan Azmi yang kali ini tampak sedih duduk sendirian memandang ke bawah dimana banyak orang yang membantu persiapan acara.


Aban yang melihat itu seketika menghentikan tawanya dan memberitahu Ahkam, mereka terlihat berbisik sampai kemudian Aban bangun untuk menghampiri Azmi.


" Gak ngumpul bareng anak-anak, Mi? " tanya Aban yang sudah berdiri disamping Azmi dengan kedua tangannya yang ikut ia pangku pada tembok pembatas.


Azmi seketika menoleh sambil mencoba menahan sedihnya mencoba untuk tetap kuat.


" Ya, lagi pengen sendirian aja, Ban." jawab singkat Azmi yang sebelumnya tertawa kecil dan kembali memalingkan wajahnya menatap ke bawah.


" Lagi pengen sendirian atau lagi pengen gak diganggu? " tanya kembali Aban yang membuat Azmi bingung menjawabnya.


Azmi sempat terdiam hingga ia menoleh ke arah Aban membalikkan tubuhnya dan tangan yang ia turunkan.


" Enggaklah, Ban. Tiap hari aku diganggu sama kamu aja gak papa, " Azmi.

__ADS_1


Aban tersenyum kecil ia juga menurunkan tangannya, membalikkan tubuhnya hingga berhadap-hadapan dengan Azmi.


" Kalau gitu kenapa kamu disini sendirian? Lagi mikirin sesuatu?" Aban.


Azmi menunduk dan mengangguk lalu matanya yang berkaca-kaca kembali memandang Aban.


" Aku cuma pengen Abah sama Ummi aku datang, Ban. Ya, aku gak berharap banyak, sih. Tapi aku dengar semua orangtua kalian akan datang kesini buat acara ini jadi, aku juga pengen, Ban. Tapi, ya udahlah. Gak papa, apapun yang terjadi nanti aku harus kuat dan lagian sebentar lagi kita masuk pondok kasihan Abah sama Ummi kalau jauh-jauh cuma sebentar disini. " jelas Azmi.


Aban mengerti dengan perasaan Azmi, ia meletakkan tangan kanannya pada pundak kiri Azmi menepuknya pelan beberapa kali.


" Aku ngerti, Mi. Hmmm, tapi nanti ada Abah sama Ummiku juga yang udah akrab banget sama kamu waktu itu. Kaya udah sama anaknya sendiri. Bawa happy aja, Mi. Aku yakin kamu orangnya kuat." Aban.


" Aamin, terima kasih, Ban." Azmi.


Aban tersenyum lalu mengangguk ia menoleh kebelakang dimana semua tim Syubband masih asyik berbincang sembari tertawa ria, mereka sungguh terlihat sanhat bahagia.


" Kumpul lagi yok, Mi." ajak Aban.


Azmi tertawa kecil dan mengangguk, mereka kembali melangkahkan kaki menuju teman-teman senior mereka yang setiap hari tidak ada kata sedih bagi mereka yang selalu bisa melukiskan senyum diwajah mereka.





Malam ini, Ustadz Mustafa dan Hafsah juga telah menyiapkan semua dan hebatnya lagi, Mufti sama sekali tidak tau tentang ini.


Mobil Ustadz Mustafa sudah terparkir dengan sangat kompak atau kebetulan, Hafsah dengan Hamdi dan Syafiq juga datang dengan mobil mewah milik Hamdi.


Tapi, wajah Mufti sama sekali tidak ada kegembiraan ia terlihat masih sedih, masih memikirkan dimana bukunya itu.


" Mufti, ayo turun. Kenapa kamu? Semangat dong, katanya mau ketemu sama anak-anak Syubband." ucap Ustadz Mustafa yang sudah turun dan melihat Mufti yang masih melamun.


" Iya, Kak." jawab Mufti dengan anggukan dan dengan suara yang begitu lemas dan sama sekali tidak semangat.


Mufti keluar, Hafsah juga keluar membuka pintu mobilnya. Mereka berpapasan dan sempat saling pandang dengan mata mereka yang begitu dalam.


" Mufti. Hai, " ucap Hafsah yang coba menyapa Mufti.


Tapi, tidak seperti biasanya Mufti terlihat begitu lemas tidak bersemangat bahkan ia pergi begitu saja tanpa menjawab sapaan dari Hafsah.


Hafsah hanya bisa memandang Mufti sampai ia melangkah dengan Ustadz Mustafa bersamaan.


Hafsah sedih melihat sikap Mufti yang seperti itu padahal ia sangat ingin melihat Mufti bahagia malam ini bersamaan dengan tampilnya anggota Syubban dengan karya barunya.


" Dek, kok ngelamun. Kenapa? " tanya Hamdi ia segera menghampiri Adiknya ketika melihat Hafsah sedih seperti ini.


" Hah? Eeee.. Enggak kok, Kak. Aku gak papa," jawab Hafsah dengan memalingkan pandangannya dari Kakaknya.

__ADS_1


" Hamdi, Hafsah. Ayo masuk!" teriak Syafiq yang sedaritadi telah menunggu mereka.


" Ayo, Dek." ajak Hamdi.


Hafsah mengangguk, dan merekapun melangkah bersama segera menghampiri Hamdi untuk masuk menemui tim Syubband.


Kesedihan Mufti makin pecah ketika melihat semua anggota Syubband ditemui orangtua mereka. Mereka tampak tengah gembira dan bahagia. Dipeluk dan dicium keningnya oleh orangtua mereka, merasakan hangatnya kasih sayang kedua orangtua mereka.


" Assalamualaikum, Ustadz, Mas Mufti. Mari masuk, " ucap Azmi yang orangtuanya belum datang dan menyambut kedatangan Ustadz Mustafa dan Mufti.


" Wa'alaikumussalam, Azmi. Orangtua kamu gak datang? " tanya Ustadz Mustafa.


Azmi seketika terdiam, ia tidak bisa menjawab karena ia sama sekali tidak bisa menghubungi orangtua mereka.


Mufti masih diam dengan wajah pucat dan lemasnya, rindu akan orangtua dan sahabatnya semakin menghantui dan membuat dirinya kacau.


Saking tidak kuatnya ia tidak bisa berpikir lagi dan segera pergi dari tempat itu.


" Mas Mufti, " ucap Azmi yang sedaritadi menunduk menjadi kaget saat Mufti pergi begitu saja.


" Mufti kamu mau kemana? Azmi tunggu ya, " Ustadz Mustafa.


" Baik Ustadz, " jawab Azmi sambil menganggukkan kepalanya saat itu ia juga bingung dengan apa yang terjadi.


Dengan langkah yang begitu cepat begitu terburu-buru membuat Mufti menabrak Hafsah yang tengah melangkah bersama Hamdi dan Syafiq.


" Astagfirullah, " ucap Hafsah ia kaget ketika Mufti menabrak dirinya.


Mufti melirik Hafsah dengan pikiran kacau.


" Kamu kenapa, Muf? Buru-buru banget, " tanya Hamdi.


Mufti lagi-lagi tidak menjawab dan langsung pergi begitu kacau.


" Itu anak kenapa, sih? " tanya Syafiq yang terlihat kesal melihat tingkah Mufti yang menurutnya sombong.


" Mufti!" teriak Ustadz Mustafa yang terus mengejar Adiknya.


" Kak, biar aku yang kejar." Hafsah.


" Hafsah, kamu gak mau masuk dulu, " Hamdi.


" Iya, biarin aja. Paling anak kaya gitu cuma caper aja, biasa gaya modus anak sekarang. " sambung Syafiq.


" Enggak, Kak Syafiq. Mufti gak kaya gitu. Aku kejar Mufti dulu, assalamualaikum, " Hafsah ia terburu-buru untuk segera mengejar langkah Mufti.


Semuanya tidak ada yang berkutik dan hanya bisa mengangguk menyerahkan semua pada Hafsah.


" Wa'alaikumussalam." jawab semuanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2