Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 102. Berkelahi.


__ADS_3

Azmi mulai menunjukkan suara dan juga cengkok khasnya dalam melantunkan sholawat, begitu histerisnya para kaum hawa yang mendengar suara Azmi. Sorak demi sorakan terus hadir untuk mereka, apalagi untuk Azmi yang paling semangat dari para vocalis lainnya.


Ali mulai terlihat kesal dengan Azmi tetapi ia berusaha menahan kekesalannya dan terus menabuh rebana mengiringi sholawat.


Kyai dan ustadz Mustafa sangat bangga dengan penampilan tim Syubban yang mampu membuat para jama'ah mengikuti sholawat dengan sangat semangat.


•••••••••••••••


Di sisi lain, para anggota Band terus melajukan motor mereka menuju tempat acara. Mufti tidak tau arah dan menghentikan motornya.


" Kenapa, Muf? Kok berhenti? " tanya salah satu temannya.


" Gue gak tau jalannya, mereka tampil di Masjid mana, sih? " tanya Mufti kepada teman-temannya.


" Kayanya bukan di Masjid deh Muf, mereka tampil kaya di lapangan gitu, lebih gede dan mewah acara kali ini. " tambah anggota Band lainnya.


" Ya, terus di mana, lo tau, gak? " tanya Mufti kembali dan semua temannya hanya menggelengkan kepalanya hingga mereka melihat segerombolan orang yang menggunakan motor dan mobil dengan pakaian muslim yang seragam sembari membawa bendera sholawat.


" Kita ikutin itu aja, kelihatannya mereka mau sholawatan, tuh. " ucap Mufti terus melihat gerombolan orang itu.


" Iya Muf, ayo, buruan kita ikutin!" teman Mufi.


Semua mulai bersiap kembali menyalakan motor mereka dan melajukan motor mereka menuju tempat acara itu.


******


Lantunan sholawat tim Syubban telah selesai dan para jama'ah menghentikkan sholawat mereka mengikuti tim Syubban.


" Yah, kok udah selesai sih, mereka. " ucap salah satu jama'ah.


Sesuai arahan Mc, satu-persatu dari mereka mulai turun dari panggung. Setelah mereka semua turun majulah kedua Mc perempuan dan laki-laki.


" Harap tenang ya, semuanya!" Mc perempuan.


" Iya, karena di acara terakhir anak-anak santri tadi akan tampil lagi, ya gak, Nisa? " Mc laki-laki.


" Benar banget kak, sekarang kita sambut pemilik acara ini yaitu bapak Muhammad Bahruddin Jamil, beliau akan menyampaikan pidatonya, untuk pak Bahrudin dipersilakan maju. " Mc perempuan.


Tepukan tangan mulai datang untuk menyambut pemilik acara yang akan menyampaikan pidatonya.


" Penampilan kalian tadi sangat bagus dan kalian semua sangat kompak . " ustadz Mustafa memberikan senyumnya.


" Itu harus ustadz, ini juga berkat ustadz, " Muhklis.


" Sekarang kalian duduk dulu, karena nanti kalian akan tampil lagi, " ustadz Mustafa.


" Kyai mana, ustadz? " tanya Ahkam.


" Kyai masih membicarakan sesuatu dengan yang lain, ayo, kalian duduk di sana dulu, " ustadz Mustafa menunjukkan tempat duduk yang sudah di sediakan untuk mereka.


" Baik ustadz, Assalamualaikum, " semua anggota Syubban yang hendak melangkah menuju tempat duduk mereka.


" Wa'alaikumsalam, " jawab ustadz Mustafa.


Mereka mulai duduk bersama dan ada seorang yang memberi mereka snack dan air, para tim Syubban menerimanya dan mengucapkan terimakasih begitu juga dengan Azmi yang terus melukiskan senyumnya.


Azmi melupakan semua masalah yang ia terima tapi tidak dengan yang lain, mereka masih tidak suka dengan Azmi hanya Ahkam saja yang masih mempercayai dan bersikap baik dengan Azmi.

__ADS_1


" Pencurinya kaya gak merasa bersalah banget, " ucapan Ali yang sangat pedas sembari menatap tajam Azmi


Hal itu membuat Azmi tersedak dan segera minum, Azmi terdiam memandang Ali ia tidak mengira bahwa banyak yang sudah tidak suka dengannya.


" Ora sudi aku, koncoan karo pencuri ( gak sudi aku temenan sama pencuri ). " tambah Udin.


" Kelihatannya aja polos, baik dan murah senyum kaya gitu, tapi dalamnya licik banget. " sambung Firman.


Ucapan-ucapan pedas itu terus Azmi terima dari semua teman-temannya. Aban hanya memandang Azmi sekilas dan kembali terdiam mengambil snack miliknya.


" Aku tau kok, mas-mas semua pasti gak suka sama aku setelah apa yang kalian lihat tadi, tapi semua itu gak benar mas, aku bukan pencuri, Aban, kamu tiap hari dan setiap waktu selalu sama aku dan aku gak pernah menyembunyikan sesuatu dari kamu, Ban. " ucap Azmi memandang Aban yang terus terdiam.


Sekilas Aban memandang Azmi sembari memikirkan sesuatu dan kembali memalingkan pandangannya.


" Ah, udah-udah aku gak mau dengerin kamu lagi, Mi. " Ali bangun dan hendak pergi dari tempat itu.


Satu-persatu dari mereka pergi meninggalkan Azmi begitu juga dengan Aban dan Muhklis hanya Ahkam yang tersisa dan asyik memakan snacknya.


" Mas Ahkam gak ikut pergi?" tanya Azmi memandang Ahkam yang sangat asyik mengunyah snacknya.


Seketika Ahkam berhenti makan memandang teman-teman yang sudah pergi dan kembali memandang Azmi.


" Emang kamu mau, aku pergi juga? " tanya Ahkam memandang dalam Azmi.


" Enggak mas, bukan gitu, Emmm... aku heran aja sama mas, setelah apa yang terjadi tadi mas masih percaya sama aku. " Azmi.


Ahkam tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


" Azmi, Azmi, denger ya, aku yang udah ngurus kamu dari awal kamu mondok dan aku tau banget sifat kamu kaya gimana, Azmi, aku percaya kok kalau kamu bukan pencuri. Aku yakin, ini pasti ada kesalah pahaman." jelas Ahkam.


Mendengar itu Azmi tersenyum manis kepada Ahkam.


Ahkam tersenyum dan menepuk pundak Azmi.


" Sama-sama, " Ahkam.


••••••••••••••••••••


Anggota Band itu telah sampai di tempat acara.


" Kayanya rombongan itu telat banget deh," salah satu teman Mufti.


" Iya, mereka emang telat, yok, kita masuk!" perintah Mufti.


" Ngapain, bro? Kita mau ikutan sholawatan, aduh... Enggak deh, ogah banget gue. " anggota Band 1.


" Lagian buat apa sih, Muf? Disini kita cuma nonton penampilan rebana kampung itu, mendingan kita celakain mereka nanti aja, " anggota Band 2.


" Hush, diam, gak! Kalian bisa mikir gak, sih? Ikutin aja gue, ngerti! " Mufti yang mulai kesal dengan teman-temannya.


" Eh, bentar-bentar, itu... Itu anak-anak hadroh, bukan? " tanya salah satu anggota Band menunjuk ke arah tim Syubban yang sedang berkumpul di luar.


" Bagus banget mereka ada di luar, ayo, kita samperin mereka! " ajak Mufti.


Semua anggota Band menganggukkan kepala mereka dan melangkah bersama menuju tim Syubban yang sedang berkumpul.


***********

__ADS_1


" Aku heran banget ya, sama Azmi, dia itu udah jelas-jelas nyuri tapi masih aja sok polos. " ucap Ali yang sangat kesal.


" Sama Li, aku kecewa banget, gak habis pikir aja sama Azmi. " tambah Firman.


" Kayanya ada masalah nih, boleh, kita bantu? " tanya Mufti yang tiba-tiba muncul di hadapan Ali.


Seketika semuanya menoleh ke arah anggota Band. Dengan pandangan malas, Ali menghampiri Mufti.


" Mau ngapain disini? " tanya Ali dengan tatapan tajam.


" Mau nonton sholawat kampungan dari kalian, ya kan, guys? " Mufti kepada semua temannya.


" Bener banget, " ledek salah satu anggota Band yang membuat semua anggota Band ikut tertawa.


Tim Syubban mulai panas melihat anggota Band yang terus tertawa.


" Heh! Jangan sekali-kali kalian ngehina sholawat kami! Tim kamu tuh yang kampungan!" ucap Ali penuh emosi.


Mendengar itu membuat Mufti marah dan menyuruh semua untuk berhenti tertawa.


" Berani juga lo ya, ngatain tim kita kampungan, " Mufti semakin mendekati Ali.


Ali mendorong Mufti dengan amarahnya.


" Kenapa, hah? Kamu merasa tersendir?" Ali.


" Wah, wah, bener-bener nih orang...Guys, " Mufti memberi kode kepada semua teman-temannya.


Anggota Band mengerti dengan kode mata yang di berikan Mufti.


Dan...


Perkelahian di mulai antar mereka dengan Mufti yang pertama kali menyerang Ali, semua tim Band ikut menyerang Firman dan Udin sementara yang lain mundur.


Ali, Firman, dan Udin terus mengerahkan semua tenaga mereka melawan serangan-serangan dari anggota Band. Muhklis dan yang lain berusaha menghentikan tapi tidak berhasil, mereka terus saja berkelahi tanpa menghiraukan apapun.


Azmi dan Ahkam mulai mengkhawatirkan tim Syubban yang belum datang juga sementara pidato dari pemilik acara akan segera selesai.


" Azmi, Ahkam, yang lain mana? " tanya ustadz Mustafa menghampiri Azmi dan Ahkam.


Azmi dan Ahkam segera bangun dan saling pandang.


" Eeee... Mereka semua pergi, ustadz. " ucap Ahkam.


" Pergi kemana? Sekarang kalian cari, sebentar lagi kalian tampil, " ustadz Mustafa.


" Baik Ustadz kita akan cari, ayo Mi! " Ahkam.


Azmi memandang Ahkam sembari mengangguk.


" Iya Ustadz, kita akan cari, assalamualaikum. " Azmi.


" Assalamualaikum ustadz, " Ahkam.


" Wa'alaikumsalam. " jawab ustadz Mustafa.


Mereka mulai mencari keberadaan tim Syubban sementara ustadz Mustafa merasa sangat khawatir.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2