Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 231 Hanya Bibi


__ADS_3

" Silakan diminum dan dimakan dulu, Hafsah." Ustadz Mustafa yang duduk di hadapan Hafsah.


" Iya Kak, terima kasih. " Hafsah sambil tersenyum dan perlahan mulai mengambil air minum yang disuguhkan.


Ustadz Mustafa mengangguk sambil tersenyum melihat Hafsah yang tidak malu-malu mau langsung meminum dan memakan apa yang Ustadz Mustafa suguhkan.


" Oh, iya. Memangnya kamu mau bicara apa? Apakah ada masalah yang penting?" tanya Ustadz Mustafa.


Hafsah menurunkan gelas dan meletakkannya di meja lalu ia menoleh ke arah Ustadz Mustafa untuk menjawab pertanyaannya.


" Sebenarnya gak ada masalah sih, Kak." Hafsah.


" Terus ada apa? " tanya kembali Ustadz Mustafa yang memasang ekspresi wajah begitu penasaran.


Hafsah terlebih dahulu melihat keadaan ia tidak ingin Mufti tiba-tiba muncul dan mengethaui semuanya.


" Emmmm, Kak. Kita bisa bicara diluar, gak?" Hafsah.


" Kenapa harus keluar, Hafsah?" Ustadz Mustafa.


" Tapi Kakak jangan kaget, ya. Jadi sebenarnya barang yang dicari Mufti itu ada di aku." Hafsah ia berbisik mulai mengatakan yang sebenarnya.


" Ada di kamu? Tapi, kenapa kamu gak ngaku tadi ke Mufti? Dia dari semalam nyari barang itu sampai-sampai dia gak bisa tidur." Ustadz Mustafa.


" Ya, maaf, Kak. Aku punya rencana dan kejutan buat Mufti, kalau aku bicara disini sama Kakak, bisa-bisa Mufti dengar lagi. Please, Kak. Kakak pasti akan terharu banget kalau udah tau semuanya. Aku mohon banget sama Kakak, ini demi kebahagiaan dari seorang Mufti." ucap Hafsah ia terus memohon supaya Ustadz Mustafa mau mengabulkan apa yang ia inginkan.


Sebelumnya Ustadz Mustafa masih berpikir sampai ia melihat ketulusan di wajah Hafsah yang sampai memohon seperti ini.


Ustadz Mustafa mulai mengangguk pelan.


" Baik, Hafsah. Ayo kita bicara diluar." Ustadz Mustafa.


" Alhamdulillah, makasih banget, Kak. Ayo, Kak, cepetan." ajak Hafsah yang begitu terburu-buru dan sangat semangat mengajak Ustadz Mustafa bicara diluar.


" Oke, iya, iya. Aku bilang ke Mufti dulu." Ustadz Mustafa.


" Udah, Kak. Gak usah, Mufti juga udah gede, ada pembantu juga, kan? " Hafsah.

__ADS_1


" Iya, tapi Bibi masih ke pasar." Ustadz Mustafa.


" Entar lagi juga pulang, ayo, Kak. Kita harus cepat, nanti Mufti tau dan curiga lagi, " Hafsah.


" Iya, iya." Ustadz Mustafa ia terpaksa mengikuti semua apa yang diucapkan Hafsah demi tau apa sebenarnya sebuah barang milik Mufti yang begitu penting bagi Mufti.


" Hafsah, Hafsah. Pakai mobil aja, motor kamu disini aja dulu," Ustadz Mustafa.


" Kayanya gak usah deh, Kak. Aku ngikutin dibelakang pakai motor aja, " jawab Hafsah.


Ustadz Mustafa mengangguk.


" Baik, " Ustadz Mustafa.


Mereka mulai pergi bersama meninggalkan Mufti sendirian dirumah.


Mufti baru saja selesai mandi dan berpenampilan segar pakaiannya juga terlihat sangat keren dan cocok dengannya.


Setelah menyisir rambutnya, Mufti keluar kamarnya dan melihat rumahnya sudah sangat sepi, hanya dia seorang diri.


" Aduh, emang Kak Mustafa, masa pergi gak bilang-bilang. Terus aku ditinggal sendirian gitu disini," Mufti.


Tiba-tiba ada tangan yang memegang pundaknya membuat Mufti menampakkan ekspresi takut ia memberanikan menoleh kebelakang secara perlahan.


" Den, "


Suara Bibi dan wajah Bibi membuat Mufti begitu kaget sampai ia melihat wajah pembantunya yang sudah berdiri dihadapannya sambil tersenyum.


" Astagfirullah, Bibi ngagetin aku aja, sih. Harusnya ucap salam dulu, bukan malah langsung megang pundak aku kaya tadi," Mufti yang kesal sembari mengusap wajahnya ia lalu bicara kepada pembantunya dengan ekspresi yang kesal.


" Hayo, Den Mufti ngira Bibi siapa emang? Den, Mufti takut, ya? Masa ganteng-ganteng takut sama hantu, " Bibi.


" Hah? Ya, enggaklah. Masa aku takut sama hantu, enggaklah. Mufti cuma kaget aja, kalau ada penjahat, gimana? Siapa yang mau tanggung jawab? Mufti tadi cuma takut itu aja, soalnya Kak Mustafa gak tau kemana," Mufti mengelak sempat memalingkan wajahnya sekilas.


" Oalah, ya, maaf, Den. Sekarang Bibi buatkan sarapan saja. Den Mufti silakan duduk manis, nunggu Bibi masak, " Bibi.


" Iya, iya. Benar tuh, mending Bibi cepat masak aja. Aku udah lapar, cepetan ya, Bi. Masak yang enak," Mufti.

__ADS_1


" Siap, Den. Bibi masak dulu, " Bibi.


Mufti mengangguk, ia memegang dahinya sambil menghela nafas.


" Huft, Bibi bikin gue jantungan aja. Tapi, gue gak mungkinlah takut sama hantu. Mufti, penakut? Hmh, tidak akan terjadi. Mending nunggu Bibi masak aja," Mufti setelah bicara sendiri ia melangkah dengan santainya menuju ruang tamu.


****


Hafsah dan Ustadz Mustafa sudah menemukan tempat untuk membicarakan sesuatu dan itu juga termasuk dalam kebahagiaan Mufti.


" Jadi Hafsah, benda apa milik Mufti yang sangat penting itu?" tanya Ustadz Mustafa.


Hafsah mengangguk dan ia mulai mengambil buku Mufti dari tasnya dan menunjukkan itu kepada Ustadz Mustafa.


" Ini, Kak. Ini buku Mufti dari dia kecil, disini dia tulis semua kesedihan dan kebahagiannya." jelas Hafsah memberikan buku tebal itu kepada Ustadz Mustafa.


Ustadz Mustafa terdiam masih sedikit bingung sembari mengamati buku yang dipegang Hafsah, buku yang sangat tebal dan sepertinya tidak asing bagi Ustadz Mustafa.


" Ini, Kak. Kakak harus baca biar Kakak tau, bagaimana perasaan Adik Kakak selama ini, " Hafsah.


Ustadz Mustafa mengangkat kepalanya, pandangan matanya tertuju kepada Hafsah. Ustadz Mustafa mengangguk dan perlahan tangannya mulai menggenggam buku yang diberikan Hafsah.


Ustadz Mustafa mulai membuka buku itu dan membaca isi dari setiap lembaran, setiap tulisan tangan Mufti yang sangat tulis dari hati kecil Mufti.


Wajah Ustadz Mustafa tampak menunjukkan ekspresi yang berbeda ketika membaca satu-persatu halaman dari buku itu, wajahnya tampak sedih dan mulai sadar perasaan Mufti selama ini dan dibalik sikapnya yang keras kepala dan susah untuk menurut kepada dirinya.


" Ya Allah, jadi Mufti selama ini kurang kasih sayang. Saya juga sadar kalau saya sebagai Kakaknya memperlakukan dia dengan sangat keras. Ternyata Mufti butuh perhatian dari saya. Saya menyesal karena tidak bisa menjadi Kakak yang baik bagi Mufti." Ustadz Mustafa.


" Sudah, Kak. Kakak gak perku menyesal dan menyalahkan diri Kakak, Mufti bersikap seperti itu hanya untuk melampiaskan secara tidak langsung kesedihannya yang selama ini ia pendam sendirian. Aku tau Kakak juga merasakan hal yang sama tapi, Kakak lebih dewasa dari Mufti bahkan saat orangtua Kakak memilih bekerja, Kakak sudah lulus dari pesantren sementara Mufti masih kecil dan dia belum siap menerima aemua ini, Kak. " jelas Hafsah.


Ustadz Mustafa yang terharu setelah melihat buku Mufti, mengangguk pelan beberapa kali.


" Hafsah, apa rencana kamu untuk Mufti? " tanya Ustadz Mustafa.


Hafsah yang memandang ke arah Ustadz Mustafa tersenyum sambil mengangguk bersiap untuk mengatakan semua rencananya kepada Ustadz Mustafa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2