Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 111. Masa Lalu


__ADS_3

" Nak Azmi, kamu habis dari mana? Kok sendiri toh? " tanya pak Satpam dengan wajah fokus memandang Azmi yang terlihat lelah.


" Habis latihan pak, tadi saya di antar sama adiknya Ustadz Mustafa cuma dia berhentinya di sana, " jelas Azmi dengan menunjuk tempat Mufti menghentikan mobilnya.


" Oooo begitu toh, ya sudah ayo masuk!" perintah pak Satpam.


" Assalamualaikum pak Satpam, " ucap salam dengan suara lembut dua orang santriwati.


Mendengar ada suara santriwati Azmi menghentikan langkahnya dan memilih untuk melihat wajah kedua santriwati itu.


" Wa'alaikukumsalam, kalian lagi, ada apa toh? Kalau ada ustadz atau ustadzah yang melihat, bisa dihukum kalian, " ucap pak Satpam.


" Pak Satpam yang baik, ini Aisyah dari kemarin mau kasih surat sama kakaknya tapi pak satpam selalu suruh kita kembali ke pondok. " ucap Fitri yang tidak lain adalah sahabat Aisyah.


" Iya pak, memang kenapa sih? Saya khawatir sama keadaan kakak saya, itu aja kok, dari kemarin pak satpam terus ngusir kita, " ucap Aisyah yang tidak tau apapun tentang keadaan kakaknya.


" Aisyah, jadi kamu adiknya mas Akmal, " ucap Azmi yang sedari tadi memperhatikan Aisyah dengan serius.


Aisyah menoleh ke arah Azmi dan diam untuk beberapa saat ia mulai mengingat masa kecilnya bersama Azmi yang satu sekolah dengannya tapi entah kenapa Aisyah menunjukkan wajah kesal dan bercinya kepada Azmi.


" Pak tolong kasih surat ini ke kakak saya, saya minta tolong banget, ini penting!" ucap Aisyah terus memohon tanpa menghiraukan pertanyaan Azmi.


Pak Satpam yang tidak bisa melakukan apapun mau menerima surat dari Aisyah untuk kakaknya.


" Aisyah ini Azmi, kamu gak ingat? " ucap Fitri yang juga teman sekelas Azmi dulu.


" Aku gak pernah kenal sama dia, ingat ya pak, kasih ke kakak saya namanya Muhammad Akmal Khalilul Rahmah, terimakasih pak, assalamualaikum. " jawab Aisyah terburu-buru menarik paksa tangan Fitri agar mau pergi dengannya.


Fitri menjadi bingung dan menggaruk kepalanya ia terus menanyakan sikap Aisyah yang aneh.


Azmi terdiam terus mengawasi langkah Aisyah yang sudah jauh dan terburu-buru menuju pesantren.


" Nak Azmi, kenal dia? " tanya pak Satpam.


" Iya, itu teman saya dulu pak, " jawab Azmi dengan nada pelan.


" Kalau gitu kamu saja yang kasih suratnya ke Akmal ya, itu anak dari 2 hari yang lalu terus saja minta tolong sama bapak untuk ngasih surat ini, tapi bapak tidak tau harus apa dan bapak usir saja mereka." jelas pak Satpam.


Azmi hanya mengangguk paham ia juga masih bingung atas sifat Aisyah.


" Saya masuk dulu ya pak, assalamualaikum, " Azmi.


" Iya nak, wa'alaikumsalam, " jawab pak Satpam.


Ponpes Putri ❣️


" Ini ustadzah barang-barangnya, " ucap Aisyah memberikan barang belanjaan kepada Ustadzah Lily.


" Terimakasih Aisyah, tapi... Kamu tidak pergi ke ponpes putra, kan? " tanya Ustadzah dengan tatapan serius.

__ADS_1


Aisyah mulai takut ia juga memandang Fitri yang menggelengkan kepalanya pelan sembari menunduk.


" Eeee... Eng... Enggak Ustadzah, " jawab Aisyah terbata-bata dengan bola mata yang berputar ke kanan dan ke kiri tanda gugup.


" Bagus kalau gitu, Kalau sudah ada pengurus untuk belanjaan, ustadzah tidak akan menyuruh kamu lagi, karena sebenarnya santriwati tidak boleh keluar. Tapi, kerena kamu dan Fitri adalah santriwati yang baik, jadi Ustadzah sangat percaya dengan kalian. Tapi, jangan sampai kalian mempermainkan kepercayaan Ustadzah, mengerti?" Ustadzah Lily.


" Mengerti Ustadzah, " jawab Aisyah dan Fitri bersama.


" Ya sudah, kalian boleh kembali ke kamar," Ustadzah.


" Assalamualaikum, " Aisyah dan Fitri setelah menyalam tangan Ustadzah.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Ustadzah melihat Aisyah dan Fitri yang sudah pergi.


*********


"Berhenti Syah! " ucap Fitri kepada Aisyah yang terlihat sangat terburu-buru.


Mendengar sentakan Fitri, Aisyah mulai menghentikan langkahnya.


" Kamu kenapa kaya gitu tadi sama Azmi? Bukannya dulu kalian dekat banget sampai dikira pacaran?" Fitri berdiri di hadapan Aisyah yang terus memalingkan wajahnya.


" Apaan, sih? Itu jaman SD, Fit! Aku sama dia gak ada apa-apa, dan satu lagi! Kita ini santriwati, Fit! Kita gak boleh ketemu apalagi bicara sama santriwan, udah itu aja! " jawab Aisyah menatap dalam Fitri yang ada di hadapannya.


" Enggak gitu, Syah! Tadi aku lihat muka kamu itu menunjukkan kalau kamu benci sama dia, kenapa, sih? Apa kamu masih ingat kejadian itu? Azmi udah minta maaf, Syah! Masa kamu gak maafin dia?" Fitri.


" Udah ya, Fit! Kita gak boleh bahas dia lagi!" ucap Aisyah pergi begitu saja.


Ponpes Putra ❣️


Azmi mencari-cari keberadaan Akmal hingga akhirnya ia melihat Akmal yang sedang duduk sendiri di depan kamarnya. Azmi langsung melanjutkan langkahnya menghampiri Akmal.


" Assalamualaikum mas Akmal, " ucap Azmi duduk di samping Akmal.


Akmal yang hendak meminum obatnya seketika kaget dan cepat-cepat menyembunyikan obat yang berbentuk pil kecil itu.


" Azmi, kamu udah pulang, Ustadz Mustafa mana? " tanya Akmal menoleh ke arah Azmi.


" Iya mas, tadi aku di antar sama mas Mufti, adiknya Ustadz Mustafa. " jawab Azmi.


" Serius kamu, Mi? Emang dia mau nungguin kamu latihan? " tanya Akmal tidak percaya.


" Mau kok mas, malah dia nungguin aku sampai ketiduran. " ucap Azmi tertawa kecil membuat Akmal juga ikut tertawa.


" Bagus deh Mi, kalau gitu, " Akmal menghentikan tawanya.


" Oh ya mas, ini ada surat dari adik mas, " ucap Azmi menyodongkan surat kepada Akmal dari Aisyah.


" Dari Aisyah? Kamu ketemu dia, Mi? " tanya Akmal setelah menerima surat itu.

__ADS_1


" Iya mas, tadi itu... Aku....


" Mal, jangan dekat-dekat sama dia, " Ali yang tiba-tiba datang dengan tatapan sinis karena masih kesal kepada Azmi.


Serentak Azmi dan Akmal bangun dan berdiri di hadapan Ali.


" Lho, emang kenapa? Azmi ini anak baik Li," Akmal.


" Kamu gak tau apa-apa Mal, dia ini munafik, dia ini pencuri Mal! " sentak Ali menatap tajam Azmi yang hanya bisa diam menghormati seniornya.


" Pencuri? Itu gak mungkin Li, masa anak baik-baik kaya gini kamu bilang pencuri sih, Li. Azmi gak mungkin kaya gitu, kamu jangan asal ngomong Li, kasihan Azmi, " Akmal memandang Azmi dan kembali menatap Ali.


" Kamu itu gak tau apa-apa Mal, semua santri disini sudah tau kalau dia itu pencuri!" tegas Ali.


Akmal terus menggelengkan kepalanya dan ia masih teguh dengan pendiriannya yang mempercayai Azmi.


" Li, kamu jangan ngomong gitu, Azmi... " Akmal.


" Udah mas Ali, mas Akmal, aku gak mau bikin kalian ribut, apalagi mas Akmal baru keluar dari rumah sakit, mas Akmal harus banyak istirahat, aku permisi dulu mas, assalamualaikum. " ucap Azmi melerai perdebatan Ali dan Akmal dan pergi begitu saja menuju kamarnya.


" Li, kamu kenapa, sih? Azmi pasti sakit hati dengar omongan kamu, kasihan Azmi dia itu lebih muda dari kita seharusnya kita memperlakukan dia dengan baik bukan jelel-jelekin dia kaya gitu. " Akmal.


" Terserah kamu Mal, kamu bela dia atau aku, " Ali melangkah masuk ke kamar dengan perasaan kesal.


" Ali kenapa, sih? " ucap Akmal yang bingung dan kembali duduk menahan rasa sakitnya ia kembali meminum obatnya.


****


" Assalamualaikum, " ucap Azmi yang tidak mau menunjukkan kesedihannya kepada semua teman kamarnya.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Ahkam sementara Aban dan Muhklis menjawab dengan pelan.


" Capek, Mi? " tanya Ahkam mengetahui wajah Azmi yang lelah.


" Enggak kok, biasa aja, " ucap Azmi ia menghampiri Ahkam dan duduk di sampingnya.


Azmi tersenyum kepada Ahkam yang barus saja menyelesaikan belajarnya.


" Senyum-senyum mulu, ketemu cewek? " tanya Ahkam penasaran.


Azmi langsung berdiri dengan wajah berseri-seri dan memberi jempolnya kepada Ahkam.


" Wishh karen mas, kok bisa tau ya, " ucap Azmi melangkah menuju kasurnya dan melepas pecinya.


Ahkam hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya ia sudah terbiasa dengan tingkah lucu Azmi.


Azmi tiba-tiba mengingat perkataan Hamdi ia membuka kembali lembaran kertas yang berisi lirik lagu.


Seketika Azmi memiliki ide memandang satu-persatu teman-temannya yang asyik dengan dunia mereka masing-masing.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2