Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 167 Masalah Kami Juga


__ADS_3

Pagi ini tepat 1 jam setelah sholat subuh berjama'ah. Para anggota Syubban duduk santai berjama'ah di tangga Masjid sambil mencoba latihan begitu juga dengan Azmi, Ahkam, dan Aban yang terlihat serius berlatih bersama dengan selembar kertas berisi lagu yang sudah disiapkan Syafiq. Suara lantang Azmi, suara adem Aban dan suara khas Ahkam meramaikan suasana pesantren membuat tim hadroh tersenyum kagum.


Beda halnya dengan Mufti yang malah asyik menyendiri melamun dengan ekspresi datar seperti memikirkan sesuatu.


" Azmi, Ahkam, ayo kesini! " teriak Ustadz Mustafa menghentikan mereka yang sedang berlatih dan membuat Mufti menoleh kearahnya.


Azmi dan Ahkam segera melangkah menghampiri Ustadz Mustafa.


" Ada apa Ustadz? " tanya Azmi.


" Ahkam sama Azmi ikut pak sopir buat beli ini, ya. Kyai hanya percaya sama kalian dan Aban saja kalau soal keluar pesantren, tapi cuma perlu 2 orang. Semua sudah ada dicatatan dan ini uangnya, " Ustadz Mustafa.


Ahkam menerima kertas catatan belanjaan dan Azmi menerima uang dari Ustadz dengan sangat sopan menggunakan kedua tangan.


" Nggih Ustadz, " Azmi.


" Baik Ustadz, " Ahkam bersamaan dengan ucapan Azmi.


" Ya sudah, sana ke pak sopir sudah nunggu di mobil itu, " Ustadz Mustafa.


Kepala Azmi dan Ahkam dengan kompak menoleh ke arah yang ditunjukkan Ustadz Mustafa dimana memang benar kalau sudah ada pak sopir yang menunggu.


Ahkam mulai menyalam tangan Ustadz begitu juga dengan Azmi.


" Assalamualaikum Ustadz, " ucap Ahkam diikuti dengan Azmi.


" Wa'alaikumsalam warahmatullah, " jawab Mustafa.


" Ban, pergi dulu ya, dada Aban, " Azmi melambaikan tangannya kepada Aban dengan senyuman manis yang terlukis pada wajahnya sementara Ahkam hanya bisa geleng kepada sambil tertawa kecil melihat tingkah Azmi.


" Heh! Mau kemana, Mi? " teriak Aban.


" Mau belanja!" teriak Azmi.


" Wih, enak banget tuh si Azmi sama mas Ahkam, nitip cilok mas, Azmi! " teriak Udin setelah mendengar ucapan Azmi.


" Gak ada cilok pagi-pagi!" jawab Ahkam.


Seketika ekspresi Udin sedih tidak jadi menitip makanan kesukaannya.


" Ce'ileh, Udin. Nanti juga kita bisa beli cilok sepuasnya, " Firman.


" Mau kemana Azmi sama mas Ahkam? " tanya Ali.


" Mereka diminta belanja makanan sama minuman, " jawab Muhklis.


" Lah, kok bang Muhklis tau? " tanya Aban.


" Muhklis, apa yang saya tidak tau?" Muhklis dengan sangat percaya diri.


Para anggota Syubban hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala tak bisa berkata-kata lagi termasuk Aban yang mulai terlihat senyuman manis pada wajahnya


Pak sopir siap mengantarkan Ahkam dan Azmi untuk belanja, satu-persatu mereka masuk ke dalam mobil. Sopir mulai menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobil mewah milik Kyai.

__ADS_1


Azmi dengan sengaja membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya kepada anggota Syubban.


" Aban! Dadaa, " ucap Azmi sambil tersenyum manis.


Aban mau saja ikut melambaikan tangan dan tertawa kecil melihat tingkah Azmi.


" Lucu juga si Azmi, " Firman.


" Emang dari dulu tuh anak selalu buat kita terhibur, " Ali.


" Aku jadi ingat kalau kita pernah gak percaya sama dia, " Udin.


" Sama Din, aku bodoh banget bisa-bisanya gak percaya sama anak sebaik dan seramah Azmi, " Ali.


" Nyesel kaya gini juga gak ada gunanya, itu harus kita jadikan pelajaran. Selama ini Azmi juga yang terus kasih kita semangat, walau dia lebih muda dari kita," Firman.


Para anggota Syubban mengangguk seakan sudah tidak bisa berkomentar tentang Azmi termasuk Aban yang hanya bisa terdiam masih dengan senyuman manis dan tawa kecilnya.


Disaat semua anggota Syubban bersenang-senang dan begitu ceria tetapi lain dengan Mufti yang sedari tadi menyendiri dan melamun dengan pandangan kosong.


Ali dan Muhklis yang melihat Mufti merasa heran dan bingung mereka saling bertanya.


" Heh, Mufti! Kamu kenapa? Melamun aja dari tadi, " Muhklis.


" Kenapa, Muf? Kalau ada masalah cerita sama kita, " Ali.


" Mas Mufti pasti masih mikirin teman-temannya, ya kan, mas? " tanya Aban.


Sebelum menjawab Mufti menarik nafasnya pelan dan mengeluarkan keras setelah itu ia mengarahkan tatapannya kepada anggota Syubban.


" Yo, koe seng sabar, Muf. Kamu aja dulu keras kepala, kok," Udin.


" Teman-teman kamu masih ngeband, Muf? " tanya Ali.


" Gak tau, gue. Nomer gue udah diblokir. Jadi gue gak bisa tau kabar mereka sekarang, " Mufti ia kembali memalingkan pandangannya dengan tangan kanan yang menyentuh dahinya setelah selesai bicara.


Anggota Syubban saling toleh mereka juga tidak tau harus berbuat apa disisi lain mereka juga kasihan melihat Mufti yang diacuhkan oleh teman-temannya.


" Gue, ke Kak Mustafa dulu, " Mufti ia melangkah cepat menuju Kakaknya.


" Kasihan juga si Mufti, " Muhklis.


...***...


" Bapak tunggu disini aja ya, " sopir.


" Iya pak, kita masuk dulu, assalamualaikum," Ahkam bersama Azmi yang juga mengucap salam.


" Wa'alaikumsalam, hati-hati, nak. " sopir.


" Siap, pak, " Azmi yang mendengar dengan mengacungkan jempolnya.


Mereka masuk ke sebuah Supermarket yang sudah buka walau terlihat masih sangat sepi mengetahui hari yang masih pagi. Azmi dan Ahkam mulai mencari makanan dan minuman yang sudah tertulis di catatan belanja.

__ADS_1


Tidak lama, Doni bersama teman-teman Band lainnya meramaikan tempat Supermarket itu dengan suara bising motor mereka.


Bukannya masuk tapi mereka malah nongkrong dikursi depan supermarket. Mereka terlihat sangat asyik tanpa memperdulikan ketidaknyamanan masyarakat sekitar.


" Udah semua, kan mas? " tanya Azmi.


Ahkam melihat semua belanjaan yang sudah ada ditangannya.


" Udah, yok, " Ahkam.


Saat pembayaran, Azmi melihat anak-anak Band yang sangat asyik berbincang membuat ramai suasana.


Selesailah tugas Azmi dan Ahkam, tidak langsung menghampiri pak sopir, Azmi menghampiri anak-anak Band yang tidak lain adalah teman Mufti.


" Mi, mau kemana? " tanya Ahkam.


" Bentar, mas, " Azmi.


" Ada-ada aja tuh anak, ikut aja lah, " Ahkam ia juga mengikuti langkah Azmi yang semakin dekat melangkah menghampiri anak-anak Band.


" Assalamualaikum, " Azmi.


" Wa'alaikumsalam, " jawab anak-anak Band itu walau terlihat sangat sinis.


Melihat kedatangan Azmi membuat Doni kaget ia segera bangun dan berdiri dihadapan Azmi.


" Ngapain lo kesini? " tanya Doni.


" Santai mas, aku kesini cuma mau bilang kalau kalian harus baikan lagi sama mas Mufti, " tegas Azmi.


" Urusan lo apa, hah?" Doni dengan sengaja ia mendorong keras pundak Azmi.


" Waduh, santai bro. Gak usah dorong Azmi kaya gitu!" Ahkam yang sangat kesal dengan perlakuan Doni kepada Azmi.


Anak-anak Band yang lain mulai ikut berdiri dan mendekat.


" Kalian gak usah ikut campur tentang masalah kita, Mufti kaya gini gara-gara kalian!" salah satu anak Band.


" Iya tuh, gue benci banget sama kalian! Kalian licik banget sih, sampai nyuci otak Mufti kaya gitu, " sambung anggota Band lainnya.


" Kalian dengar, kan? Gak usah belagu mentang-mentang kalian udah viral, " Doni.


" Maaf, mas. Mas Mufti itu mau yang terbaik buat kalian semua! Sekarang masalah mas Mufti itu juga masalah kami juga karena dia udah jadi teman kami. Asal mas tau, anggota Band kalian juga gak hancur, kan? Coba kalian pikir lagi, disini siapa yang benar dan siapa yang salah!" tegas Azmi membuat anak-anak Band itu tak bisa berkata-kata.


Mereka juga sempat saling toleh dan membenarkan perkataan Azmi sementara Doni juga terdiam menelan ludahnya menatap tajam Azmi dan Ahkam dan kembali memalingkan wajahnya.


" Eh ada gus Azmi sama Ahkam, tuh! " salah satu wanita yang kaget dan heboh melihat kehadiran Azmi dan Ahkam.


" Gawat nih, Mi. Ayo kita cepat pulang, " Ahkam.


Melihat sejumlah orang yang berteriak histeris menyebut nama mereka dan hendak menghampiri mereka, Azmi mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.


Mereka segera pergi dari tempat menghindari gerombolan wanita yang sangat histeris.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2