
Zakir yang juga berada diluar Masjid berkumpul dengan keluarganya saat kedua orangtuanya berbicara dengan salah seorang warga. Zakir membalikkan tubuhnya dan ia melihat Azmi yang sendirian entah dimana orangtua dan kedua Adik Azmi.
Bisa dilihat dari tempat Zakir berdiri kelau Azmi baru saja berbicara dengan beberapa remaja Masjid dengan sangat akrab dan seringkali Azmi tersenyum ataupun tertawa manis kepada beberapa remaja tersebut.
Tapi, setelah cukup berbicara para remaja pamit kepada Azmi untuk pulang, kini Azmi hanya duduk sendiri tanpa ada yang menemani mungkin kedua orangtua Azmi sedang asyik berbicara dengan para orangtua begitu juga dengan kedua Adik Azmi yang asyik bermain dengan teman-teman mereka.
Zakir menoleh ke belakang ia melihat begitu asyiknya kedua orangtuanya berbicara dan Dimas baru saja pergi untuk kepentingan lain.
Disitulah terbesit hal buruk dalam pikiran Zakir ketika kembali menatap tajam Azmi yang terlihat tengah duduk dan sangat fokus kepada handphonenya.
Zakir mulai mengambil handphone yang ada pada saku celananya dan juga mulai membuka handphonenya.
" Halo, "
Semuanya sudah disiapkan matang-matang oleh Zakir, beberapa orang suruhan Zakir sudah datang dan langsung melihat Azmi sebagaimana yang diberitahukan oleh Zakir.
Beberapa orang bertubuh kekar dan besar berusia cukup muda mendekati Azmi dan langsung menutup mulut Azmi yang duduk sendirian di kondisi yang sepi mereka membawa Azmi ketempat yang sepi untuk memulai aksi mereka.
" Iya, Bu. Insya Allah, saya nanti ke rumah Ibu, " ucap Ummi Azmi kepada seorang Ibu yang juga bersama anak gadisnya.
" Jangan lupa bawa Azmi ya, tante. Saya ngefans banget sama Azmi." ucap anak Ibu itu dengan penuh semangat yang melukis senyum Ummi dan Abah Azmi yang mendengar.
" Iya, Insya Allah, " jawab Ummi.
" Ummi! Gawat! " Naufal berteriak sambil berlari menghampiri Ummi dan Abahnya.
Naufal berhenti setelah berdiri tepat di samping Umminya. Tentu Abah dan Ummi kebingungan ketika melihat Naufal yang seperti itu juga Rara yang ikut berlari kecik dibelakang Naufal.
" Ada apa, Nak? Mas Azminya mana? Ayo, kita pulang. " Ummi.
" Nah, itu dia Ummi, Abah. Mas Azmi hilang." jawab Naufal yang membuat semuanya kaget.
" Astagfirullah, kok bisa? Tadi kalian gak sama Azmi? " tanya Abah.
" Maaf Abah, tadi kita main sebentar. Lagian tadi Mas Azmi bicara sama teman-temannya juga, " jawab pelan Rara dengan wajahnya yang takut dimarahi.
Aisyah yang berada tidak jauh darisana tidak sengaja mendengar semua itu. Ia yang tengah sendirian seketika mulai cemas akan keberadaan Azmi.
" Azmi hilang? " gumam Aisyah dengan tatapan mata yang seolah tengah berpkir.
" Ya Allah, jangan-jangan ada haters Azmi yang memanfaatkan keadaan tadi, " ucap anak gadis yang juga takut kalau Azmi kenapa-napa.
__ADS_1
" Benar juga itu, Azmi kan udah terkenal Bu, Pak. Pasti banyak juga orang yang gak suka sama dia, " sambung Ibu.
Aisyah sempat menoleh mendengarkan semua pembicaraan dan ia juga ikut mengkhwatirkan keadaan Azmi.
" Aisyah! Kamu cantik banget, tapi belum minta maaf sama aku, " ucap Fitri yang tiba-tiba muncul dihadapan Aisyah gang sedang cemas.
" Fitri, gawat! " Aisyah.
" Gawat? Kenapa, Syah?" tanya Fitri yang kebingungan.
" Kamu bilang ke Ibu sama Ayah aku kalau aku ada urusan, oke. Ingat, tolong sampaiin itu, ya. Assalamualaikum, " ucap Aisyah yang sangat terburu-buru untuk mencari Azmi karena ia takut kalau Azmi kenapa-napa nanti.
" Eh, Aisyah! Tapi kamu mau kemana, Syah? Aisyah! " teriak Fitri yang bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi tapi Aisyah sudah pergi jauh dengan langkah yang ia percepat agar bisa menyusul Azmi.
" Wa'alaikumussalam warahmatullah, " Fitri.
Fitri hanya bisa menghela nafasnya karena tingkah Aisyah yang membuatnya bingung. Setelah melihat langkah Aisyah yang sudah mulai jauh barulah ia pergi untuk menemui Ayah dan Ibu Aisyah menyampaikan amanah yang telah Aisyah berikan kepadanya.
Bersamaan dengan itu kedua orangtua Azmi dan juga Adik Azmi segera pergi mencari Azmi. Wajah mereka semua memang terlihat sangat khawatir takut terjadi apa-apa pada putra sulungnya.
Azmi dibawa menaiki mobil agar tidak ketahuan atau dilihat oleh orang-orang yang tengah bersilaturahmi.
Azmi berusaha melepaskan tangannya yang terikat tali dan mulutnya yang tertutup kain. Azmi dibawa sampai ke suatu tempat yang sepi oleh ketiga orang yang telah menculik Azmi.
" Zakir, kamu kenapa senyam-senyum kaya gitu? " tanya Dimas yang baru datang langsung melihat senyuman licik yang terlukis diwajah jahat Zakir.
" Emang kenapa? Gak boleh aku senyam-senyum? " ucap Zakir begitu sinisnya.
" Bukannya gitu, tapi aku gak mau aja kamu melakukan hal enggak-enggak lagi sama Azmi. Bisa-bisa kamu malah yang terkena ke jalur hukum kalau kamu sampai merencanakan hal buruk lagi sama orang sebaik Azmi." ucap Dimas.
" Apaan, sih? Seudzon aja jadi orang. Siapa juga yang punya rencana sama Azmi di hari suci kaya gini." jawab Zakir menatap tajam Dimas.
" Semoga aja, karena aku kenal banget sifat kamu. Aku gak akan biarin Azmi kenapa-napa ditangan orang yang sukanya insecure, maunya menang sendiri kaya kamu." ucap Dimas mendekati Zakir seolah dia sedang menantang Zakir dan sangat membela Azmi.
Dimas berbicara tepat di telinga kanan Zakir dan pergi begitu saja.
Wajah Zakir seketika berubah panik ia menatap sekilas Dimas dan kembali menghadap ke depan lalu menurunkan kepalanya.
" Mas Dimas ngomong apa, sih? Segitu banget sama Azmi, tenang aja dia gak akan kenapa-napa paling cuma patah tangan sama kaki aja nanti, " Zakir dalam hati sembari tersenyum licik.
Zakir memandang handphonenya dan melangkah menyusul Dimas menuju kedua orangtuanya.
__ADS_1
" Azmi, Azmi! Azmi! Kamu dimana!" teriak Aisyah, langkah kecilnya terus melangkah sedikit cepat agar bisa cepat menemui Azmi.
Aisyah terus berjalan sampai ia ada pada hutan yang tidak jauh dari desa mereka.
Azmi dibawa turun dengan paksa, sungguh tubuh Azmi telihat sudah begitu lelah karena sedari tadi berusaha melawan.
" Kita apain nih, bocah? " tanya penjahat 1.
" Udah, hajar aja! Kan gitu yang disuruh, " jawab penjahat 2.
" Benar juga tuh, daripada kelamaan. Nih, anak juga udah lemas banget." sambung penjahat 3.
Azmi menunduk lemas walau ia sudah berusaha melawan melepaskan dirinya tapi ikatan yang terlalu kuat membuat Azmi sulit untuk melepaskan dirinya.
Tanpa berlama-lama, salah seorang penjahat itu mulai menghajar Azmi. Azmi sempat menghindar dari pukulan penjahat itu tapi kedua penjahat lainnya memegangi Azmi.
Tepat sekali, Aisyah datang dengan langka yang tepat ia melihat Azmi yang dipegangi dua laki-laki kekar.
" Stop! Tolong, tolong!" teriak Aisyah yang membuat takut ketiga penjahat itu.
" Duh, gimana ini? " penjahat 1.
" Kenapa ada orang yang datang, sih? " penjahat 2.
Aisyah terus berteriak mencari bantuan hingga warga yang ada disekitar sana mengingat tempat kejadian tidak jauh dari pemukiman warga.
Warga datang untuk membantu Aisyah, membuat ciut ketiga penjahat itu.
" Ada apa, neng? " tanya seorang bapak.
" Tolong pak, teman saya mau diapa-apain sama mereka, " ucap Aisyah.
" Kabur, kabur! " ucap penjahat 1 yang sudah panik melihat beberapa warga yang datang mereka berlarian kencang tidak tau mau kemana karena mobil mereka ditaruh diluar pemukiman.
Para warga segera mengejar penjahat itu sementara Aisyah mendekati Azmi yang terduduk lemas.
" Astagfirullah, Azmi." ucap Aisyah ia mulai melangkah mendekati Azmi untuk melepas tali yang diikatkan ditangan dan melepas sebuah kain yang menutupi mulut Azmi.
" Aisyah, terima kasih. Aku gak tau apa jadinya aku kalau gak ada kamu," ucap Azmi kepada Aisyah.
Aisyah mengangguk ia berdiri tepat dihadapan Azmi.
__ADS_1
" Tapi siapa, sih yang tega ngelakuin hal jahat kaya gini sama kamu? Ini, kan hari raya." tanya Aisyah terlihat jelas wajahnya yang begitu kesal dan geram.
Bersambung...