Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 30. Sabar.


__ADS_3

Aban berusaha menampilkan penampilan yang terbaik bersama grup Syubban yang lain walau ia masih memikirkan keadaan Azmi . Sementara Akmal melirik Aban yang gelisah ia merasa sangat bersalah atas apa yang ia lakukan kepada Azmi. Para jama'ah yang datang sangat menikmati sholawat yang dibawakan oleh anggota Syubban.Ustadz Mustafa tersenyum senang melihat muridnya mampu menampilkan yang terbaik.


Sementara disisi lain pak satpam membawa Azmi kepada ustadz Abdullah yang sedang berbincang dengan Kyai. Terlihat pak satpam merangkul Azmi yang sangat lemas hidungnya masih saja mengeluarkan darah.


"Assalamualaikum. "ucap pak satpam beridiri didepan pintu kantor yang terbuka.


"Wa'alaikumsalam."ucap Kyai dan ustadz Abdullah. Mereka melihat Azmi yang sangat lemah dan segera menghampirinya.


"Astagfirullah, ini kenapa somat."ucap Kyai kepada pak satpam sembari membantu memegangi Azmi.


"Saya juga tidak tau Kyai, tadi saya lihat anak ini sudah seperti ini. "pak satpam.


"Ya sudah bawa keempat duduk dulu,ayo."ucap ustadz Abdullah.


Perlahan pak satpam membawa Azmi duduk di kursi .Azmi berusaha menutupi hidungnya yang mengeluarkan darah. Segera ustadz Abdullah mengambilkan obat merah,kapas dan hansaplas yang tersedia di ruang kesehatan.Ketika ustadz Abdullah ingin mengobati Azmi Kyai menghentikan tangan ustadz Abdullah.


"Sudah biar saya saja. "ucap Kyai memberi senyumnya.


"Biar saya saja Kyai."ustadz Abdullah.


"Tidak apa-apa, sini obatnya."Kyai.


Perlahan Kyai mengobati Azmi. Azmi merasa sangat tidak enak dan menundukkan kepalanya.


Santri yang melintas berhenti ketika melihat Kyai mengobati luka Azmi.


"Itu kan Azmi, gak sopan banget sih.Masa Kyai ngobatin lukanya. "santri 1.


"Iya benar ,dasar gak punya sopan santun."santri 2.


"Gak punya rasa bersalah tu anak, taunya berantem mulu lagi."santri 3.


Mereka terus berbicara yang tidak baik tentang Azmi di depan pintu kantor itu. Ustadz Abdullah yang mengetahui segera menyuruh ketiga santri itu pergi. Merekapun pergi atas perintah ustadz Abdullah. Ustadz Abdullah kembali melangkah masuk.


Azmi sudah selesai diobati. Azmi segera mencium tangan Kyai cukup lama sembari meminta maaf.


"Sudah-sudah tidak apa-apa. "ucap Kyai membangunkan Azmi.


Azmi sangat tidak enak kepada Kyai ia terus menundukkan kepalanya.


"Cah ganteng, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu."pak satpam.


"Iya Azmi, ayo ceritakan kenapa kamu bisa babak belur gitu."ustadz Abdullah.


Azmi terdiam seakan takut untuk menceritakan hal yang sangat mengerikan itu.


"Ayo nak, cerita saja. "Kyai.

__ADS_1


Akhirnya Azmi mau menceritakan apa yang terjadi walau suaranya bergetar dan menahan sakitnya.Semuanya kaget setelah mendengar pengakuan Azmi.


"Siapa yang berani nyerang kamu kayak gitu Azmi?."tanya ustadz Abdullah.


"Orangnya pakai masker ustadz, jadi saya gak tau siapa. "jawab Azmi.


"Abdullah kamu harus umumkan ini ke semua santri,bahaya kalau kejadian seperti ini lagi.Kalau sudah ketahuan siapa orangnya beritahu saya."Kyai.


"Baik Kyai. "ustadz Abdullah.


"Ya sudah, Azmi, kamu boleh istirahat."Kyai.


"Baik Kyai."Azmi.


"Ayo le,saya antar. "pak satpam.


"Iya pak. "Azmi.


Azmi pamit mencium tangan Kyai dan juga ustadz Abdullah. Ia melangkah keluar kantor. Di tengah perjalanan banyak santri yang membicarakan Azmi.


"Azmi,kamu kok gak punya sopan santun sih sama Kyai. "santri .


"Iya, katanya pengen jadi vocal tapi kerjaannya berantem mulu,sok jagoan."santri yang lain.


Azmi hanya bisa diam mendengarkan sementara pak satpam terus menuntun Azmi menuju kamarnya.


"teriamaksih pak, sudah mau nolong saya."Azmi mencium tangan pak satpam.


"Sama-sama, ya sudah kamu istirahat bapak mau lanjut jaga. "pak satpam.


"Iya pak, sekali lagi terimakasih sudah nolongin saya."Azmi.


"Iya, iya.kamu masuk sana."pak satpam.


Azmi tersenyum dan mengangguk.


Pak satpam melangkah pergi meninggalkan Azmi.


Azmi masuk ke kamarnya yang sepi, ia melihat wajahnya di cermin dan mengingat kembali kejadian itu.


"Siapa ya orang itu?. "Azmi sembari melihat wajahnya dicermin dan memegangi dagunya.


Terdengar suara klakson mobil .Para anggota Syubban sudah datang. Pak satpam segera membukakan pintu gerbang. Azmi melangkah keluar kamar dan tersenyum memandang para anggota Syubban yang mulai turun dari pick-up.


Azmi segera menghampiri para anggota Syubban.Aban yang sedari tadi mengkhawatirkan Azmi segera berdiri di hadapan Azmi.


"Azmi kamu dari tadi kemana aja, pasti Zakir ngerjain kamu lagi, "tanya Aban penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Azmi itu kenapa kok dahi sama dagu kamu di hansaplas gitu."Ahkam.


"Iya Mi, kamu kenapa?."tanya Ali yang turun dari pick-up.


Belum saja Azmi menjawab semua pertanyaan teman-temannya. Ustadz Mustafa segera menghampiri Azmi.


"Azmi. Kamu kemana saja? .Bisa disiplin tidak, kamu tau tidak kesalahan apa yang kamu perbuat. Kalau tidak niat belajar di Syubban bilang ,bukan malah kabur kayak gitu. "sentak ustadz Mustafa kepada Azmi yang wajahnya pucat. Teman-teman yang lain hanya bisa diam memandangi Azmi.


"Maaf ustadz, tadi... "Azmi


"Ah sudah, kalau sampai kamu tidak disiplin lagi, ustadz akan mengeluarkan kamu, paham. "ustadz Mustafa.


"Paham ustadz, sekali lagi saya minta maaf. "Azmi menunduk.


"Baik, sekarang kalian boleh istirahat. Ingat ya,Azmi."ustadz Mustafa,ia pergi menuju kantor.


Aban, Ahkam,dan Muhklis mendekati Azmi. Ahkam menepuk pundak Azmi .


"Azmi, sebenarnya kenapa sih?."Ahkam.


"Mas Ahkam, tadi ada yang nyerang aku mas, aku tadi berusaha ngelawan tapi gak bisa mas ,dia nyerangnya serem banget."ucap Azmi


Semua teman-teman Azmi kaget mendengar perkataan Azmi sedangkan,Akmal hanya bisa memalingkan wajahnya.


"Siapa yang berani nyerang kamu Mi?."Aban.


"Aku gak tau orangnya pakai masker, tapi tenang ustadz Abdullah dan Kyai udah tau kejadian ini. "Azmi.


"Syukur kalau gitu."Muhklis.


"Jahat benar orang itu, kamu yang sabar Mi,"Ali.


Serentak semua anggota Syubban menyemangati Azmi dan menyuruh Azmi untuk bersabar kecuali Akmal yang dari tadi gelisah. Firman yang melihat Akmal segera memanggilnya.


"Akmal, kok diam aja sih?."Firman.


"Iyo, ini Azmi kena musibah lo."Udin.


"Biasanya kamu yang paling peduli sama Azmi."Ali.


"Iya, Azmi kamu sabar ya... Emmm..Semoga orang itu cepat ketemu."Akmal ,sesekali ia memalingkan pandangannya.


"Iya mas. "Azmi.


Ali dan Firman saling pandang dan mulai curiga dengan raut wajah Akmal yang gelisah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2