
Hangatnya sinar matahari pagi menerangi panggung dimana disanalah Azmi bersama tim hadrohnya dan 2 teman vocal yang selalu ada bersamanya tak akan pernah lepas darinya siapa lagi kalau bukan 2 santri yang manis bak gula jawa yaitu Aban dan Ahkam.
Mereka melantunkan sholawat yang membuat semangat para jama'ah yang hadir. Suara Azmi yang lantang dengan gayanya yang kini menggunakan kaca mata hitam dari Abahnya melihat silaunya matahari membuat histeris para kaum hawa yang mengaguminya terus berteriak menyebut nama Azmi dengan sangat keras penuh semarak.
Sesekali Azmi tertawa terlihat berbisik pada Ahkam saat giliran Aban yang sholawat sungguh hal itu membuat teriakan semakin histeris dengan tawa manis Azmi yang bikin klepek-klepek mata memandang.
" Masya Allah, Azmi! "
" Aduh, adem banget calon imamku. "
" Azmiiiii!!!"
" Inimah gantengnya sepadan sama artis korea ergh, "
Pujian-pujian itu terus dihaturkan untuk Azmi juga anggota Syubban yang sangat membuat semangat para pemuda datang-datang pagi-pagi untuk bersholawat dan menyaksikan penampilan mereka.
" Pemuda yang sejati yang dicintai oleh Nabi
Bukan yang berotot besi apalagi tukang selfi
Pemuda anti maksiat gemar membaca sholawat
Dan tak pernah lupa mengerjakan sholat." suara Azmi yang lantang dengan nada keras ketika membaca lirik itu sontak saja mengejutkan para jama'ah yang hadir.
Lagu " Ayo move on " yang dibawakan oleh anggota Syubbanul Muslimin sangat milenial memengaruhi para pemuda yang semakin menggemari mereka.
Dengan pesona tim Syubban sebagai seorang santri yang selalu berhati-hati berperilaku membuat mereka semakin dikagumi.
Sorak-sorak jama'ah pagi itu membuat senang dan terharu Kyai, senyuman terlukis di wajahnya yang berseri saat melihat ribuan jama'ah yang rela datang dari subuh hanya untuk tim Syubban.
Di sisi lain, Hamdi dan Syafiq yang juga masih muda ikut menikmati alunan lirik yang di bawakan ketiga vocal dengan suara mereka yang sangat enak. Mereka berdua menjadi seperti jama'ah yang lain yaitu berdiri sambil bersholawat dengan barisan yang sama dengan jama'ah laki-laki lainnya.
Ustadz Mustafa yang habis berbincang pada salah satu jama'ah seketika menghentikan obrolannya saat melihat Kyai yang tengah duduk sendiri.
Langkah kaki Ustadz Mustafa sangat hati-hati melangkah sampai pada Kyai.
__ADS_1
" Ehem, assalamualaikum, Kyai. Maaf saya boleh duduk disini, " ucap Ustadz Mustafa penuh adab dengan kepala yang sedikit tertunduk sekilas memandang Kyai ketika ia bicara.
" Mustafa, wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, silakan duduk, saya juga sendiri dari tadi, " Kyai sambil tertawa kecil setelah selesai bicara memperbolehkan Ustadz Mustafa untuk duduk menemaninya.
Ustadz Mustafa tersenyum bersamaan dengan anggukan pelan beberapa kali untuk duduk di sebelah Kyai.
" Saya sungguh bersyukur atas apa yang semua santri-santri saya raih, termasuk saat ini anggota Syubban yang kini tiap harinya ribuan orang selalu menunggu kehadiran mereka. Alhamdulillah Ya Rabb, terima kasih atas segalanya yang Engkau berikan." Kyai dengan nada lirik membuat hati Ustadz Mustafa terenyuh memandang kembali anggota Syubban yang berada di bawah masih semangat menggemakan sholawat mereka.
Angin di desa ini cukup kencang dan menyejukkan menghembus ke arah wajah Kyai dan Ustadz Mustafa yang kini berada dalam bangunan yang tersedia di taman itu dan kini khusus di jadikan tempat untuk Kyai, Ustadz Mustafa bersama yang lainnya berteduh.
" Alhamdulillah wa syukurillah, Kyai. Saya sama sekali tidak pernah membayangkan kalau anak-anak, santri-santri, dan pemuda-pemuda sholeh ini bisa sampai seperti ini." Ustadz Mustafa.
Kyai mengangguk pelan beberapa kali, wajahnya yang sudah tak muda lagi terlihat lelah tapi ia masih saja memberikan senyuman kepada Ustadz Mustafa bukan keluhan, Kyai selalu bersikap sabar dengan senyumannya yang adem dan ramah kepada semua orang tak terkecuali.
" Alhamdulillah, alhamdulillah, " Kyai kembali memalingkan pandangannya kini matanya kembali mengarah pada anggota Syubban yang masih semangat melantunkan sholawatnya kepada para jama'ah dan penggemarnya.
Ustadz Mustafa pasti sangat merasakan apa yang dirasakan oleh Kyai ia juga tersenyum kecil memandang Kyai dan kembali mengarahkan pandangannya pada anggota Syubban.
"Jadilah kau pemuda generasi yang berguna
"Jadilah pemuda taat agar dirimu selamat
Di akhirat bisa berjumpa dengan kanjeng nabi Muhammad." suara Aban yang khas menarik perhatian semua jama'ah yang ada di sana.
Mereka ikut mengikuti lirik sholawat dengan penuh semangat yang menggebu-gebu tiada kata lelah bagai mereka ketika bersholawat dengan para anggota Syubban yaitu dengan tiga vocal yang suaranya sungguh indah dengan khas mereka masing-masing dan para tim hadroh yang selalu bersemangat mengiringi lantunan sholawat yang dibawakan, Azmi, Aban dan Ahkam.
Ya nabi.. Ya nabi⦠ya nabi I Love You
Aku cinta padamu nabi.. aku rindu padamu nabi....
...***...
Pagi ini Aisyah dan Fitri duduk bersama dirumah Aisyah tepatnya pada ruang tamunya.
" Makasih yah, Fit. Kamu udah bantuin aku beres-beres rumah, " ucap Aisyah dengan suara lembutnya kepada Fitri yang duduk disebelahnya dan kini sedang tersenyum memandang ke arahnya.
__ADS_1
" Sama-sama, lagian pekerjaan akan cepat selesai jika dikerjakan bersama." Fitri.
" Hmmm, kalau gitu kenapa kamu gak bantuin aku tiap hari? Biar tiap hari pekerjaanku cepat selesai," Aisyah.
" Kalau itu, aku gak bisa mengiyakan, Syah. Pekerjaanku juga banyak, " Fitri.
" Pekerjaan apa? Bukannya semua urusan beres-beres rumah udah diurus sama pembantu kamu? " tanya Aisyah.
" Sibuk yang lainlah pokoknya, hehe. Maaf ya, Syah." Fitri menyengir pada Aisyah.
" Ya udah, aku paham." jawab Aisyah singkat.
" Syah, " panggil Fitri kepada Aisyah yang sedang memalingkan wajahnya untuk membenarkan hijabnya.
" Iya, apa? " Aisyah langsung menoleh.
" Nanti kamu sholawat bareng aku lagi, kan? Please, nih, ya. Suara kamu itu bagus banget, terus banyak banget yang muji kita terutama kamu, sih. Karena kamu itu cantik, banyak banget akhi-akhi yang datang gara-gara kamu." Fitri ia terus saja memuji Aisyah dengan sangat antusias.
" Astagfirullahal'adzim, Fitri! Ingat, niat kita buat sholawat itu apa? Kita juga gak boleh riya' menunjukkan kehebatan kita satu lagi gak boleh takabur atas pujian-pujian yang orang bilang. Niat kita cuma satu menggemakan sholawat lillahita'ala." tegas Aisyah menegur Fitri yang sudah salah niat dan senang akan pujian-pujian orang.
Fitri langsung mengerti dengan penjelasan Aisyah yang berbicara dengan tegas kepada Fitri.
" Iya, iya deh, aku ngerti. Aku minta maaf," Fitri dengan ekspresi yang penuh rasa bersalah kepada Aisyah.
Suara Fitri yang pelan dan wajahnya yang tampak seperti anak kecil yang habis dimarahi membuat Aisyah merasa kasihan dan langsung merangkul sahabatnya.
" Iya, udah. Mukanya gak usah kaya gitu, yang penting yang kaya tadi jangan diulang lagi, " Aisyah dengan tutur kata yang halus dan nada yang lembut membuat senyuman manis kembali tampak pada Fitri ia langsung menoleh ke arah Aisyah memberikan senyuman manisnya.
" Oke, siap!" Fitri dengan penuh semangat.
Aisyah dan Fitri kembali tertawa bersama bersenda gurau menghadirkan keceriaan mereka pada rumah Aisyah yang kini hanya ada mereka berdua mengingat kedua orangtua Aisyah yang sedang bekerja.
Tawa mereka sungguh adem membuat siapa saja yang mendengar ikut tertawa karena keceriaan kedua sahabat manis itu.
Bersambung...
__ADS_1