
Tik.. Tok...Tik...Tok...
Jam dinding rumah sakit tidak berhenti bersuara itu membuat Akmal terbangun dari tidurnya. Pelan-pelan Akmal duduk untuk menenangkan dirinya ia melihat ibunya yang sangat lelap tertidur di sudut paling pojok pada kursi panjang yang ada di ruangan Akmal.
Akmal melihat jam dinding yang menunjukkan masih pukul 03.00 pagi. Rasa sakit masih ia rasakan tetapi Akmal berusaha untuk menahannya. Entah apa yang Akmal pikirkan, Akmal membuka infus dan oksigen yang terpasang pada hidung dan mulutnya.
Sesekali ia meringis kesakitan sembari memegangi tenggorokan yang terasa sangat kering begitu juga dengan dada Akmal yang terasa sangat sesak.
Kaki kanan Akmal dengan pelan ia jatuhkan ke lantai bergantian dengan kaki kirinya. Akmal mengambil air yang ada di mejanya dan menghabiskannya.
Setelah minum air Akmal kembali memandang ibunya tanpa ia sadari air mata jatuh dan membasahi pipinya, dengan cepat Akmal menghapus air matanya. Keadaan Akmal begitu lemah, melihat wajah Akmal yang sangat pucat dan mata Akmal yang merah.
Akmal perlahan melangkahkan kakinya yang bergetar keluar rumah sakit. Saat berada di luar, Akmal mulai merasakan sesak dadanya yang semakin parah, Akmal berusaha menahannya dan terus melangkah hingga ada seorang Suster cantik yang melihatnya.
Suster dengan wajah cantik dan manis dengan hijab yang terpasang di kepalanya itu melihat Akmal yang terus berjalan. Seorang suster itu mempercepat langkahnya agar bisa mengejar Akmal.
Dada Akmal kembang kempis, nafasnya juga semakin cepat dan tidak teratur, pandangan Akmal juga terganggu terasa semakin gelap karena itu semua, tiba-tiba nafas Akmal seperti berhenti dan semakin membuatnya tersiksa.
Akmal menghentikan langkahnya dan seketika ia ingin terjatuh, dengan sigap seorang Suster yang mengikuti Akmal menangkap Akmal dengan tangan kanan yang menahan pundak Akmal agar tidak terjatuh dan tangan kirinya memegang erat tangan kiri Akmal.
" Kamu kenapa keluar kamar? Ayo, sekarang kita harus kembali ke kamar kamu! Biar saya antarkan, " ucap suster itu dengan suaranya yang lembut.
Akmal berusaha bangun melepas genggaman tangan Suster dan memandang Suster cantik yang telah menolong dirinya.
" Tidak Suster, saya harus menemui Dokter sekarang juga, " Akmal dengan suara yang bergetar.
" Tapi Dokter pasti akan memeriksa kamu, yang terpenting sekarang kamu harus istirahat, " Suster.
" Tidak Sus, saya harus menemui Dokter sekarang juga!" ucap Akmal sedikit tegas.
" Baiklah, saya akan mengantarkan kamu, ayo, " Suster itu.
Akmal menganggukkan kepalanya mengikuti langkah Suster yang membawanya keruangan Dokter yang telah merawat dirinya.
" Mau saya tunggu? " tanya Suster itu.
" Tidak Suster, saya bisa sendiri, " Akmal.
" Kamu yakin, kamu kuat? " tanya lagi Suster itu yang membuat Akmal menoleh dan menatap dirinya.
" Saya yakin, " jawab Akmal sembari mengangguk.
" Oke, kalau begitu saya duluan, permisi," Suster.
__ADS_1
" Iya Sus, terimakasih, " Akmal.
Suster itu hanya membalas dengan senyuman dan anggukan iapun melangkah pergi.
Akmal membuka pintu Dokter itu pelan sembari mengucap salam.
" Assalamualaikum, Dok, saya boleh masuk? " Akmal.
" Wa'alaikumsalam, iya, masuk, " Dokter.
Akmal melangkah masuk menghampiri Dokter.
" Silakan duduk, " Dokter mempersilakan Akmal duduk.
Akmal mulai duduk di hadapan Dokter.
" Kamu santrinya Kyai Hafidz, kan? Subhanallah, baru ingat saya, kenapa kamu malah datang kesini? Seharusnya kamu itu istirahat, " Dokter.
" Saya ingin bertanya tentang penyakit saya Dok, " Akmal.
Mendengar itu Dokter menjadi kaget dan seketika terdiam.
" Dokter, tolong jelasakan tentang penyakit saya Dok, saya tidak mau terus-terusan di rumah sakit ini karena itu hanya membuat repot dan khawatir semua orang terutama ibu saya, Kyai dan Ustadz. " Akmal memaksakan dirinya untuk berbicara dengan suaranya yang serak dan hampir habis.
" Tenang nak, kamu tenang dulu ya, kondisi kamu masih belum pulih total. " Dokter.
" Dokter, bukan jawaban itu yang ingin saya dengar! Saya minta tolong sama Pak Dokter untuk menjelaskan semuanya! " Akmal terus memohon agar Dokter mau menjelaskan semuanya.
" Baik, saya akan jelaskan, " Dokter yang terlihat mulai pasrah.
Akmal sangat antusias menunggu jawaban itu. Melihat wajah Akmal, Dokter merasa kasihan dan tidak tega.
" Penyakit yang kamu derita saat ini adalah penyakit yang berbahaya yang bernama Pneumonia. Gejala yang muncul pertama adalah batuk dan kedinginan, dan ternyata penyakit ini sudah bersarang dan menyebar luas ketubuh kamu yang membuat kamu sulit bicara, bernafas dan berinteraksi dengan orang. Sangat minim sekali orang yang sembuh dari penyakit ini, dan.... " Dokter yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan tidak melanjutkan pembicaraannya ia terlihat sangat sedih tanpa berani memandang Akmal.
" Dan? Dan, kenapa, Dok? " tanya Akmal terus memaksa Dokter agar terus terang kepadanya.
" Dokter, tolong jelaskan semua pada saya, apa penyakit saya ini bisa menular, saya tidak ingin itu terjadi. Tolong Dokter, katakan saja semua pada saya, " Akmal terus memohon agar Dokter mau mengatakan semuanya.
Akhirnya Dokter mau mengangkat kepalanya ia menatap Akmal dan menghela nafasnya terlebih dahulu.
" Tidak nak, penyakit ini tidak menular, mungkin kamu harus mempunyai gelas sendiri untuk minum dan makanan bekas kamu tidak boleh di makan orang lain. Saya hanya ingin memberitahu, saya sudah berusaha semampu saya tapi penyakit kamu ini sangat parah nak, saya akan terus berusaha kalau kamu bisa sembuh dari penyakit ini, tapi ini hanya kemungkinan terjadi 15 persen, karena penyakit kamu itu telah merusak semuanya. " ucap Dokter berusaha tegas.
" Maksudnya, umur saya tidak lama lagi, Dok? " Akmal dengan suara yang lirih dan matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Dokter hanya diam dan kembali menundukkan sedikit kepalanya dan itu membuat Akmal sudah mengerti segalanya ia tidak menyangka bahwa ini akan terjadi padanya.
" Tapi kenapa, Dok? Hidup saya selama di pesantren itu sehat dan baik-baik saja, kenapa saya bisa mengidap penyakit seperti ini, Dok? " tanya Akmal dengan air mata yang terus mengalir di matanya.
Dan Dokter tidak bisa mengatakan apapun ia hanya meminta Akmal untuk sabar dan terus meminum obatnya agar ada keajaiban yang bisa menyembuhkan penyakit Akmal.
" Dokter, izinkan saya pulang, Dok. Dokter jangan bilang kajadian ini kepada siapun, saya tidak ingin merepotkan siapapun, Dok. Saya minta tolong sama Dokter, " Akmal.
" Baiklah nak, tapi kamu harus tetap meminum obat kamu secara teratur. " Dokter.
" Pasti Dok, terimakasih, " Akmal.
Akmal pergi dari ruangan Dokter, perlahan ia melangkah dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Akmal sangat tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi pada dirinya. Akmal memutuskan untuk wudhu dan sholat tahajud pada sebuah musholla yang ada di sana.
" Ya Allah, umur hamba sudah tidak lama lagi, di sisa hidup hamba, hamba tidak ingin membuat semua orang khawatir pada hamba, apapun yang terjadi hamba ikhlas menjalankannya. Ya Allah, hamba hanya ingin bersama teman-teman hamba di pesantren dan bisa bersholawat bersama mereka untuk terakhir kalinya... Aamiin. "
Doa Akmal didengar oleh Suster cantik yang tadi menolongnya.
Suster itu juga ikut sedih dan air mata jatuh membasahi pipinya. Suster itu pergi setelah menghapus air matanya.
Ibu Akmal terbangun, ketika membuka matanya begitu kaget dirinya ketika tidak melihat Akmal. Ibu Akmal terus mencari Akmal hingga bertabrakan dengan Suster yang menolong Akmal.
" Maaf Sus, saya mencari anak saya, apa Suster tau, di mana anak saya? " tanya ibu Akmal.
Saat Suster itu ingin menjawab tiba-tiba ia didahului oleh Akmal.
" Akmal gak kemana-mana kok bu," ucap Akmal yang tiba-tiba hadir di hadapan ibunya yang terus menangis.
" Akmal, kamu kemana aja, nak? Ibu sangat khawatir dengan keadaan kamu. " Ibu Akmal dalam pelukannya yang dalam sembari terus menangis.
Akmal juga memeluk ibunya dengan penuh perasaan, ia coba menahan air mata yang akan jatuh. Suster cantik itu ikut sedih ia tidak kuat melihat Akmal dan ibunya yang terus menangis, Suster itu membalikkan tubuhnya dan menghapus air matanya.
" Akmal gak papa kok, Akmal tadi sholat tahajud bu, ibu tenang ya, Akmal baik-baik saja selama ada ibu di sisi Akmal, " ucap Akmal melepas pelan pelukan ibunya dan menggenggam kedua pundak ibunya.
" Iya nak, ibu akan selalu ada buat kamu, " ibu Akmal lirih.
Suster cantik itu menguatkan dirinya dengan menegakkan dirinya dan kembali menghadap ke arah Akmal dan ibunya.
" Ya sudah kalau gitu, kamu harus kembali ke kamar kamu, ayo saya antarkan, " Suster.
" Iya nak, kamu harus istirahat, ayo Sus, " ibu Akmal.
Akmal tersenyum kepada ibunya dan mengangguk. Ia berjalan perlahan sampai pada kamarnya yang sangat ia tidak sukai.
__ADS_1
Bersambung....