Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 227 Catatan Mufti


__ADS_3

Mata Hafsah terbelalak lebar saat melihat isi yang ada dalam buku yang cukup tebal itu dan tertulis itu dimiliki Mufti semenjak 6 tahun yang lalu dimana waktu itu Mufti masih SMP dan sudah harus ditinggalkan oleh kedua orangtuanya untuk bekerja diluar negri meninggalkan dirinya bersama Ustadz Mustafa.


Hafsah terus membalik buku itu ia mulai terlihat terharu saat melihat tulisan Mufti yang masih kurang jelas.


" Ayah, Ibu. Mufti kangen, andai Mufti bisa sampaikan pesan lewat angin malam ini kalau Mufti hanya butuh perhatian Ibu dan Ayah. Hanya itu yang bisa buat Mufti bahagia bukan uang yang banyak. Mufti iri melihat semua teman Mufti yang selalu ditemani orangtuanya. Apalagi baru saja ambil rapot dan Ibu sama Ayah gak ada disini."


Isi surat itu ~~


Hafsah melihat foto kedua orangtua Mufti yang ia tempel disana dan fotonya bersama Kakaknya yang begitu ia sayangi.


Di bawah foto Mufti bersama Ustadz Mustafa juga ada tulisan yang mengekspresikan begitu bangga dan sayangnya ia kepada Kakaknya yang selama ini selalu menjaganya.


" Aku sayang Kak, Mustafa. Semoga Kakak selalu menjaga diriku."


Mata Hafsah mulai mengalirkan air mata yang sampai jatuh pada buku Mufti.


" Mufti, kasihan banget dia. Aku gak bisa lihat kaya gini bawaannya terharu dan pengen nangis. Aku gak nyangka dibalik sikapnya yang kaya gitu ternyata dia punya masa lalu yang kelam bahkan sudah 6 tahun Mufti belum ketemu sama orangtuanya. Kenapa, sih? Padahal mereka bisa aja pulang buat nengokin Mufti. Iya, kan?" pikir Hafsah ia menghapus air matanya dan kembali membalik lembaran kertas yang terpasang pada buku tebal milik Mufti.


Hafsah juga melihat foto Mufti bersama teman-teman Mufti dan ternyata mereka semua adalah teman Mufti dari jaman SD hingga saat ini yaitu sampai mereka tumbuh dewasa dan menjadi anak Band.


" Sahabatku yang bisa buat aku bahagia dan lupa kalau Ayah sama Ibu jauh dariku. I love my friend. Aku harap kalian akan tetap jadi sahabat aku sampai akhir hayat."


Banyak sekali tulisan tentang catatan harian Mufti yang ia kenang dalam buku itu. Mufti juga menceritakan tentang ia tidak betah tinggal dipesantren hingga ia kabur dan sempat melibatkan banyak orang.


Saat itu Mufti dimarahi habis-habisan oleh Ustadz Mustafa sampai Mufti harus mendapat hukuman dari Kakaknya dan akhirnya Mufti tidak lagi menuntut ilmu dipesantren.


Tapi Mufti memiliki alasan itu semua lakukan karena ia tidak ingin berpisah dari sahabat-sahabatnya yang selalu menghiburnya dan sahabat-sahabatnya yang selalu ada di sampingnya.


" Kasihan banget, Mufti. Ternyata ini alasan dia kabur dari pesantren. Dia sayang banget sama sahabat-sahabatnya yang sampai saat ini masih menjadi sahabat baiknya terutama Doni yang sudah dari kecil jadi tempat curhatnya." Hafsah ia sudah tidak kuat lagi untuk membalik lembaran kertas itu hingga Hafsah akhirnya memilih untuk menutup buku itu dan meletakkannya.

__ADS_1


" Kasihan banget Mufti. Dia pasti kangen banget sama orangtuanya. Aku harus bisa bawa orang tua Mufti kembali kesini. Ya, bagaimanapun caranya. Aku gak tega sama Mufti dia udah sekuat ini. Aku harus ngomong sama Kak Mustafa dia pasti bisa bantu. Aku juga harus ngomong sama teman-teman Mufti tentang tulisan ini kalau sebenarnya Mufti sayang banget sama mereka." Hafsah.


Ia kembali menatap buku Mufti yang sudah ia letakkan dan ia simpan dengan rapi. Tanpa sadar, air mata Hafsah jatuh membasahi pipinya ia tidak bisa menahan harunya setelah melihat apa isi buku Mufti itu.


Hafsah melihat jam dinding yang sudah tepat pukul 12 malam ia memilih untuk tidur terlebih dahulu dan besok baru ia akan bicara pada Ustadz Mustafa tentang ini.


" Ini udah malam banget, besok aja aku ketemu sama Ustadz Mustafa dan teman-teman Mufti. Mereka harus tau kalau Mufti sayang banget sama mereka. Mufti kamu pasti kuat masih banyak anak diluar sana yang lebih susah daripada kamu sekarang, " Hafsah ia mulai bangun dari kursinya menuju tempat tidurnya untuk beristirahat.


****


Sementara itu Mufti masih mencari dimana keberadaan bukunya sampai sudut manapun la periksa dan tidak ada yang tertinggal. Mufti tampak sangat gelisah sambil terus mencari dimana keberadaan bukunya.


Ustadz Mustafa yang baru saja selesai sholat melihat ke arah


pintu kamar Mufti yang terbuka sedikit. Ustadz Mustafa melangkah untuk menghampiri Mufti.


" Astagfirullah, Mufti. Ini kamarnya kenapa sampai berantakan?" tanya Ustadz Mustafa yang sudah berdiri di depan kamar Mufti dan ia kaget saat melihat begitu berantakannya kamar Mufti.


Ustadz Mustafa menghela nafasnya ia tersenyum dan mendekati Mufti.


" Memangnya lagi nyari apa? Benda itu penting banget sampai kamu kaya gini lagian besok juga bisa dicari ini sudah malam, " Ustadz Mustafa.


" Benda itu gak cuma penting, Kak. Itu suatu benda yang sangat berarti buat aku." jawab Mufti dengan nada bicara yang sangat serius tidak hanya itu mata Mufti menatap dalam Ustadz Mustafa.


Ustadz Mustafa sempat terdiam memandang Mufti dengan penuh tanya apa sebenarnya yang ia cari.


Ustadz Mustafa menundukkan kepalanya lalu mengangguk dan kembali menatap mata Mufti ia juga meletakkan tangan kanannya pada pundak kiri Mufti.


" Iya, tapi ini sudah malam, Muf. Kamu harus istirahat. Kamu bisa cari itu besok, Kakak juga akan bantu." Ustadz Mustafa.

__ADS_1


Mufti terdiam ia tidak langsung menjawab ucapan Kakaknya dengan memalingkan wajahnya dan bola mata Mufti yang bergerak ke kanan dan ke kiri sangat menunjukkan kalau ia sangat gelisah dan itu bisa dilihat oleh Ustadz Mustafa lalu ia menurunkan tangannya dari pundak Mufti.


" Mufti, kamu kenapa? Benda yang kamu cari dan kalau itu berarti untuk kamu pasti akan kembali sama kamu. Udah, kamu tenang aja. Sudah sholat?" tanya Ustadz Mustafa.


Mufti menoleh ke arah Ustadz Mustafa sembari mengangguk.


" Sudah, tadi aku sholat di Masjid." jawab Mufti.


Ustadz Mustafa tersenyum setelah mendengar jawaban Mufti dan ia kembali meminta Mufti untuk beristirahat.


" Kita cari benda yang sekarang hilang dari kamu itu besok. Sekarang tenangin diri kamu dan istirahat." Ustadz Musyawarah perlahan ia bicara agar Mufti mau menuruti dirinya.


Setelah berpikir cukup akhirnya Mufti mengangguk mau mendengarkan ucapan Kakaknya.


" Iya, Kak. Aku beres-beres kamat dulu." Mufti.


Mufti segera membereskam kamarnya dan Ustadz Mustafa membantu Mufti agar cepat selesai mengingat malam yang semakin larut.


" Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Sekarang kamu tidur gih. Kakak juga udah ngantuk." Ustadz Mustafa.


" Iya, Kak. Makasih udah bantuan, maaf aku selalu ngerepotin Kakak selama ini, " Mufti.


" Udah, Muf. Kakak gak papa, Kala cuma mau yang terbaik buat kamu." Ustadz Mustafa.


Mufti mengangguk sekali.


" Iya, " Mufti.


" Tidur, jangan begadang. Assalamualaikum, " Ustadz Mustafa ia pergi dan menutup kamar Mufti walau ia masih khawatir dan penasaran dengan barang apa yang hilang dan membuat Mufti sampai gelisah seperti ini.

__ADS_1


" Sebenarnya apa, sih yang hilang? Sampai Mufti kaya gitu, dan tiba-tiba dia ngomong kaya gitu sama aku, " pikir Ustadz Mustafa yang masih berdiri didepan pintu kamar Mufti hingga ia melangkah pergi menuju kamarnya.


Bersambung..


__ADS_2