
Mufti mencoba tenang dan menahan emosinya kepada masyarakat yang sedari tadi ramai menjelek-jelekkan nama Syubban bahkan hampir membuat celaka para anggota Syubban terutama Azmi. Mata Mufti sangat fokus dengan tatapan sinis ia menatap ke arah jama'ah, sementara Hafsah terus mencoba membuat emosi Mufti mereda.
" Tenang, Muf. Kamu harus ingat rencana kita, tahan emosi kamu, oke. Ini demi tim Syubban, " ucap Hafsah dengan tatapan dalam matanya kepada Mufti dan nada bicara yang sangat serius.
Mufti menoleh ke arah Hafsah dan mengangguk pelan mau mengikuti ucapan Hafsah ia kembali memalingkan wajahnya sembari merapikan rambutnya.
" Semuanya harap tenangnya, ya! Saya sebagai pemimpin acara ini mau kalian diam dan fokus kepada tujuan acara, jangan ada yang menghina tim Syubban karena mereka datang atas permintaan saya dan Kakak saya untuk acara slametan ini. Kalian semua paham? " Hafsah berbicara dengan tegas kepada semua jama'ah yang cukup banyak.
" Tapi kenapa yang diundang tim hadroh itu? Mereka gak pantas buat hadir di acara kita! " protes salah satu jama'ah pria yang tidak terima dengan kehadiran tim Syubban bahkan sempat menatap sinis seluruh anggota Syubban yang ada di bawah dekat panggung.
Serentak semua jama'ah juga protes. Mereka sangat tidak suka dengan kehadiran tim Syubban membuat suasana semakin ramai.
Hafsah sempat menoleh ke arah Mufti yang masih diam memandang kepada jama'ah yang masih ramai.
" Saya membawa tim Syubban kesini untuk berbicara tentang kebenaran yang kalian semua tidak tau. Kebenaran itu harus segera diungkap agar kalian tidak lagi menghina mereka! Bukan mereka yang salah! Karena kalian sudah salah paham dengan video itu!" Hafsah bicaranya semakin tegas menggunakan mikrofon yang ia pegang erat dengan tangan kanannya.
Ucapan Hafsah yang tegas membuat keributan sedikit mereda walau masih ada beberapa jama'ah yang berbicara karena bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Iya, Hafsah benar! Anggota Syubbanul Muslimin tidak pernah bersikap jahat kepada saya dan teman-teman. Mereka malah selalu sabar dengan tindakan kriminal yang saya buat dengan teman-teman saya!" Mufti angkat bicara terlihat wajahnya begitu serius dengan tatapannya yang begitu tajam.
Sontak saja apa yang dibicarakan Mufti membuat para jama'ah semakin tidak mengerti dan kembali mempertanyakan apa yang terjadi.
" Baik, sebelum teman saya menjawab semua pertanyaan kalian saya minta kalian untuk berjanji agar tidak menghakimi Mufti dan seluruh anggota Bandnya, kalian juga harus mengacungi jempol atas keberanian Mufti untuk bicara sejujurnya, saya sangat mohon kepada kalian semua agar tidak menghina Mufti dan teman-temannya atau bahkan mencelakai mereka seperti apa yang kalian telah lakukan kepada anggota Syubban yang sama sekali tidak bersalah, " Hafsah.
Para jama'ah bertanya-tanya dan seketika mereka terdiam fokus kepada pembicaraan Hafsah.
" Emang apa yang sebenarnya terjadi, Haf?" jama'ah 1.
" Iya nih, kok aku jadi bingung gini, " jama'ah 2.
__ADS_1
" Saya akan kasih tau tapi kalian harus mau janji sesuai kata saya tadi, oke?" Hafsah.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya beberapa jama'ah mau berjanji dan akhirnya semua jama'ah juga siap berjanji dengan apa yang terjadi nanti.
" Oke!" jawab serentak seluruh jama'ah yang hadir menggemakan satu wilayah saat itu.
" Tarik nafas, buang, Bismillah, Muf. Aku akan ada disebelah kamu, kamu pasti bisa! " ucap Hafsah kepada Mufti tanpa mikrofon agar Mufti lebih tenang dan siap mengatakan apa yang telah dia lakukan.
Mata Mufti dalam menatap kepada Hafsah yang mencoba menenangkan dirinya. Setelah beberapa saat mereka saling pandang, Mufti mengangguk dan akan memulai pembicaraannya mengarahkan pandangannya kepada seluruh jama'ah yang sedang menunggu dirinya angkat bicara.
" Ehem, ehem, " Mufti berdehem menyiapkan suaranya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Mufti tegas.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab serentak semuanya.
" Sebelum saya bicara, saya minta maaf kepada kalian semua atas video hoaks yang telah saya sebar." Mufti.
" Maksudnya, video itu gak benar, Kak? " tanya salah satu jama'ah wanita yang berdiri di depan.
Mufti sempat menatap tajam jama'ah itu sebelum ia kembali mengangkat mikrofonnya ke arah mulutnya. Seluruh anggota Syubban terlihat antusias dan tegang mendengarkan Mufti.
" Iya, video itu hoaks. Para anggota Syubbanul Muslimin tidak pernah menyerang saya ataupun teman-teman saya yang lain. Karena saya iri dengan mereka yang selalu sukses dan dibicarakan oleh masyarakat, maka saya buat video hoaks itu agar tim Syubband jatuh dan dibenci oleh semua masyarakat! " tegas Mufti menjelaskan semuanya.
Keterangan Mufti membuat wajah-wajah para jama'ah terkejut dan sangat tidak menyangka ada beberapa jama'ah yang masih belum percaya.
" Jangan bilang kamu disuruh anggota hadroh itu biar nama mereka kembali, " ucap seorang jama'ah.
Mufti tertawa kecil kepada jama'ah itu.
__ADS_1
" Untuk apa saya lakukan itu? Kenapa saya harus bohong untuk membuat harga diri saya jatuh? Saya sebagai ketua anggota Band minta maaf kepada kalian semua terutama anggota Syubband karena demi ketenaran saya buat mereka dihina oleh kalian semua, " ucap Mufti sejujur-jujurnya.
Seluruh jama'ah sangat menyayangkan sikap Mufti, mereka malah menghujat Mufti atas perbuatannya kepada tim Syubban yang sama sekali tidak bersalah.
Kini amukan masyarakat tertuju pada Mufti, suara-suara yang menghujat Mufti menggema di telinga Mufti. Saking kesalnya dengan sikap Mufti beberapa jama'ah melempari Mufti dengan makanan atau benda tumpul lainnya.
Walau polisi sudah menghadang amukan masyarakat, tapi sama sekali tidak digubris dan malah makin menjadi.
Hafsah juga mencoba menenangkan jama'ah tapi mereka terus saja menaruh rasa kesal dan geram kepada Mufti.
" Astagfirullah, ini gimana? Masyarakat semua ngamuk kaya gitu, " Udin.
Azmi menggelengkan kepalanya ia sangat kecewa dengan aksi masyarakat hingga Azmi memilih maju untuk menghadapi semuanya disaat beberapa jama'ah meneriaki Mufti.
Anggota Syubban tidak bisa menghentikan keinginan Azmi untuk maju karena Azmi kekeh dan terus melangkah sampai keatas panggung. Azmi berdiri di depan Mufti untuk melindungi Mufti dari lemparan.
Mufti kaget ketika melihat Azmi yang sudah berdiri siap melindunginya.
Para jama'ah menghentikan aksi mereka saat tau Azmi yang terkena lemparan.
Hamdi dan sejumlah pihak Kepolisian akhirnya memberi sentakan agar para jama'ah mau diam. Seluruh jama'ah akhirnya berhenti bicara atas tindakan tegas yang diupayakan Hamdi dan Polisi.
" Mas, pinjam miknya," ucap Azmi kepada Mufti.
Mufti mengangguk dan memberikan mikrofonnya kepada Azmi.
Sebelum bicara Azmi mengetuk mikrofonnya untuk memastikan mikrofonnya bisa digunakan. Azmi menaruh mikrofonnya pada mulutnya dan menatap tajam keseluruh jama'ah sebagai aba-abanya untuk berbicara.
Suasana sungguh hening mereka sangat antusias dan menghargai Azmi yang ingin bicara.
__ADS_1
Bersambung...