Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 237 Gugup Dekat Kamu


__ADS_3

" Mufti, Mustafa, maaf kalau kami sudah terlalu sibuk bahkan saking sudah masuk dalam dunia kerja saja terus, kami merasa sudah ada di zona nyaman dan sampai tidak memikirikan kalian. " Ibu Mufti sambil memegang wajah Mufti yang terlihat bergetar karena saking lamanya ia sudah tidak berjumpa dan melihat langsung kedua orangtuanya.


" Ayah juga minta maaf, Nak. Harusnya demi anak kami bisa meninggalkan perkerjaan kami. Ayah sadar, kalau uang saja tidak menjamin kebahagiaan sebuah keluarga." Ayah Mufti yang juga meletakkan dan mengelus pundak Ustadz Mustafa yang ada disampingnya.


Ustadz Mustafa mengangguk ia yang juga terharu mengusap air matanya, mengangguk kembali dan tersenyum kepada Ayahnya.


Doni berbisik kepada teman-temannya hingga mereka sama-sama mengangguk dan melangkah menghampiri Mufti yang masih berdiri didekat Ibu, Ayah dan Kakaknya.


Saat itu juga Hafsah tidak bisa menahan tangisnya, tanpa sadar air matanya menetes dan Hafsah langsung menghapusnya lalu tetap tersenyum.


" Emmmmm... Bro!" panggil Doni yang sudah berdiri dibelakang Doni diikuti dengan kedua sahabatnya.


Mufti menoleh dan membalikkan tubuhnya ketika melihat Doni yang ingin bicara dengannya.


Mufti menatap Doni dengan tatapan tajam seakan masih sedikit marah menunggu Doni yang ingin bicara, matanya juga terlihat sedikit dan bengkak karena habis menangis tersedu-sedu.


" Muf, gue minta maaf sama lo. Jangan marah dong sama kita. Gue khilaf waktu ngatain tim Syubband dan sekarang gue sadar kok, kalau mereka baik. Gue minta maaf, Muf. Tolong maafin gue dan ini salah gue jangan sampai lo marah juga sama yang lain karena mereka sama sekali gak salah, " Doni.


" Bener Muf, jangan marah sama kita dong, Muf. Kita kan udah sahabatan dari kecil masa gara-gara masalah sepele persahabatan kita putus, " ucap sahabat Mufti lainnya.


" Muf, gue pengen kita kaya dulu lagi dan apapun masalahnya gue mau lo cerita sama kita semua, Muf. Gue minta maaf kalau ada salah sama lo, " sambung sahabat Mufti yang terakhir.


" Dan, karena buku yang Hafsah kasih ke kita. Kita semua jadi tau, kenapa lo bersikap kaya gini dan kita sadar kalau seorang Mufti sampai berani kabur dari pesantren itu karena lo gak pengen pisah dari kita. Ya, kan, Mufti? " Doni.


Perkataan Doni membuat Mufti kaget dan terdiam ia seketika gugup memandang Kakaknya yang terdiam dengan ekspresi kaget juga kepada Mufti begitu juga dengan orangtua Mufti yang sama-sama fokus memandang Mufti.


" Apaan sih, lo, Don? Gue kabur itu karena gue gak betah dan masuk pesantren itu gak enak bukan karena kalian kali, " ucap Mufti sambil memalingkan wajahnya seolah tidak ingin berkata jujur kepada Kakaknya.


Doni dan ketiga sahabatnya langsung terdiam dan saling toleh.


" Eeeee... Gue salah, ya? " Doni ia sempat melirik ke arah Hafsah.

__ADS_1


" Ya, salah, lah! " Mufti ngegas menatap Doni dan kembali memalingkan wajahnya.


Hal itu membuat Hafsah yang tadinya terharu menjadi tertawa kecil melihat ekspresi Mufti yang seperti itu, selalu saja tidak mau mengakui perasaannya dan rasa gengsinya yang tinggi walau kepada sahabat-sahabatnya sendiri.


" Ya udahlah, Muf! Jadi lo maafin kita, kan? " ucap salah seorang sahabat.


" Hmmmmm... " Mufti tidak langsung menjawab ia ingin sahabat-sahabatnya menunggu dan membuat mereka tegang sambil menatap dengan tatapan mata tajam dan ekspresinya yang seolah masih kesal.


" Iya, gue maafin kalian kok. Lagian nih, ngelihat tampang kalian buat gue gak bisa marah lama-lama sama kalian, " Mufti.


Ketiga sahabatnya langsung memegang wajah mereka dan Mufti malah tertawa kecil akan hal itu.


" Emang muka-muka kita kenapa, Muf? " tanya seorang sahabat setelah saling toleh satu sama lain.


" Tampang-tampang kasihan, " Mufti sambil tertawa kecil.


" Ya elah, gitu amat lo Muf, sama sahabat sendiri. " Doni.


Mereka semua akhirnya kembali rukun dengan berjabat tangan untuk mengembalikan persahabatan seperti dahulu, sahabat terbaik yang selalu ada bersama-sama dalam masalah ataupun dalam kebahagiaan.


" Baik, serangkaian acara sudah terlewati, alhamdulillah. Dan sekarang waktunya tim Syubband menampilkan sebuah karya terbaru mereka yang tadi sudah diucapkan oleh vocalis mereka, Azmi. Jadi, mari kita sambut, tim hadroh, Syubbanul Muslimin." Ustadzah Lily ia langsung turun dari panggung dan mempersilakan tim Syubband naik ke atas panggung.


Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, membuat mereka tertawa-tawa kecil sambil melangkah bersamaan dengan bentuk barisan. Dengan teratur mereka naik ke atas panggung dan saat itu juga semua jama'ah menyoraki mereka dengan sambutan dan tepukan tangan yang meriah.


" Eh, itu Syubband udah tampil. Kak Mustafa, sebaiknya kita harus lihat penampilan mereka." Hafsah.


Ucapan Hafsah yang hanya bicara kepada Ustadz Mustafa padahal Mufti berada dekat padanya membuat Mufti sedikit sedih ia sempat melirik Hafsah dan Kakaknya lalu kembali memalingkan pandangannya dengan perasaan kecewa.


" Kamu benar, Hafsah. Ayah, Ibu, ayo kita lihat penampilan mereka. Ayo Mufti, yang lain juga." ajak Ustadz Mustafa.


" Iya, Nak. Ayo, Mufti ayo, Nak. Ajak sahabat-sahabat kamu juga," Ibu.

__ADS_1


Mufti mengangguk begitu juga dengan sahabat-sahabatnya yang lain. Satu-persatu mereka melangkah untuk melihat penampilan anggota Syubband.


Saat melihat Hafsah yang beda arah karena ia harus pergi ke tempat jama'ah wanita membuat Mufti menghentikan langkahnya dan berpikir ingin berterimakasih kepada Hafsah.


" Hafsah!" panggil Mufti sambil berlari kecil dan membuat Hafsah berhenti berjalan ia juga langsung membalikkan tubuhnya melihat Mufti yang hendak bicara kepada dirinya.


" Ada apa lagi Mufti? " tanya Hafsah.


" Gue... Gue... Gue mau bilang makasih sama lo, gue juga mau minta maaf sama lo atas perkataan gue yang waktu itu. Lo gak salah, kok. Karena lo itu... Lo itu... Emmmm, duh, gimana, ya?" Mufti ia mulai berkeringat dingin saat ingin mengatakan perasaan yang sebenarnya pada Hafsah apalagi saat ia melihat Hafsah terus menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam. Pikiran dan perasaannya menjadi amburadul dan begitu kacau ditambah jantungnya yang terus berdetak kencang.


" Allahumma Shalli 'Alaihi Muhammad, Ya Rabbi Shalli 'Ala'ihi Wasallim."


Suara Azmi sudah terdengar mengucapkan sholawat Nabi SAW setelah cukup mereka berdiskusi di panggung menunggu para jama'ah yang terus dan masih saja histeris membuat seluruh anggota Syubband harus bersabar karenanya.


Hafsah tidak ingin ketinggalan untuk melihat tim Syubband dan hal itu jelas terlihat dari gerakan matanya dan dari kegelisahan Hafsah.


" Mufti, oke, kamu, aku maafin kok. Soal terimakasih, iya sama-sama. Tapi, sekarang Syubband mau tampil. Aku mau kesana dulu, ya. Assalamualaikum," Hafsah ia terlihat begitu tegesa-gesa karena ingin menyaksikan penampilan dari tim Syubband.


" Eh, Hafsah! Tapi... Duh, susah banget sih cuma ngomong gitu aja sama Hafsah. Hafsah gue cinta sama lo, nah itu gue bisa. Tapi waktu Hafsah natap gue kaya gitu kenapa jantung gue berdetaknya kencang banget, sih. Argggghhh!" Mufti ia kesal kepada dirinya sendiri yang gugup saat ingin jujur dengan perasaannya sendiri kepada Hafsah.


" Muf! Lo ngapain disitu, ayo!" panggil Doni yang melihat Mufti sendirian dan segera menyuruhnya untuk segera menghampirinya.


" Iya! " teriak Mufti.


Ia melangkah dan seketika langkahnya terhenti saat tercinta sesuatu.


" Astagfirullah, sampai gak jawab salam gue tadi. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, semoga nanti gue bisa ngomong sama Hafsah." Mufti.


" Muf, ayo! Ibu, Ayah lo juga nyariin lo!" teriak Doni.


" Tuh anak, gak bisa sabar banget. Iya, iya! " teriak Mufti kepada Doni hingga akhirnya ia mulai melangkah menghampiri Doni.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2