Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 64. Menunggu Waktu Yang Tepat.


__ADS_3

Tepat pukul 11. 00 malam, setelah Kyai mengajarkan para santri mengaji kitab. Para santri beramai-ramai turun dari Masjid sembari merangkup kitab dan pulpen mereka. Azmi dan Aban berjalan bersama hendak turun dari Masjid mereka terlihat lelah karena belum dapat istirahat.


Tetapi Zakir yang tidak memperdulikan kalau Azmi dan Aban lelah segera menghampirinya bersama kedua temannya yang selalu setia dengannya.


" Assalamualaikum, Azmi, Aban. " ucap Zakir kepada Azmi dan Aban yang baru saja selesai memasang sandalnya.


" Wa'alaikumsalam. " ucap Aban dan Azmi yang menguap menutup mulutnya dengan tangannya.


" Azmi,Aban ,tadi kamu kan ikut ke rumah sakit, kalian pasti dengar apa yang Dokter bilang tentang penyakit mas Akmal." Zakir.


" Iya, emang kenapa?. " Azmi.


" Eh Mi, kata Zakir mas Akmal itu sakit...Sakit....Apa ya,namanya ?." Helmi yang terlihat berpikir berusaha mengingat nama penyakit Akmal.


" Mi, sana bilang, apa yang sebenarnya terjadi sama mas Akmal?. " Zakir terus saja memaksa Azmi.


Sihin hanya bisa diam dengan wajah lugunya yang terpaksa mengikuti Zakir. Aban sudah sangat malas untuk meladeni Zakir ia menarik tangan Azmi dan mengajaknya pergi tapi Azmi meminta Aban untuk menunggunya berbicara sebentar.


" Zakir, aku tau kamu itu khawatir sama mas Akmal, aku cuman mau bilang mas Akmal itu baik-baik aja, jadi kamu gak usah nanya-nanya itu lagi, fahimtum. " Ujar Azmi.


Zakir hanya terdiam dan ingin mengucapkan sesuatu tapi Aban sudah tidak tahan dan menarik tangan Azmi meminta untuk pergi.


" Udahlah, besok lagi ya Kir, assalamualaikum. " Aban sembari menarik tangan Azmi melangkah pergi dari Zakir dan kedua temannya.


" Daaa Kir, assalamualaikum akhi. " ucap Azmi dengan wajah yang menahan rasa malasnya kepada Zakir.


" Wa'alailumsalam. " jawab Zakir malas ,Helmi dan Sihin pelan.


" Zakir, kamu gak usah nanya penyakit mas Akmal, emang kamu mau ya, mas Akmal itu sakit beneran. " Sihin.


" Sihin, kamu itu gak tau apa-apa, aku dengar sendiri kok dari ustadz Abdullah kalau mas Akmal itu sakit... Sakit... Ah.. Aku lupa namanya," Zakir.


" Ya udah, kita ke kamar aja yuk, ngantuk aku. " Helmi.


Zakir hanya mengangguk dan pergi begitu saja, ini memang sifat Zakir yang suka pergi begitu saja tanpa mengajak kedua temannya. Helmi dan Sihin berjalan mengikuti langkah Zakir yang sudah menjauh.

__ADS_1


...****************************...


...Obrolan Kyai dengan ustadz Ridwan,ustadz Abdullah dan ustadz Mustafa yang masih berada di pesantren..........


Kyai datang dan masuk ke kantor pesantren.Dengan kompak ketiga ustadz yang masih ada disana berdiri dan menyalam tangan Kyai sembari mengucap salam. Kyai menjawab semua salam dan duduk di kursinya.Kyai melihat ustadz Mustafa yang duduk di kursinya sembari memainkan handphonenya.


" Mustafa kamu masih disini. " Kyai kepada ustadz Mustafa yang asyik memainkan hpnya.Ustadz Mustafa langsung menoleh ke arah Kyai.


" Iya Kyai, saya pulang sebentar lagi, ini masih ada kerjaan." jawab ustadz Mustafa.


" Baiklah, " Kyai,ustadz Mustafa tersenyum dan mengangguk. Kyai kembali memalingkan pandangannya dan pandangannya beralih kepada ustadz Ridwan yang sangat serius memeriksa pekerjaan para santri.


" Ustadz Ridwan, kamu juga tidak pulang?." tanya Kyai kepada ustadz Ridwan.


" Sebentar lagi Kyai, saya masih memeriksa pekerjaan anak-anak Madrasah kelas 1." jawab ustadz Ridwan.


" Ya sudah,selesaikan dulu. " Kyai.


Sedangkan ustadz Abdullah juga sibuk menatap layar komputer dan dengan cepat kedua tangannya mengetik. Tetapi Kyai tidak bertanya kepada ustadz Abdullah mengapa dia tidak pulang, karena ustadz Abdullah menginap dipondok dan hanya pulang sesekali. Kyai mengingat keadaan Akmal dan menanyakan hal itu kepada ustadz Abdullah.


" Ustadz Abdullah, kamu tau keadaan Akmal?." tanya Kyai kepada ustadz Abdullah yang seketika berhenti mengetik dan memandang ke arah Kyai.Ustadz Abdullah terlihat gugup dan sesekali memandang ke arah ustadz Ridwan yang juga memandang ke arahnya.


"Benar Kyai,saya juga tau, penyakit yang ada di tubuh Akmal, karena saya ikut waktu itu, " jawab ustadz Ridwan.


" Iya, saya hanya ingin kalian menjaga Akmal,saya tidak ingin Akmal kenapa-napa, selama ini Akmal telah menjadi santri yang tauladan." Kyai.


" Afwan Kyai, karena saya tidak tau kabar ,sebenarnya Akmal mengidap penyakit apa?. " ustadz Mustafa yang sedari tadi mendengarkan dan berhenti memainkan hp nya.


" Akmal mengidap penyakit bronkits dan radang paru, Dokter bilang panyakit radang paru ini tidak bisa di biarkan karena penyakit ini bisa menyebabkan kematian. " Kyai.


" Astagfirullah, Ya Allah, kasihan sekali Akmal, " ustadz Mustafa sangat kaget mendengar semua itu.


" Apa kita harus membatasi apa saja yang harus Akmal kerjakan di pesantren ?. " ustadz Ridwan.


" Iya Kyai, kita juga harus membedakan gelas minum Akmal, jangan sampai ada yang terlular, apa saya benar Kyai?. Ustadz Abdullah.

__ADS_1


Kyai menganggukkan kepalanya perlahan secara berulang kali.


" Iya, itu benar,tapi jangan sampai menyinggung perasaan Akmal, saya tidak mau jika nanti Akmal merasa minder. Kita akan beritahu penyakit Akmal di waktu yang tepat. " Kyai.


" Baik Kyai, saya akan melakukan itu. " ustadz Abdullah.


Ustadz Ridwan dan ustadz Mustafa ikut mengangguk setuju dengan Kyai.


...*Ustadz Mustafa story*...


Singkat waktu.....


Ustadz Mustafa baru pulang dan sampailah ia dirumahnya.Di larut malam tepatnya pukul 12.00 Mufti masih belum tidur dan memainkan handphonenya duduk di sofa ruang tamu sesekali ia tersenyum sedangkan tv juga menyala.


" Assalamualaikum. " ucap ustadz Mustafa sedangkan Mufti tidak menghiraukan asyik sendiri dengan handphonenya.


Merasa kesal karena tidak dihiraukan oleh Mufti dan mengingat kejadian tadi saat Mufti dan teman-temannya mengganggu anggota Syubban, ustadz Mustafa mendekati Mufti dan merampas handphone adiknya itu.Ustadz Mustafa melihat handphone Mufti yang berisi chat dari seorang perempuan yang mungkin itu adalah pacarnya.


" Apaan sih kak?,sini balikin. " Mufti.


" Enggak, kakak gak akan balikin sebelum kamu memperbaiki kesalahan kamu. " Ustadz Mustafa.


" Masalah gue sama teman-teman yang nyerang anggota, apa?,rebana kampungan itu, ogah banget, ngapain juga harus minta maaf sama mereka. " Mufti dengan angkuhnya.


" Kakak gak suka ya, kamu ngomong kayak gitu, jangan sekali-kali jelekin mereka.Kamu belum tentu bisa kayak mereka. " Ustadz Mustafa.


Mendengar perkataan kakaknya, Mufti dengan wajah malas bangun dan berdiri di hadapan ustadz Mustafa.


" Terus aja, terus aja kakak belain mereka. Kakak itu gak pernah dukung aku, kakak selalu belain orang lain," Mufti.


" Bukan kayak gitu, tapi kakak harus jaga kamu, karena ayah sama ibu itu masih diluar kota jadi kakak yang bertanggung jawab atas sikap kamu yang berandalan ini. " Ustadz Mustafa.


" Oooo,jadi kakak sekarang bilang aku anak berandalan,ayah ,ibu, kakak, semuanya, semua gak ada yang pernah nyemangatin aku buat jadi orang yang sukses dan terkenal.Orang tua kita cuman sayang sama kakak, selamat ya....Ustadz. " Mufti dengan wajah yang kesal ia pergi begitu saja melangkah menuju kamarnya.


" Muf, Mufti, dengar dulu dek... " teriak ustadz Mustafa tapi itu tidak mempengaruhi Mufti yang terus menaiki tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


Ustadz Mustafa menunduk dan melihat chat dari pacar Mufti,ia menggelengkan kepalanya setelah melihat chat itu.Ustadz Mustafa pergi melangkah menuju kamarnya membawa handphone Mufti.


Bersambung....


__ADS_2