Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 181 Akur


__ADS_3

Ustadz Mustafa masih menangis sambil mencium kening Mufti bersamaan dengan mengusap-ngusap kepala Mufti. Hafsah, Doni dan Bapak tidak menyadari bahwa Mufti telah sadar dengan mata yang sedikit terbuka. Mata Mufti mengarah pada Kakaknya yang terus mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Senyum kecil terlukis diwajahnya setelah melihat begitu sayang dan sedihnya Kakaknya.


" Kak, " panggil Mufti lirih membuat semua orang kaget dan pandangan mereka mulai tertuju pada Mufti yang kondisinya masih lemas.


" Mufti, kamu udah sadar, Dek. Kamu mau apa? Minum, ya? Atau mau makan, kamu udah buka?" Ustadz Mustafa memberi terus pertanyaan kepada Mufti ia khawatir kalau Mufti belum makan dan masih kelaparan.


Mufti menggelengkan kepalanya dan ia hendak bangun ingin duduk, Doni dan Ustadz yang mengetanui hal itu segera gerak cepat membantu Mufti bangun pelan-pelan. Dan hendak melepaskan oksigen yang masih terpasang pada hidung dan mulutnya.


" Eh, jangan di buka!" Hafsah hendak menghentikan Mufti melepas oksigennya.


" Udah, gue gak papa. Kak, Mufti udah sehat, kok. Aku baik-baik aja, " Mufti ia kekeh ingin membuka oksigen itu.


" Muf, lo keras kepala banget, sih? Baru aja sadar, " Doni.


Mufti menoleh ke arah Doni dan memberikan tawa kecilnya.


" Lo, ada disini? Gue kira lo tetap mau jalan walau tau gue ketabrak tadi, mungkin lo gak peduli kalau gue mati sekalipun, iya, kan? " Mufti.


" Hushh, kamu gak boleh ngomong seperti itu, Donilah yang sudah memberitahu kalau kamu berada dirumah sakit, kamu butuh donor darah segera tadi, " Ustadz Mustafa.


" Jadi kakak yang udah donorin darah buat Mufti? Kenapa kakak gak biarin aja Mufti mati? Supaya gak ada lagi beban dalam hidup kakak." ucap Mufti ia terus saja bicara yang buruk dan masih bersikap seperti awal rasa marah dan kecewa masih ada dalam pikiran Mufti.


" Mufti, kamu jangan ngomong kaya gitu. Kakak kamu, Doni, semuanya peduli sama kamu, Muf. Semuanya sayang sama kamu, " sambung Hafsah.


Doni tidak lagi bisa menahan air mata yang sudah kumpul pada bagian bawah matanya ia merasa bersalah karena dalam pikirkannya semua ini terjadi karena ulahnya.


Doni tertunduk dihadapan Mufti dengan penuh rasa penyesalan sambil mencium lutut Mufti.


" Muf, gue minta maaf. Gue ngaku semua ini salah gue. Terserah lo, lo mau ngapain gue, tapi tolong maafin gue, Muf. Gue mau persahabatan kita kaya dulu lagi, " Doni.


Mufti kasihan melihat penyesalan sahabatnya yang terus menangis walau ia sempat memalingkan wajahnya dengan tatapan malas.


" Doni, sudah. Kamu tidak perlu seperti itu, ayo bangun, " Ustadz Mustafa meminta Doni bangun dan tidak terus menerus menyalahkan dirinya.

__ADS_1


" Nak, kamu harus bisa memaafkan anak ini, dia sangat menyesal atas perbuatannya," Bapak.


" Bapak yang bantu saya, ya? Saya tadi sempat lihat wajah Bapak sebentar sebelum saya memejamkan mata saya dan saya juga lihat orang ini walau dia sudah tau saya terkapar ditanah, dia gak ada pedulinya sama sekali dan cuma duduk di atas motor sportnya itu, " Mufti.


" Sama-sama, Nak." Bapak.


" Iya, gue tau gue salah, tapi waktu itu gue takut banget, Muf. Gue bingung harus ngapain, " Doni.


" Mufti, dalam bulan puasa ini. Sebaiknya perbanyak memaafkan orang daripada membenci orang. Di bulan yang penuh berkah ini kamu harus bisa berbaikan dengan semua orang, Kakak juga minta maaf atas semua kesalahan Kakak. Kakak sadar kalau Kakak bukan Kakak yang baik buat kamu selama ini, Kakak memang jarang perhatian sama kamu, " Ustadz Mustafa.


" Mufti, aku yakin kamu orang baik. Kamu pasti bisa membangun hidup baru tanpa kebencian, " sambung Hafsah.


Saat itu seketika Mufti mulai berpikir mencerna apa yang telah diucapkan oleh Ustadz Mustafa dan juga Hafsah sambil memandang Ustadz, Hafsah, Bapak dan Doni secara bergantian.


Mufti mengangguk pelan ia sempat menundukkan kepala dan kembali menatap dalam Ustadz Mustafa.


" Iya, Kak. Ini juga bukan salah Kakak, semua ini Kakak lakuin hanya untuk kebaikan aku, makasih, Kak. Sudah mau ngurus aku, bagi aku, Kakak adalah Kakak terbaik yang pernah ada didunia, " Mufti tatapan dalam dan ucapan lirih ada dalam dirinya yang terus menuju pada Kakaknya yang juga menatap dalam dirinya.


Tanpa pikir panjang, Ustadz Mustafa langsung menghampiri Mufti perlahan ia memeluk erat tubuh Adiknya itu sembari mengelus lembut kepala Adiknya. Senyum kecil tampak pada wajahnya secara perlahan ia juga mencoba menggerakkan tangannya untuk sampai bisa membalas pelukan Kakaknya walau dengan tangan yang masih dibalut perban dan infus.


" Maaf, Nak. Saya harus pulang sekarang, sudah larut malam, saya takut keluarga saya khawatir," Bapak.


" Oh, baik, Pak. Sekali lagi sangat berterima kasih atas pertolongan Bapak kepada Mufti. Saya tidak tau lagi bagaimana membalasnya," Ustadz Mustafa mengarahkan pandangan kepada Bapak dengan sudah posisi melepas pelukan Mufti.


" Tidak apa-apa, Nak. Malah saya sangat senang bisa membantu, dan bisa bertemu dengan kalian, " Bapak.


Ustadz Mustafa hanya mengangguk dan Mufti memberikan senyumannnya kepada Bapak. Bapak itu pamit dan pulang tidak lupa ia bersalaman pada semuanya dan menyempatkan untuk mengelus kepala Mufti memberikan doa agar Mufti cepat sembuh.


Tersisa Doni dan Hafsah yang masih berdiri menemani Mufti.


" Kalian berdua gak mau pulang?" tanya Mufti.


" Lo aja belum maafin gue, gimana gue bisa pulang?" Doni.

__ADS_1


" Kalau gue gak maafin lo, gimana? " tanya balik Mufti.


" Ya, gue, gue akan tetap disini, " jawab Doni ia sempat melirik Hafsah.


Mufti malah tertawa seakan meledek Doni.


" Ya udah, karena gue kasihan sama lo. Gue maafin deh, biar lo pulang aja. " Mufti.


" Lo kok gitu sih, Muf? Gue udah minta maaf paling tulus banget, ini." Doni.


" Muf, udah maafin dia. Kasihan, dia juga udah bantu kamu, " sambung Ustadz Mustafa.


" Benar tuh, kata Kakak lo, " Doni.


" Iya, iya. Gue maafin lo. Kita plain lagi, kan?" Mufti.


Akhirnya Doni bisa lega ia tersenyum senang bahkan saking senangnya ia sampai memukul keras tangan Mufti yang diperban, spontan Hafsah menutup mulutnya seakan ikut merasa kesakitan dalam ringisan ekspresinya.


" Aduh, Don! Asal mukul aja sih, lo. Sakit tau," rengek Mufti kesakitan sembari terus memegangi tangannya.


" Eh, maaf. Serius gue gak sengaja, ya udah gue pulang ya, Muf. Bye, assalamualaikum, mari. " Doni ia tergesa-gesa pergi darisana menghindari amukan Mufti tapi ia sempat pamit pada Ustadz dan Hafsah.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya juga Mufti walau rasa sakit masih sangat terasa pada tangan yang habis dipukul keras Doni


Tingkah Doni Hafsah tertawa kecil. Sekarang pandangan Mufti mengarah pada wajah cantik Hafsah.


" Lo juga masih mau disini? " tanya sinis Mufti pandangannya sungguh dalam kepada Hafsah.


" Hah? Eeee.. Iya, ini aku mau pulang. Kak, saya pamit ya, " Hafsah ia sudah hendak pamit pada Ustadz Mustafa.


" Kamu yakin mau pulang sekarang, jalanan jam segini sepi. Disini dulu temani Mufti juga gak papa, kamu kan juga Suster disini." Ustadz Mustafa.


Hafsah masih bingung ia melihat jam dinding yang tepat menunjukkan pukul 12 tatapannya juga mengarah pada Mufti yang langsung memalingkan wajahnya saat ketahuan oleh Hafsah terus memandangi dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2