Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 203 Jelaskan Pada Kami


__ADS_3

Dimas yang terus mencari-cari Zakir akhirnya menemukannya dan segera melangkah mendekati sepupunya.


" Astagfirullah, Zakir. Jadi kamu disini, dari tadi aku cariin kamu, nyusahin banget sih, jadi sepupu." Dimas menunjukkan kekesalannya pada Zakir yang hanya memberikan wajah datar memandang Dimas.


" Oh, ya. Nih ya, mas. Tadi, aku lihat Azmi ngobrol sama cewek yang nabrak aku. Gak cuma itu aja, mereka itu ngobrolnya kelihatan serius banget, kayanya mereka punya hubungan deh," Zakir.


" Hushhh, jangan seudzon kamu. Masa Azmi kaya gitu?" Dimas tidak mempercayai perkataan Zakir.


" Terus aja bela tuh orang yang sok alim, nih, lihat aja sendiri. Aku punya buktinya kalau Azmi sama cewek itu. Coba mas lihat sendiri," Zakir ia membuka handphonenya dan menunjukkan sebuah foto.


Dimas memberikan ekspresi bingungnya seakan masih belum percaya oleh ucapan Adik sepupunya hingga ia melihat sendiri isi dalam foto itu dimana memang terlihat jelas kalau Azmi bicara dengan sangat serius pada Aisyah yang berdiri tepat dihadapan Azmi.


" Wah, iya, nih. Tapi, mungkin mereka cuma sekadar ngobrol biasa aja, kamu gak usah berpikir yang lain-lain. Apalagi berpikir yang enggak-enggak terus ceritain ke semua orang itu namanya fitnah, " Dimas.


Zakir yang kesal karena tidak pernah dibela oleh Kakak sepupunya sendiri langsung merampas handphonenya dari tangan Dimas.


" Aku yang tau kalau mereka ngomomgnya serius banget, terus waktu nih cewek udah pergi, Azmi kelihatan sedih banget. Pokoknya aku mau posting ini kemedia sosial biar Azmi gak bisa sombong lagi karena gak akan ada lagi orang yang ngefans sama dia, " Zakir.


" Jangan, Kir! Kamu belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa, sih kamu gak pernah suka sama Azmi? Kamu iri sama Azmi? Terus kamu gak suka banget kalau dia terkenal. Zakir, Azmi itu orang baik, dia udah banyak nerima fitnah dari kamu, harusnya kamu sadar dengan apa yang telah kamu lakukan sama Azmi." Dimas ia terus berusaha untuk menyadarkan hati keras Zakir namun apa daya, sifat Zakir yang angkuh sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan siapapun dan hanya terus merasa dirinyalah yang paling benar.


" Arghhh! Udahlah, percuma ngomong sama sepupu yang lebih bela Azmi. Dan, aku akan tetap ngelakuin apa yang ingin aku lakuin," Zakir setelah selesai bicara ia pergi begitu saja meninggalkan Dimas.


Walau Dimas telah berusaha untuk menyadarkan Zakir, tapi semua itu percuma. Zakir sama sekali tidak mendengarkan perkataan Dimas.


" Tuh anak, heran sama dia. Kapan dia bisa sadar dan gak terus-terusan mencari kesalahan orang termasuk Azmi? Gak boleh dibiarin nih, kasihan Azmi kalau harus didatangin masalah lagi sama Zakir, " ucap Dimas bicara sendiri ia sudah begitu lelah dan capek menghadapi dan menasihati Zakir tapi disisi lain ia harus menyelamatkan Azmi dari fitnah licik Zakir.


" Heh! Zakir, tunggu! Dengarin aku!" teriak Dimas sambil berlari mengejar langkah Zakir.


Hamdi dan Syafiq terus berjalan bersama mencari dimana keberadaan Azmi hingga mata Hamdi melihat Azmi yang tengah berjalan pelan.


" Fiq, itu Azmi! Azmi! " panggil Hamdi kepada Azmi dan benar saja Azmi yang mendengar teriakan Hamdi menghentikan langkahnya seketika memandang ke arah Hamdi dan Syafiq yang mulai mendekat kearahnya.


" Ya Allah, Azmi. Kamu kenapa? Kamu tau, gak kalau semua orang dari tadi nunggu kamu?" Hamdi.


" Dan semua orang terus manggil-manggil dan nanya dimana kamu, eh ternyata kamu disini. Kamu gak mikirin tentang tim hadroh kamu? " sambung Syafiq dengan nada yang sedikit tinggi karena ia kecewa dengan sikap Azmi yang pergi begitu saja meninggalkan tim hadrohnya.

__ADS_1


" Maaf, mas. Tadi, Azmi... " Azmi ia menundukkan kepalanya dan sungguh wajahnya terlihat sangat bersalah.


" Sudah-sudah, sebaiknya kita segera kembali ke Masjid." Hamdi.


Azmi mengangguk dan ia melangkah bersama dengan Hamdi dan Syafiq menuju Masjid.


Ternyata tim Syubban baru saja turun dari panggung dan acara segera selesai. Azmi dibawa Hamdi untuk menghadap Kyai dan mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan.


Hamdi dan Syafiq menuntun Azmi sampai pada tempat berkumpulnya tim Syubban yang baru saja menyelesaikan penampilan mereka.


" Assalamualaikum, " ucap Hamdi, Syafiq dan Azmi.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " ucap semua anggota Syubban.


" Nah, ini dia orang yang dicariin semua jama'ah. Mi, kamu kemana aja daritadi? Gak mikir nasib anggota Syubban?" ucap Ali ia langsung bangun dan bicara dengan misinya menatap tajam Azmi.


" Mi, kamu tadi habis darimana? Main pergi gitu aja ninggalin kita," sambung Firman.


" Sudah, kalian semua jangan terus bersikap seperti ini sama Azmi. Kyai, dimana? " Hamdi.


" Kyai sama Ustadz Mustafa sedang ada urusan sebentar, " jawab Ahkam.


" Kalau gitu kita mau ke Kyai dulu, Azmi, kamu diam saja disini, " Hamdi.


" Nggih, mas." jawab Azmi mengangguk kecil.


" Udah, kalian jangan marah sama Azmi. Assalamualaikum, " Syafiq bersama dengan Hamdi yang mengucapkan salam pada anggota Syubban sebelum mereka pergi.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semua anggota Syubban termasuk Azmi.


" Sini, Mi." panggil Ahkam dengan tetap sabar kepada Azmi.


Azmi memandang ke arah Ahkam lalu pandangannya juga mengarah kepada Ali, Firman, Udin, Muhklis dan Aban barulah Azmi mengangguk dan melangkah dengan perlahan menghampiri Ahkam.


Ahkam tersenyum kecil melihat Azmi yang terdiam dan segera merangkulnya.

__ADS_1


" Coba kamu jelasin kenapa tiba-tiba kamu pergi kaya gitu?" Ahkam.


" Iya, Mi. Apa kamu kenal sama cewek tadi?" sambung Aban yang membuat semua anggota Syubban terdiam dan mengarahkan semua pandangan mereka hanya kepada Azmi.


" Jawab, Azmi. Jangan diam aja, " Ali.


" Endang, Mi! Supaya semuanya jelas dan kita semua gak salah paham tentang ini, " Udin.


" Udah, Mi. Jawab aja, " Muhklis.


" Wes, kalian meneng dulu. Kalau semuanya ngomong Azmi kapan bisa jawabnya," Ahkam.


Azmi mulai mengangkat kepalanya dan menatap semua anggota Syubban ia hendak bicara.


**


Aisyah dan Fitri pergi ke sebuah warung makan untuk bicara empat mata sekaligus bicara tentang masalah Aisyah. Fitri terus berusaha bicara dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada diri Aisyah.


" Aisyah, kamu kenapa diam aja? Ayo, ngomong. Aku akan selalu dengerin dan kasih solusi buat kamu, " Fitri.


" Emmm, aku.. Aku cuma keingat lagi sama kejadian itu, Fit. Itu semua terjadi gitu aja setelah aku ngelihat Azmi. Aku juga bingung dan masih belum percaya sama apa yang udah nimpa aku." jelas Aisyah.


Fitri menatap dalam Aisyah dan memikirkan solusi untuk Aisyah.


" Fit, kamu kenapa diam aja? Katanya mau kasih aku solusi, " Aisyah.


" Ya, ini aku lagi mikir, Syah. Kayanya Azmi yang menimbulkan trauma kamu itu kembali deh, soalnya Azmi yang buat kamu kaya gini, kan? Walau itu dalam pikiran kamu. Dan sampai sekarang kamu masih aja benci sama Azmi, kenapa sih, Aisyah? Azmi itu udah baik banget sama kamu." Fitri.


Aisyah terdiam dan memalingkan wajahnya ia bingung harus berkata apa.


" Terus kamu tadi ketemu sama Azmi, kan? Kamu ngomong apa aja sama dia, soalnya aku tau banget kalau kamu lagi marah apalagi tadi waktu suasananya kacau banget omongan kamu itu gak bisa ke kontrol, iya, kan? " Fitri.


" Kok kamu tau kalau aku ketemu sama Azmi? " Aisyah.


" Tadi aku ketemu sama Azmi, dia itu khawatir banget sama kamu dan sikapnya itu menunjukkan rasa bersalahnya banget, " Fitri.

__ADS_1


" Aku juga gak tau, Fit. Kayanya aku udah ngomong yang harusnya enggak aku omongin. Perasaannya Azmi sekarang pasti sakit hati banget karena aku udah bentak-bentak dia, " Aisyah wajahnya mulai cemas memikirkan keadaan Azmi.


Bersambung....


__ADS_2