
Setelah merenungi segalanya dan meresapi semua perkataan Ibunya sedikit demi sedikit perlahan tapi pasti, Aisyah akhirnya mau untuk mengisi acara yang ada dI Masjid itu langkah kakinya menyampaikannya pada Fitri. Fitri terlihat duduk santai di depan teras rumahnya dan sangat fokus kepada handphonenya.
" Assalamualaikum, " ucap Aisyah berdiri tepat dihadapan Fitri.
" Wa'alaikumsalam warahmatullah, Aisyah. Ya Allah, kamu kesini, ayo duduk, silakan, silakan." ucap Fitri wajahnya begitu kaget ketika melihat Aisyah yang sudah berdiri tepat dihadapannya ia langsung dengan begitu antusias menyuruh Aisyah untuk duduk di kursinya.
" Kamu tau, gak. Tadi aku baru aja ngelihat chanelnya Syubbanul Muslimin, dan mereka itu semakin sukses ditambah lagu yang baru di ciptakan itu yang judulnya... " Fitri saking senangnya ia sampai tidak sadar apa yang baru saja ia ucapkan, mulutnya langsung diam ketika melihat wajah Aisyah.
" Duh, maaf, Syah. Aku lupa, kamu jangan marah lagi, ya. Aku gak sengaja, emang kalau lagi senang aku sampai lupa diri. Maafin aku Syah," Fitri tiba-tiba saja ia berubah dengan penuh sikap bersalah dan bersungguh-sungguh meminta maaf.
Aisyah sempat terdiam pandangan matanya sungguh tajam pada Fitri ekspresinya juga begitu serius tapi setelah beberapa saat Aisyah melukiskan senyumannya dan tertawa ria kepada Fitri yang tengah ketakutan tak ingin lagi membuat kemarahan Aisyah membara.
" Iya, iya. Gak papa, kamu serius banget, sih." Aisyah masih tertawa kecil.
" Tumben, kamu udah gak marah lagi, ya sama Azmi? " tanya Fitri bingung membuat Aisyah langsung terdiam dan memalingkan wajahnya ia masih belum bisa menjawab pertanyaan itu.
" Emmm, ehem. Kamu gak nanya kenapa aku datang kesini? " Aisyah ia langsung mengalihkan pembicaraan.
Fitri yang mengerti akan hal itu langsung mengangguk tak lagi mau bertanya tentang hal tadi.
" Oh, iya, ya. Kamu mau ngapain kesini, Syah? " Fitri.
" Setelah aku pikir-pikir, ternyata semua ucapan kamu itu benar dan gak salah. Aku harus bisa ikhlasin Kakak aku, dan perlahan aku harus bisa menghilangkan trauma aku lagian sholawat itu kan sebagai tanda kita cinta kepada Rasulullah. Ibu aku juga bilang kalau aku harus bisa melakukan semua ini, melupakan segala hal yang membuat aku sedih dan hancur, jadi intinya aku mau ikut kamu buat ngisi acara nanti, " Aisyah.
" Hah? Aku gak salah dengar, kan, Syah? Ini beneran kamu, kamu mau ikut ngisi acara sama aku? " Fitri ia sangat kaget setelah menyimak semua perkataan Aisyah dan seakan masih belum percaya.
" Iya, boleh, kan? " Aisyah mengangguk dan bertanya.
" Iya, boleh dong, Syah. Ya Allah aku gak nyangka banget kalau kamu bakal berubah pikiran secepat itu, " Fitri.
" Ini semua karena Ibu aku, dia yang sudah buat aku sadar." Aisyah.
" Aku janji sama kamu, kalau gak akan ada masalah nanti, " Fitri ia menggegam kedua tangan Aisyah yang putih dan dingin sambil terus menyematkan tawa manisnya sungguh mereka saat ini terlihat sangat gembira dengan tawa manis yang hadir dalam wajah cantik keduanya, kedua tangan yang saling menggenggam erat menunjukkan kepercayaan diantara kedua sahabat itu.
...***...
Kini Mufti dan Doni sedang duduk bersamaan di tempat tongkrongan biasa mereka dengan teman-teman yang lain.
Di saat semua asyik bercanda gurau beda halnya dengan Mufti yang sedari tadi melamun dengan menggenggam layar handphonenya.
__ADS_1
" Heh, Muf! Lo kenapa, sih? Dari tadi, tuh muka ditekuk mulu, " tegur Doni.
" Iya, lo kenapa, sih? Gak semangat gitu sekarang? " sambung anggota Band lainnya.
Mufti masih terdiam menatap tajam semua temannya yang sedang bertanya-tanya kepada dirinya atas sikap aneh Mufti yang lebih cenderung melamun saat ini.
Doni yang sudah sangat penasaran dengan segera merampas handphone Mufti agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
" Eh, Don! Balikin hape gue! " Mufti ia berusaha merebut kembali handphone miliknya yang ada di tangan Doni.
Doni terus menghindar sampai Mufti pasrah ketika Doni mulai melihat apa yang sebenarnya membuat Mufti melamun dan galau seperti ini.
" Oooo, jadi gara-gara chat lo belum dibalas sama cewek ini." Doni.
" Siapa cewek yang berani gak balas chat Mufti?" tanya salah satu anggota Band.
" Apaan, sih lo? Sini balikin hape gue? " Mufti ia kembali mencoba untuk mengambil handphonenya hingga ia mendapatkannya
" Muf, lo lagi jatuh cinta, ya? Sama siapa?" tanya anggota Band lainnya.
" Apaan, sih kalian? Gue gak papa, dan gue gak sedang jatuh cinta." Mufti membantah pernyataan dan pertanyaan dari semua temannya.
Mufti kembali melihat chatnya yang berbunyi salam untuk Hafsah tapi masih juga belum di baca olehnya.
" Nih, cewek kemana, sih? Kenapa dia gak balas-balas chat gue coba?" ucap Mufti dalam hatinya ia tengah bertanya-tanya dimanakah Hafsah sekarang, apa yang dilakukannya dan kenapa dia masih belum menjawab chat Mufti.
Tingkah Mufti yang seperti itu membuat semua teman-temannya bingung dan saling bertanya-tanya satu sama lain membiarkan Mufti berpikir sendiri.
Di sisi lain rupanya Hafsah tengah mengurus pasien di Rumah Sakit perkejaannya terus ada dan tidak lekas selesai, dengan kesabaran Hafsah terlihat lembut mengurus pasien yang ada ia merawat para pasien dan penuh kasih sayang dan sama sekali belum sempat memegang handphonenya.
......****......
Anggota Syubban baru saja selesai dari sebuah acara yang sangat ramai. Mereka duduk bersama sembari mengistirahatkan tubuh mereka.
Azmi yang berpeci jomplang duduk di samping Aban langsung membuka handphonenya dan tangannya terlihat sedang mengetik.
" Rek, kita kapan bisa pulang?" tanya Udin dengan keluhan.
" Sabar mas Udin, " jawab Azmi matanya sekilas menatap Udin dan kembali pada layar handphonenya.
__ADS_1
" Heh, Din. Kamu kira kamu aja yang kangen sama rumah, aku juga, kita semua juga pengen pulang. " tambah Firman.
" Wes tho, rek-rek. Cukup ngeluhnya, kita harusnya bersyukur atas semua ini. Dengan kita yang saat ini orangtua kita itu bangga lo, mereka senang atas pencapaian kita, bersyukur. Jalani dengan ikhlas, dan sabar." Ahkam.
" Nah, dengar tuh, kata Ustadz. Jangan ngeluh mulu, lagian kalau kangen telepon orangtua kalian, kaya si Azmi asyik banget main hapenya, Mi. " sindir Ali kepada Azmi yang membuat Azmi menoleh sambil tertawa.
" Opo tho, mas Ali? " Azmi.
" Yo wes, nanti aku telepon orangtua aku, " Udin.
" Sabar mas Udin, Innallah Ma'as shobirin sesunguhnya orang sabar itu disayang Tuhan." Azmi.
" Pintar, " Ali memberikan jempolnya kepada Azmi yang membuat Azmi tertawa pada Ali dan kembali memalingkan pandangannya.
Udin mengangguk mengiyakan perkataan Azmi.
Muhklis datang dengan beberapa selembar kertas untuk dibagikan pada anggota Syubban.
" Ada pesan dari Kyai, besok kita terakhir di sini dan lusa kita ke Blitar, " Muhklis setelah membagikan lembaran kertas itu.
" Alhamdulillah, Ya Allah. Beneran, bang? " Azmi seketika wajahnya begitu gembira saat mendengar pesan Kyai.
" Ya benerlah, Mi." Muhklis.
" Emang rezekinya Azmi sekarang," Aban.
" Sabar, Ban. Habis ke Blitar kita ke Probolinggo." Muhklis.
" Serius, bang? " tanya Aban begitu antusias.
" Enggak, aku juga gak tau'e." Muhklis.
" Yah, " keluh Aban.
Azmi langsung merangkul Aban dan memukul pelan pundak Aban memberinya semangat.
Mereka semua tersenyum begitu juga dengan Azmi saat ini mereka hanya perlu bersiap untuk besok.
Bersambung....
__ADS_1