
"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd."
"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd."
"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd."
Suara takbiran bergema di sepanjang jalan, semua umat muslim merayakan kemenangan mereka pada saat itu dengan wajah yang berseri-seri.
Mereka memakai pakaian terbaik dan penampilan mereka yang paling indah untuk merayakan hari kemenangan nan mulai ini.
Semuanya telah bersiap, matahari bersinar dengan terangnya ikut berbahagia menyinari bumi dengan panas paginya yang hangat.
Azmi berpakaian serba putih dan ia tengah memasang pecinya tepat didepan cermin. Azmi terlihat sungguh sangat tampan begitu juga dengan kedua Adik Azmi, Ummi dan Abah Azmi yang berpenampilan rapi untuk merayakan hari suci dan bahagia ini.
" Anak-anak Ummi, semuanya ganteng-ganteng sama cantik banget." ucap Ummi ketika ketiga anaknya berjalan menghampiri dirinya.
" Azmi, udah sembuh? " tanya Abah.
" Alhamdulillah, Abah. Udah, " ucap Azmi.
" Sembuhlah Abah, Mas Azmi kan sakitnya 2 hari yang lalu." sambung Rara.
" Bukan, Dek. Mas Azmi gimana gak sembuh, kan kemarin Mbak Ais ngirimin es buah." ucap Naufal.
" Astagfirullah, Azmi. Benar itu? " tanya Ummi sangat serius.
" Hah? Enggak, enggak Ummi. Iki Naufal kalau ngomong emang suka kaya gitu, Azmi memang sembuh karena rasa kangen Azmi sudah terobati. Plus ada Ummi yang ngerawat Azmi." ucap Azmi.
" Yo wes, ini hari raya. Kalian malah ribut. Ayo, kita segera ke Masjid." Abah.
" Dek Naufal iki, " Azmi sambil mendorong pelan lengan Adiknya.
" Kok aku iku lho? " ucap Naufal yang terdorong pelan sembari memandang ke arah Azmi.
" Sopo maning? Yang duluan bilang itu ke Ummi siapa? " Azmi.
" Ngomong opo aku? " Naufal.
" Iku, baru aja ngomong masa lupa?" Azmi.
" Ya, apa, Mas? Aku lali tenan iki, " Naufal wajahnya begitu serius yang mengundang kekesalan Azmi kepada dirinya tapi Azmi masih saja tersenyum atas tingkah Adiknya itu.
Semuanya tertawa melihat ekspresi Azmi yang malu-malu dan ini semua karena Naufal.
__ADS_1
" Ayo, Abah, Ummi." ucap Azmi ia menggaruk bagian belakang lehernya karena saking geroginya ia langsung melangkah menuju mobilnya.
Rara terus tertawa melihat Azmi, tawanya itu sangat manis dan menggemaskan. Abah dan Ummi juga ikut tersenyum.
" Naufal, nanti minta maaf sama Mase, " Ummi.
" Nggih, Ummi. Insya Allah, " Naufal.
" Abah, Ummi, ayo! " teriak Azmi yang sudah sampai didepan mobil mewahnya.
" Ayo, ayo. Sebelum Mase ngamuk, " Rara membuat semuanya tertawa karena gemas dengan ucapan dan wajah Rara.
Mereka semua segera melangkah menghampiri Azmi dan berangkat menuju Masjid.
Pada pagi ini seluruh umat muslim melaksanakan sholat Ied. Termasuk seluruh anggota tim Syubban yang kini berada di masing-masing di desa mereka.
Tidak disangka Zakir masih ada di Blitar ia bersama dengan keluarganya melaksanakan solat ied di Masjid yang akan Azmi bersama keluarganya juga hadiri untuk melaksanakan sholat Ied.
Entah apa yang Zakir kerjakan sebelum berangkat ia sangat fokus dengan handphonenya. Apakah ia punya rencana buruk lagi untuk Azmi di hari raya ini, pikir Dimas yang duduk tepat di sebelah Zakir sedari tadi tidak diharaukan Zakir.
***
Aisyah berpakaian dengan sangat indah, ia juga bersolek sehingga wajahnya sangat cantik.
" Iya, Ibu!" jawab Aisyah juga dengan teriakan.
Ia kembali memandangi wajahnya hingga baru bergegas turun untuk menghampiri Umminya.
" Masya Allah, cantik banget anak Ibu ini." ucap Ibu Aisyah menyentuh pipi putrinya yang cantik.
" Siapa dulu Ibunya? " ucap Aisyah sambil tersenyum manis mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Ibunya.
" Bisa aja, kamu." ucap Ibu Aisyah mencubit pelan pipi Aisyah.
" Ya sudah, ayo berangkat. Nanti keburu kita gak dapat tempat, " Ayah Aisyah.
Aisyah mengangguk, Ibu Aisyah mengggandeng tangan putrinya dan hendak melangkah keluar tapi langkah Aisyah arktika terhenti entah apa yang sedang ia pikirkan.
" Ada apa, Nak? " tanya Ibu Aisyah memandang ke arah Aisyah yang terdiam dan wajahnya tampak sedih.
" Biasanya ada Kak Akmal, sekarang kita hari raya tanpa Kak Akmal, Ibu, Ayah. Aisyah kangen banget sama Kak Akmal. Aisyah belum bisa ikhlas, kenapa Allah ngambil orang yang paling Aisyah sayang?" ucap Aisyah lirih menatap bergantian ke arah Ibu dan Ayahnya.
Ibu dan Ayah Aisyah ikut sedih melihat keadaan putrinya yang masih belum bisa ikhlas dan lepas berlapang dada atas kepergian Kakaknya yang sangat ia sayangi.
__ADS_1
Hingga Ibu Aisyah menghela pelan nafasnya, tersenyum dan mendekati Aisyah.
" Sudah Aisyah, Kak Akmal pasti sudah bahagia disana. Allah ngambil Kak Akmal, karena Allah sayang sama Kakak kamu. Sekarang Aisyah harus bisa ikhlas, Aisyah gak boleh sedih dengan kepergian Kak Akmal, karena nanti Kak Akmal gak akan tenang karena Adik tercintanya sedih terus kaya gini." ucap Ibu Aisyah dengan lemah lembut.
" Iya, sayang. Kamu harus senyum ini hari raya. Doain aja terus Kak Akmal," sambung Ayah Aisyah yang ikut mendekati Aisyah.
Aisyah mengangkat kepalanya perlahan ia mengangguk, menegakkan tubuhnya dan tersenyum kepada Ayah dan Ibunya.
" Iya, Ibu, Ayah. " ucap Aisyah dengan senyuman kecilnya.
" Nah, gitu senyum kan cantik. Ayo," Ibu Aisyah.
Mereka kembali melangkah untuk pergi ke Masjid dimana sebentar lagi akan dilaksanakan sholat ied.
Suasana hari itu sangatlah bahagia, suara takbir yang terus digemakan oleh seorang pemuda dan juga Azmi yang langsung diperintahkan untuk ikut takbir membuat suasana sangat haru.
Zakir yang ikut sholat di Masjid itu karena rumahnya dekat darisana sangat tidak suka ketika melihat Azmi yang mengenyangkan takbir dengan wajah sinisnya ia terus menatap tajam Azmi.
" Kenapa dimana-mana ada dia, sih? Bikin badmood aja di hari raya kaya gini." Zakir.
" Kamu gimana sih, Kir? Azmi kan tinggal disini dan dia udah terkenal jadi wajar kalau semua orang minta Azmi yang takbir. Suara Azmi bagus kok, " ucap Dimas yang mendengar semua perkataan Zakir karena ia duduk bersebelahan dengan Zakir.
" Alah, biasa aja." jawab Zakir sinis.
Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya dan ia memilih untuk tidak berdebat dengan Adik sepupunya yang sangat keras kepala itu.
Azmi dan seorang pemuda yang membaca takbir akhirnya selesai, Azmi tersenyum kepada pemuda itu dan pemuda itu membalas senyuman Azmi sembari mengangguk.
Azmi mundur kembali ke shafnya yang bersebelahan dengan Abah dan Adiknya.
Sholat Ied segera dilaksanakan dan semua jama'ah telah bersiap merapikan shaf mereka.
***
Semuanya bermaaf-maafan, dengan wajah yang berseri-seri Azmi menerima semua kata maaf dari semua orang yang menghampirinya juga ada beberapa gadis yang meminta maaf kepada Azmi dan mengucapkan selamat hari raya kepada Azmi. Ada beberapa remaja yang bertugas menjaga Azmi karena takut ada hal buruk yang bisa saja terjadi. Sementara Aisyah tidak sengaja melihat semua itu setelah ia meminta maaf kepada kedua orangtuanya.
Dalam waktu yang bersamaan Azmi dan juga Aisyah saling pandang dalam keramaian orang yang menjadi penghalang mereka.
Seketika Aisyah menundukkan kepalanya dan kembali menyalam tangan orangtua lainnya.
Begitu juga dengan Azmi yang kembali memalingkan wajahnya ia hanya bisa tersenyum kecil setelah melihat Aisyah.
Bersambung....
__ADS_1