
Rifki melihat Azmi yang sedang berhenti melangkah untuk berbicara kepada salah satu teman sekelasnya, Rifki mencoba terus berjalan dan mendekati Azmi menunggunya sampai Azmi selesai bicara.
" Oke Mi, makasih ya, duluan. Ki, " siswa itu hendak pergi karena ia melihat Rifki ia memberikan sapaannya kepada Rifki dan Rifki membalasnya dengan senyum.
" Azmi, " ucap Rifki terus mendekati Azmi.
Azmi menoleh sekilas dan kembali menoleh ke arah depan ia mulai tidak tega melihat wajah Rifki yang kasihan.
" Maafin aku dong Mi, aku gak tenang kalau kamu gak maafin aku, aku akan ngelakuin apa aja deh, " Rifki terus memohon.
" Aku masih mikir, apa aku harus maafin sahabat kaya kamu? " Azmi terus melangkah hingga Rifki berusaha mengejarnya dan berdiri di hadapannya.
Tanpa Rifki sadari air mata telah jatuh dan membasahi pipinya, Rifki adalah sosok laki-laki periang dan juga lembut ia sangat menyesali perbuatannya apalagi melihat tingkah Azmi yang tidak biasa kepada dirinya.
Azmi menjadi semakin kasihan ia menelan ludahnya sembari menyentuh dahinya dsn kembali melihat mata Rifki yang berkaca-kaca.
" Maafin aku Mi, kamu mau apa? Nanti aku kasih deh, " Rifki.
Azmi mengangkat kepalanya dan menghela nafasnya pelan tatapan matanya yang tajam, fokus kepada Rifki.
" Aku mau kamu jadi sahabat aku sampai di surga nanti, " ucap Azmi sembari tersenyum kepada Rifki.
Setelah mendengar ucapan Azmi yang bergema di pikirannya, Rifki menghapus air matanya dan menganggukkan kepalanya.
" Aamiin Mi, aamiin, " Rifki tersenyum lebar.
" Dah, jangan nangis, masa gitu aja nangis, ingat Ki'! Kamu itu cowok!" Azmi menepuk pundak Rifki menyematkan senyumnya yang terlihat adem dan menyejukkan.
Rifki segera menghapus air matanya dan memandang Azmi.
" Iya Mi, tapi kamu maafin aku kan? " tanya Rifki kembali.
" Iya lah, kamu sama Aban itu sahabat aku, dan kalian orang pertama yang aku maafin," jelas Azmi.
Aban datang berdiri di samping Azmi dan merangkul sahabatnya itu.
" Gimana? Dah baikan ? " Aban.
" Opo ae Ban, kelihatannya aku sama Iki' gimana? " Azmi.
" Oke, sahabat lagi, " Aban mengulurkan satu tangannya mengajak kedua sahabatnya untuk menumpu tangannya juga.
__ADS_1
Azmi dan Rifki ikut menaruh tangan mereka dia atas tangan Aban sehingga mereka mengangkatnya bersama-sama. Keceriaan mereka membuat Zakir yang tengah duduk sendiri merasakan kebencian yang semakin meluap dengan tatapan sinis ia mengawasi langkah ketiga sahabat itu.
" Arghhhh." Zakir memukul tembok yang ada di sampingnya dengan sangat kesal.
" Kenapa, sih? Mereka yang selalu bahagia, dan aku? Sekarang aja gak ada yang mau temenan sama aku! Ini sama sekali gak adil! Aku benci kalian semua! " Zakir ia merasa sangat kesal dan terus-menerus larut dalam amukannya.
...***********...
Hamdi yang sedang fokus pada layar laptopnya membuat Hafsah yang duduk di sampingnya merasa bosan dan ia juga merasa sendiri.
" Kak, " panggil Hafsah.
Hamdi terus fokus bekerja tanpa mendengarkan adiknya.
Merasa semakin kesal Hafsah memaksa untuk merampas laptop kakaknya.
" Dek, mau kamu apa sih? " tanya Hamdi kesal.
" Habis dari tadi aku manggil, kakak gak dengerin, " keluh Hafsah.
" Ya udah, cepat ngomong, " Hamdi.
" Kita balik lagi yuk, buat chanel Syubbanul Muslimin Kak, aku yakin Azmi dan Ahkam bisa buat single mereka yang membuat semua orang takjub. " Hafsah.
Hafsah terdiam dan ia mulai menunduk takut jika kakaknya akan marah padanya.
" Sebenarnya, aku sama si Mufti udah taruhin tim Syubban Kak, kalau mereka gak sukses 4 minggu lagi, aku harus jalan sama cowok itu. Jadi, please Kak, kita buat mereka sukses, " Hafsah.
" Kamu apa-apaan, Dek? Kamu taruhin kesuksesan mereka? " Hamdi semakin emosi.
" Ya maaf Kak, waktu itu aku keburu emosi sama Mufti, jadi aku asal ngomong, " jelas Hafsah.
" Kesuksesan seseorang itu bukan untuk taruhan, dan bukan kakak yang buat mereka sukses, tapi mereka sendiri!" Hamdi merebut laptopnya dan pergi meninggalkan Hafsah.
Hafsah sadar atas kesalahnnya tidak seharusnya ia mempertaruhkan kesuksesan tim Syubban pada Mufti, sekarang ia hanya bisa pasrah sembari menyenderkan tubuhnya di sofa dan menepatkan kedua tangannya pada wajahnya.
......***********......
Suasana Ba'da duhur yang panas tidak memadamkan semangat para anggota Syubban untuk terus berlatih. Akhir-akhir ini tim Syubband memang mendapat banyak undangan bahkan sampai keluar kota, jadi mereka harus tetap semangat agar bisa menampilkan yang terbaik untuk semua.
" Bagus, penampilan kalian semakin kompak, saya harap kalian bisa seperti ini terus." Ustadz Mustafa.
__ADS_1
" Insya Allah ustadz, kita akan memberikan yang terbaik, " jawab Ahkam.
Akmal yang sedari tadi lemas dengan wajah yang pucat sudah tidak kuat lagi, dadanya serasa semakin sesak dan ia berusaha untuk tegar.
" Baiklah, kalau begitu kalian boleh istirahat, kita ketemu nanti malam, " Ustadz Mustafa.
Satu-persatu dari mereka menyalam tangan Ustadz Mustafa sebelum mereka pergi masuk kembali ke dalam pesantren.
•••
Azmi yang sudah sangat lelah dan mengantuk langsung melepas pecinya dan merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk sementara, Ahkam duduk santai di atas kasurnya sembari mengusap wajahnya yang sudah lelah, lain halnya dengan Aban yang terlihat sangat mengantuk dan merebahkan tubuhnya di kasurnya dengan peci yang masih terpasang, sedangkan Muhklis mengepai-ngepai dirinya dengan pecinya.
Azmi yang sedang memandang langit-langit dinding seketika teringat dengan keadaan Akmal.
" Mas Akmal gimana kabarnya, ya?" tanya Azmi terus memandang langit-langit.
" Kamu gimana sih, Mi? Tadi dia kan, latihan sama kamu, " jawab Muhklis.
Azmi menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah Muhklis.
" Tapi mas Akmal gak semangat kaya biasanya, dia lemas banget, kaya lagi nahan rasa sakitnya, bang. " ucap Azmi.
" Tenang aja Mi, Akmal pasti baik-baik aja, buktinya selama ini dia gak pernah kesakitan lagi, iya kan? " sambung Ahkam.
" Mas Ahkam benar Mi, mas Akmal pasti baik-baik aja, " tambah Aban.
Azmi hanya bisa mengangguk walau dalam hati dan pikirannya ia sangat mengkhawatirkan keadaan Akmal yang terlihat baik-baik saja.
••••••
Akmal sangat merasakan kesakitan, tepat di depan kamarnya ia pergi untuk meminum obatnya secara sembunyi-sembunyi, hidungnya yang mengeluarkan darah segera ia bersihkan dengan tisu, rasa sakit yang amat sangat harus ia tanggung sendiri tanpa memberitahu kepada teman-temannya. Akmal duduk di kursi depan kamar sembari menyenderkan kepalanya di tembok.
Sembari menikmati suasana pesantren yang panas dan para santri yang masih istirahat, Akmal kembali mengingat semua perkataan Dokter. Akmal sangat menghayati semua kejadian yang sudah ia lakukan bersama tim Syubban dengan rada sakit yang ia rasakan sekarang tanpa sadar air mata mulai menetes.
Nafas Akmal berdesah kencang, dengan keras ia terus membersihkan darah dari hidung yang terus mengalir, sampai Ali yang curiga karena akhir-akhir ini Akmal selalu menyendiri memilih untuk menghampiri Akmal.
" Mal, ayo masuk, " ajak Ali beridiri di depan pintu.
Akmal segera menghapus air matanya dan menggaguk tanpa menanggapi Ali, Akmal masuk begitu saja ke dalam kamarnya.
" Akmal kenapa? " tanya Ali pada dirinya, ia bingung atas kesunyian Akmal selama ini.
__ADS_1
Bersambung....