
" Kayanya pusing gue udah mendingan, nih. Gue mau pulang," Mufti.
" Kamu yakin? Entar malah nabrak lagi, terus jatuh lagi." Hafsah.
" Ya, lo jangan ngomong kaya gitu, masa lo gak tau kalau setiap apa yang kita ucapkan itu adalah doa." Mufti.
" Iya, aku tau Mufti. Tapi, pusing kamu beneran udah mendingan? Gak mau ke rumah sakit dulu, atau ke apotik atau, biar aku aja yang beliin kamu obat. Gimana, Muf? " Hafsah.
" Ah, gak usah-gak usah. Gue bisa beli sendiri. Udah lo pulang aja, gue juga mau pulang." Mufti.
Hafsah mengangguk memandang Mufti yang sudah beranjak dari bangku putih itu dan sedang melangkah menuju motornya.
Hafsah masih tampak khawatir melihat cara berjalan Mufti yang begitu pelan tentu ia takut kalau Mufti kenapa-napa.
Mufti juga menghentikan langkah saat sudah berdiri tepat dihadapan motornya. Ia masih terdiam mengingat Hafsah yang sudah membantunya tapi ia sama sekali belum berterima kasih kepada Hafsah.
Mufti membalikkan tubuhnya dan tepat sekali saat Hafsah juga sudah berdiri tepat dihadapannya. Kejadian itu membuat mereka berdua kaget dan saling tatap.
Tubuh mereka berdiri begitu dekat dan tatapan Mufti begitu dalam kepada Hafsah yang ada dihadapannya dengan wajah yang canggung.
Setelah beberapa detik waktu mereka seolah berhenti untuk bertatap mata diantara Mufti dan Hafsah akhirnya Hafsah langsung memalingkan wajahnya dan mengucapkan istighfar.
" Astagfirullahal'adzim, " Hafsah mengusap wajahnya dan menjauhkan dirinya dan Mufti.
Sementara Mufti dengan wajah datar dan biasa saja ia juga ikut memalingkan wajahnya sambil menggigit pelan bagian pinggir bibirnya.
" Ada apaan, sih? Lo kenapa nyamperin gue? Gak rela gue pergi, ya? Hayo, lo ngaku aja deh." Mufti dengan gaya pedenya yang tingkat dewa ia berkata seperti itu dengan wajahnya yang berseri.
" Ih! Apaan, sih? Gr banget jadi orang, aku cuma mastiin aja apa kamu benar-benar udah sehat soalnya itu jalannya lemas banget, sih. Agak goyang lagi aku lihatin, " Hafsah.
Mufti tidak langsung menjawab dan menundukkan kepalanya sekilas lalu kembali menatap mata Hafsah.
" Ah, masa, sih? Perasaan gue jalan baik-baik aja. Itu cuma lo aja kali yang salah lihat. Udah, gue gak papa gue mau pulang dulu. Bye, " Mufti ia segera naik ke motornya dan, menghidupkan mesin motornya.
" Greng, greng, greng." suara motor Mufti yang sangat keras saat Mufti memutar tangannya pada setir motornya membuat Hafsah hanya bisa diam menatap Mufti yang hendak pergi.
" Gue pulang dulu, ya, Haf. Assalamualaikum ," Mufti.
" Iya, hati-hati, Muf." Hafsah.
Mufti sudah pergi pulang dan Hafsah juga segera bergegas pulang tapi matanya tiba-tiba terfokus pada buku tebal yang terletak ditanah begitu saja.
__ADS_1
" Eh, ini punya siapa? Mufti? Aduh, ini pasti jatuh tadi. Mufti udah jauh lagi, ya udahlah aku bawa dulu, " Hafsah ia membawa buku yang sudah tertulis nama Mufti lalu ia melangkah pergi menuju motornya dan bergegas meninggalkan tempat.
***
Setelah melaksanakan sholat isya' di Masjid, Azmi terlihat jalan hanya seorang diri dengan sajadah yang ia letakkan pada pundak kanannya. Entah kenapa Azmi bisa jalan sendiri tapi semua jama'ah yang ada disana mengarahkan perhatian mereka kepada Azmi.
Azmi tetap tertunduk walau ia sempat tersenyum dengan kepala yang tertunduk. Azmi berpapasan dengan Aisyah dan Fitri yang ingin kembali ke Masjid.
" Azmi, duh, kamu kalau jalan itu matanya kedepan hampir aja nabrak aku sama Aisyah, " Fitri ia kesal karena Azmi hampir saja menabrak dan Fitri juga kesal melihat Azmi yang jalan dengan terburu-buru dengan kepala yang tertunduk.
" Maaf, maaf, yah. Aku gak sengaja." Azmi.
" Iya, oke. Oh, iya. Kamu kenapa jalan sendirian? Bahaya, Mi. Kamu itu udah jadi orang terkenal bisa-bisa dikejar-kejar nanti, " Fitri.
" Fitri, kamu gak usah berlebihan. Gak ada yang ngejar dia kok, lihat semuanya cuma ngelihatin aja. Mereka udah tau," Aisyah.
" Bisa aja, nanti, kan. Pokoknya Azmi kalau jalan sendirian itu bahaya. Aku benar, kan. Aku tau dia hampir pingsan waktu direbutin jama'ah disuatu acara. Iya, kan Azmi? " Fitri.
Azmi mengangguk pelan.
" Iya, tapi aku gak papa kok, aku bisa jaga diri. Assalamualaikum, " Azmi ia melanjutkan langkahnya sambil memasang masker yang ia bawa.
Aisyah hanya terdiam saat Azmi melintas disampingnya Aisyah lalu menundukkan kepalanya sampai Azmi melewati dirinya dengan sikap yang begitu cuek bahkan tidak sama sekali menoleh kepada Aisyah.
" Syah, kamu masih belum minta maaf sama Azmi? " tanya Fitri.
Aisyah tidak menjawab dan masih diam ia tetap memandang kedepan tanpa menghiraukan pertanyaan Fitri.
" Aku tau kamu pasti malu, ya? Dalam hati kamu pasti gelisah karena kamu udah nyakitin hati Azmi dengan ucapan kamu waktu itu." Fitri.
" Enggak, aku sama sekali gak gelisah. Lagian yang aku ucapin itu gak salah. Azmi terkenal dan disukai banyak orang cuma karena fisik. Suaranya juga biasa-biasa aja." Aisyah ia belum selesai bicara tapi Fitri hendak memotong pembicaraannya karena ia tidak suka dengan sikap Aisyah yang seperti ini kepada Azmi.
" Aisyah, maksud aku kamu itu. " Fitri belum selesai bicara.
" Fitri! Aku belum selesai bicara! Kamu gak lihat sifat Azmi dia itu udah besar kepala, sikapnya itu sama sekali gak bagus, udah, kamu jangan terobsesi sama orang kaya Azmi!" Aisyah ia terlihat sudah sangat kesal.
Fitri menghela nafasnya ia mencoba itu menahan misinya dan sabar dengan sikap Aisyah yang masih tidak menyukai Azmi.
" Oke, sekarang terserah kamu. Kita lanjut ke Masjid buat ngambil Al-Qur'an kamu yang ketinggalan." Fitri.
Aisyah mengangguk.
__ADS_1
" Ayo, " ucap Aisyah singkat dan melangkah cepat menuju Masjid.
Fitri memandang Aisyah dengan ekspresi sedih dan ia segera mengejar sahabatnya itu.
***
Naufal sudah sampai rumah, Abah, Ummi dan Rara duduk bersama dengan wajah yang serius.
" Assalamualaikum, " Naufal.
" Wa'alaikumussalam, " jawab semuanya.
" Naufal, kamu kok sendiri. Azmi mana?" tanya Ummi.
" Maaf, Ummi. Tadi Naufal kelebet terus pas keluar kamar mandi Mas Azmi gak tau kemana. Aku kira udah pulang, makanya aku juga pulang." Naufal.
" Kamu tinggalin Azmi sendirian? Aduh, Naufal itu bahaya sama Mas kamu. Kamu gak ingat Mas Azmi waktu hampir pingsan gara-gara ditarik-tarik tangannya itu. Kalau itu terjadi bagaimana?" Ummi ia marah kepada Naufal karena telah meninggalkan Azmi.
Naufal tertunduk dan ia mengaku salah.
" Sudah, Ummi. Jangan marah seperti ini. Azmi bisa menjaga dirinya dia juga sudah bawa masker tadi, tenang saja." Abah.
" Assalamualaikum, " akhirnya Azmi pulang dengan selamat.
" Wa'alaikumussalam, " jawab semuanya mereka senang melihat Azmi yang sudah sampai rumah.
" Ya Allah, Nak. Ummi khawatir sekali sama kamu. Untung saja kamu gak papa, " Ummi.
" Ummi tenang aja, Aku gak papa kok." Azmi.
" Naufal, Ummi minta maaf ya, sudah memarahi kamu." Ummi.
" Gak papa, Ummi. Naufal memang salah, Mas maafin aku, ya. Aku kira Mas udah pulang duluan." Naufal.
" Wes, gak papa kok, " Azmi
" Sekarang kamu bersih-bersih. Terus istirahat, besok kamu subuh sudah berangkat," Abah.
" Iya, Abah. " Azmi.
Azmi pergi untuk bersih-bersuh dan segera istirhat begitu juga dengan Naufal.
__ADS_1
Bersambung....