
Hafsah terus mencari Mufti diantara banyaknya orang disana ternyata Mufti terlihat duduk termenung di suatu sisi tepatnya didepan kamar santri dimana tempat itulah yang paling sepi dari banyaknya orang yang ada berlalu lalang ataupun berkumpul.
Perlahan langkah kaki Hafsah mendekati Mufti dan berdiri tepat disamping Mufti yang sedang sedih melamuni semuanya belum lagi buku berharga Mufti yang belum ditemukan.
" Mufti, kamu kenapa, sih? Ada masalah? Cerita sama aku pasti aku dengerin, " ujar Hafsah.
Mufti tidak langsung menjawab ia menegakkan tubuhnya, menghela nafasnya, menoleh ke arah Hafsah yang sedang terdiam masih berdiri menatapnya.
" Lo gak akan ngerti sama apa yang gue rasain, lagian Kakak gue aja gak peduli sama gue. Apalagi lo, " Mufti.
Hafsah menggelengkan kepalanya sebelum ia menjawab semua ucapan Mufti yang sama sekali tidak benar.
" Kamu salah, Muf. Kakak kamu sangat sayang sama kamu dan aku.. " Hafsah seketika ia menghentikan ucapannya dan Hafsah hampir saja keceplosan ingin mengatakan bahwa sebenarnya Hafsah sangat peduli dan sangat sayang pada dirinya.
" Aku?.... Apa? " Mufti.
" Hah? Eee.. Enggak, aku... Emmm, gini setiap Kakak itu pasti peduli dan sayang sama Adiknya Muf, begitu juga sama Kakak kamu. Aku juga lihat kok, kalau Kak Mustafa itu juga sangat sayang sama kamu." Hafsah.
Mendengar ucapan Hafsah itu membuat Mufti berdiri dan mendekati Hafsah. Hafsah yang gugup perlahan mundur untuk menjaga jarak dari Mufti.
" Tau apa lo tentang hidup dan cerita gue? Lo bukan siapa-siapa gue, Haf. Udahlah gak usah sok tau, dan sok ngerti tentang kehidupan gue." Mufti ia berkata sangat dalam membuat Hafsah sedih akan ucapannya yang begitu pedih bagi Hafsah yang sudah berusaha membuatnya bangkit dan semangat.
Mufti memalingkan wajahnya, melirik Hafsah sekilas dan meninggalkan Hafsah begitu saja.
Tubuh Hafsah kaku, ia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi setelah mendengar semua ucapan keras Mufti kepada dirinya.
" Kamu salah, Muf. Aku emang peduli bahkan aku sayang banget sama kamu. Aku gak mau melihat kamu sedih kaya gini terus. Aku tau cerita kamu, Muf. Dan, aku berusaha buat kamu kuat dengan semuanya karena aku udah bikin kejutan buat kamu. Gak papa Hafsah, Mufti kaya gini karena dia sedih. Udah jangan nangis," ucap Hafsah dalam hatinya ia sangat sedih hingga ia meneteskan air mata.
Hati lembut Hafsah sama sekali tidak bisa menerima semua perkataan Mufti, tapi Hafsah berusaha untuk tetap tegar.
Tapi, Mufti juga sadar dan menyesal akan ucapannya ditengah langkah kakinya ia berhenti dan perlahan menoleh ke arah Hafsah yang masih dengan posisi yang sama dan membelakangi dirinya.
" Ucapan gue tadi, apa udah keterlaluan ya, sama Hafsah?" gumam Mufti kembali memalingkan wajahnya dari Hafsah.
Saat ia ingin minta maaf dan membalikkan tubuhnya, tiba-tiba saja Hafsah sudah berdiri dihadapannya membuat Mufti sangat kaget ketika melihat wajah Hafsah.
" Eh! Lo ngagetin gue aja, Haf." Mufti.
__ADS_1
Hafsah terdiam dan menghapus air matanya sambil memalingkan wajahnya.
" Hafsah, lo nangis?" tanya Mufti yang melihat pipi Hafsah yang basah persis habis nangis.
Hafsah menggelengkan kepalanya beberapa kali.
" Aku minta maaf kalau aku buat kamu gak nyaman, Muf." ucap Hafsah dan ia pergi begitu saja sama dengan yang dilakukan Mufti kepada dirinya.
Mufti terdiam mencermati semua yang baru saja diucapkan dari mulut Hafsah dan saat itu juga barulah Mufti merasa bersalah dengan apa yang telah ia ucapkan.
" Haduh, Mufti. Lo kenapa sih, harus ngomong kaya gitu tadi pas sama Hafsah? Lo cinta, kan sama dia?! Harusnya gue bisa nahan ego dan emosi gue didepan cewek selembut dan setulus Hafsah. Enggak Hafsah, lo itu buat gue selalu nyaman saat gue berada didekat lo." Mufti.
...****...
Semuanya sudah siap, jama'ah mulai berdatangan ke pesantren untuk menyaksikan penampilan Syubban ada juga penampilan lain yang akan dibawakan oleh beberapa santri disana seperti, pidato dakwah dan tartil membaca Al-Qur'an.
Dengan seragam berwarna biru tua dan garis-garis putih dibagian dada, dan siku, tim Syubbanul Muslimin terlihat sangat keren dan tampan terutama Azmi yang saat itu menjadi pusat perhatian para jama'ah wanita yang begitu terpesona akan ketampanan dan pesona Azmi.
Mereka terus meneriaki nama Azmi dari gerbang masuk dengan begitu histeris dan semakin kencang teriakan mereka saat Azmi tertawa dan tengah berbincang kepada senior-seniornya.
Para jama'ah bisa disiplin ketika mendengarkan dan menyaksikan rangkaian-rangkaian acara yang ditampilkan oleh beberapa santai berbakat.
" Alhamdulillah, beberapa acara sudah berjalan dengan lancar dan kali ini saatnya kita semua disini menyaksikan penampilan dari tim Syubbanul Muslimin." Ustadz Mustafa.
" Alhamdulillah, barakallah. Pada malam ini, kita semua akan disuguhkan oleh penampilan Syubbanul Muslimin dengan karya terbaru mereka yang berjudul " Santri Bukan Artis". Wah, pasti ini yang ditunggu-tunggu oleh kalian semua. " Ustadzah Lily.
" Tidak hanya itu saja, sebelum mereka membawakan karya terbaru mereka. Ada pesan dari vocalis yang sudah banyak sekali netizen dan penggemarnya. Siapa lagi kalau bukan Muhammad Ulul Azmi Askandar. Kepada Azmi, dipersilakan untuk maju kedepan." Ustadz Mustafa.
" Uuuuuuuu!!!!"
" Azmiiiiiiii!!!!!! "
" Aaaaaawww!!!! "
Sorakan-sorakan itu terdengar sangat jelas dan membuat Azmi sedikit gugup.
" Azmi, semangat, Mi! " Ahkam.
__ADS_1
" Jagoan kita rek, " Ali.
" Maju, Mi." Aban.
Azmi tertawa kecil dan mengangguk kepada semua temannya yang sudah menyemangati dirinya.
Perlahan Azmi maju sembari membenarkan pecinya saat ia sampai dipanggung. Rasa gerogi semakin ia rasakan saat melihat begitu banyaknya orang.
Semua mata hanya menuju kepada dirinya yang sudah ada diatas panggung dan tepat didepan mikrofon panjang yang sudah disiapkan untuk dirinya.
Azmi berusaha kuat untuk tidak gugup, ia memandang ke arah teman-temannya, Ustadz Mustafa dan Ustadzah Lily yang ada dibawah panggung dan Kyai yang ada bersama Hamdi dan Syafiq ditempat istimewa. Melihat Kyai yang tersenyum sembari mengangguk membuat Azmi menunduk dan mulai menggapai tangan kanannya untuk memegang mikrofon.
" Bismillahirahamnirahhim, assalamualaikum warahmallahi wabarakatuh, " ucap Azmi dengan nada yang begitu tegas dan semangat membuat para jama'ah wanita tak hentinya berteriak histeris menyoraki Azmi.
" Saya sebagai vocalis Syubbanul Muslimin yang ada dibawa asuhan Kyai kami, Kyai Hafidz. Akan menerangkan alasan dan tujuan dibuatnya karya baru ini yang berjudul " Santri Bukan Artis."
Saya dan teman-teman saya sangat senang jika kalian semua cinta sholawat dan sangat semangat mendatangi acara gema sholawat seperti ini. Tapi, saya dan teman-teman tidak ingin jika kalian salah niat ketika datang ke acara sholawat.
Innamal A'malu Binniyat, segala amal itu dinilai dari niat. Sama halnya jika kalian, misalnya, mengaji dan niat kalian bukan Lillahita 'Ala, bukan hanya untuk Allah Ta'ala tapi malah untuk menunjukkan kepada orang-orang disekitar kalau anda itu bisa ngaji dari mereka.
Jelas itu salah, dan untuk datang ke acara niatnya juga salah bukan karena Allah Ta'ala tapi ingin ketemu idola, ingin ketemu kami semua. Itu sama sekali tidak benar. Saya hanya ingin menggemakan sholawat, supaya kalian cinta dengan sholawat. Itulah niat saya dengan teman-teman saya semua disini.
Kami Santri Bukan Artis dan Kami akan tetap menjadi seorang Santri! Tolong kalian bisa hargai itu dan tetap bersikap biasa saja seperti kami layaknya grup hadroh yang ingin mengajak kalian bersholawat. "
Ucapan-ucapan Azmi yang ia ucapkan dengan tegas dan pandangan mata yang tajam membuat semua jama'ah terdiam mereka menunduk dan sadar akan kesalahan mereka.
Azmi kembali memandang kepada kursi istimewa yang diberikan khusus untuk orangtua anggota Syubban dan tanpa Azmi sangka orangtuanya sudah duduk disana bersama dengan kedua Adiknya.
Tatapan bangga melihat Azmi dan tersenyum melihat Azmi yang ada dipanggung itulah yang ada pada orangtua dan kedua Adik Azmi.
Hal itu membuat Azmi terharu sampai terdiam kaku dengan kata yang tidak berkedip karena dirinya sama sekali tidak menyangka ia juga sangat senang melihat orangtua dan Adiknya akhirnya bisa datang di acara ini.
" Saya senang jika kalian suka dengan penampilan kami. Tapi, saya tidak suka jika kalian menangis dan berdempet-dempetan sampai bersentuhan dengan yang bukan mahramnya hanya untuk kami. Sungguh saya sangat sedih dan prihatin. Sekali lagi, Kami Santri Bukan Artis. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. " Azmi.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya.
Bersambung...
__ADS_1