
Para jama'ah terus-menerus mempertanyakan mulut Azmi yang memang lebam dan semakin membiru. Ali hanya terdiam dengan sesekali menundukkan kepalanya dan kembali memandang para jama'ah.
" Ini tadi, saya kejedug pintu mobil, keras banget, makanya sampai kaya gini. " ucap Azmi.
" Aduh kasihan banget, masih sakit ya, sini biar aku obatin." cewek 1.
" Heh, sini biar aku aja yang ngobatin. " cewek 2 mendorong pelan cewek 1 yang terus memandang Azmi.
Mereka semua berebut ingin mengobati Azmi dan membuat keadaan semakin rumit.
" Hush, udah, jadi cewek gitu banget, mereka ini mau pulang ke pesantren, ayo, mending kita pulang semua!, kalian ini. " tegur salah seorang bapak yang melihat keributan.
" Udah, pulang-pulang, " tambah seorang bapak lainnya menyuruh mereka semua pulang.
Akhirnya mereka semua pulang dengan sangat terpaksa.
" Assalamualaikum akhi, semoga kita bisa ketemu lagi, " teriak salah seorang cewek yang sudah melangkah pergi.
Mendegar itu membuat tim Syubban sedikit geli dan tertawa kecil.
" Makasih pak, sudah ditolongin, " Ahkam.
" Sama-sama, emang anak-anak jaman sekarang kaya gitu semua tingkah lakunya," bapak 1.
" Kalian ini dari ponpes, mana? " tanya bapak 2.
" Kita dari Nurul Qadim, pak, " jawab Ahkam.
" Oooo, saya kayanya tau, " bapak 2.
" Emang kalian ini sudah kemana-mana, ya? Banyak orang yang ngomongin kalian, nama tim hadroh kalian tim Syubbanul Muslim, iya, ya? " bapak 1.
" Iya benar pak, " jawab Ahkam.
Mendengar itu membuat semuanya kaget karena mereka selalu di pesantren dan tidak pernah tau bahwa banyak orang yang telah mengenal mereka.
" Assalamualaikum, " Kyai dan ustadz Mustafa yang baru saja tiba.
" Wa'alaikumsalam, "
" Ini Kyai dan ustadz nya mereka, ya? " bapak 1.
" Iya betul pak, ada apa, ya? " tanya Kyai.
" Waduh Kyai, anak-anak ini sangat hebat dan memengaruhi anak-anak muda untuk bersholawat, penampilan mereka memang sangat bagus, " sambung bapak 2.
" Alhamdulillah, terimakasih pak, " Kyai.
" Ya sudah Kyai, ustadz, tetap semangat mengajar mereka, kita doakan semoga tim Syubbanul Muslimin semakin sukses, " bapak 1.
" Aamiin, " semuanya sembari mengusap wajah mereka.
" Kita pamit dulu Kyai, ustadz, anak-anak semua, assalamualaikum, " kedua bapak itu sama-sama mengucap salam kepada mereka.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.
" Semangat nggeh, arek-arek ganteng, " bapak 1 kepada seluruh tim Syubban.
" Nggeh pak, " jawab semua anggota Syubban dengan kompak dan semangat sembari melukis senyum mereka.
" Mari Kyai, ustadz, " kedua bapak itu bersamaan.
" Iya pak, mari, " Kyai dan ustadz Mustafa.
__ADS_1
" Ada kabar gembira buat kalian semua, " Kyai.
" Apa Kyai?" tanya Muhklis.
" Azmi diminta untuk membawakan lagu "Ayo Mondok" dan ini akan di masukkan ke chanel youtube milik anak pemilik acara tadi, " Kyai dengan ekspresi begitu senang begitu juga dengan ustadz Mustafa.
Tapi tim Syubban tidak menunjukkan ekspresi apapun karena mengetahui hanya Azmi yang terpilih.
" Maaf Kyai, Azmi saja? " tanya Ali.
Kyai dan ustadz Mustafa terdiam dan saling pandang sebelum menjawab pertanyaan Ali.
" Iya, anak itu hanya suka dengan Azmi, katanya Azmi memiliki wajah tampan dan suara bagus, jadi dia berniat menjadikan Azmi sebagai penyanyi untuk menyanyikan lagu yang telah dia buat," Kyai.
Tim Syubban dengan kompak memandang Azmi dengan tatapan serius. Azmi hanya bisa terdiam dan ia juga ikut bingung. Tim Syubban tidak senang dengan keputusan itu mereka menunjukkan wajah kesal mereka tanpa berani mengusulkan ketidak setujuan mereka pada Kyai.
" Ya sudah anak-anak, ayo kita segera kembali ke pesantren, " ustadz Mustafa.
" Iya, ayo semuanya, masuk ke mobil! " Kyai.
Pak sopir yang ada didalam mobil masih tertidur dengan pulas pantas saja ia tidak keluar dari tadi.
" Maaf Kyai, pak sopirnya tidur, " ucap Azmi.
" Astagfirullah, kasihan dia, dari tadi memang belum dapat istirahat. Bangunkan saja Azmi," Kyai.
" Baik Kyai, " Azmi.
Azmi mulai membangunkan pak sopir yang tertidur begitu pulas, sementara ustadz Mustafa masih menunggu di dalam mobil bersama anggota Syubban yang lain.
Tidak lama kemudian pak sopir mulai terbangun dan membuka matanya.
" Eh, udah selesai ya, acaranya? " pak sopir.
" Waduh, ya sudah, ayo masuk, " pak sopir.
" Gimana mau masuk, pak? Di buka dulu kuncinya, " Azmi.
" Oh iya, lupa saya, sek, " pak sopir mulai membuka kunci agar semua bisa masuk.
" Sudah, ayo masuk anak-anak, " Kyai.
Satu-persatu dari mereka masuk ke dalam mobil. Mereka akhirnya pulang pada hari yang sudah semakin malam.
Azmi asyik memandang suasana malam di luar jendela mobil wajah Azmi terlihat khawatir dan seperti memikirkan sesuatu, begitu juga dengan anak-anak Syubban yang lain, mereka sangat iri kepada Azmi karena hanya dia yang di butuhkan dalam pembuatan video klip itu.
Wajah-wajah mereka begitu kusam, baik yang ada di mobil Kyai dan ustadz Mustafa tidak seperti biasanya, mereka yang selalu berbicara dengan sangat seru dan asyik tapi kali ini mereka diam membisu tanpa sepatah kata apapun.
Baik Kyai maupun ustadz Mustafa menjadi bingung dengan tingkah para santrinya hingga akhirnya sampai di pesantren.
Mobil Kyai dan ustadz Mustafa terparkir di pinggir halaman pesantren yang sangat luas.
Suasana pesantren sangat sepi mengingat sudah tepat jam 12.00 malam.
" Ya sudah sepertinya kalian semua capek, sebaiknya kalian langsung tidur, jangan ada yang masih mengobrol! " Kyai.
" Baik Kyai, " jawab semuanya dengan kompak.
" Untuk Azmi, besok pagi jam 07.00 sudah siap ya," ustadz Mustafa.
Tidak langsung menjawab, Azmi melihat semua teman-temannya yang sama sekali tidak menunjukkan wajah senang mereka.
" Iya ustadz, " jawab Azmi.
__ADS_1
Di mulai dari Ahkam, satu-persatu dari mereka menyalam tangan Kyai dan ustadz Mustafa sembari mengucap salam dan pergi menuju kamar mereka.
" Wa'alaikumsalam, " jawab Kyai dan ustadz Mustafa.
" Maaf Kyai, kita harus kerumah sakit lagi, kasihan ibu Akmal yang menunggu sendiri di sana. " ucap ustadz Mustafa.
" Tidak apa-apa ustadz, ini juga sudah sangat malam. Saya sudah mengirim pembantu saya untuk menemani ibu Akmal, dan dia bilang ibu Akmal dan Akmal sudah tidur dengan pulas. Besok pagi kita akan kerumah sakit. " Kyai.
" Kalau begitu baik Kyai, saya mau langsung pulang saja, " ustadz Mustafa.
" Ooo, iya, iya, hati-hati ustadz, " Kyai.
" Iya Kyai, " ustadz Mustafa menyalam tangan Kyai.
" Assalamualaikum Kyai, " ustadz Mustafa.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. " Kyai.
Ustadz Mustafa pergi meninggalkan pesantren.
" Ayo pak, kita disini dulu sampai besok pagi, " Kyai kepada pak sopir yang ada di sampingnya.
" Baik Kyai, " pak sopir.
••••••••••••••••••••••••
Azmi, Aban dan Muhklis bersantai di kasur mereka masing-masing.
" Assalamualaikum, " Ahkam yang tiba-tiba datang membawa obat merah dan kapas.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.
" Nih Mi, obatin dulu lukanya, makin bengkak tuh, " Ahkam sembari menyodongkan obat merah dan kapas.
" Gak usah lah mas, gak sakit kok, " ucap Azmi sembari terus menyenderkan tubuhnya pada kepala kasur.
" Nih bocah kalau dibilangin, apa mau aku yang obatin? Sini!" Ahkam mulai memaksa.
" Eh, jangan-jangan, yang ada nanti kalau mas Ahkam yang ngobatin, makin bengkak ini, " Azmi.
" Itu tau, yaudah sana obatin dulu, " Ahkam.
" Nggeh pak ustadz, " Azmi menerima obat dan kapas dari Ahkam.
Azmi bangun dan melangkah menuju cermin untuk mengobati lukanya. Sementara Ahkam melangkah menuju kasurnya dan mulai merebahkan dirinya.
Aban dan Muhklis yang lelah terlihat sudah tertidur pulas.
Azmi terus mengobati lukanya sembari sesekali meringis kesakitan. Selesai Azmi mengobati lukanya ia melihat semua temannya yang sudah tertidur.
" Cepat banget tidurnya, " keluh Azmi sembari memandang teman-temannya secara bergantian.
Azmi memutuskan untuk meletakkan dulu obat merah ke ruangan Uks. Suasana pesantren memang sangat sepi. Hanya Azmi sendiri ia dengan cepat melangkah ke ruang Uks dan meletakkan obat merah itu. Azmi kembali melangkah menuju kamarnya.
Tiba-tiba Azmi mendengar suara seperti seseorang yang sedang membicarakan sesuatu. Azmi mencoba mendekat dan ia mendengar...
" Aku gak suka aja, semua orang muji-muji pencuri itu, " Ali.
" Ya sama, kita kaya gak ada gunanya gitu. Azmi aja terus yang paling ganteng lah, yang paling baik, padahal asilnya licik banget. " Firman.
" Wes lah rek, turu ae ( udahlah, tidur aja), gak ada gunanya kita debatin maling iku, " Udin.
Mendengar semua itu, Azmi merasa sangat sedih ia tidak tau apa yabg harus ia lakukan mengetahui banyak orang yanh tidak suka dengannya, perlahan ia terus melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
Bersambung...