Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 146. Masih Dengan Kebencian.


__ADS_3

Setelah mengaji kitab yang dilakukan setelah sholat subuh seluruh anggota Syubban duduk bersama di depan Masjid tepatnya di pinggiran tangga Masjid mereka terlihat segar dengan wajah adem dan berseri-seri seolah mereka tidak habis mendapatkan masalah. Rifki yang melihat Azmi dan Aban yang tengah berdiam diri tanpa saling bicara segera melangkah menghampiri mereka.


" Assalamualaikum, " Rifki.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semua anggota.


Rifki tersenyum dan duduk tepat di sebelah Azmi.


" Kalian kenapa duduk di sini? " tanya Rifki bingung.


" Lagi nunggu Kyai, Ki'. " jawab Azmi.


" Nunggu Kyai, emang mau ngapain? " tanya Rifki lagi wajahnya semakin penasaran.


" Ya, kita sudah di perintahkan, Ki'. "jawab Azmi dengan santainya malas untuk panjang lebar dan mengatakan masalah yang sudah terjadi pada tim Syubban.


" Iya, maksud aku kenapa Kyai nyuruh untuk kumpul? Mau tampil? Biasanya juga gak pagi-pagi banget, " ucap Rifki.


" Wes toh, Ki'. Kepo banget jadi orang, " jawab Aban yang lelah mendengar satu-persatu pertanyaan Rifki yang tiada habisnya.


" Tapi kan, aku emang penasaran, muka-muka kalian kaya beda gitu. Kaya ada aura yang gak enak, " ucap Rifki penuh percaya diri membuat Azmi dan Aban tertawa kecil melihat gaya Rifki ketika berbicara.


" Aura gak enak, emang kita hantu apa? " ucap Azmi masih dengan senyuman kecil tapi tidak memandang Rifki.


" Nih, ya Ki'. Mendingan kamu berdoa terus untuk kesuksesan tim Syubban, kamu gak perlu khawatirin kita. " ujar Aban sembari meletakkan tanganya pada pundak Rifki.


" Iya, tapi Ban, aku cuma.. " Rifki.


Mobil Kyai yang datang membuat semua anggota Syubban berdiri untuk menyambut kedatangan Kyai membuat Rifki juga ikut berdiri tanpa melanjutkan ucapannya.


Semuanya tunduk tidak ada satupun santri yang melanjutkan langkah mereka walau mereka masih ingin lanjut melangkah. Semua santri berbaris rapi dengan kepala yang terus tertunduk. Adab seperti ini memang sudah biasa di kawasan pesantren, para santri harus menjaga adab mereka kepada guru terutama Kyai mereka agar mendapatkan ilmu yang barokah karena adab lebih penting dari pada tingginya kelas yang di miliki para santri.


Kyai sangat senang ia sampai terharu melihat barisan-barisan semua santri yang terus menunduk. Kyai terus melangkah sampai kepada tim Syubban.


" Assalamualaikum, " Kyai berdiri tepat di hadapan Ahkam.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " ucap semuanya.


" Saya sudah menghubungi Ustadz Mustafa, mungkin sebentar lagi dia sampai. Untuk anggota Syubban semuanya ketempat latihan, ayo. " Kyai.


" Baik Kyai, " jawab serentak semuanya.


Kyai bersama anggota Syubban melangkah pergi menuju tempat latihan dan Rifki tertinggal sendiri hanya bisa mengawasi langkah semua anggota Syubban sampai ke luar gerbang.


" Yah, di tinggal sendiri deh, " keluh Rifki.

__ADS_1


" Ki', mereka mau ngapain? " tanya Zakir yang melintas dan menghampiri Rifki.


" Gak tau, " jawab Rifki singkat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Zakir yang juga memasang wajah penasaran.


Tanpa basa-basi, Rifki melangkah pergi dari hadapan Zakir.


" Sombong amat, awas aja kamu Ki'! Berani cuekin aku kaya gitu. Tapi, anggota Syubban mau ngapain, ya? Jadi penasaran, " ucap Zakir masih sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh tim Syubban sembari menatap tajam gerbang yang sudah sepi tidak ada satu orangpun yang melintas.


****


Kyai duduk di hadapan semua anggota Syubban yang tidak berani berisik. Suasana sangat hening membuat ketegangan sendiri di antara mereka.


" Kalian harap sabar, ya. Semoga saja Ustadz Mustafa berhasil membuat Adiknya mengerti akan hal buruk yang sudah ia lakukan, " Kyai.


Semuanya mengangguk sebelum menjawab.


" Nggih, baik Kyai, " jawab beberapa anggota dengan yang lain juga mengikuti.


*****


Ustadz Mustafa sudah bersiap dengan pakaian yang rapi dan wajah yang segar karena usai mandi. Ustadz Mustafa tiba-tiba mengingat Mufti apakah Adiknya itu masih marah? Ustadz Mustafa melangkah bertujuan untuk mengecek keadaan Mufti sekalian berpamitan dengannya.


Sampailah ia pada kamar Mufti yang tertutup rapat tidak di kunci.


Tidak aja jawaban, Ustadz Mustafa sempat berpikir bahwa Mufti masih marah ia mencoba mengetuk pintu kamar Mufti beberapa kali sembari terus meminta Mufti bangun dan keluar dari kamarnya.


Terus saja tidak ada jawaban dari Mufti, karena khawatir, Ustadz Mustafa membuka pintu kamar Mufti setelah di bukanya tampak kamar Mufti yang sangat berantakan tanpa kehadiran Mufti di dalam kamarnya itu.


" Dari semalaman Mufti belum pulang? Duh, tuh anak kemana, sih? Dia gak tau apa kalau aku khawatir banget sama dia?" ucap Ustadz Mustafa dalam kesendirian di dalam kamar Mufti yang tidak karuan di mana letak sepatu, buku, gitar, earphone, dan jaketnya.


Ustadz Mustafa mencoba untuk menghubungi Mufti hingga beberapa kali padahal ia sudah tau bahwa Adiknya pasti tidak akan menjawab telepon darinya, tapi Ustadz Mustafa masih mencobanya.


Entah di mana Mufti berada dengan keadaan wajah kusam dan rambut yang berantakan handphonenya terus berbunyi.


" Muf, hape lo bunyi tuh, dari tadi. " ucap salah satu teman Mufti yang sedari tadi terganggu dengan deringan hape Mufti yang sama sekali tidak ia hiraukan ia hanya terduduk dengan pandangan masih dengan kebencian.


Mufti akhirnya mengambil hape nya dan melihat nama Kakaknya yang sedari tadi menghubungi dirinya.


" Ngapain lagi nih, anak nelpon gue terus? " ucap Mufti dengan kekesalan.


" Siapa, Muf?" tanya teman Mufti.


" Gak penting lah, gue mau pergi, ya. Makasih atas tumpangan lo, " ucap Mufti yang terlihat sudah bersiap untuk pergi dari rumah temannya dengan merapikan rambut dan pakainnya berdiri di hadapan temannya yang sedang iseng-iseng bermain gitar.


Teman Mufti kaget melihat Mufti yang sangat serius nada bicaranya dan dengan tatapan dalam yang ia lihat. Teman Mufti meletakkan gitarnya dan bangun berdiri tepat di hadapan Mufti.

__ADS_1


" Santai aja lah, bro. Gue juga lagi sendiri." teman Mufti dengan tawanya kepada Mufti.


" Eh, tapi lo mau kemana, Muf? Udahlah tinggal di sini aja dulu, " teman Mufti.


" Gue mau ke tempat di mana gak bakal ada yang bisa ganggu gue, " Mufti.


" Tapi, Muf. Kalau Kakak lo nyariin gimana? Terus kalau dia datang ke markas kita, gue harus jawab apa, Mufti? " tanya temannya.


Wajah Mufti seketika berubah menjadi sangat kesal ketika mendengar nama Kakaknya dengan memalingkan wajahnya sekilas dan kembali menatap temannya yang mengkhawatirkan keadaan Mufti.


" Ah, lo tinggal jawab aja gak tau, pokoknya jangan ngomong apapun tentang gue kalau emang dia beneran sampai ke markas kita." Mufti.


" Ya udah, deh. Gue ikut lo aja, tapi ingat nanti malam kita nge-Band." teman Mufti.


" Iya, lo tenang aja, gue pasti gak akan telat, " Mufti.


" Oke bro, " teman Mufti.


" Ya udah kalau gitu gue pergi, " ucap Mufti sebelum ia pergi ia sempat menepuk pundak temannya dan pergi begitu saja.


" Hati-hati Muf! " teriak teman Mufti kepada Mufti yang sudah ada di dekat motornya.


Mufti hanya membalas dengan mengajukan jempol kanannya dan mulai menyalakan motornya melaju ke tempat yang ingin ia hampiri.


Di sisi lain Ustadz Mustafa masih bingung ia terus mencoba mencari Mufti tapi tidak kunjung menemukan Adiknya itu hingga ada telepon dari Kyai.


Ustadz Mustafa menghentikan mobilnya dam baru ingat kalau sekarang ia harus ke pesantren.


" Astagfirullah, Kyai sampai nelpon. Aku lupa lagi, kalau sekarang harus ke pesantren, " ucap Ustadz Mustafa sebelum mengangkat teleponnya dengan tangan kanan yang memijat-mijat dahinya.


" Assalamualaikum Kyai, " Ustadz Mustafa mengucap salam terlebih dahulu mendahului Kyai yang ingin mengucap salam.


" Wa'alaikumsalam, Mus, kamu ada di mana? Ini anak-anak dari tadi nungguin," Kyai.


" Maaf Kyai, ini saya sudah ada di jalan, sebentar lagi saya akan segera sampai, " Ustadz Mustafa.


" Baiklah kalau begitu, hati-hati menyetirnya." Kyai.


" Iya Kyai, kalau gitu saya tutup teleponnya, assalamualaikum, " Ustadz Mustafa.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Kyai.


Mulailah Ustadz Mustafa menjalankan mobilnya melaju menuju pesantren dan Kyai menyuruh semua anggota Syubban untuk sabar menunggu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2