
Aisyah segera menghapus air matanya dan mengusap wajahnya mengetahui ada senior santriwan yang hendak memperbaiki pembatas.
" Kam, sini Kam! " teriak Ustadz Ridwan.
Ahkam segera melepas tangannya yang sudah hendak memperbaiki pembatas dan melangkah menuju Ustadz Ridwan.
" Kamu paku aja, ya. Saya tadi di kasih ini sama petugas di sini, bisa maku, kan? Ustadz Ridwan sembari memperlihatkan paku dan palu yang ia pegang kepada Ahkam.
" Oh, iya Ustadz. Saya bisa, " Ahkam.
" Bagus, ya sudah ini. Hati-hati makunya, gak usah cepat-cepat. " Ustadz Ridwan memberikan paku dan palu.
" Siap Ustadz!" ujar Ahkam sembari menerima paku dan palu.
Ahkam memberitahu teman-temannya bahwa tendanya di paku saja biar tidak lepas. Dengan penjelasan Ahkam, mereka kembali bekerja dengan hati-hati dan berharap semoga pembatas tidak lepas lagi.
" Gimana itu, sudah Kam?" tanya Kyai.
" Sudah Kyai, " jawab Ahkam.
Pembatas kembali terpasang kali ini sudah dipastikan kalau tidak akan terlepas lagi.
" Alhamdulillah, terimakasih semuanya, " ucap Kyai kepada semua senior yang sudah mau membantu.
" Sama-sama Kyai, maaf sebelumnya saya tidak tau kalau ternyata ikatanya tidak kuat, " ucap Ahkam menunduk ia bersama teman-temannya merasa bersalah.
" Tidak apa-apa, namanya juga gak tau. Sudah, kalian jangan merasa bersalah, bukan salah kalian, ayo baris lagi! " Kyai.
" Baik Kyai, " ucap semua senior sebelum pergi kembali ke barisan depan seperti tadi.
" Baik semuanya, maaf tadi ada kesalahan sedikit. Tapi Insya Allah pembatasnya tidak akan copot lagi karena sudah di benarkan oleh mas-mas seniornya. Sekarang saya akan kembali memberitahu apa saja kegiatan kita dan apa tujuan kita melakukannya, " Kyai.
Semuanya kembali mendengarkan Kyai yang kembali berpidato. Sementara Azmi melihat pembatasnya sambil melamun.
" Aisyah tadi kenapa, ya? Kasihan dia, pasti dia masih teringat sama mas Akmal, mas Akmal apa kabar, mas? Aku kangen banget lo, sama mas Akmal. " Azmi dalam hatinya dengan mata yang tidak berkedip dan mulai berkaca-kaca melihat kepada tenda pembatas dan kembali memalingkan wajahnya mendengarkan Kyai.
__ADS_1
" Duh, Azmi tadi lihat air mata aku, gak ya? Kenapa harus Azmi coba yang ada di samping aku? Aku sekarang bingung banget, apa aku layak benci sama dia? Azmi juga bukan orang yang membuat mas Akmal meninggal, itu takdir Allah. Tapi, ah udah Aisyah, kamu gak boleh mikirin Azmi, kamu harus ingat kalau Azmi pernah buat semua orang kecewa sama aku atas kesalahannya. Aku benci Azmi sama tim hadrohnya yang gak bisa jagain Kak Akmal!" ucap Aisyah dalam hati sampai ia mengusap kembali air matanya dan menegakkan tubuhnya untuk fokus mendengarkan Kyai.
" Nah, sudah paham semuanya? " Kyai.
" Insya Allah, paham! " teriak semua santri.
Atas arahan semua Ustadz dan senior, para santriwan berjalan untuk berkumpul membicarakan tentang siapa saja yang menjadi rekannya dalam satu tenda begitu juga dengan yang dilakukan oleh santriwati.
Seperti tadi, Ahkam kembali mengurus santri kelas 1 MTS. Ahkam menjalankan amanahnya dengan sangat baik, ia membacakan nama-nama santri yang akan menjadi satu kelompok dan memberi tenda yang sudah terkumpul dijaga oleh Ali yang juga akan membantu jika nanti ada yang kesulitan dalam membangun tenda.
" Muhammad Ulul Azmi Askandar Al-Abshor, buh cek lanjengah nyamanah, Mi .( Buh, panjang banget namanya, Mi) " Ahkam kepada Azmi.
" Gimana, Mas? Bukan aku yang buat namanya," ucap Azmi dengan wajah polosnya sambil tersenyum kepada Ahkam.
" Sa ae, Azmi jadi ketua ya, kelompoknya sama Muhammad Nurus Sya'ban, Ahmad Rifki mubaraq, Zakir Hamdan Fathillah, Durratun Nasihin, Qadrun Helmi, itu kelompoknya, " Ahkam.
" Mas Ahkam salah kali, masa aku harus kelompok sama mereka? Apalagi sama nih anak. Enggak ah! " tolak Zakir tidak terima jika dirinya harus satu tim dengan Azmi.
" Emang kenapa toh, Kir? Kamu mau sama siapa? " tanya Ahkam menatap Zakir.
" Oh, iki. Gak bisa Kir, ini sudah diatur sama Ustadz, kamu ikut aja. Dan kamu harus ingat harus satu tim dan tidak boleh ada yang individu kalian harus saling kerja sama, mengerti? " Ahkam.
" Mengerti, " jawab semuanya kecuali Zakir yang masih tidak terima kalau harus satu kelompok dengan Azmi.
" Ayo, langsung pasang tendanya. Ambil di Ali tuh, " Ahkam menunjuk Ali yang bertugas memberikan tenda.
Azmi mengajak kelompoknya dengan semangat termasuk Zakir yang terus saja memasang wajah malas.
" Kir, ayo, " ajak Azmi dengan baik-baik, tapi Zakir sama sekali tidak menjawab dan pergi begitu saja.
Ahkam kembali membagikan kelompok kepada para santri yang masih menunggu.
Azmi, Aban, Rifki mulai memasang tenda dengan saling bekerja sama Helmi dan Sihin juga ikut membantu Azmi yang sedang membutuhkan pertolongan sementara Zakir hanya diam berdiri tidak ada kerjaan dan hanya menonton teman-temannya yang sedang bekerja sampai selasai.
" Alhamdulillah selesai juga, " ucap Azmi diikuti semuanya yang mengucap alhamdulillah.
__ADS_1
" Kir, kamu dari tadi diam aja. Kita semua dari kerja, kok kamu malah diam dan gak semangat gini, sih? " tanya Azmi mendekati Zakir.
" Gak usah lebay deh Mi, juga banyak tadi yang bantu kamu. Aku juga terpaksa kali, masuk kelompok orang yang sok suci kaya kamu! " ucap Zakir ia pergi begitu saja tidak hanya itu Zakir juga menyempatkan dirinya untuk menyenggol keras Azmi hingga tubuhnya terdorong keras.
Aban yang melihat itu segera menghampiri Azmi sedangkan Rifki memilih untuk menghampiri Zakir.
" Mi, kamu gak papa?" tanya Aban dengan wajah khawatir.
Azmi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya menoleh ke arah Aban.
" Heh Kir! Kamu gak boleh gitu dong, sama Azmi! Dia itu ketua disini, harusnya kamu hargai dia!Jangan malah marah-marah kaya gitu sama Azmi! " Rifki menunjukkan kemarahannya pada Zakir.
" Hadeh, ini orang lagi. Siapa juga yang marah sama ketua? Gak usah berlebihan deh, anggotanya juga gak cuma aku, kan? Masih ada kamu, Aban, Helmi sama Sihin. Ribet banget jadi orang!" Zakir menatap sinis Rifki yang berdiri dihadapannya.
Ketika Rifki ingin menjawab Azmi datang dan menenangkan keadaan.
" Udah-udah, kalian kenapa malah debat, sih? Udah Ki, kamu harus bisa sabar, " Azmi mencoba menenangkan Rifki yang sudah sangat kesal dengan Zakir.
" Untuk semua santri harap berkumpul untuk ujian kitab!" ucap Ustadz Ridwan dengan speakernya agar terdengar oleh semua santri.
" Mending kita cepetan kumpul, ayo! Ayo, Kir!" Azmi kepada semuanya termasuk kepada Zakir dengan terpaksa Zakir akhirnya juga mau ikut berjalan satu kelompok.
Semua santri sudah berdiri dengan rapi mereka mempersiapkan diri mereka untuk ujian kitab yang tentunya membuat jantung semua santri berdebar-debar.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Kyai.
" Wa'alaikimsalam warahmatullahi wabarakatuh, " ucap semuanya.
Semua santri terlihat tegang karena mereka akan melakukan ujian.
" Pada kali ini, kita mulai dengan ujian kitab terlebih dahulu. Dan, supaya cepat selesai, ujian diadakan dengan cara dibagi. Untuk kelas 7 kalian diuji oleh Ahkam, untuk kelas 8 kalian diuji oleh Muhklis, untuk kelas 9 oleh Ustadz Ridwan, Kelas 10 diuji oleh Ustadz Abdullah dan kelas 11 dan 12 diuji oleh saya sendiri. Saya minta kalian segera bersiap-siap untuk ujian ini. Kalian juga harus jalan satu kelompok karena juga akan diuji secara berkelompok. Baik, langsung saja berbaris kepada penguji kalian! " Kyai.
Dengan segera semua santri bergerombol menuju penguji mereka untuk berbaris dan melaksanakan ujian.
Bersambung...
__ADS_1