
Semua santri sudah bersiap melaksanakan sholat jum'at yang biasa dilakukan di masjid pesantren untuk melaksanakan sholat jum'at gerbang pesantren terbuka lebar untuk memberi masuk masyarkat sekitar yang ingin sholat jum'at bersama para santri.
Tidak sedikit yang berkunjung ke pesantren untuk sholat jum'at di sana dari yang tua sampai yang muda yang masih mau sholat di pesantren itu dengan wajah berseri-seri melangkah ke dalam Masjid meletakkan sandal mereka di bawah tangga Masjid.
Anggota Syubban tidak langsung masuk ke dalam pesantren mereka masih duduk di bangku dekat kamar santri yang ada di lantai bawah. Dengan kompak mereka memakai baju koko berawarna putih bersih terlihat sangat keren dan enak mata memandang.
" Assalamualaikum, " ucap Ustadz Abdullah yang sedari tadi melihat anggota Syubban yang bengong tidak masuk ke dalam Masjid.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab anggota Syubban dengan kompak mengarah kepada Ustadz Abdullah yang berdiri di hadapan mereka.
" Ada pesan dari Kyai, beliau minta sholat jum'atnya lebih baik di sini saja, Nanti juga Kyai sendiri yang akan mengimamkan, " jelas Ustadz Abdullah.
" Yah, gak jadi keluar dong, " keluh Udin.
" Setelah sholat jum'at nanti baru kalian keluar, sudah, ayo ke Masjid dulu, " ajak Ustadz Abdullah.
" Baik Ustadz, kita akan segera ke Masjid, " jawab Ahkam mendahului Udin yang hendak berbicara ia meminta Udin untuk diam saja dengan menggunakan isyarat agar tidak mengeluh seperti tadi.
" Cepetan berangkat ya, Ustadz duluan. Assalamualaikum, " Ustadz Abdullah tidak lupa ia mengucap salam.
" Baik Ustadz, wa'alaikumsalam, " jawab semua anggota Syubban.
" Ayo mas, kita berangkat, " Azmi.
"Entaran ajalah Mi, di sana banyak orang, panas." ucap Udin dengan santainya.
" Astagfirullah, " ujar semua anggota Syubban dengan kompak kepada Udin.
" Kamu harusnya ngajarin yang benar Din, bukan ngeluh kaya gitu. " Ahkam.
" Tau tuh Udin, malah ngajarin yang gak benar, " Firman.
" Iyo, iyo, aku salah, ayo jum'atan rek, ayo Mi," ucap Udin dengan ekpresi pasrahnya menarik paksa tangan Azmi agar ikut dengannya.
" Yah, ngambek, " ledek Ali.
Semuanya tertawa melihat tingkah Udin yang sudah melangkah bersama Azmi.
" Din, jangan kasar sama vocal kita, " teriak Firman namun Udin terus menarik tangan Azmi melangkah menuju Masjid.
" Udah-udah, kalian emang suka banget jahilin Udin, ayo berangkat. " ajak Ahkam kepada semua temannya akhirnya mereka melangkah bersama menuju Masjid menyusul Udin dan Azmi.
Sholat jum'at berjalan sangat lancar, dengan Kyai yang menjadi imam para jama'ah sangat khusyuk beribadah sampai mendengar khutbah dari Kyai yang selalu menerangkan hati para jama'ah.
__ADS_1
Anggota Syubban yang berbaris bersebelahan juga mendengarkan dengan sangat serius beberapa kali mereka juga mengangguk tanda paham dengan apa yang Kyai sampaikan.
Ibadah sholat jum'at sudah selesai, bisa dilihat dari pintu Masjid para santri dan jama'ah lain yang beramai-ramai turun dari Masjid. Suasana yang sangat indah di mana para santri mengalah dengan menunggu dahulu para jama'ah yang hendak mengambil sandal mereka rela menunggu cukup lama dengan jumlah jama'ah yang tidak sedikit.
Masyarakat menjadi kagum dengan sopan santun dan adab yang di lakukan oleh para santri.
" Masya Allah, lihat adab-adab santri sini, saya makin yakin kalau berita yang sudah beredar itu adalah berita yang tidak benar." bapak 1.
" Sama pak, saya dari awal selalu kagum dengan sikap para santri di sini, Syubbanul Muslimin juga sangat berprestasi. Walau saya sempat kecewa tapi dalam hati kecil saya masih berkata kalau tim Syubban tidak seperti itu, " bapak 2.
Mendengar obrolan bapak-bapak itu membuat Zakir bingung dan penasaran apa yang sudah terjadi kepada tim Syubban.
" Ada apa sih sama tim Syubban? " ucap Zakir menggaruk kepalanya yang ditutupi peci semakin penasarannya dengan apa yang sudah terjadi sebenarnya kepada tim Syubban.
Semua anggota Syubban masih belum beranjak dari tempat duduk mereka. Berniat untuk menunggu Kyai karena masih banyak masyarakat yang ingin mencium tangan Kyai hingga ada satu bapak terakhir yang menatap fokus anggota Syubban sebelum mengajukan pertanyaan kepada Kyai.
" Maaf sebelumnya Kyai, apakah saya boleh menanyakan sesuatu? " ucap seorang bapak yang mempunyai perut buncit dengan wajah sangat ingin tau dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Silakan pak, " ucap Kyai.
" Maaf sebelumnya Kyai, ini anggota Syubban kenapa masih di pesantren ini? " tanya bapak itu membuat anggota Syubban menoleh ke arahnya dan mengagetkan Kyai.
" Astagfirullah, kenapa bapak bicara seperti itu? Mereka adalah anak-anak yang baik, mereka tidak pantas untuk keluar dari pesantren ini karena mereka sudah memberikan prestasi kepada pesantren ini. " jelas Kyai.
Mata Azmi yang tajam beberapa saat tidak berkedip ia merasa dirinya telah menjadi pembicaraan warga. Ahkam hanya bisa bersabar ia sempat menoleh ke arah Azmi dan kembali menundukkan kepalanya.
" Sekarang saya mau tanya, apa bapak ada di tempat kejadian waktu itu? Apakah bapak melihat apa yang sebenarnya terjadi sebelum santri saya memukul anak Band itu? " tanya Kyai dengan tenang.
Bapak itu seolah tidak bisa berkutik sebelum menjawab ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.
" Saya memang tidak melihat Kyai, tapi video itu menyebar luas banyak warga yang membicarakan kejelekan anggota Syubban ini. Saya sendiri juga masih bingung dengan apa sebenarnya yang terjadi sehingga salah satu vocalis muda di tim ini bisa memukul keras orang yang lebih tua darinya, " ucap bapak itu masih dengan keyakinan yang ada di dalam dirinya.
" Begini saja, kalau bapak tidak tau apa yang sebenarnya terjadi janganlah mengambil pendapat sendiri. Santri saya tidak akan memukul seseorang kalau orang itu tidak melakukan kesalahan yang sangat tidak pantas kepada mereka. " jelas Kyai membuat bapak itu mulai mengerti.
" Baik Kyai, saya sekarang sudah mengerti. Dan saya yakin kebenaran pasti akan terungkap. " bapak itu.
" Alhamdulillah, bagus kalau bapak sudah mengerti. " Kyai.
Bapak itu mengangguk dan menyematkan senyumnya kepada Kyai.
" Kalau gitu saya pamit dulu Kyai, assalamualaikum, " bapak.
" Iya pak, wa'alaikumsalam, " Kyai.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam, " anggota Syubban.
Anggota Syubban masih ramah dengan senyum manis mereka termasuk Azmi yang sudah dibuat jelek namanya. Mendapat senyum dari anggota Syubban bapak itu juga tersenyum kecil dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.
___
___
___
" Kalian semua muat, ya? Kalau masuk ke mobil saya semua? " tanya Kyai kepada anggota Syubban.
Mereka semua sudah siap berada di halaman pesantren tepatnya pada depan mobil Kyai.
" Kayanya cuma bisa masuk 6 orang Kyai, " jawab Ahkam setelah melihat kondisi mobil Kyai.
" Iya Kyai, di depan 3 dan di belakang 3. Masih ada 4 orang anggota yang belum bisa masuk. " sambung Ali.
Kyai melihat motor Ustadz Abdullah dan Ustadz Ridwan.
" Kalau begitu, Ali, Azmi, Ahkam dan Aban naik motornya Ustadz Abdullah sama Ustadz Ridwan. Kalian minta saja kuncinya, bilang saya yang suruh, " Kyai.
Mendengar suruhan Kyai membuat Ali gembira bisa menaiki motor menuju rumah Kyai.
" Kenapa mereka Kyai, saya?" ucap Udin iri kepada Ali yang bisa naik motor.
" Ali sama Ahkam sudah tau jalan kerumah saya, iya kan?" Kyai.
" Nggih Kyai, " Ahkam.
" Iya Kyai saya juga tau jalannya, " Ali.
" Nah, makanya saya suruh mereka, Azmi sama Aban mau, kan? Goncengan sama mas-mas ganteng ini, " Kyai membuat Azmi dan Aban tersenyum melihat Ali dan Ahkam yang baru saja di puji.
" Iya Kyai, saya mau, " Azmi dan Aban.
" Alhamdulillah, ya sudah kalian minta kuncinya, saya tunggu, " Kyai.
" Baik Kyai, " Ali dan Ahkam.
Setelah di beri kunci dari Ustadz Abdullah dan Ustadz Ridwan Ali dan Ahkam siap mengendarai motor. Azmi di gonceng oleh Ali dan Aban oleh Ahkam. Begitu gembiranya para santri itu bisa keluar dari pesantren dengan motor yang mereka kendarai.
Bersambung...
__ADS_1