
Ustadz Abdullah dan ustadz Ridwan membantu merangkul Azmi menuju ruang Uks, Ahkam yang melihat kejadian itu berusaha mengajak Aban dan Muhklis untuk ikut tapi mereka terus menolak ajakan Ahkam bahkan berkali-kali terus di tolak oleh Aban dan Muhklis.
" Ya udah, kalau kalian gak ada yang peduli sama Azmi, biar aku aja yang kesana!" Ahkam dengan perasaan kesal ia melangkah cepat menuju ruang uks.
Aban sebenarnya ingin menghampiri Azmi tetapi dalam pikirannya Aban masih memikirkan kejadian tadi begitu juga dengan Muhklis yang duduk terdiam di kasurnya.
" Dasar Azmi, sekarang dia pura-pura pingsan." Zakir.
" Pasti dia sengaja biar hukumannya cepat selesai," tambah Helmi dan Sihin hanya terdiam dengan tingkah kedua temannya.
Ketika Sihin ingin mengatakan sesuatu ia melihat Rifki yang sedari tadi mendengarkan, Sihin mengurungkan niat untuk berbicara dan memilih untuk menyapa Rifki.
" Eh Ki, mau kemana? " tanya Sihin.
" Hah? Eee...Enggak kok, " Rifki berbalik arah dan kembali menuju kamarnya.
Perasaan Rifki sangat kacau ia terus melangkah menuju kamarnya dan tidak jadi untuk menemui Azmi, Rifki begitu bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
Sementara Ahkam sudah sampai di pintu depan Uks ia melihat Azmi yang masih tidak sadar dengan baju koko yang basah kuyub, ustadz Abdullah menyelimuti Azmi dengan selimut supaya Azmi merasa sedikit kehangatan.
" Assalamualaikum, " Ahkam.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semua ustadz menoleh ke arah Ahkam yang sudah ada di depan pintu.
" Ahkam, ayo masuk! Entah kenapa, Azmi belum sadar juga?" ustadz Abdullah.
" Iya ustadz, " Ahkam mengangguk dan melangkah mendekati Azmi.
" Mi, bangun Mi!" Ahkam yang sudah duduk di samping Azmi berusaha membangunkan Azmi.
Tidak lama kemudian, Azmi membuka matanya dan langsung terduduk.
" Mas Ahkam, " ucap Azmi.
" Iya, ini aku, Mi! " Ahkam sembari tersenyum kecil.
" Azmi, apa kamu baik-baik saja, nak? " tanya ustadz Abdullah.
" Iya ustadz, saya baik-baik aja, kok. " jawab Azmi.
" Azmi, sebaiknya kamu langsung mandi supaya tidak sakit, " tambah ustadz Ridwan.
Azmi mengangguk pelan melihat bajunya yang masih sangat basah. Hujan juga belum reda dan malah semakin deras membuat Azmi merasa sangat kedinginan.
" Kalau gitu, Ahkam, kamu antar Azmi, ya! " ustadz Fathur.
" Baik ustadz, ayo Mi, " ucap Ahkam mengajak Azmi pergi bersamanya.
" Iya mas, ayo, " Azmi.
" Saya permisi dulu ustadz, assalamualaikum. " Azmi.
__ADS_1
" Assalamualaikum, ustadz. " Ahkam.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semua ustadz.
Mereka terus memandangi langkah Azmi dan Ahkam hingga keluar ruangan, ketiga ustadz itu masih tidak percaya kalau Azmi yang mereka percaya dan mereka banggakan adalah pencuri itu rasanya sangat tidak masuk akal, begitu dalam benak ustadz Abdullah.
Semua santri terus saja membicarakan Azmi bahkan ketika Azmi berada di hadapan mereka. Azmi berusaha untuk sabar dan melangkah pelan. Begitu juga ketika di kamar, tidak ada yang mau bicara dengannya kecuali Ahkam.
Azmi mengambil handuk dan pakaiannya ia bersiap untuk mandi tetapi, Azmi masih terdiam memandang Aban dan Muhklis yang sama sekali enggan menoleh ke arahnya.
" Abeee, malah bengong ini anak, sana Mi, kamu itu sudah basah banget kaya gini, lihat lantainya basah tuh, " Ahkam menghampiri Azmi.
Azmi melihat lantai yang memang sudah basah akibat dirinya.
" Heee, maaf mas, terus gimana?" Azmi merasa bersalah.
" Udah kamu gak usah pikirin, biar aku yang pel nanti! Sana, sekarang kamu mandi! Biar gak sakit," Ahkam.
Azmi menganggukkan kepalanya.
" Makasih mas, kalau gitu aku mandi dulu, assalamualaikum," Azmi segera pergi dari kamarnya.
" Wa'alaikumsalam, " jawab Ahkam sendirian sedangkan Aban dan Muhklis masih terdiam.
" Dosa lo, gak jawab salam, " Ahkam.
" Wa'alaikumsalam, " Muhklis dengan nada terpaksa.
Hari yang tidak pernah Azmi bayangkan dimana dia harus menanggung rasa malu dan ketika ia berjalan semua santri enggan untuk menyapanya bahkan ada yang sengaja membicarakan dirinya. Azmi hanya bisa tabah menjalani ujian ini, Azmi terus melangkah menuju kamar mandi.
...Rumah Sakit......
Tiba-tiba saja Akmal kembali sesak nafas, Kyai segera memanggil Dokter. Keadaan Akmal yang semakin parah membuat ustadz Mustafa dan Kyai semakin khawatir mereka juga harus menunggu di luar.
Ibu Akmal datang didampingi sopir Kyai, ia berjalan cepat menghampiri Kyai dan ustadz Mustafa yang duduk sembari berdoa untuk kesembuhan Akmal.
" Assalamualaikum Kyai, bagaimana dengan Akmal, Kyai? Sebenarnya Akmal sakit, apa? Dan mengapa ini terjadi pada Akmal, Kyai? " ibu Akmal tidak berhenti menanyakan itu kepada Kyai.
Kyai bangun dan berdiri mencoba menenangkan ibu Akmal.
" Wa'alaikumsalam, ibu tenang dulu, Akmal masih ditangani oleh Dokter. " ucap Kyai.
" Sebaiknya ibu berdoa untuk kesembuhan Akmal, " tambah ustadz Mustafa.
Mata ibu Akmal mulai berkaca-kaca ia sangat khawatir dengan keadaan putranya.
Beberapa pesan masuk dari handphone ustadz Mustafa, ketika ia membacanya pesan itu berisi tentang undangan untuk tim Syubban.
Melihat kondisi yang tidak tepat untuk berbicara, ustadz Mustafa menutup kembali handphonenya.
Tidak lama, Dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang tidak mengenakkan.
__ADS_1
" Dokter, bagaimana keadaan putra saya, Dok? " tanya ibu Akmal dengan suara yang lirih dan pelan.
Dokter menundukkan kepalanya.
" Penyakit ini memang sangat berbahaya, bahkan di luar negri penyakit ini mustahil untuk disembuhkan. Saya sudah berusaha dan melakukan yang terbaik tetapi, " Dokter yang tiba-tiba berhenti berbicara.
" Tetapi? Tetapi, kenapa, Dok? " tanya ibu Akmal mulai mengeraskan suaranya.
" Tetapi penyakit ini sudah menyebar luas keseluruh tubuh Akmal, bahkan sekarang Akmal sulit untuk berbicara dia juga akan terus merasakan sakit pada tenggorokan juga pada dadanya dan umur pasien tidak akan lama lagi, " ucap Dokter dengan nada pelan.
Seketika ibu Akmal ingin pingsan tetapi pak sopir yang ada di belakang ibu Akmal berusaha memeganginya. Ibu Akmal sangat tidak kuat ia berusaha berdiri dan terus menangis. Kyai dan ustadz Mustafa juga sangat sedih setelah mendengar itu, mata mereka berkaca-kaca dan air mata mulai jatuh membasahi pipi mereka.
" Saya permisi dulu, mari, " Dokter.
" Mari, Dok, " ucap Kyai.
Ibu Akmal segera masuk untuk melihat keadaan Akmal.
Mata Akmal sudah terbuka ia melihat ibunya yang menangis sembari mengelus-ngelus kepalanya.
" Ibu, " ucap Akmal dengan suara yang bergetar.
" Iya nak, ibu ada disini, kamu cepat sembuh, ya nak, " ibu Akmal.
Akmal melukis senyum kecil dengan alat oksigen yang masih terpasang dihidung dan mulutnya.
" Iya bu, Ibu jangan nangis! Akmal gak papa kok, dan sebentar lagi Akmal pasti bisa sembuh! " ucap Akmal berusaha mengeluarkan penuh suaranya.
Semua yang ada disana tidak kuat melihat kondisi Akmal yang lemah, mereka sangat sedih ketika melihat Akmal sulit untuk berbicara.
_
_
_
_
_
Ba'da maghrib para anggota Syubban sudah siap di depan Masjid dengan baju koko dan peci mereka yang seragam.
" Keadaan Akmal bagaimana, ya? Ustadz Mustafa sama Kyai juga dari kemarin belum pulang, " Ali.
" Kita berdoa aja semoga Akmal bisa cepat sembuh," Ahkam.
" Aamiin, " ucap semuanya.
Sementara Azmi juga merasa khawatir, di masa seperti ini memang tidak ada yang mau berbicara kepadanya tetapi, Azmi berusaha sabar dan lebih memikirkan keadaan Akmal.
Bersambung....
__ADS_1