Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 78. Senang Kalau Dapat Keluar.


__ADS_3

Betapa senangnya Farist dan Aban yang duduk bersebelahan, mereka sangat asyik bercanda gurau, lain halnya dengan Azmi dan Dimas yang juga duduk bersebelahan mereka malah melamun dengan pandangan kosong.


" Alhamdulillah Ban, aku bakal nunjukin ini sama orang tua aku. " Farist.


" Iya mas, aku juga, tapi pulangan kan masih lama. " Aban.


" Sebentar lagi kok, " Farist.


" Masa sih mas, " Aban.


" Iya, tanya aja sama Azmi. " Farist.


Aban dan Farist menoleh ke arah Azmi dan Dimas yang terus saja melamun dengan piala yang mereka pegang erat di tangan kanan mereka dan dengan sangat kebetulan Azmi dan Dimas meletakkan tangan mereka pada dagu mereka hanya saja Dimas memandang ke arah luar karena dia duduk di pojok.


Farist dan Aban saling pandang dan bingung ada apa dengan Azmi mereka tidak mengkhawatirkan Dimas karena hal biasa jika Dimas melamun dengan wajah malasnya.


" Azmi, Dimas, dari tadi kita lihat ,kompak terus melamunnya, kenapa kalian?. " Farist.


" Iya Mi, kamu mikir apa?. " Aban.


Dimas dan Azmi saling pandang.


" Ngapain sih ngikutin aku ?." Dimas.


" Maaf mas, aku gak sengaja. " Azmi.


" Udahlah kalian jangan ribut, Azmi, Dimas,harusnya kalian senang bisa menang. Ada apa ini?, ayo cerita. " ustadz Abdullah.


" Gak papa ustadz. " Azmi dan Dimas bersamaan.


Mereka kembali saling pandang dan kembali memalingkan pandangan mereka.


" Aelah....Azmi sama Dimas kayaknya udah temenan nih, dari tadi kompak mulu. " ucap salah satu santri.


" Ya kali, aku temenan sama Azmi,itu gak akan terjadi. " jawaban Dimas dengan wajah cuek.


" Ya udah,maaf." ucap santri itu sembari mengangguk perlahan beberapa kali.


" Dimas gak boleh kayak gitu, Azmi kan baik." ustadz Abdullah.


" Iya Dimas, emang kamu ada masalah apa sama Azmi?." ustadz Ridwan.


" Gak ada ustadz. " jawab Dimas.


" Udah ,muka itu gak boleh terus-terus ditekuk Mi, Mas, nanti gantengnya hilang." ledek Farist sembari tertawa kecil.


" Iya mas, ini ,mukaku udah gak lecek kan ?." Azmi menoleh ke arah Farist sembari menunjukkan senyum lebarnya yang membuat Aban dan Farist tertawa kecil.


" Bagus Mi, gitu aja terus. " Aban.


" Capek gini terus Ban, " Azmi kembali menghadap kedepan dengan wajah datar.


" Ustadz, sudah jam setengah tiga, setengah jam lagi masuk waktu ashar." Farist yang habis melihat jam di jam tangannya.


" Kalau gitu Wan, kita cari Masjid dulu. " ustadz Abdullah.


" Iya mas, " ustadz Ridwan.


Ustadz Ridwan menghentikan mobilnya tepat di depan Masjid.Mereka sudah sampai di Probolinggo hanya saja mereka harus segera melaksanakan sholat duhur dan ashar karena ponpes Nurul Qadim yang masih cukup jauh.


" Ayo, kalian turun ,ambil air wudhu dan segera sholat duhur." ustadz Abdullah.


" Baik ustadz. " ucap para santri.

__ADS_1


Mereka turun dan bersama-sama mengambil air wudhu melaksanakan sholat duhur dan menunggu waktu ashar.


" Udah ashar mas, " ustadz Ridwan.


" Iya, tapi tukang adzannya mana?. " ustadz Abdullah.


" Masjidnya emang sepi ustadz, " salah satu santri.


" kalau gitu Azmi aja yang adzan. " Farist.


" Hah?,enggak ustadz, mas Farist aja. " Azmi yang sedari tadi diam menjadi kaget dan menolak untuk adzan.


" Uhuk, uhuk, uhuk,saya gak bisa ustadz, tenggorokan saya sakit. " Farist.


" Kalau gitu cepat Azmi ,adzan. " perintah ustadz Abdullah.


" Baik ustadz." Azmi yang akhirnya mau adzan.


Azmi mulai mengumandangkan adzan yang membuat beberapa orang berdatangan ke Masjid. Mereka semua sangat kagum dengan suara lantang Azmi.


Selesailah Azmi adzan dan mereka semua berdoa sesudah adzan.


" Ternyata anak muda ini yang adzan, " warga 1.


" Suaranya bagus le,ini dari pesantren ya?, kelihatan mukanya pada adem. " warga 2.


" Iya, kami semua dari pesantren. " ustadz Abdullah.


" Ooo, begitu, Masjid ini sudah lama terbengkalai ustadz, semenjak pemilik Masjid ini meninggal. " warga 2.


" Astagfirullah, innalillahi wa innal ilahi raji'un, saya turut berduka. " ustadz Abdullah.


" Kalau gitu ustadz saja yang jadi imam, " warga 1.


Tanpa bantahan, Aban segera berdiri dan mengumandangkan qhamat dengan suara Aban yang indah.


Sholat jama'ah dimulai, hanya sedikit warga yang hadir dan semuanya hanya bapak-bapak.


Selesai berdoa , ustadz Abdullah mengajak semuanya untuk kembali ke mobil.


" Ayo anak-anak, kita harus segera pulang." ustadz Abdullah.


" Baik ustadz, ayo. " Farist mengajak semua kembali ke mobil.


Para santri segera turun dari Masjid itu dan menuju ke mobil.


" Mohon maaf, ustadz, kalau saya boleh tanya, kalian semua dari mana?." tanya seorang warga yang masih belum pulang.


" Kita semua dari pondok pesantren Nurul Qadim, baru saja pulang dari suatu perlombaan di Surabaya, " ustadz Abdullah.


" Masya Allah, saya lihat kedua anak yang adzan dan qhamat tadi, suaranya sangat indah,bagus sekali. " warga.


" Iya pak, mereka itu vocal di hadroh yang ada dalam pesantren kami. " jawab ustadz Ridwan.


" Wahhh, bagus tuh, apa saya boleh undang tim hadroh dari pesantren Nurul Qadim untuk acara pengajian yang tidak lama lagi akan di adakan di Masjid ini?." warga.


" Emmmm. " ustadz Abdullah yang terlihat masih berpikir.


" Boleh pak, tentu saja boleh. " jawab ustadz Ridwan begitu saja yang membuat ustadz Abdullah kaget.


" Wan, kok kamu langsung jawab gitu aja, " ustadz Abdullah.


" Emang kenapa?, lagipula mereka gak ada undangan kan?,Kyai juga pasti ngijinin, tenang aja mas . " ustadz Ridwan.

__ADS_1


" Alhamdulillah, kalau gitu, apa boleh saya minta nomer telponnya pesantren?." warga.


" Iya pak, ini nomernya. " ustadz Ridwan memberikan suatu kertas yang berisi alamat dan nomer pesantren.


" Kalau begitu saya akan hubungi nanti, terimakasih ustadz, mari, assalamualaikum. " warga.


" Iya pak, wa'alaikumsalam. " ustadz Ridwan.


" Wa'alaikumsalam. " ustadz Abdullah.


" Ayo mas, kita pulang. " ustadz Ridwan.


" Iya, ayo, " ustadz Abdullah.


Mereka melangkah bersama menuju mobil terlihat para santri yang sudah duduk sembari bercanda di dalam mobil.


" Wan, kamu gak kunci mobilnya. " ustadz Abdullah yang melihat para santri yang sudah duduk di dalam mobil.


" Iya mas, maaf aku lupa, " ustadz Ridwan.


" Untung aja gak ada pencuri, ya udah, ayo. " ustadz Abdullah.


Ustadz Abdullah dan ustadz Ridwan mulai masuk ke dalam mobil, ustadz Ridwan mulai menyalakan mobilnya.


" Pulang, " Azmi dengan suara yang lemas dan membungkukkan tubuhnya.


" Ustadz, jalan-jalan dulu ustadz, maghrib aja pulangnya. " ucap salah satu santri yang duduk paling belakang bersama 3 santri lainnya.


"Bener tuh ustadz, reflesing dulu. " santri lain yang ikut menyambung.


" Ayo ustadz, kita jalan-jalan. " santri lain yang mengikuti temannya.


" Udah-udah, kita harus cepat kembali ke pesantren." ustadz Abdullah.


" Yah, " semua santri dengan sangat kompak.


" Kompak banget kalian, ayo Wan, jalan. " ustadz Abdullah.


" Nyetirnya pelan-pelan aja ustadz ,kan masih jauh. " Azmi.


" Kalau pelan-pelan yang ada ustadz di bel-bel Mi, " ustadz Ridwan.


Azmi hanya tersenyum kecil.


" Tim hadroh dapat undangan, tapi jangan bilang dulu ke Kyai, tunggu sampai dihubungi dulu. " ustadz Abdullah.


" Undangan?, dimana ustadz?. " Azmi menegakkan tubuhnya.


" Di Masjid yang tadi Mi, tadi ada yang muji-muji suara kamu sama Aban. " ustadz Ridwan.


" Alhamdulillah,acara apa ustadz?. " Aban.


" Kurang tau Ban, lihat aja nanti ya, " ustadz Abdullah.


" Aban sama Azmi, wajahnya udah berseri-seri ,tuh lihat. " Farist menunjuk wajah Azmi dan Aban.


" Mas Farist ,bisa aja. " Azmi menoleh ke arah Farist sembari tersenyum manis.


" Azmi, Azmi. " Aban yang juga menoleh ke arah Azmi.


Aban, Azmi dan Farist asyik bercanda gurau dan tertawa lepas sementara hanya Dimas yang sedari tadi hanya diam sembari menoleh ke luar kaca mobil dengan wajah kusam dan tatapan tajamnya kepada Azmi yang duduk disampingnya.


...***********************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2