
Malam semakin larut dan ustadz Mustafa pulang dengan kondisi jalan yang sepi hanya ada beberapa motor dan mobil yang masih melintas. Ustadz Mustafa terlihat gelisah sembari fokus memandang jalan tiba-tiba di tengah jalan tepatnya di sebuah warung makan yang masih buka ia melihat segerombolan anak muda yang masih asyik tertawa sembari berbincang. Ustadz Mustafa menghentikan mobilnya dan ia kembali memandang segerombolan anak muda itu.
Seketika ustadz Mustafa kaget melihat Mufti yang ikut serta dalam acara makan-makan anak-anak muda itu.Ustadz Mustafa segera turun dari mobilnya dan menghampiri Mufti.
" Mufti, ayo pulang!." perintah ustadz Mustafa kepada Mufti yang juga menoleh ke arahnya.
" Muf, ini siapa?. " tanya salah satu teman Mufti yang ada di sampingnya.
" Siapa dia?, gue gak kenal tuh, " ucap Mufti dengan angkuhnya sembari melanjutkan makannya.
Mendengar hal itu ustadz Mustafa merasa sangat marah dan segera menarik tangan Mufti membawanya pergi dari tempat itu.
Mufti mencoba melawan sehingga tangannya terlepas dari genggaman kakaknya.
" Apaan sih?, ngapain narik-narik tangan gue?, " Mufti.
" Ngapain kata kamu?, Muf, ayo pulang!, ini sudah larut malam, " ustadz Mustafa tegas.
" Terus apa pedulinya kakak, hah?. Mau aku larut malam atau aku gak pulang sekalipun, selama ini kakak gak pernah ngurusin itu, kenapa sekarang malah nyuruh aku pulang ?." Mufti .
" Cukup Muf, selama ini kakak peduli sama kamu. Apa kamu tau?, apa yang kamu perbuat di tempat acara itu?, itu sama sekali tidak benar dan kakak sangat kecewa sama kelakuan kamu tadi, " ustadz Mustafa mencoba menerangkan kepada adiknya yang sama sekali tidak mau mendengarkannya itu.
" Oh, jadi kakak kesini cuman mau bilang kalau yang tadi aku lakuin itu salah terus kakak kecewa, gitu?. " Mufti tertawa kecil memalingkan sedikit wajahnya dan kembali menatap ustadz Mustafa yang sudah terlihat kelelahan itu.
" Denger ya kak!, aku ngelakuin semua itu karena kakak!. Karena kakak gak pernah peduliin aku kak, kakak lebih sayang sama anak-anak santri kampungan itu, kakak sama sekali gak pernah ngedukung aku, " ucap Mufti menatap dalam ustadz Mustafa yang berdiri tepat di hadapannya mencoba menjelaskan sembari terus menggelengkan kepalanya.
" Muf, kamu udah salah ngenilai kakak kamu sendiri, apa kamu gak ingat ?, kalau selama ini kakak yang ngurusin keuangan kamu selama ayah sama ibu kita mutusin kerja di luar kota, demi siapa?, itu demi masa depan kamu, Muf!." jelas ustadz Mustafa.
" Huwaaa, " Mufti menguap sembari memalingkan wajahnya.
" Aku ngantuk nih Kak, ayo guys kita cabut," Mufti yang pergi begitu saja meninggalkan ustadz Mustafa.
" Mufti, Muf!." teriak ustadz Mustafa terus memanggil Mufti yang hendak pergi dan sudah naik ke motor ninjanya.
" Udah kak, aku udah ngantuk nih, aku pulang duluan. Kakak lanjutin ceramahnya besok aja!." teriak Mufti yang sudah menyalakan motornya bersiap untuk pergi.
Sementara ustadz Mustafa hanya bisa terdiam dan memandang Mufti yang sudah melaju bersama teman-temannya.
__ADS_1
" Ya Allah, kenapa aku tidak bisa mendidik adikku sendiri?. Bagaimanapun juga, aku harus bisa buat Mufti berubah!." ucap ustadz Mustafa sebelum melangkah menuju mobilnya dan mulai melanjutkan perjalanan kerumahnya.
......*******************************......
Azmi asyik duduk bersama Aban dan Rifki di depan kamarnya sembari membolak-balik buku sekolahnya.
Melihat kedua temannya yang asyik dengan dunia mereka, Rifki merasa bosan dan mencoba mencari pembicaraan sembari memegangi dagunya.
Azmi yang baru saja selesai membaca buku sekolahnya melihat Rifki yang melamun dan menunjukkan ekspresi serius.
" Kenapa Ki?, kok bengong gitu?." tanya Azmi.
" Kalian tuh, dari tadi sibuk baca buku, ngapain sih?, bentar lagi juga liburan kitakan udah selesai ujiannya. " ucap Rifki kepada Azmi yang masih mengawasi dirinya.
" Iki', emang apa salahnya baca buku walaupun udah selesai ujiannya? ." jawab Azmi sekilas memberikan senyuman manisnya.
" Iya Ki, kamu harus banyak-banyak baca buku untuk mengisi waktu luang, buku itu jendela dunia. " tambah Aban menutup buku yang baru saja ia baca.
" Iya deh, pantes aja kalian pintar, kerjaanya baca buku mulu," Rifki.
Azmi dan Aban hanya membalas dengan tawa kecil sembari menoleh ke arah Rifki dan saling pandang hingga akhirnya mereka mengalihkan pandangannya.
" Iya benar Ki, alhamdulillah, gak ada yang kena merconnya dan untungnya lagi pemilik acaranya itu sabar, " Azmi.
" Emang mas-mas Band itu keterlaluan banget ya, kenapa mereka bisa ngelakuin itu Mi?. " tanya Rifki kembali kepada Azmi yang duduk di sampingnya.
" Ya, apa aja bisa mereka lakuin Ki, itu semua mereka gak suka sama kita," jawab Azmi.
" Bener tuh Mi, kita harus nunjukkin ke mereka bahwa kita ini gak kampungan, kita bisa kok buat masyarakat cinta sama sholawat." tambah Aban membuat Azmi memandangnya sembari tersenyum kecil.
" Kalian harus semangat aja deh, aku akan selalu doain kalian untuk menjadi yang terbaik, oke. " Rifki.
" Makasih Ki, " ucap Azmi dan Aban.
" Sama-sama, " Rifki.
" Ayo berangkat," Azmi berdiri mengajak kedua temannya berangkat ke sekolah.
__ADS_1
Rifki dan Aban ikut berdiri dan menganggukkan kepala mereka. Mereka melangkah menuju Madrasah yang ada di dalam pesantren.
Madrasah terlihat sangat ramai baik SMP maupun SMA yang bersebelahan. Pemandangan itu sangatlah indah melihat anak-anak santri yang bersekolah menggunakan seragam yang rapi dan juga peci yang menjadi ciri khas seorang santri.
**********************
Bel istirahat berbunyi, ustadz Ridwan sudah menyelesaikan pelajarannya dan mempersilakan para siswanya untuk ber'itirahat.
" Silakan istirahat anak-anak, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. " ustadz Ridwan.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh, " ucap semua siswa.
Setelah ustadz Ridwan meninggalkan kelas, kelas mulai ramai dengan para siswa yang keluar untuk ber'istirahat dan ada juga yang masih duduk di bangku mereka. Rifki menghampiri Azmi dan Aban yang masih duduk di bangku mereka sembari membicarakan sesuatu.
" Ayo Mi, Ban, aku udah lapar nih, " Rifki yang berdiri di hadapan Azmi dan Aban di halangi oleh meja.
" Ngapain sih pakek ngajak-ngajak Azmi segala?, " ucap Zakir yang masih anteng di bangkunya bersama kedua temannya.
" Emang kenapa Kir?, Azmi itu sahabat aku," jawab Rifki tegas.
" Sahabat?, orang kayak dia gak pantas di jadiin sahabat.Mendingan kalian ini sahabatan sama kita aja, " Zakir yang seketika berdiri menghampiri Azmi dan berdiri di samping Rifki.
" Maksudnya apaan Kir?. " tanya Azmi yang ikut berdiri di hadapan Zakir.
Aban juga ikut berdiri dan takut jika Azmi tidak bisa menahan emosinya.
" Gak usah sok lugu deh Mi, orang kayak dia ini punya muka dua, Azmi cuman pengen manfaatin kalian dengan wajahnya yang pura-pura baik ini. " Zakir menatap dalam Azmi dengan tatapan tajam.
" Heh Kir!, bisa dijaga gak omonganmu itu?, Azmi gak kayak gitu!. " sentak Rifki yang mulia kesal dengan ucapan-ucapan pedas Zakir.
" Santai Ki, oke, kalau kalian milih si Azmi ini, gak papa. Tapi lihat aja nanti!, aku bakal ngasih tau ke kalian semua, betapa liciknya seorang Azmi Askandar yang kalian banggakan ini!, " Zakir membelakangi Azmi.
" Terserah apa kata kamu Kir, aku sama Rifki akan tetap jadi sahabat Azmi sampai kapanpun!, ayo Mi, Kir, kita pergi aja dari orang gak jelas ini!, " Aban mengajak kedua temannya untuk pergi dari sana.
Aban, Rifki, dan Azmi segera meninggalkan Zakir sebelum itu dengan tatapan tajam Azmi mengawasi Zakir sekilas dan melanjutkan langkahnya.
" Kir, emang kamu mau ngapain?. " tanya Helmi berdiri dan menghampiri Zakir.
__ADS_1
" Lihat aja nanti, " Zakir menoleh ke arah Helmi sembari tersenyum licik.
Bersambung......