
Mobil mewah berawarna putih itu berhenti tepat di halaman pesantren.Ustadz Fathur turun terlebih dahulu.Azmi ,Aban dan ibu Akmal terdiam memandang satu-persatu dari mereka yang keluar dari mobil. Turunlah Akmal dengan wajah lemas sembari menggendong tasnya.
"Akmal.. "teriak ibu Akmal melambaikan tangannya.
Akmal menoleh ke arah ibunya begitu juga dengan Ali, Firman, Udin dan ustadz Fathur.
"Ustadz, saya pamit ke ibu saya dulu."Akmal.
"Iya, silahkan. "ustadz Fathur.
Akmal segera menyalam tangan ustadz, mengucap salam dan melangkah menuju ibunya yang berdiri bersama Azmi dan Aban.
"Itu ibunya Akmal."Firman.
"Iya, siapa lagi?. Kasihan ya, ibunya Akmal."Ali.
"Ya sudah kalian kesana saja, ustadz mau ke kantor. "ustadz Fathur.
"Baik ustadz."Ali.
Satu persatu dari mereka menyalam tangan ustadz Fathur dan menghampiri Akmal.
Akmal mencium tangan ibunya sembari mengucap kata maaf berulang kali. Azmi dan Aban saling pandang.Azmi merasa tidak enak dengan Akmal. Ali, Firman,dan Udin berdiri di samping Aban dan Azmi melihat Akmal yang menangis mencium tangan ibunya.
"Sudah Akmal, ibu sudah maafkan, ayo bangun. "ibu Akmal membangunkan Akmal.
Akmal mengangkat kepalanya dari tangan ibunya dan memeluk ibunya.
"Ibu maaffin Akmal udah buat ibu sedih."Akmal.
"Iya Akmal, sudah jangan nangis, anak ibu kan kuat. "ibu Akmal.
Akmal melepas pelukannya dan mengusap air matanya.
"Wes toh Mal, "Udin.
"Iya, udah gede juga. "Firman menambahkan.
Sementara Ali masih diam memalingkan wajahnya.
Akmal tersenyum dengan perkataan temannya yang akhirnya mau berbicara dengannya.
"Mas Akmal, mending ganti baju dulu, ibunya mas biar aku yang jaga. "Azmi.
"Iya udah, bu, Akmal ganti baju dulu."Akmal.
"Oh iya, kita belum salaman. "Firman,ia melangkah maju dan mencium tangan ibu Akmal begitu juga dengan Udin yang mengikutinya.
__ADS_1
"Mas Ali, salaman mas."perintah Azmi menyenggol Ali yang sedari tadi diam.
"Iya... "jawab Ali, akhirnya ia mau mencium tangan ibu Akmal.
"Tunggu ya ,bu. "Akmal.
"Iya nak. "ibu Akmal.
Akmal bersama ketiga temannya melangkah menuju kamar mereka untuk mengganti pakaian.
"Mi, ngapain sih nunggu mas Akmal, mending kita tidur aja. "bisik Aban.
"Gak usah tidur Ban, emangnya kamu gak kasihan sama ibunya mas Akmal. "bisik Azmi.
"Ya udah deh, aku ikut kamu. "Aban.
Azmi tersenyum mendengar jawaban Aban.
"Bu, tunggu sebentar ya, sama Aban dulu."Azmi.
"Iya nak."ibu Akmal.
"Mi, mau kemana?."tanya Aban.
"Udah,sebentar aja. "Azmi menepuk pundak Aban dan pergi meninggalkan Aban bersama ibu Akmal.
Aban memberikan senyumnya ketika ibu Akmal menoleh ke arahnya .Aban menundukkan kepalanya kembali.
"Iya bu, "jawab Aban.
"Kalian kelas berapa?. "tanya ibu Akmal.
"Masih kelas 7 bu, "Aban.
"Sama seperti adiknya Akmal, dia juga kelas 7. Namanya.....
"Bu, ini. "Azmi menyodongkan sebotol air kepada ibu Akmal.
Aban dan ibu Akmal menoleh ke arah Azmi.
"Terimakasih nak, "ibu Akmal menerima air dari Azmi.
"Sama-sama, Azmi lihat ibu kehausan tadi."Azmi.
"Iya memang benar, kamu memang perhatian sama ibu."ibu Akmal sembari tersenyum. Azmi membalas senyuman ibu Akmal.
Akmal datang dan melangkah menuju ibunya.
__ADS_1
"Maaf bu, Akmal lama ya, "Akmal.
"Iya gak apa-apa, lagi pula ada Azmi dan Aban yang mau menemani ibu disini."ibu Akmal. Akmal menoleh ke arah Azmi dan Aban.
"Makasih Azmi,Aban."Akmal.
"Sama-sama mas. "Azmi.
"Ya sudah kalian ke kamar saja, mas mau ke kantor. "Akmal.
"Iya mas, "Azmi, ia mencium tangan ibu Akmal, begitu juga dengan Aban.
"Assalamualaikum. "Azmi dan Aban bersamaan.
"Wa'alaikumsalam. "ibu Akmal dan Akmal.
"Ayo bu, kita kekantor. "ajak Akmal kepada ibunya.
"Iya, ayo. "ibu Akmal.
Sementara Azmi dan Aban melangkah menuju kamar mereka. Tanpa Azmi sadari air mata jatuh dan membasahi wajahnya,Aban yang mengetahui hal itu langsung membalikkan tubuh Azmi dan menghadapkan Azmi kepadanya.
"Kamu kenapa Mi?,kok nangis. "tanya Aban.
"Hah?. Nangis, enggak kok."Azmi memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya.
Azmi melangkah maju dan enggan menoleh ke arah Aban. Aban menghampiri Azmi.
"Ya elah Mi, gak usah bohong, air mata jatuh itu bukan nangis namanya. "Aban.
Azmi terdiam dan sembari mengusap air matanya. Ia berusaha menahan sehingga mata Azmi terlihat berwarna merah.
"Udah lah Ban, mending kita istirahat, yuk."ajak Azmi tanpa menjawab pertanyaan Aban sebelumnya.
Aban dan Azmi melangkah menuju kamar mereka.
Sementara Akmal dan ibunya pergi ke kantor ustadz . Zakir bersama kedua orang tuanya sudah selesai dan keluar dari kantor.Zakir dan Akmal berpapasan tetapi mereka tidak saling menyapa.Ibu dan ayah Zakir menyapa ibu Akmal dengan ramah,ibu Akmal membalas sapaan mereka dan kembali masuk ke kantor.
"Assalamualaikum."Akmal dan ibu Akmal.
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk."ustadz Abdullah.
Akmal dan ibunya duduk dibangku yang ada dihadapan ustadz Abdullah. Mereka mulai membicarakan masalah Akmal.
"Begini ,saya hanya memberi tahu bahwa anak ibu memukuli santri yang jauh dari umurnya hanya karena ia ingin mendapatkan uang,dan saya sebagai ustadz sangat kecewa dengan Akmal,saya ingin membicarakan ini suapaya jelas dan Akmal tidak melakukannya lagi. "ustadz Abdullah.
"Apa?, anak saya memukuli santri yang masih kecil hanya karena uang pak ustadz."ibu Akmal kaget.
__ADS_1
Akmal menunduk sedangkan ,ibu Akmal sangat kaget dengan apa yang ia dengar.Ibu Akmal hanya mengira anaknya sekadar bertengkar seperti anak remaja biasa. Ustadz Abdullah menjelaskan semuanya, mata ibu Akmal berkaca-kaca. Akmal semakin menunduk dan tidak bisa berbicara.
Bersambung.......