
Ustadz Mustafa sedari tadi menunggu Mufti, tapi karena sudah sangat lelah dan mengantuk tanpa sengaja dirinya tertidur pada sofa dengan kepala yang menyender pada kepala sofa.
Mufti sudah sampai pada rumahnya ia melihat ke arah rumahnya yang tampak rumah Mufti masih terang benderang ia melangkah perlahan masuk ke dalam rumahnya. Saat sudah di dalam rumah, Mufti menutup kembali pintu rumahnya dan ia melihat Kakaknya sedang tertidur dengan hape yang masih ia pegang pada tangan kanannya.
Mufti tidak ingin membuat Kakaknya terbangun, pelan-pelan ia melangkah mendekati Kakaknya dan hendak mengambil handphone Kakaknya. Sekarang barulah Mufti mengerti bahwa Kakaknya sangat sayang dan peduli pada dirinya.
" Dari tadi Kak Mustafa nelpon gue, dia juga nunggin gue disini. Hafsah emang benar, gue egois dan selalu memikirkan diri sendiri padahal Kak Mustafa selalu mengutamakan kepentingan gue, dasar, Adik gak guna lo, Muf. " ucap Mufti pada dirinya sendiri tampak jelas wajah yang tengah menyesali perbuatan jahatnya.
Mufti masih menatap dalam Kakaknya yang lelap tertidur dengan peci yang juga masih terpasang. Saat Mufti ingin meletakkan hape Ustadz Mustafa, tidak sengaja ia membangunkan Kakaknya.
" Mufti, kamu udah pulang, dek? Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang, kamu jangan kabur lagi, Kakak khawatir banget sama kamu, " ucap Ustadz Mustafa ia perlahan bangun dan berdiri di hadapan Mufti yang masih menunduk tidak tahan menatap Kakaknya yang sangat menyayanginya.
" Muf, kamu kenapa? " tanya Ustadz Mustafa.
Mufti mengangkat kepalanya ia menatap dalam Ustadz Mustafa dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat luka pada wajah Mufti, Ustadz Mustafa kembali khawatir ia langsung menanyakan apa yang terjadi pada Mufti dengan memegang wajah Mufti.
Tapi Mufti malah tidak mampu untuk bicara dengan spontan ia memeluk erat Kakaknya.
" Maafin Mufti, Kak. Selama ini Mufti egois banget, aku gak pernah mikirin kalau Kakak selama ini capek kerja hanya untuk memenuhi apa yang aku mau. Aku emang pecundang! Aku adek yang gak tau diri!" Ucap Mufti ia tidak bisa menahan tangisnya. Mufti menangis dalam pelukan Ustadz Mustafa.
Mendengar ucapan-ucapan Mufti membuat Ustadz Mustafa tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan punggung Mufti dan setelah beberapa saat ia melepas pelan pelukannya menghadapkan Adiknya pada hadapannya.
" Udah, Kakak gak papa kok, eh, ini luka kamu kenapa? " tanya kembali Ustadz Mustafa.
Mufti segera menghapus air matanya dan memegang luka yang terletak pada bawah bibirnya nyambung sampai ke dagunya.
" Emmm... Ini, tadi aku jatuh, Kak. Tapi udah gak papa, " jawab pelan Mufti masih memegangi lukanya.
" Astagfirullah, kamu kenapa bisa jatuh, Muf? " Ustadz Mustafa dengan khawatir tapi Mufti masih belum bisa terus terang kepada Kakaknya dengan terus membisu menundukkan kepalanya dengan meringis memegangi lukanya.
" Ya udah, biar Kakak obatin dulu tuh luka, ayo, " Ustadz Mustafa.
Ustadz Mustafa mulai mengobati luka Mufti yang sudah parah, Mufti mencoba menahan sakitnya ketika Kakaknya masih telaten mengobati lukanya.
" Dah, makanya kalau naik motor itu fokus kedepan dan jangan ngebut, kalau kamu gak fokus dan ngebut bawa motornya, bukan kamu aja yang akan celaka tapi orang lain juga. " Ustadz Mustafa.
Mata Mufti seketika menatap tajam mengingat Hafsah yang sudah ia tabrak dan membuatnya terluka sangat parah. Wajah Mufti menunjukkan ekpresi datar dan tegang dan tampak gelisah.
" Heh! Malah bengong dikasih tau, " Ustadz Mustafa.
__ADS_1
" Hah? I i i, iya Kak, huwaaa, aku ngantuk banget nih, tidur dulu ya, Kak. Selamat malam, " Mufti menutup mulutnya yang tengah menguap dan buru-buru pergi ke kamarnya tidak lupa la menepuk pundak Kakaknya sebelum pergi masuk ke dalam kamarnya.
Ustadz Mustafa terlihat senang ia sungguh tidak menyangka bahwa Adiknya berubah begitu saja.
...******...
Matahari bersinar dengan kilau cahayanya yang sampai menyinari kawasan pesantren dimana terlihat anak-anak sholeh dengan seragam sekolah mereka duduk sembari berbincang entah apa yang mereka bicarakan dengan senyuman manis yang terlintas pada wajah santri-santri yang mereka pacarkan. Hangatnya sinar matahari juga begitu saja menyinari wajah Azmi yang tengah duduk tepat didepan kamarnya wajahnya tepat sekali menghadap ke arah langit.
Dengan spontan ia menutupi wajahnya yang terpapar sinar matahari.
" Masya Allah, silau, " Azmi terus menutupi wajahnya sementara Aban juga tidak kuat melihat ke arah langit karena silau dari sinar matahari pagi.
" Gak usah ditutupin wajah handshomenya, Mi. " ucap Ahkam dengan senyuman yang terlukis diwajahnya melihat Azmi yang sedang silau, Ahkam terus saja menurunkan tangan Azmi dengan sengaja agar wajah Azmi terkena sinar matahari.
Melihat wajah Azmi dengan mata yang Azmi sipitkan tidak tahan dengan silau matahari membuat Aban tertawa karen tidak tahan dengan ekpresi Azmi.
" Silau mas, " ucap Azmi terus melawan Ahkam yang ingin menurunkan tangan Azmi.
" Sinar matahari pagi itu bagus, Mi. Vitamin D nya tinggi, biar kamu gak lemas jadi cowok. Ya, gak, Ban? " ledek Ahkam dengan terus menjahili Azmi.
" Iya, Mi. Biar kamu sehat, dah, gak usah ditutupin tuh, muka. " Aban ia malah ikut-ikutan meledek sahabatnya sendiri.
" Astagfirullah, aku juga udah sehat mas, Ban. Ini silau banget, lo. Aban malah ketularan jahilnya mas Ahkam. " Azmi.
Ahkam dan Aban malah asyik mentertawai Azmi. Azmi terus menutupi wajahnya karena sudah tidak tahan ia berdiri menghindari sinar matahari.
" Berangkat yok, Ban. " ajak Azmi sudah berdiri di samping Ahkam membelakangi sinar matahari.
" Tunggu si Iki', Mi. Lagian belum bel juga," Aban.
" Buru-buru banget kamu, Mi. Mau ngapain?" Ahkam.
" Enggak mas, ini kan hari terakhir sekolah, jadi kita harus semangat!" Azmi.
" Semangat apa, Mi, Mi? Karena bentar lagi mau pulang?" Aban.
" 1 juta rupiah, ya, enggak lah Ban, semangat aja, karena bentar lagi kita gak ketemu dikelas selama pulangan, " jawab Azmi dengan sedikit lawakannnya dan ekspresi datarnya diakhir kalimat.
" Podo ae, Azmi, berarti kamu itu udah kebelet mau pulang, " Ahkam.
__ADS_1
Azmi hanya tersenyum manis kepada Ahkam yang hanya menatap Azmi dan membenarkan peci Azmi yang selalu jomplang.
" Pakai peci itu yang benar, dikalahin anak TK," Ahkam.
" Biarin, anak TK itu masih lucu-lucunya, kalau aku ini sedang ganteng-gantengnya, " ucap Azmi dengan sangat percaya diri dengan tangan yang kembali membenarkan pecinya seperti semula.
Mendengar perkataan Azmi membuat Ahkam dan Aban tertawa tak henti mereka juga sedikit geram melihat wajah Azmi yang selalu ingin melawak.
" Bisa aja kamu, Mi. Belajar dari siapa tuh, dialognya? " Aban.
" Dari siapa, ya? Dari Hafidzul Ahkam kali, " Azmi menoleh ke arah Ahkam.
" Opo? " ucap Ahkam juga menatap Azmi.
" Mboten mas, " Azmi dengan nada halus dan menundukkan kepalanya membuat Ahkam dan Aban kembali tertawa tak henti karena Azmi selalu saja bisa membuat mereka tertawa dengan wajah Azmi yang selalu ceria.
" Assalamualaikum, " Rifki.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab Azmi, Aban dan Ahkam.
" Ayo Mi, Ban, berangkat, " Rifki.
" Berangkat kemana Ki'?" tanya Azmi wajahnya sok serius layaknya seorang Ustadz yang sedang bertanya kepada santrinya.
" Ke kelas lah, Mi. " jawab Rifki.
" Oh, kirain ke kantin, " Azmi.
" Dah, berangkat sana, " Ahkam.
" Siap Ustadz, " Azmi memberikan tangannya dan menyalam tangan Ahkam, Ahkam hanya bisa tersenyum melihat tingkah Azmi.
Aban dan Rifki juga ikut menyalam tangan Ahkam.
" Assalamualaikum mas, " ucap Azmi, Aban dan Ahkam.
" Wa'alaikumsalam, " jawab Ahkam ia masih mengawasi langkah ketiga sahabat itu dengan senyum kecil yang terlukis pada wajahnya.
Bersambung....
__ADS_1