Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 201 Kembali Kacau


__ADS_3

Tidak disangka ternyata Zakir bersama dengan sepupunya, Dimas, ada ditempat acara dimana anggota Syubban yang mengisi acara. Wajah Zakir seperti biasa terlihat malas pandangannya begitu sinis kepada semua orang yang melintas.


" Haduhhh, ngapain, sih kita ke acara ini segala? Kita ke Blitar, kan buat refreasing, jalan-jalan, santai-santai, bukan buat hadirin acara Azmi sama tim hadrohnya itu, " Zakir.


" Hushhh, Zakir! Kamu ngomong apaan, sih? Om sama tante nyuruh kita kesini buat sholawat, lagian harusnya kamu bangga karena teman kamu itu sudah viral, digemari cewek-cewek lagi sekarang, " Dimas yang malah memuji Azmi didepan Zakir yang membuat mood Zakir tambah buruk.


Zakir hanya diam tidak bisa membalas perkataan kakak sepupunya, melihat Zakir yang hanya diam dengan wajah malasnya, Dimas segera menarik tangan Zakir mengajaknya masuk ke dalam Masjid.


" Udah, ayo, " ajak Dimas menarik paksa tangan Zakir hingga masuk ke dalam Masjid besar itu.


Kini giliran Aisyah yang melantunkan sholawatnya, dengan tangan kanan yang memegang mikrofonnya dan matanya yang kembali melihat ke arah jama'ah, Aisyah menarik nafasnya dan mulai membuka mulutnya untuk melanjutkan lirik setelah Fitri.


" Maa siwaaya wa laa ghoirokum siwaakum


Laa wa man fiil mahabbah 'alayya wulaakum


Antum antum muroodii wa antum qoshdii


Laisa ahadun fiil mahabbati siwaakum 'indii." dengan suara yang mulai gugup dan terbata-bata tidak seperti sebelumnya dimana suara Aisyah sungguh mulus dan halus.


Fitri jadi bingung ada apa dengan Aisyah ia mencoba menangkan Aisyah dengan cara mendekati Aisyah dan menggenggam tangan kiri Aisyah. Aisyah sungguh terlihat sesak nafas seperti sedang banyak pikiran.


" Bismillah, Aisyah. Tolong jangan ingat hal itu lagi, kamu pasti bisa! Ya Allah, hamba mohon bantu Aisyah menghilangkan traumanya, " Azmi ia berdoa sambil menepatkan kedua tangan pada wajahnya terlihat Azmi juga khawatir dengan keadaan Aisyah yang saat ini.


Para jama'ah mulai saling toleh mereka semua ikut bingung dengan apa yang terjadi dengan Aisyah, suara samar-samar yang membisikkan tentang dirinya, membuat Aisyah semakin takut dan keringat dingin mulai terlihat dari wajahnya.


" Kaya kenal sama cewek itu, tapi dia siapa, ya? " ucap Zakir sambil berpikir yang membuat Dimas menoleh ke arahnya dan kembali memandang Aisyah.


Tiba-tiba pikiran Aisyah menjadi kacau lirik yang ia lantunkan juga ngelantur tidak karuan.


" Syah, kamu kenapa? Liriknya salah, " bisik Fitri yang membuat pikiran Aisyah semakin kacau ia kembali mengingat kejadian waktu itu dan tubuhnya mulai gemetar lemas, matanya tak mampu melihat ke ribuan jama'ah yang tengah memperhatikan dirinya.


Aisyah tidak lagi bisa mengendalikan dirinya walau Fitri sudah berusaha menenangkan Aisyah, para jama'ah semakin ribut dan kedua Mc juga saling toleh.


Tingkah Aisyah membuat semua orang bingung dan menyoraki dirinya, sorakan yang sama yang dulu pernah dilemparkan kepada dirinya kini terulang kembali, hinaan dan cacian juga terdengar jelas oleh telinga Aisyah.


" Uuuuuuuu."


" Dasar gak jelas! Mending turun aja, "


" Tim Syubban aja yang naik, "


" Dia kenapa tuh? "


Dan...

__ADS_1


Buaaaarrrrrrrrrrrr


Aisyah melempar mikrofonnya, ia saat ini sangat kacau tanpa memperdulikan siapapun Aisyah berlari menghindari sorakan-sorakan itu dan ia menabrak Zakir hingga terjatuh.


" Aisyah, " Fitri tidak tau harus berbuat apa ia juga menjadi sangat panik saat itu juga.


Zakir yang kaget ingin membantu Aisyah tapi Aisyah sudah sangat takut.


" Kamu, gak papa? " tanya Zakir membungkukkan tubuhnya untuk membantu Aisyah.


Aisyah hanya menggelengkan kepalanya dan melihat semua orang yang tengah mengarahkan perhatian kepadanya, Aisyah segera bangun dan kembali belari dengan cepat agar bisa keluar secepatnya dari Masjid itu.


" Tuh cewek kenapa, sih? " tanya Dimas kepada Zakir.


" Ya, mana aku tau. Sayang cantik-cantik gitu tapi tiba-tiba stres, " Zakir.


" Hushhh! Kamu kalau ngomong, " tegur Dimas.


Azmi yang melihat Aisyah berlari tidak bisa diam saja, ia segera bergerak cepat mengambil sorban dan kaca mata hitamnya untuk menyusul Aisyah.


" Azmi! Mau kemana? " tanya Aban disaat kondisi begitu gaduh.


Azmi hanya menoleh dan memberikan kode tangannya kepada Aban lalu kembali melanjutkan langkah kakinya dengan agak cepat dan bersamaan dengan itu Zakir melihat jelas kalau Azmi sudah berjalan mengikuti langkah Aisyah.


" Wah, ada yang gak beres, nih!" tukas Zakir ekspresi liciknya mulai keluar menatap tajam Azmi yang melangkah menyusuri jama'ah yang begitu ramainya hingga tidak ada yang tau kalau Azmi sudah turun dan baru saja berpapasan melangkah dihadapan mereka semua.


Saat ia menoleh, Zakir sudah tidak ada disampingnya.


" Lho, Zakir, mana? Benar-benar tuh, anak. Keadaan kaya gini masih aja nyusahin orang, " ucap Dimas ia membenarkan pecinya, matanya mencari dimana keberadaan Zakir lalu baru ia melangkahkan kaki untuk mencari keberadaan sepupunya yang bandel itu.


Fitri sangat bingung pada saat itu, mikrofon yang dijatuhkan Aisyah tidak jauh dari speaker menimbulkan suara yang sangat bising membuat semua orang semakin kacau. Fitri segera mengambil mikrofon itu dan memberikan itu kepada Mc.


" Fitri, kamu mau kemana?" tanya seorang Mc perempuan.


" Aku khawatir banget sama Aisyah, kak. Kalau dia kenapa-napa, gimana? " ucap Fitri dengan ekspresi wajah panik ia sangat mengkhawatirkan keadaan Aisyah yang sudah pergi dari tempat.


" Tapi, Fitri, masalahnya ini masih..." ucap Mc perempuan yang belum selesai bicara dan langsung dipotong oleh Mc laki-laki.


" Kasih aja, biar kita yang nyelesain masalah ini. Aisyah pasti sedang kacau dan dia butuh sahabatnya, Fitri." ucap Mc itu yang membuat Mc perempuan paham dan mengangguk.


" Ya udah kalau gitu Fitri pamit, assalamualaikum." ucap Fitri ia sudah sangat tergesa-gesa.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " ucap kedua Mc bersamaan.


Fitri yang terlalu terburu-buru dalam keadaan jama'ah yang kacau tidak sengaja menabrak Aban yang tengah bicara pada Ahkam tentang perginya Azmi dengan nada yang serius.

__ADS_1


" Aduh, maaf, maaf, aku gak sengaja." ucap Fitri menundukkan kepalanya dan kembali melangkah dengan langkah cepat.


Aban hanya terdiam memandangi langkah Fitri yang semakin menjauh lalu ia kembali memalingkan wajahnya sambil terlihat berpikir dengan ekspresi yang tengah khawatir.


" Semuanya harap tenang!" Mc laki-laki mulai mengambil alih naik ke atas panggung menenangkan para jama'ah bersama dengan rekan Mc perempuan.


...****...


Aisyah berlari sambil menangis dengan kaki kecilnya yang terus berlari dengan cepat hingga ia terjatuh dan terus menangis dalam keadaan jalan yang memang sangat sepi saat itu mengingat semua warga ada pada acara.


Azmi mulai memelankan langkah kakinya saat melihat Aisyah yang menangis dalam kondisinya yang memprihatinkan.


Dengan mengambil nafas dan menundukkan kepala barulah Azmi kembali melangkahkan kakinya sampai pada Aisyah dan memberikan sorbannya bermaksud menolong Aisyah berdiri.


" Bangun, Aisyah." ucap Azmi.


Mendengar suara Azmi membuat Aisyah mengangkat kepalanya ke atas dan perlahan bangun tanpa menerima bantuan dari Azmi.


Aisyah menghapus air matanya, dan Azmi membuka kaca mata hitamnya meletakkan kembali sorbannya dengan mengalungkannya pada lehernya.


" Maksud kamu apa? " tanya Aisyah dengan suara yang bergetar.


" Aku gak ada maksud apa-apa, Syah. Aku minta maaf kalau kedatangan aku yang buat kamu ingat kembali tentang masa lalu itu, " Azmi.


" Iya, semuanya itu memang karena kamu, Azmi! Kenapa, sih kamu selalu buat aku menderita? Kenapa, Mi! " Aisyah mulai menghapus air matanya dengan bicara tegas kepada Azmi.


Azmi sekilas menunduk dan kembali memandang Aisyah dengan dalam.


" Aku sama sekali gak ada niat buat kamu kaya sekarang, aku udah minta maaf. Apalagi yang harus aku lakuin?" Azmi.


" Kata maaf aja gak bisa bikin trauma aku hilang apalagi bikin Kakak aku balik, kamu udah ngehancurin hidup aku, aku benci kamu! Aku benci nama kamu! Dan aku benci semuanya tentang kamu! " ucap Aisyah dengan sentakan dan emosinya yang sudah keluar saat melihat wajah Azmi.


" Kok kamu malah ngebahas tentang mas Akmal lagi? Mas Akmal meninggal itu karena takdir, Syah! Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita tidak boleh untuk terlalu sedih dengan kepergian orang yang kita sayangi pergi dipanggil Tuhan. Setiap malam jum'at mas Akmal itu turun dan ada didepan pintu rumah kamu, mas Akmal gak akan tenang kalau melihat kamu kaya gini terus, " jelas Azmi.


" Aku gak butuh ceramah kamu, Mi! Oh, aku tau sekarang kamu pasti udah bangga, kan karena kamu udah terkenal, udah jadi artis, iya? Semua orang muji-muji kamu sama persis waktu semua orang menyalahkan aku dan memuji suara kamu." Aisyah.


Azmi menggelengkan kepalanya dan menyentuh dahinya dengan memejamkan matanya sebelum menjawab ucapan Aisyah yang sama sekali tidak Azmi sangka kalau seorang Aisyah akan bicara seperti itu pada dirinya.


" Enggak, Syah. Sama sekali gak kaya gitu, mereka suka sama aku karena sholawat, " Azmi.


" Kamu salah, Mi! Mereka bukan cinta sama sholawatnya tapi mereka cinta sama wajah kamu, lihat aja nanti, Mi! Akan banyak yang nangis bukan karena sholawat kamu tapi karena kamu! " ucapan Aisyah itu membuat Azmi terdiam seketika.


Zakir yang melihat kejadian itu terdiam dan segera bersembunyi.


" Mereka berdua ada masalah apaan, sih? Wah, kalau difoto terus disebar bisa jadi trending nih, " Zakir ia mengambil handphonenya dan segera mengambil foto ketika Azmi tengah bicara berduaan.

__ADS_1


" Lihat aja kamu, Mi. Bentar lagi orang-orang gak akan suka lagi sama kamu tapi mereka berubah haluan jadi benci." ucap Zakir melihat foto itu bergantian dengan melihat Azmi dengan tatapan yang begitu sinis.


Bersambung...


__ADS_2