
Azmi menyenderkan tubuh dan kepalanya pada kursi mobil sambil memegang dahinya menggunakan jari jempol dan telunjuknya ia juga sempat memejamkan matanya beberapa menit. Sementara Ahkam melihat kondisi luar dan menghela nafasnya keras.
" Hebat kalian, ya. Sudah punya banyak pens, " pak sopir.
" Fans, pak. Bukan pens," tegur Ahkam sedangkan Azmi tertawa menoleh ke arah Ahkam yang juga menoleh ke arahnya.
" Ya itulah, pens iku, apalah. Anak bapak itu yang cewek juga suka banget sama kalian. Setiap malam sebelum tidur pasti dengerin shalawat kalian, oh iya hampir bapak lupa dia juga nitip salam sama nak, Azmi. Dia kagum banget sama kamu katanya, " sopir.
Azmi kembali tertawa kecil mengaruk bagian belakang lehernya.
" Nggih pak, salam balik sama anaknya semoga gak pernah bosan buat dengerin sholawat kita," Azmi.
" Aamiin, iya nak. Bapak juga akan selalu doakan kalian supaya selalu sukses dan tidak sombong, " pak sopir.
" Aamiin, " Azmi dan Ahkam bersamaan mereka juga sempat saling pandang dengan senyuman manis yang terlukis pada wajah mereka.
" Pak, tadi Azmi bisikin nama anaknya sisten (siapa)? " Ahkam.
" Heh, enggak, pak. Ngarang mas Ahkam, kapan aku ngomong gitu, " Azmi ia sempat memukul keras pundak Ahkam.
Hal itu membuat pak sopir tertawa dengan tingkah mereka.
...***...
Kata-kata Azmi masih terngiang pada pikiran Doni. Sembari duduk melamun ia terus memikirkan ucapan Azmi.
" Don, gue pikir anak itu ada benar juga. Ya, coba lo pikir, Band kita baik-baik aja kok, Mufti ngelakuin itu juga gak salah, kan? " ucap salah satu anggota Band.
" Lagian ngacuhin Mufti, ngeblokir nomernya, itu sama sekali hal yang..Argghh, gak ada gunanya, bro! Gue kangen kita yang dulu, " anggota Band lainnya.
Tatapan Doni masih sinis menatap temannya ia juga tidak menjawab dan masih membisu kembali memijat-mijat dahinya.
Azmi dan Ahkam sudah sampai di pesantren, mereka langsung pergi menuju Kyai sebelum itu tidak lupa mereka mengucap salam kepada anggota Syubban yang tidak berpindah tempat duduknya sedari tadi.
" Assalamualaikum, " Azmi dan Ahkam sudah berdiri didepan pintu Kyai.
" Wa'alaikumsalam, " jawab Kyai, Ustadz Mustafa dan Mufti yang ada disana duduk tepat disebelah Kakaknya sebelumnya ia terlihat serius menatap layar hapenya.
" Azmi, Ahkam. Ayo masuk, " Kyai.
Dengan kepala yang masih tertunduk, Azmi dan Ahkam melangkah bersama membawa belanjaan menuju Kyai.
" Pak sopir, mana? " tanya Kyai.
" Tadi bilang ke saya kalau mau ke kamar mandi, Kyai. " jawab Ahkam.
" Hmm, baiklah. Belanjaannya bawa kesini," Kyai.
Azmi dan Ahkam segera memberikan belanjaan itu.
" Ini Kyai, kembaliannya," Ahkam dengan kedua tangan ia memegang uang bernominal 20.000 kepada Kyai yang baru saja ia ambil dari saku baju kokonya.
" Itu buat kalian aja, sebagai upah, " Kyai.
Spontan Ahkam menoleh ke arah Azmi yang juga menoleh ke arahnya dengan wajah datar.
" Sudah, terima saja, bagi berdua itu, jangan beritahu teman-temannya kalau gak enak, " Kyai.
" Baik Kyai, " ucap Ahkam ia kembali menaruh uang itu dalam sakunya.
" Nah, ini kalian bagi sama teman-teman ya, ini buat bekal, ada roti, air dan nasi ini dimakan sekarang, biar mereka gak lapar nanti, " Kyai.
__ADS_1
" Baik Kyai, " Ahkam.
" Mufti kamu ikut gih sama mereka, daripada main hape terus dari tadi mukanya serius banget, " Ustadz Mustafa.
" Betul, nak Mufti ikut mereka saja, makan bersama, pasti seru'e " Kyai tertawa diakhir kalimatnya membuat Azmi dan Ahkam juga ikut tertawa kecil.
Mufti sempat terdiam menurunkan hapenya dari pandangannya dan sekilas Menatap Kakaknya.
" Ayo mas, aku juga mau cerita penting sama mas Mufti, " ajak Azmi.
Mufti mengangguk dan bangun berdiri tepat disamping Azmi.
" Iya, ayo. " Mufti walau ia terlihat sangat tidak bersemangat.
Mereka bertiga menyalam tangan Kyai dan Ustadz Mustafa tidak lupa mengucap salam barulah mereka bertiga berjalan bersama.
" Mas Mufti, tadi aku ketemu sama temannya, mas. " Azmi.
" Lo ketemu sama teman-teman gue, terus mereka bilang apa? " ucap Mufti begitu antusias.
" Asal kamu tau, Muf. Azmi coba menyelamatkan masalah kamu sama teman-teman kamu, itu, eh, tapi malah Azmi sempat didorong sama teman kamu itu, " Ahkam.
" Gak papa kok, semoga aja omongan aku didengarin sama mereka, mas Mufti tenang aja, berdoa, " Azmi.
Ahkam mengangguk dan Azmi tersenyum.
" Sama-sama, mas. " Azmi.
Mereka kembali lanjut melangkah menghampiri anggota Syubban yang terlihat asyik latihan dengan Aban yang melantunkan sholawatnya dengan suara indahnya.
" Assalamualaikum, " ucap Azmi, Ahkam diikuti Mufti.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semua anggota Syubban.
" Nih, makanan." Ahkam ia membagikan makanan itu kepada semua anggota Syubban dibantu dengan Azmi. Lain dengan Mufti yang langsung duduk disamping Aban. Setelah itu mereka duduk bersama bersebelahan.
" Alhamdulillah, makan rek, " Udin.
" Kalian belanja dimana, sih? " tanya Ali yang sudah membuka bungkus nasinya.
" Di Supermarket biasa itu, " Ahkam.
" Emang Supermarket udah buka, ya? " tanya Firman sambil mengunyah makanannya.
" Mas Firman dihabisin dulu nasinya, baru ngomong, " tegur Azmi.
__ADS_1
" Biasa Firman, gak baik makan sambil ngomong, " Ali menatap Firman.
" Maaf, lupa aku, " jawab Firman setelah menelan makanannya.
" Ya, ada yang buka, Man. Lagian Kyai cuma nyuruh beli makanan sama minuman aja, terus nasi bungkusnya pas banget ada di depan Supermarket, tapi itu yang beli pak sopir, " Ahkam.
" Wes, rek. Ojo ngomong tok ( jangan ngomong aja), makan nasinya keburu entar kita berangkat, " Udin.
Para anggota Syubban tersenyum kecil dan mulai membuka bungkus nasi bersiap menyantap sarapan mereka bersama.
" Makan dulu mas, Mufti. Biar gak lemas, " Azmi.
" Iya, Mi. " jawab Mufti sambil menganggukkan kepala sebelumnya.
Matahari terlihat semakin terang menyinari wilayah pesantren juga mengarahkan sinarnya pada wajah-wajah anggota Syubban yang masih duduk di tangga Masjid. Mereka menutup wajah mereka dan mulai berpindah tempat naik ke Masjid menghindari silaunya sinar matahari.
" Eh, kenapa kita pindah, ya? Sinar matahari pagi itu bagus buat kesehatan, " Udin.
" Kamu aja Din, yang jemur, aku udah cukup sehat, " Firman.
" Muf, kamu kenapa, sih? Dari tadi mukanya ditekuk terus. Gak ada cerianya banget," Ali.
" Masalah teman-teman kamu jangan terlalu dipikirin, Muf. Nanti bisa-bisa kamu stress, " sambung Ahkam.
" Emang mas sama sekali gak bisa hubungi mereka, ya? " tanya Azmi.
" Gak bisa, Mi. Nomer gue udah diblokir, " Mufti.
" Yo wes, Muf. Kalau udah kaya gitu, bisa opo. Kalau kamu diam dan gak ceria gak akan nyelesain masalah kamu, mendingan kamu samperin mereka, atau apa gitu, " Muhklis.
" Tadi juga Azmi udah ngomong sama teman-teman kamu, kan. " Ahkam.
" Iya, nanti gue samperin mereka deh, habis acara kalian, " Mufti.
" Nah gitu, udah, sekarang kamu jangan terlalu kepikiran, " Firman.
Mufti mulai melukis senyumnya semenjak dari tadi diam dan cemberut.
" Makasih guys," Mufti.
" Sama-sama, " ucap anggota Syubban.
" Anak-anak, ayo kumpul! " teriak Ustadz Mustafa yang sudah terlihat dari kejauhan menyiapkan kepergian mereka berdiri bersama Kyai dan pak sopir.
Para anggota Syubban bersama Mufti segera melangkah bersama-sama menghampiri Ustadz dan Kyai.
__ADS_1
Bersambung....