Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 65. Di Sembunyikan.


__ADS_3

Kebiasaan setelah turun sholat subuh jama'ah adalah mengaji kitab. Mereka semua melaksanakan kegiatan pesantren dengan senang tanpa keluh kesah dengan ustadz-ustadz yang sangat sabar mengajarkan mereka. Setelah mengaji kitab, Azmi dan Aban duduk di bangku depan kamar mereka sudah memakai seragam mereka.


Azmi dan Aban terlihat sangat gembira ,Azmi tertawa menjahili Aban sembari memegang cemilannya yang sudah terbuka dan tangan kiri adalah serbuk kapur yang selalu Azmi ambil setelah pelajaran mengaji kitab . Sesekali Azmi menjahili Aban dan tertawa setelahnya.


" Mi, udah..." keluh Aban yang lelah terus dijahili oleh Azmi dengan jahilnya Azmi yaitu memberi kapur di wajah Aban yang ia hancurkan.


Azmi terus saja tertawa sembari menutupi mulutnya menahan tawanya.


" Iya, maaf mas Aban ganteng. " Azmi sembari membersihkan wajah Aban yang penuh dengan kapur.


" Udah bersih kan?. " Aban menghadap ke arah Azmi.


" Iya, udah ganteng," Azmi memberikan senyum manisnya.


" Paan sih Mi, " Aban dengan ekspresi wajah yang kesal.


" Mau mas, " Azmi memberi cemilannya.


Aban hendak mengambil cemilan itu tapi Azmi menjauhkannya dari Aban.


" Mi, " Sentak Aban.


" Iya, iya, nih, jangan marah mas. " Azmi memberikan cemilannya.Aban mau mengambil cemilan yang Azmi berikan walau Aban masih merasa kesal dengan tingkah Azmi.


" Assalamualaikum. " ucap Ahkam yang baru saja datang.


" Wa'alaikumsalam. " jawab Azmi dan Aban menoleh ke arah Ahkam yang berdiri di depan pintu kamar.


" Kalian dari jauh aku lihat ketawa aja, " Ahkam.


" Bukan aku mas yang ketawa nih, Azmi." Aban.


" Gak sekolah kalian?. " Ahkam.


" Entar lagi mas, belum aja bel. " Azmi.


" Rifki mana Mi?, biasanya dia selalu kesini." Aban.


" Iya, mana ya Iki', " Azmi.


" Masa Rifki terus yang datang ke kalian, kalian juga harus samperin Rifki kan kasihan dia. " Ahkam.


" Benar mas Ahkam, ayo Ban kita samperin Rifki. " Azmi.


" Iya,ayo." Aban.


" Assalamualaikum mas Ahkam. " Azmi.


" Assalamualaikum mas, pergi dulu. " Aban.


" Iya, walaikumsalam. " Ahkam.

__ADS_1


Azmi dan Aban berjalan menuju kamar Rifki. Sedangkan Ahkam masuk ke dalam kamarnya. Sampainya disana terlihat Rifki yang baru saja keluar dari kamar dan hendak pergi.


" Rifki. " Aban.


" Iki' ." Azmi mengikuti Aban meneriaki nama Rifki.Rifki menoleh dan menghampiri Aban dan Azmi.


" Tumben Ki,biasanya pagi-pagi kamu udah datang ke kamar. " Azmi.


" Iya Mi, aku tadi ada urusan bentar. " Rifki.


" Siahh, urusan apa Ki? ," Aban.


"Aku disuruh ngasih makanan sama minuman buat mas Akmal, ini dari ustadz Abdullah katanya mas Akmal makan dan minumnya harus beda dari yang lain, tapi ustadz Abdullah bilangnya aku disuruh gak boleh bilang kayak gitu cuman disuruh kasih aja untuk makannya mas Akmal, nanti siang mas Akmal dikasih beda lagi katanya. " Ucap Rifki panjang lebar kepada Azmi dan Aban.


" Pasti ustadz takut penyakit mas Akmal tertular sama yang lain. " Azmi.


" Iya sih, tapi kasihan mas Akmal, nanti dia mikirnya beda lagi, kalau mas Akmal minder gimana?. " Aban.


" Ya, mau gimana lagi Ban, ustadz-ustadz kan gak mau ada kejadian yang enggak-enggak, mas Akmal pasti bakal ngerti kok. " Azmi.


"Azmi benar, aku juga tau penyakit mas Akmal ." Rifki.


" Emangnya aku sakit apa Ki?." Ucap Akmal yang sedari tadi berdiri di pintu kamar mendengar semua perkataan Azmi,Aban dan Rifki.


Semua kaget dan terdiam mereka semua gugup dan bingung dengan apa yang harus mereka lakukan melihat kondisi mas Akmal yang belum stabil dan perkataan Kyai yang bilang jangan memberitahu ini terlebih dahulu biar Kyai atau ustadz lainnya yang memberitahu .Azmi coba tenang dan tersenyum kepada mas Akmal.


" Gak ada kok mas, emang kita ngomong apa Ki?." Azmi menyenggol Rifki menyuruhnya untuk berbicara.


Aban baru saja ingin bicara tetapi bel sekolah sudah berbunyi dengan sangat keras.


" Nah, bel masuk kelas, kita masuk dulu mas, ayo semuanya, assalamualaikum mas Akmal. " Aban mengajak Azmi dan Rifki masuk kelas.


" Assalamualaikum mas, " Ucap Azmi dan Rifki sembari berjalan ,Azmi memberikan senyumnya dan melambaikan tanganya pada Akmal.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, aneh... Tadi aku dengar mereka nyebut nama aku sama penyakit aku, apa emang aku ini punya penyakit dan mereka semua nyembunyiin hal itu dari aku. " Ucap Akmal berbicara sendiri mencoba memikirkan apa yang sebenarnya. Ali, Firman dan Udin datang dan segera menghampiri Akmal.


" Ayo Mal, bengong aja, ayo. " ajak Ali merangkul Akmal berjalan menuju Madrasah.


Di kelas Akmal menjadi tidak fokus dia terus saja melamun sehingga ustadzah yang mengajar di sana menegur Akmal.


" Akmal, kenapa diam saja?, kamu sakit?. " ustadzah.


" Hah?,iya ustadzah. " Akmal yang kaget .


" Saya minta kamu fokus dalam pelajaran, mengerti. " Ustadzah.


" Iya ustadzah, afwan. " Akmal menunduk.


" Baiklah, kita mulai lagi. " ustadzah.


Ali yang duduk disebalah Akmal merasa khawatir dengan keadaan Akmal.

__ADS_1


Seperti biasa hal yang dilakukan Azmi, Aban dan Rifki ketika istirahat adalah pergi ke kantin. Saat mereka berjalan bersama tiba-tiba nama Azmi dan Aban dipanggil oleh ustadz Ridwan.


" Iya ustadz. " jawab Azmi.


" Ki, kamu makan duluan aja ya, " Aban.


" Iya, iya, sana gih cepetan. " Rifki.


Aban dan Rifki melangkah bersama menghampiri ustadz Ridwan.


" Assalamualaikum ustadz, " Azmi dan Aban.


" Ada apa ustadz?. " Azmi.


" Seperti biasa setelah ujian berakhir, ada perlombaan yang diadakan di pesantren sebelah,ustadz minta kalian yang mewakili, bagaimana?. " ustadz Ridwan.


" Kita?,afwan ustadz, lomba apa?. " Azmi.


" Iya ustadz, bukannya setelah ujian itu liburan ya, " Aban.


" Benar Aban,tapi itu sekolah luar, kalau disini setelah ujian ada perlombaan antar pesantren baru liburan dan nanti ada kemah juga, " ustadz Ridwan.


" Kemah, sama santriputri ya ustadz ,kemahnya dimana ustadz, kapan?." Azmi yang tidak bisa mengontrol dirinya.


Aban menyenggol Azmi.


" Azmi,ingat jaga sikap. " bisik Aban.


" Astaghfirullah, afwan ustadz, " Azmi menunduk.


Ustadz Ridwan tertawa kecil melihat tingkah Azmi.


" Kalian akan ikut lomba, Azmi lomba pidato, Aban seperti biasa lomba tartil.Karena waktunya sudah mepet yaitu 5 hari lagi ustadz minta kalian sepulang sekolah latihan, " ustadz Ridwan.


" Pidato?, ustadz saya gak bisa pidato, yang lain aja ustadz. " Azmi.


" Azmi, sebelum memilih siswa yang tepat untuk lomba, ustadz pasti sudah memikirnya berulang kali dan kamu memang bagus untuk pidato itu." Azmi.


" Benar ustadz, Azmi saja ,dia bagus kok kalau sholawat. " Aban.


" Bagaimana dengan Aban ,siap kan?. " ustadz Ridwan.


" Emmm, Insya Allah, siap ustadz. " Aban dan Azmi yang mengikuti Aban dengan suara perlahan seakan tidak siap.


" Masya Allah bagus, nanti setelah jama'ah duhur ,tadi ustadz lupa kalau pulang sekolah kalian harus sholat jama'ah. " ustadz Ridwan.


" Baik ustadz. " Azmi dan Aban.


Di balik percakapan mereka, Zakir mendengar semuanya dan akan membuat rencana baru untuk Azmi dan Aban.Tidak tau apa yang ada dalam pikirannya yang terlihat dalam wajah Zakir adalah lukisan senyuman licik dan tatapan yang tajam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2