Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 164. Ditatap Ribuan Orang.


__ADS_3

Inilah saat sholawat menggema di kota Probolinggo jawa timur, dimana ribuan orang beramai-ramai datang memenuhi lapangan yang mana sudah disediakan khusus untuk anggota Syubban yang sudah terkenal namanya. Tidak hanya warga probolinggo saja banyak yang datang dari luar kota bahkan luar jawa timur sungguh hal itu membuat tegang anggota Syubban yang sudah bersiap dibawah panggung.


" Rek, aku gak nyongko lo, kalau kita akan dikenal banyak orang kaya gini, " Udin pandangannya sangat tajam lebar menatap ribuan jama'ah yang hadir.


" Sama Din, duh aku gak siap kalau kaya gini," sambung Firman.


" Heh! Cemen banget sih, kalian. Kita harus semangat apalagi kita sekarang tim kita sudah punya chanel dan produser musik. Kita gak boleh ngecewain semua orang, oke!" Ali.


" Insya Allah deh, " Firman seakan ia ragu dengan dirinya sendiri.


" Lemas banget koe, Man. Semangat! Allahuma shalli 'ala muhammad!" seru Udin.


" Allahuma shalli 'alaih," ucap Firman yang masih nada pelan, Ali dan juga Azmi yang mendengar seruan Udin.


" Mi, jantungku deg-deg banget, nih. Kita bisa gak, ya? " Aban ia terlihat sangat gerogi dan tiba-tiba Aban menaruh tangan Azmi pada dadanya.


" Tuh, kan Mi. Kayanya aku gak ikutan dah, jantungku kaya mau copot, " Aban.


" Hushh, jangan bilang kaya gitu, Ban. Kamu gak ingat katanya mas Syafiq apapun yang terjadi kita harus kompak dan tetap melantunkan sholawat, lawan rasa gerogi, Ban. " Azmi.


" Kamu gak lihat apa, Mi? Tuh, banyak banget jama'ahnya. Menuhin lapangan ini, biasanya yang nonton kita cuma satu Masjjd gak sampai ribuan kaya gini, " Aban.


" Kamu jangan pesimis dulu, Ban. Anggap aja kita latihan kaya biasanya, gak ada yang nonton. Kamu harus ingat Ban, Syubban yang sekarang sudah beda sama yang dulu dan kita harus menunjukkan penampilan kita yang terbaik, ini kan mimpi kita, Ban. Kamu harus semangat, kan kamu gak sendiri ada aku, mas Ahkam dan anggota Syubban, kita harus jalanin ini bareng-bareng dan tetap kompak, oke?" Azmi ia menangkan Aban yang sangat gerogi dan ketakutan melihat banyaknya jama'ah.


Aban masih terdiam membisu dengan keringat dingin yang keluar dari wajahnya. Melihat sahabatnya yang sangat gerogi, Azmi mengelap keringat di wajah Aban dengan tangannya sendiri.


" Wes, bismillah, Ban. Yang terpenting terus sholawat dengan baik, " Azmi.


Aban menarik nafasnya dan mengeluarkannya keras, tatapannya sangat dalam kepada Azmi yang tersenyum kepadanya.


" Bismillah, makasih Mi, kamu udah buat aku agak tenang. Hufttt, aku emang gak pernah ngerasain apa yang aku rasa saat ini," Aban menepuk pundak kiri Azmi sebagai tanda terimakasihnya kepada Azmi yang selalu bisa menangkan hatinya

__ADS_1


" Siap bos, tenang aja, bismillah, cuma orang kok, gak bakal gigit, " Azmi becanda mencarikan suasana yang sedari tadi tegang.


" Sa'ae kamu Mi, " Aban tertawa kecil.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " suara Hafsah sangat keras dan menggema terdengar oleh semua orang yang ada disana.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." suara jama'ah sangat menggema membuat semua anggota Syubban berdiri tegak mempersiapkan diri.


" Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi kita kesehatan dan mempertemukan kita pada malam yang sangat meriah ini, " Hafsah selesai dialognya ia menoleh ke arah Hamdi yang juga menjadi Mc menemani Hafsah.


" Iya, hari gema sholawat pada hari ini akan kita meriahkan dengan, wah, saya yakin kalian udah gak asing lagi dengan nama ini, " Hamdi berhenti sejenak memberi senyuman ke arah jama'ah.


" Gus Azmi!!!" teriakan jama'ah kaum hawa terdengar histeris menyebut-nyebut nama Azmi berulang kali dan Azmi hanya bisa diam sesekali tersenyum dan menunduk.


" Nama Azmi terus yang disebut, nama aku kok enggak, ya? " Muhklis.


" Kamu kurang ganteng Klis, " jawab Ahkam.


" Langsung aja ya, kita panggil Syubbanul Muslimin, silakan, " Hafsah ia bersama Hamdi turun setelah menyelesaikan tugas mereka.


Giliran para anggota Syubbanul Muslimin yang maju satu-persatu ke atas panggung. Tatapan ribuan orang mengarah kepada mereka dan suasana mulai semakin meriah.


Para vocal mulai menyiapkan diri mereka duduk ditengah-tengah tim hadroh dengan mikrofon yang sudah mereka pegang erat.


Histerisnya kaum hawa yang terus meneriaki nama Azmi, Ahkam ataupun Aban membuat mereka sesekali tersenyum dan menundukkan kepala mereka untuk tetap menjaga pandangan.


Azmi sempat menatap Ahkam berbicara sesuatu dan kembali menghadap ke depan bersiap dengan mikrofon yang sudah ia tempatkan pada mulutnya.


" Allahumma shalli ala' muhammad ya rabbi shalli ala'hi wasallam, " suara Azmi begitu adem membuat para jama'ah wanita berteriak histeris sejadi-jadinya kembali menyebut nama Azmi.


" Allahuma shalli ala' muhammad ya rabbi shalli ala'hi wasallam, " Ahkam dan Aban bersamaan.

__ADS_1


Tek dung dung tek...


Tim hadroh menebuh rebana mereka secara beriringan dan mulailah para vocal melantunkan lagu sholawat mereka yang berjudul cinta dalam istikhroh. Tidak sedikit jama'ah yang mengikuti alunan sholawat dengan sangat semangat mereka sudah tidak asing lagi dengan lagu itu.


Kyai, Ustadz Mustafa, Syafiq, Hamdi, Hafsah dan Mufti tidak bisa berkata-kata lagi dengan penampilan tim Syubban yang tetap tenang dan kompak walau ini pertama kali mereka tampil di ribuan orang seperti ini.


" Ngelihatinnya gitu banget, lo. Kaya gak pernah ngelihat mereka tampil aja, " Mufti yang berdiri disebelah Hafsah.


" Apaan, sih? Ganggu aja kamu, emang penampilan mereka bagus kaliii, " Hafsah.


" Gue akuin penampilan mereka lumayan, mereka kompak banget, ya. Walau penontonnya banyak banget kaya gini," Mufti.


" Hmm, dari awal aku emang suka banget sama mereka, semoga mereka bisa tetap kaya gini," Hafsah ia terus menyematkan senyumnya dan tatapan matanya sangat dalam kepada Mufti hal itu membuat Mufti tercengang setelah beberapa saat ia berdehem memalingkan wajahnya.


" Duh, gue kenapa, sih? kok deg-degan gini lihat senyuman nih cewek, " ucap Mufti dalam hatinya mulai gugup menatap Hafsah yang terus berseri wajahnya.


Kali ini Syubban membawakan tiga lagu yang sudah disiapkan dari jauh hari bersama-sama mereka bekerja sama membuat lagu itu dengan bantuan Syafiq yang sudah sangat ahli.


" Ini lagu ketiga kami dan akan menjadi sholawat terakhir malam ini, " Ahkam.


Tepukan dan sorakan semakin menyambut tim Syubban, semangat tim hadroh tidak putus mereka terus menabuh rebana mereka walau tangan mereka sudah memerah.


Suara Azmi, Ahkam dan Aban juga tetap indah dan enak didengar memeriahkan malam ini. Gema sholawat terus berkumandang baik dari luar daerah masih bisa melihat tim Syubban berhsolawat dengan Hamdi yang sedari tadi sibuk merekam mereka.


Aisyah yang sedang memainkan handphonenya seketika terkejut melihat tim Syubban yang semakin dikenal banyak orang. Ia langsung mematikan handphonenya dan melihat foto Kakaknya yang berada meja belajarnya.


" Kenapa mereka bisa kaya gini? Setiap aku dengar mereka sholawat, hatiku makin sakit karena ingat Kak Akmal!" Aisyah air matanya tiba-tiba jatuh.


Aisyah memeluk erat foto Kakaknya sembari menangis ia sungguh tidak suka dengan terkenalnya Azmi atau tim Syubban.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2