Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 56. Semua Khawatir.


__ADS_3

" Emang lo mau ngapain?. " tanya teman Mufti.


"Udahlah, lo ikutin aja gue, yuk cabut. " Mufti pergi begitu saja, temannya juga mengikuti langkah Mufti pergi dan memandang para anggota Syubban dengan tatapan tajam sebelum ia melangkah pergi.


Selesailah sholawat mereka, ustadz Mustafa merasa senang dan terus tersenyum.


" Baik, kalian semakin kompak, terus pertahankan ini dan jangan sekali-kali kalian berputus asa untuk berlatih,mengerti." ustadz Mustafa.


" Mengerti ustadz. " jawab semua anggota Syubban.


" Iya ustadz, saya pasti akan ingat pesan ustadz untuk melantunkan sholawat dengan tenang dan tidak terburu-buru. " Azmi.


" Bagus Azmi, ustadz bangga sama kamu." ustadz Mustafa.


" Terimakasih ustadz. " Azmi.


Sedangkan, Akmal kembali merasakan sesak di dadanya.Akmal merasa sangat sakit dam coba menahan rasa sakitnya dengan memegang dadanya.


" Mas Akmal, kenapa mas?. " Aban yang berada disamping Akmal.


" Enggak kok Ban, gak papa. " Akmal dengan suara yang kecil karena menahan rasa sakitnya.


Allahu Akbar.... Allahu Akbar...


Adzan ashar terdengar, para anggota Syubban terdiam dan khusyuk menjawab adzan dan berdoa setelah adzan.


"Baiklah ustadz pulang, kalian segera wudhu ." ustadz Mustafa.


" Iya ustadz. " jawab para anggota Syubban.


Satu persatu dari mereka menyalam tangan ustadz Mustafa sembari mengucap salam dan pergi masuk ke pesantren


Sedangkan Akmal dan Ahkam menyalam ustadz terakhir.


" Akmal, Ahkam, gimana rebana dan jidurnya kalian sudah beli yang baru?.ustadz Mustafa.


" Belum ustadz, rencananya besok saya sama Akmal belinya. " Ahkam.


" Baiklah kalau begitu, jangan sampai tidak beli ya, kasihan para penabuh rebana dan yang mukul jidur ,kerena udah mau rusak alatnya. " ustadz Mustafa.


" Baik ustadz. " Ahkam.


Sedangkan Akmal hanya diam.


" Akmal, kamu kenapa?. " ustadz Mustafa yang melihat Akmal hanya diam.


" Saya tidak apa-apa ustadz, saya pamit dulu ustadz,saya mau ke kamar mandi." Akmal.


" Iya Akmal, silahkan, " ustadz Mustafa.


" Assalamualaikum ustadz, " ucap Akmal menyalam tangan ustadz dan pergi dengan terburu-buru .


" Ustadz saya juga mau masuk dulu. " Ahkam.


" Iya Ahkam. " ustadz.


" Assalamualaikum ustadz. " Ahkam menyalam tangan ustadz dan pergi masuk pesantren.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. " ustadz Mustafa, ia melangkah masuk ke pesantren untuk mengambil motornya dan pamit pulang.

__ADS_1


Sedangkan Akmal terus berlari memegang hidungnya yang sudah mulai mengeluarkan darah. Karena terburu-buru dan lemas Akmal tidak sengaja menabrak Azmi yang baru saja selesai wudhu.


" Mas Akmal." Azmi yang kaget dengan kedatangan Akmal yang menabrak dirinya.


" Maaf Mi, " ucap Akmal melanjutkan langkahnya.


" Mas Akmal kenapa Mi?. " tanya Aban yang berdiri disamping Azmi.


" Gak tau Ban, dia buru-buru banget. " Azmi.


" Kenapa ya?,mas Akmal juga nutupin hidungnya. " Aban.


" Aku jadi khawatir sama mas Akmal, kayaknya ada yang dia sembunyiin deh Ban. " Azmi dengan wajah khawatir.


" Aku juga mikir gitu Mi, " Aban.


" Ya udah Ban,kita ke kamar yuk." Azmi.


" Ayo Mi, " Aban.


Azmi dan Aban kembali melangkah menuju kamar mereka.


Sedangkan Akmal membersihkan darah yang keluar dari hidungnya hingga bersih ,ia juga berwudhu dan keluar dari kamar mandi. Tanpa ia tau darah masih sedikit mengalir dari hidungnya.Rifki yang hendak ke kamar mandi melihat Akmal yang berpapasan dengannya.


" Mas Akmal, hidungnya mas berdarah. " ucap Rifki menghentikan langkah Akmal yang berada di hadapannya.


Mendengar itu Akmal segera menutup hidungnya.


" Mas Akmal kenapa?, aku lapor ke ustadz ya, biar mas Akmal di bawa ke rumah sakit. " Rifki.


" Eh, gak usah Ki, aku... Aku gak papa kok,ini cuman.... Cuman mimisan, iya cuman mimisan Ki," ucap Akmal dengan terbata-bata untuk memikirkan alasan yang tepat.


" Masa sih, enggak kok Ki, aku gak papa, kamu jangan bilang ini ke semua orang, kamu ngerti kan Ki, " Akmal.


" Tapi kenapa mas?. " tanya Rifki bingung.


" Pokoknya kamu turutin aja mas, oke, ini udah biasa kok. " Akmal.


" Ya udah mas, tapi kalau mas sampai sakit serius ,aku akan bilang ini ke ustadz. " Rifki.


" Iya, lagian aku gak sakit kok, udah Ki, aku mau wudhu lagi,assalamualaikum." Akmal menepuk pundak Rifki dan pergi ketempat wudhu untuk membersihkan darah yang masih keluar dari hidungnya dan mengulang wudhunya.


" Wa'alaikumsalam, mas Akmal kenapa ya?. " ucap Rifki yang masih bingung dan mengkhawatirkan keadaan Akmal.


...***********************...


Langit berwarna merah, jam menunjukkan pukul 06.00 sore dan sebentar lagi masuk waktu maghrib. Ahkam dan Muhklis duduk bersama di kasur Ahkam sembari membicarakan sesuatu, Ahkam dan Muhklis terlihat sangat segar mereka sangat serius berbincang hingga akhirnya Azmi dan Aban yang baru selesai mandi datang dengan handuk yang mereka selempangkan di pundak mereka dan gayung yang berisi sabun dan sikat gigi. Azmi membuka pintu dengan keras.


" Assalamualaikum, " ucap Azmi begitu semangat sedangkan Aban biasa saja.


Mendengar suara Azmi yang keras membuat Ahkam dan Muhklis yang sangat serius berbincang sangat kaget.


" Mi, jek dek'yeh rah(jangan gitu lah),kaget aku Mi." Ahkam yang sangat kaget.


" Maaf mas Ahkam, bang Muhklis," Azmi sembari menahan tawa melihat ekspresi Ahkam dan Muhklis yang lucu dan melangkah menuju kasurnya.


" Mas, salamnya belum dijawab. "Aban yang juga melangkah menuju kasurnya.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabatakatuh. " Ahkam dan Muhklis bersamaan.

__ADS_1


" Mas Ahkam sama bang Muhklis ngomongin apa sih?, serius banget. " Azmi.


" Bukan urusan kamu," Ahkam.


" Iya, anak kecil belum boleh. " Muhklis.


" Ban, ada yang..Ehem.... " Azmi kepada Aban dan berdehem memandang Ahkam dan Muhklis.


" Opo toh Mi?. " Ahkam.


" Kalian udah mau nikah, mas, bang?. " Aban.


Azmi tertawa kecil mendengar ucapan Aban yang mengatakan itu dengan wajahnya yang polos.


" Heh, gak Ban, kamu jangan ketularan sama Azmi. " Ahkam.


" Kenapa aku mas?," Azmi.


" Udah lah sana siap-siap ke Masjid entar lagi maghrib. " Azmi.


" Oke, calon... " Azmi.


"Calon apa Mi?," Aban.


" Mi, oooo... Mareh ko ben (awas kamu Mi)." Ahkam yang mulai kesal dengan tingkah Azmi yang mengolok-ngoloknya.


" Udah Kam,tahan emosi. " Muhklis.


" Benar tuh bang Muhklis. " Azmi yang mulai menyisir rambutnya dan bersiap pergi ke Masjid.


Begitu juga dengan Aban yang mulai bersiap untuk pergi ke Masjid. Sedangkan Ahkam dan Muhklis yang sudah siap hanya memandangi mereka.


" Mas, bang, jangan lihatin aku kayak gitu." Azmi.


" Siapa yang lihatin kamu?,aku lihatin Aban kok. " Ahkam.


" Iya, iya. " Azmi yang terus tersenyum.


" assalamualaikum, mas Ahkam, adzan mas. " Rifki yang datang dan berdiri di depam pintu.


" Wa'alaikumsalam. " jawab Azmi,Aban dan Muhklis.


" Kok aku lagi,sekarang gilirnya Akmal Ki, " Ahkam.


" Kata mas Akmal ,dadanya sesak, jadi mas yang disuruh. " Rifki.


" Mas Akmal kenapa Ki?." ucap Azmi membalikkan dirinya ke arah Rifki.


" Aku juga gak tau, dia bilang, dia gak kuat buat adzan. " Rifki.


" Ya udah, aku adzan dulu, assalamualaikum. " Ahkam yang bergegas memasang pecinya dan melangkah menuju Masjid.


" Wa'alaikumsalam. " jawab semuanya.


" Sebenarnya Akmal, kenapa ya?. " Muhklis yang ikut beridiri disamping Azmi.


Semuanya terdiam dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2