
Matahari sudah memberikan cahaya paginya. Para santri beramai-ramai turun dari Masjid. Saat Akmal melangkah menuju kamarnya, Zakir datang dan menghadang Akmal.
"Mas Akmal nih,"ucap Zakir memberi sejumlah uang berwarna merah tepat diwajah Akmal.
Akmal terdiam dengan wajah datar dan masih ragu menerima uang dari Zakir.
"Mas ini, "ucap Zakir sekali lagi. Akmal masih saja diam hingga akhirnya Zakir meletakkan uang itu di tangan Akmal.
"Udah lah mas terima aja, aku janji gak bakal ada yang tau tentang ini."Zakir dengan senyum liciknya.
"Makasih Kir."ucap Akmal memalingkan wajahnya.
"Iya,aku juga berterimakasih lo sama mas. Karena udah bikin Azmi babak belur. "Zakir.
Akmal hanya bisa terdiam.
"Ya sudah, sekarang mas gak usah pusing lagi mikirin uang. Kalau kurang bilang aja sama Zakir, asal mas mau ikutin apa yang aku mau. "Zakir sembari menatap Akmal dan menaikkan kedua alisnya sebanyak dua kali.
Akmal hanya mengangguk pelan hingga teman-teman Akmal datang dan meneriaki namanya.
"Ya udah mas, aku pergi dulu.Assalammualaikum."Zakir.
"Wa'alaikumsalam. "Akmal.
Teman-teman Akmal segera menghampiri Akmal yang terdiam dan dengan cepat menaruh uang yang diberikan Zakir di kantong celananya.
"Akmal ,ngapain sama Zakir?."tanya Ali memasang wajah curiga.
"Hah?. Enggak kok, gak ngapain. Tadi cuman kebetulan aja ketemu. "ucap Akmal sedikit terbata-bata.
"Owhh... Gitu. "Ali seakan masih belum yakin.
"Kita ke kelas yuk ,udah mau masuk nih."Firman.
"Iyo betul, ayo cepetan."Udin .
Semua mengangguk dan melangkah pergi.
Pelajaran mengaji kitab sesuai kelas masing-masing sudah selesai. Azmi,Aban ,dan Rifki jalan bersama menuju kamar mereka. Di tengah perjalanan banyak santri yang membicarakan Azmi.
"Masa luka Azmi diobatin sama Kyai,dasar gak punya sopan santun tuh si Azmi."santri 1.
"Iya, buat laporan kalau ada yang mukulin dia lagi, aku yakin kalau dia itu emang sengaja berantem. "santri 2.
Azmi terdiam mendengarkan perkataan mereka .Aban dan Rifki saling pandang .
"Azmi, udah gak usah didengerin."ucap Aban memegang pundak Azmi.
"Iya, mending siap-siap buat sekolah,ayo Mi, "Rifki menambahkan.
Azmi tersenyum dan mengangguk mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di kamar, Azmi dan Aban mengucap salam dan dijawab oleh Ahkam dan Muhklis. Azmi duduk melamun dan melepas pecinya.
"Azmi, kenapa?. "tanya Muhklis yang duduk dikasurnya.
Azmi hanya menggelengkan kepalanya.
"Masih sakit Mi, lukanya. "Ahkam.
"Enggak kok mas. "jawab Azmi.
Aban yang mengerti dengan keadaan sahabatnya itu segera menghampiri Azmi dan duduk disampingnya sembari merangkul Azmi yang lemas dan tidak bersemangat.
__ADS_1
"Udah Mi, kamu gak usah dengerin mereka. Paling juga mereka iri sama kegantengan kamu. "Aban.
Azmi menoleh ke arah Aban.
"Aku yakin Ban, kalau Zakir itu tau siapa yang mukulin aku.Soalnya kan dia yang nyuruh aku ke belakang gedung. "Azmi.
Seketika Aban terdiam sembari menganggukkan kepalanya. Ahkam yang mendengar segera menghampiri Azmi dan Aban.
"Beneran Mi, dia yang nyuruh kamu pergi ke belakang gedung. "Ahkam.
"Iya ,mas. "Azmi.
"Wah, bukti nyata nih."Muhklis.
"Kamu kenapa gak bilang Ban, waktu itu ke ustadz Abdullah."Ahkam.
"Nah, itu aku mau bilang tapi mas Ahkam aja yang gak bolehin, ingat gak."Aban.
Ahkam mulai mengingat bahwa ia menyuruh agar Aban tidak seudzon kepada Zakir. Seketika Ahkam tertawa kecil setelah mengingatnya.
"Udah lah, biarin aja mas."Azmi.
"Biarin.Ya gak bisa Azmi, orang itu harus dihukum."Muhklis.
Aban melihat jam dinding yang menunjukkan hampir pukul 7.
"Mi, ayo kita belum ganti seragam nih."Aban.
Azmi mendongak ke arah jarum jam.
"Iya, ayo Ban."ajak Azmi.
Mereka bergegas pergi untuk mengganti seragam mereka. Sebelum mereka pergi tidak lupa mengucap salam pada Ahkam dan Muhklis. Merekapun menjawab salam dari Azmi dan Aban.
"Apa mungkin....."Muhklis terlihat berpikir memegangi dagunya.
"Apa mungkin... Siapa Klis?."Ahkam.
"Ah, aku gak mau fitnah dulu. Gini aja kita bantuin Azmi buat cari kebenaran, oke Kam."Muhklis.
"Iya ,kalau itu sih aku emang udah mikirin Klis."Ahkam.
Mereka mengangguk secara bersamaan.
Di sekolah.....
Di tengah-tengah pembahasan pelajaran ustadz Ridwan mengumumkan sesuatu pada semua siswanya.
"Anak-anak, karena sebentar lagi Maulid Nabi, para ustadz dan ustadzah telah berencana untuk mengadakan lomba....
"Di pilih ustadz?."tanya Zakir memotong pembicaraan ustadz.
"Sebentar ya, untuk lomba nanti ada bermacam-macam lomba dan kalian bisa mencalonkan diri kalian. Ustadz harap kalian semua bisa berpartisipasi dalam lomba ini. "ustadz Ridwan.
"Baik ustadz. "semua siswa.
Bel istirahat berbunyi keras..
Ustadz membolehkan para siswa istirahat. Beramai-ramai mereka pergi ke Aula untuk melihat daftar lomba di papan pengumuman. Azmi, Aban, dan juga Rifki bersama-sama pergi ke Aula. Terlihat sudah banyak santri yang ingin melihat.
"Ramai banget. "Rifki.
"Iya,"Aban.
__ADS_1
"Ya udah kita terobos aja, berani gak."Azmi sembari memandang keramaian itu.
Aban dan Rifki dengan kompak memandang Azmi. Azmi menoleh ke arah mereka berdua sembari tersenyum. Dan akhirnya mereka mulai menerobos keramaian itu.
Azmi melihat daftar lomba yang cocok untuknya begitu juga dengan Rifki dan Aban.
"Udah nemu belum. "ucap Azmi yang terjepit.
"Udah, yuk."Aban.
"Ki,udah nemu kan. "Rifki.
"Udah Mi, kita keluar yuk ,gak kuat nih."Rifki.
Mereka pergi bersama menerobos keramaian itu.
"Akhirnya, "Azmi mengatur nafasnya dan membungkukkan tubuhnya.
"Mending ngomong dikantin yuk."Rifki.
"Ayo,perut aku udah bunyi nih. "Aban.
Azmi menganggukkan kepalanya.
Mereka duduk bersama dikantin setelah memesan makan dan minum mereka.
Aban memandang Azmi dan Rifki yang asyik makan dan minum dengan lahap.
"Mi, Ki,kalian ikut apa?."tanya Aban yang belum menyendok makanannya.
"Kalau aku ikut kaligrafi Ban. "ucap Rifki setelah menelan makanannya.
"Aku sih ikut Adzan Ban, kamu ikut apa?."ucap Azmi setelah meneguk minumnya.
"Aku masih ragu sih, aku ikut tartil Mi,"Aban.
"Ngapain ragu, kamu kalau ngaji itu bagus kok, makhrajnya,panjang pendeknya, udah Ban ,gak usah ragu."Azmi.
"Iya Ban, semangat!!.Menang kalah itu soal biasa. "Rifki.
"Benar kata Rifki, mending kamu makan dulu."Azmi.
Aban tersenyum mendengar perkataan kedua sahabatnya.
"Ya udah."Aban.
Sepulang sekolah Azmi,Rifki dan Aban berjalan bersama pergi mendaftar nama mereka untuk perlombaan.
Zakir dan ketiga temannya yang melihat Azmi segera menghampirinya.
"Hai Azmi,kamu ikut lomba apa?. "tanya Zakir.
"Aku ikut....
"Kepo kamu Ki,lihat aja nanti. "Aban memotong pembicaraan Azmi.
"Kan aku cuman nanya, masa gak boleh."Zakir.
"Gak boleh, entar kamu ngerjain Azmi lagi."Rifki.
"Hah?. Kalian udah tau kalau Zakir nyuruh...."Sihin yang hampir keceplosan berbicara,Zakir segera menutup mulut Sihin dengan erat saat tau apa yang akan keluar dari mulut Sihin.
Bersambung......
__ADS_1