Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 54. Ajakan Azmi kepada Sihin.


__ADS_3

Azmi terbangun dan duduk, ia mengusap wajahnya beberapa kali dan menenangkan dirinya sebentar.Azmi mulai menjatuhkan satu kaki dari kasurnya dan menjatuhkan kaki yang satunya. Mulailah Azmi melangkah menuju luar kamar sembari memasang pecinya. Aban terbangun melihat Azmi yang ingin membuka pintu.


" Mi, kamu mau kemana?. " tanya Aban,terdengar suaranya masih serak karena baru bangun.


" Tenggorokanku sakit Ban, aku mau ke dapur." Azmi dengan suara yang serak tetapi karena benar-benar Azmi merasa sakit tenggorokan.


" Ayo Mi, aku anterin. " Aban.


" Iya Ban. " Azmi.


Aban mulai bangun dan melangkah menghampiri Azmi. Mereka mulai berjalan menuju dapur walau mata mereka masih merah dan mata mereka setengah terpejam.Sampainya di dapur Azmi segera minum terlihat Azmi kehausan dan minum dengan banyak hingga ia bersendawa.


" Alhamdulillah, kamu mau minum juga Ban. " Azmi memberi gelasnya.


" Iya Mi, " Aban, ia juga mulai minum.


" Sudah Mi, ayo, ini masih jam setengah 1,aku masih ngantuk. " ucap Aban menahan rasa kantuknya dan memandang jam dinding yang ada disana.


" Iya, kita tidur sebentar lagi, ayo. " Azmi, mereka berjalan hendak ke kamar mereka.


Bruak....


Terdengar suara benda jatuh, Azmi dan Aban yang mengantuk menjadi kaget.


" Siapa tuh?." Azmi berteriak.


Tiba-tiba ada suara langkah orang yang sedang berjalan dan suara orang nengatur nafasnya orang itu juga batuk beberapa kali, Azmi dan Aban memutuskan untuk menghampirinya hingga ke arah kamar lain yaitu dekat kamar Akmal. Dan benar saja Akmal terlihat lemas dan mengeluarkan banyak darah dari hidung dan mulutnya tetapi Azmi dan Aban tidak melihatnya.


" Azmi sama Aban, mereka gak boleh tau keadaan ku yang kayak gini, aku harus cepat ke kamar ku. " ucap Akmal melangkah perlahan menuju kamarnya sembari menutup mulutnya yang terus mengeluarkan darah.


" Udah Mi, gak ada apa-apa, kita kekamar yuk," Aban.


" Iya Ban,gak ada orang. " Azmi, mereka kembali melanjutkan langkah mereka menuju kamar mereka.


Sedangkan Akmal kembali membuka pintu kamarnya dan duduk di bangku dekat kamarnya sembari membersihkan darah di hidung dan mulutnya dengan tisu.


" Ya Allah, sebenarnya hamba sakit apa?,kenapa paru-paru hamba selalu sakit?, dan sekarang hidung dan mulut hamba mengeluarkan darah, hamba mohon sembuhkan hamba Ya Allah dan jika hamba meninggal, hamba hanya ingin menyebut namamu dan bersholawat untuk terakhir kalinya. " ucap Akmal sembari menahan rasa sakit memegangi dadanya. Wajah Akmal begitu pucat, ia telah menyembunyikan penyakitnya yang baru ia rasakan dari seminggu yang lalu.


...*****************************`...


Selesai mengaji kitab yang selalu dilaksanakan setelah sholat subuh Azmi, Aban dan Rifki duduk bersama dan sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dengan Aban yang duduk ditengah sedangkan, Rifki hanya melamun dengan pandangan kosong. Azmi dan Aban mulai merencanakan sesuatu untuk Rifki.


" Ki, " Azmi,Rifki menoleh dan Azmi dengan jahilnya memberi kapur diwajah Rifki yang sedari tadi ia hancurkan menjadi bubuk.


" Azmi, gak ada kerjaan banget sih. " Rifki dengan wajah kesal sembari menghapus kapur diwajahnya.

__ADS_1


" Habis kamu dari tadi bengong, aku sama Aban gak dihirauin." Azmi sembari tertawa.


" Tenang Ki,kamu tambah ganteng kok. " Aban yang juga tertawa.


" Mi, kamu dapat kapur darimana?. " Rifki.


" Ngambil tadi pas ngaji kitab." Azmi dengan wajah lugunya.


" Azmi, gak ada kerjaan banget sih kamu, entar ketahuan ustadz gimana?. " protes Aban.


" Iya tuh Mi, " Rifki.


" Ya enggak lah, ini aku dapat di meja ku tadi. " Azmi.


" Apaan sih Mi,gak lucu. " Rifki.


" Jangan marah dong Iki," canda Azmi.


" Heh, kalian kenapa sih?, ribut aja dari tadi." Ahkam yang melihat mereka.


"Mas Ahkam, Rifki ganteng kan. " ucap Azmi menolehkan kepala Rifki ke arah Ahkam.


" Mas masih ada ya, kapurnya." ucap Rifki sembari mengusap-ngusap wajahnya.


" Eh beneran kan, Ban. " Rifki kepada Aban.


" Iya Ki, udah gak ada kok. " Aban.


Bel masuk sekolah berbunyi dengan sangat keras.


" Ayo masuk kelas. " Azmi.


" Ayo, mas Ahkam kita sekolah dulu, assalamualaikum. " Aban ,begitu Juga dengan Azmi dan Rifki yang mengucap salam kepada Ahkam sebelum mereka pergi ke sekolah.


" Wa'alaikumsalam,hmmm ,ada-ada aja Azmi. " ucap Ahkam menghela nafasnya sembari tertawa kecil dan masuk ke kamarnya.


Pelajaran sekolah dimulai, para santri yang masih bersekolah dengan semangat pergi ke Madrasah mereka dan belajar dengan giat hingga pelajaran selesai.


Ketika istirahat tiba, Azmi, Aban dan Rifki berjalan bersama hendak pergi ke kantin selama perjalanan menuju kantin Azmi masih saja mengganggu Rifki yang masih kesal dengan Azmi.


" Udah Mi, Ki, jangan bercanda terus. " Aban yang lelah melihat kelakuan mereka.


" Ini Ban, Rifki, masa gitu aja marah sama aku. " ucap Azmi berlindung di belakang Aban menghindari Rifki yang hendak memukulnya.


" Ban, awas Ban, aku marah banget sama ni anak. " Rifki dengan kesalnya.

__ADS_1


" Ampun Ki, " ucap Azmi sembari menunjukkan ekspresi lucunya.


" Udah-udah, ayo ke kantin." Aban.


" Ayo Ban. " Azmi menarik tangan Aban dan berlari dari Rifki.


" Eh Mi, awas kamu. " Rifki dengan sangat kesal dan mengejar Azmi.


Azmi dan Aban duduk di kantin dan sudah memesan makanan mereka dan bersiap untuk makan. Rifki datang dan duduk disamping Aban dengan wajah cemberut memakan makanan yang ia bawa.


" Eh Ban, kamu jangan marah terus entar cepat tua. " Azmi sembari tersenyum memandang Rifki.


" Kamu tuh Mi, yang buat aku marah. " Rifki.


" Ih, siapa yang ngomong sama kamu, aku ngomong sama Aban kok. " ucap Azmi menahan tawanya begitu juga Aban yang sedari tadi tertawa kecil.


Tiba-tiba Sihin datang menarik tangan Azmi.


" Eh apaan sih, main tarik tangan. " ucap Azmi kepada Sihin.


"Kamu di panggil sama Zakir. " Sihin.


" Emang ada apa sih Hin?, kenapa gak langsung dia aja yang kesini?. " Aban.


" Ya, aku gak tau lah, ayo ikut Mi, " Sihin semakin memaksa Azmi.


"Apaan sih, main maksa Azmi buat ikut, suruh Zakir kesini. " sentak Rifki yang sangat kesal.


"Hin, aku bilangin ya,sama kamu,kamu jangan mau disuruh -suruh Zakir,kamu harus bisa ngebela diri kamu dan nolak semua perintah Zakir. " Azmi melepaskan tangannya dari Sihin dan memegang kedua pundak Sihin.


"Benar kata Azmi Hin,ayo ,mending kamu makan sama kita. " ajak Aban.


Sihin memandang Azmi yang tersenyum berada tepat dihadapannya dan masih dengan kedua tangan yang Azmi letakkan di tangan Sihin.


" Ayo Hin,kamu makan aja sama kita jangan malu-malu. " Rifki.


Sedangkan Zakir dan Helmi yang melihat dari kejauhan menjadi kesal dan sangat marah, apalagi Zakir yang menatap Azmi tajam.


" Gawat Kir, kalau Sihin mau jadi teman Azmi, gimana?. "Helmi dengan wajah khawatir.


" Gak, Sihin gak bakal ngelakuin hal sebodoh itu, dan kalau dia berani nerima pertemanan dari Azmi, lihat aja Hin, apa yang akan aku lakuin ke kamu." ucap Zakir dengan sangat licik.


Sedangkan Sihin merasa bingung dan berpikir, ia masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan,Sihin melepas tangan Azmi dari pundaknya.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2