
" Aku juga gak tau kenapa ada orang yang malah melakukan hal serendah itu di hari yang suci ini." jawab Azmi.
" Kalau gitu kamu hubungi orangtua kamu, pasti mereka khawatir banget sama kamu." Aisyah.
Azmi mengangguk ia membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah dimana mobil itu berhenti karena Azmi meninggalkan handphonenya disana.
Aisyah sempat terdiam ia seperti tengah memikirkan sesuatu dengan wajah datar. Azmi yang sadar akan hal itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Aisyah.
" Aisyah, ayo." ajak Azmi membuat Aisyah mengangkat kepalanya ia sempat terkejut dan barulah ia mengangguk ikut melangkah dibelakang Azmi.
Ketiga penjahat itu akhirnya berhasil kabur dari kejaran warga mereka sangatlah beruntung karena lari mereka lebih kencang dari pada para warga.
Mereka semua terhenti untuk beristirahat dan membuka topeng mereka.
" Untung aja kita bisa lolos dari para warga itu, kalau enggak bisa habis kita." penjahat 1.
" Iya, sebaiknya kita telepon aja anak itu bilang aja yang sebenarnya." penjahat 2.
Salah seorang penjahat mulai menelpon Zakir yang sudah berada dirumahnya bersantai di sofa lembutnya sambil menikmati berbagai cemilan yang terpampang di hadapannya.
Zakir melihat panggilan masuk dari handphonenya ia melihat keadaan terlebih dahulu dan barulah ia berani mengangkat telepon itu pada sudut rumahnya yang sepi.
" Halo, gimana? Kalian berhasil, kan buat Azmi babak belur?" tanya Zakir tanpa merasa bersalah sedikitpun.
" Boro-boro, mukul dia satu kali aja gak sempat. Karena ada cewek yang berhasil nolongin dia." jawab penjahat itu.
" Arghhhh! Kalian gimana, sih? Gak becus banget kerja."Zakir.
" Heh, bocah! Lo jangan main-main sama kami, kami tau kami itu miskin dan mau ngambil pekerjaan jahat itu karena memang butuh duit tapi ingat kami adalah sekelompok geng motor yang sadis! Jadi, jangan pernah ngeremehin ataupun ngerendahin kami! " bentak penjahat itu balik pada Zakir.
__ADS_1
Dimas tidak sengaja melihat Zakir yang sembunyi-sembunyi menerima telepon karena ia sangat curiga, Dimas melangkah perlahan untuk mendekati Zakir agar bisa menguping apa yang dibicarakan Zakir.
"Ceileh, gitu aja sombong! Udah, udah gak becus kalian semua. Geng motor apaan? Ingat, kita gak ada urusan lagi, kecewa aku sama kalian semua, daa!" ucap Zakir yang sama sekali tidak takut ataupun gentar kepada tiga pemuda itu dan langsung menutup teleponnya.
" Heh! Zakir! Wah, gak benar bi bocah, berani-beraninya dia ngeremehin kita, matiin telepon gue gitu aja lagi, " ucap seorang penjahat itu penuh amarah menatap tajam ke arah kedua temannya.
" Waduh, cari gara-gara dia sama kita." sambung penjahat lainnya.
" Gak bisa dibiarin nih, kita gak akan tau seberapa banyak orang kaya dia yang beraninya ngeremehin kita. Harus dikasih pelajaran nih, anak!" tambah lagi penjahat lainnya.
Mereka semua mulai menampakkan wajah kejam dan licik mulai menatap dengan tatapan elang dan tangan yang mengepal seakan siap menghajar seseorang.
Zakir terlihat biasa saja menutup teleponnya dan ia berbalik badan untuk kembali ke tempatnya tadi. Tapi, begitu terkejutnya dia ketika melihat Dimas yang berada tepat dihadapannya dimana sedari tadi Dimas sudah mengawasi dirinya.
" Kak, Dimas." ucap Zakir dengan wajah yang ketakutan sekaligus kaget ia sempat menundukkan kepalanya, bola matanya berputar menunjukkan kegelisahan dirinya.
" Kamu habis ngomong sama siapa, Kir?" tanya Dimas dengan serius.
" Aku gak nyangka banget sama kamu, Kir! Saking bencinya kamu sama Azmi, sampai-sampai kamu ngelakuin hal sejahat itu sama orang sebaik dan sesabar Azmi. Kamu juga pernah melakukan hal yang sama menggunakan perantara almarhum mas Akmal, kamu belum kapok juga? Iya, hah?" tanya Dimas amarah dan kekecewaan pada Adik sepupunya sangat membara hingga ia menyentak keras Zakir.
Dan baru kali inilah Zakir melihat kemarahan Dimas yang begitu besar kepada dirinya. Zakir merasa takut dan bingung harus mengatakan apa sesekali ia juga menatap Dimas dengan pandangan yang begitu dalam.
" Aku.. Aku..." Zakir ia terlihat sangat takut tidak berani menatap mata Dimas yang menatapnya tajam.
" Aku, apa? Kamu mau bilang kamu khilaf? Kamu pernah mikir gak, apa akibat dari perbuatan kamu? Aku selama ini udah sabar atas perbuatan kamu yang keterlaluan ini! " sentak Dimas luapan amarahnya ia berikan kepada Adik sepupunya yang egois itu.
Kedua orangtua Zakir yang mendengar suara bentakan Dimas kepada putranya.
" Ada apa ini Dimas? Kenapa kamu memarahi Zakir seperti itu? " tanya Ayah Zakir.
__ADS_1
" Maaf, om. Perilaku anak om ini udah sangat keterlaluan," jawab Dimas dengan tegas kepada Ayah Zakir yang berdiri dihadapannya.
" Bicara apa kamu, Dimas? Apa yang Zakir telah lakukan? " tanya Ibu Zakir.
" Tanya aja sama anak tante ini sendiri. Aku udah capek sama perilaku dia, dia sama sekali gak pernah dengarin nasehat aku, " Dimas tatapannya begitu tajam dan dalam kepada orangtua Zakir dan ia sempat menatap Zakir sebelum ia melangkah pergi darisana.
Pandangan kedua orangtua Zakir kini mengarah kepada putranya yang terdiam kaku dan tidak bisa mengucapkan satu kata pun dari mulutnya.
" Zakir, ayo bicara. Apa yang telah kamu lakukan sampai Dimas marah besar kaya gitu?" tanya Ayah Zakir.
" Aku... Aku gak ngelakuin apa-apa, Kak Dimas aja yang lebay, " ucap Zakir sekilas ia menatap ke arah Ayahnya dan kembali menundukkan kepalanya.
" Kamu jangan bohong, Zakir. Gak mungkin Dimas marah-marah kaya gitu sama kamu kalau kamu gak ngelakuin sesuatu yang buruk." Ibu Zakir.
" Iya, benar. Dimas itu selalu baik sama kamu, sekarang kamu jujur sama kami apa yang telah kamu lakukan!" perintah Ayah Zakir kembali.
Zakir yang enggan mengatakan hak yang sebenarnya malah melawan dan berusaha menghindar dari semua pertanyaan kedua orangtuanya.
" Kok Ayah sama Ibu malah belain Kak Dimas daripada anaknya sendiri. Kak Dimas aja yang lebay! " jawab Zakir dengan nada yang sedikit keras.
" Zakir!" Ayah Zakir yang begitu matah dengan sikap putranya hendak memukul Zakir ia sudah mengangkat tangannya tapi berhasil dihentikkan oleh istrinya.
" Zakir, maksud kami bukan kaya gitu. Kamu sama Dimas sama-sama kami sayang, dan Ibu sama Ayah cuma mau yang terbaik buat kamu. Jangan sampai kamu masuk ke jalan yang salah, sayang." Ibu Zakir dengan lemah lembut tapi Zakir tetap saja keras kepala ia enggan untuk bicara jujur kepada kedua orangtuanya.
" Udahlah, tanya aja sama Kak Dimas yang terlalu berlebihan itu. " Zakir ia perfu begitu saja meninggalkan kedua orangtuanya tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaan kedua orangtuanya.
" Zakir! Zakir! " panggil Ayah Zakir yang ikut kesal dengan perilaku putra semata wayangnya.
" Sudah, Ayah. Kita harus sabar ngehadapin Zakir, " ucap Ibu Zakir mencoba menenangkan kemarahan suaminya.
__ADS_1
Ayah Zakir hanya bisa mengangguk dan menyentuh dahinya karena sudah sangat lelah dengan Zakir.
Bersambung...