Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 192 Saat Semua Menggoda Azmi


__ADS_3

Di bantu Hamdi dan Syafiq, Azmi, Aban dan Ahkam melangkah ke kamar mereka dengan membawa hadiah-hadiah dari fansnya itu. Semua anggota Syubban tercengang saat melihat Azmi, Ahkam, dan Aban datang bersama Syafiq dan Hamdi dengan membawa hadiah.


" Dibuka sudah hadiahnya, kami mau lanjut ke Kyai." Hamdi tersenyum memegangi pundak Azmi.


" Nggih, mas. Terima kasih, " Azmi.


" Sama-sama, kami duluan, ya. Assalamualaikum, " Hamdi diikuti dengan Syafiq yang juga mengucapkan salam.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya.


Hamdi dan Syafiq melambaikan tangan mereka kepada semua anggota Syubban sambil melangkah pergi keluar kamar.


" Wishhh, apaan ini, Mi, Ban, mas? Banyak banget kadonya." Ali.


Azmi duduk di samping Ali sambil mengambil hadiahnya.


" Ini, hadiah dari jama'ah. " jawab Ahkam juga ikut duduk bersama dengan Aban.


"Dari fans ngono lo, kalian gak usah merendah gitu, aku itu tau kalau kalian kabeh due uuuuaaakeh fans." Udin dengan serius menunjukkan ekspersinya sambil merentangan kedua tangannya menunjukkan betapa banyak fans ketiga vocal yang sedang digemari anak muda saat ini.


" Enggak, mas. Ini buat Syubban ada juga, nih." Azmi ia mengambil 2 kado yang berukuran besar menunjukkan itu kepada anggota Syubban.


" Alhamdulillah, ternyata kita kebagian juga." Firman.


" Buka-buka, apa isinya?" Muhklis begitu antusiasnya.


" Sabar tho, mas. Iki aku mau buka." Ali yang tengah membuka bungkus kertas kado itu.


Azmi juga ikut mengambil kertas kado satunya dan membantu Ali membukanya.


" Waw, makanan." Azmi mengambil snack memberitahu itu kepada teman-temannya.


" Alhamdulillah, makan-makan aku, " Muhklis.


" Makan ae yang dipikirin," Ahkam.


Membuat Azmi yang tengah mengecek hadiah tersenyum.


" Wishhh, ada sarung seragam buat kita, terus peci, satu lagi ada baju koko lho, semuanya seragam. Mantap!" Ali.


" Eh, punya kalian buka juga dong. Aku pengen tau, apalagi punya Azmi," Firman.


" Wes, nanti aja aku buka." Azmi langsung menghindar memalingkan wajahnya.


" Kenapa, Mi? Mas Ahkam, Aban, buka kadonya, mumpung kita lagi santai sekarang." Firman.


" Nih, Ban. Buka kadonya." Ali mengambil kado berukuran sedang yang sudah tertuliskan itu untuk Aban.


Aban menerima itu dan sudah hendak membukanya.


" Mas Ahkam, ini, mas. Monggo dibuka." Udin dengan sopannya ia memberi hadiah Ahkam memakai kedua tangannya.


Ahkam tertawa melihat tingkah Udin sambil menerima hadiahhya. Ahkam mulai membuka bungkus kado itu dengan perlahan.


Sementara Azmi masih enggan membuka kado dan memilih untuk melihat Aban dan juga Ahkam yang membuka hadiahnya duluan.

__ADS_1


" Wish, jam tangan rek." Muhklis ketika melihat Aban yang sudah selesai membuka hadiahnya.


" Makin ganteng Aban habis ini, " Ali.


" Alhamdulillah, Ya Rabb, siapa aja yang ngasih ini semoga selalu dukung kita dan makin cinta sama sholawat, diberikan kelancaran rezeki," Aban.


" Aamiin, " ucap semuanya juga Azmi yang mengusap wajahnya sambil mengaminkan dan mengangguk ia ikut senang melihat Aban yang senang.


" Iki opo tho rek, " Ahkam ia memperlihatkan hadiahnya yang berupa sorban berwarna putih bersih.


" Itu sorban, mas. Coba di angguh." Azmi.


" Ooo, sorban tho, bagus itu. Kaya Ustadz mas Ahkam kalau pakai itu, " Udin.


" Mas Ahkam kan emang Ustadz," Firman.


" Aamiin, aamiin, " Ahkam melukis senyum manisnya masih fokus memperhatikan sorban yang begitu indah itu.


" Nah, sekarang Azmi. Dulih (sana) buka, Mi." Muhklis.


" Yo wes, aku buka ya, " Azmi ia juga ikut mengambil hadiahnya dan bersiap untuk membukanya.


Perlahan Azmi membukanya dan ia melukis senyum saat semua teman-temannya mengarahkan perhatian kepada dirinya.


" Nungguin, ya." Azmi dengan senyum manisnya menggoda semua senior dan sahabatnya.


" Mi, cepetan. Bikin penasaran aja nih, anak." Ahkam.


" Iya, iya. Ini lagi dibuka kok, " Azmi ia kembali fokus membuka kado itu hingga terlihatlah jaket tebal berwarna silver yang sungguh keren.


" Panas-panas gini, kok pakai jaket itu lho mas? " Azmi.


" Sek-sek, " Muhklis matanya sangat tajam melihat sepucuk surat yang dijatuhkan Azmi dari jaket itu.


" Onok surate'e." Muhklis sambil tertawa gembira menunjukkan surat itu.


" Surat apa, nih? " Azmi tangannya baru saja hendak mengambil surat itu tapi Muhklis terlebih dahulu menjauhkannya.


" Eitss, yang ada kamu simpan sendiri. Wes, kamu meneng ae, biar aku yang bacaain." Muhklis.


" Subhanallah, janganlah bang. Itu suratnya, kan buat Azmi." keluh Azmi memandang Muhklis.


" Baca aja Klis, cepat." Ahkam.


" Iya bang, baca aja. Aku juga pengen tau, " sambung Ali.


" Jangan, mas. Itu paling surat biasa aja, " Azmi ia kembali mendekati Muhklis dan terus hendak merebut surat yang tertulis untuknya.


Muhklis bisa saja terus mengelak dari Azmi, dan surat itu ia genggam erat. Azmi yang sudah lelah duduk membungkuk dengan menghela nafasnya sudah lelah dan hanya bisa pasrah ia kembali menegakkan tubuhnya.


" Opo ae lah, sekarep (terserah)." Azmi ia berdiri seakan kesal dan ngambek pergi ke pojokan tepatnya di sudut kamar jauh dari semua teman-temannya seakan Azmi tidak mau Muhklis untuk membacakan surat dari fansnya Azmi.


Serentak semua anggota Syubban memandang ke arah Azmi dan tertawa atas tingkah Azmi yang sedang ngambek. Aban juga tertawa mengawasi sahabatnya itu yang sungguh tajam pandangannya.


" Jangan ngambek lah, Mi. Kita gak akan kasih tau ke Kyai, janji aku." Muhklis.

__ADS_1


" Udahlah, Mi. Kamu meneng ae, duduk seng anteng. Biar mas Muhklis yang bacaain surat kamu." Udin.


" Monggo, silakan dibaca. Paling cuma ungkapan biasa gitu ae, " Azmi ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan mempersilakan Muhklis untuk membacakan suratnya.


" Aku baca yo, Azmi Askandar seng ganteng kaya artis korea, " Muhklis sedikit candaan untuk Azmi.


Wajah Azmi sungguh datar dan hanya mengangguk satu kali kembali memalingkan wajahnya.


" Oke, surat teruntuk Azmi Askandar yang sudah menjadi inspirasiku." Muhklis sambil tersenyum ia memandang ke arah Azmi yanh tetap memalingkan wajahnya.


" Cihuyyy, romantis rek, " Udin ia begitu hebohnya membuat Azmi hanya bisa menunduk terdiam memainkan jari-jari tangannya sudah tidak tau harus apa walau ia sempat tersenyum kecil.


Aban hanya bisa tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah para seniornya yang mengundang gelak tawa.


" Belum Din, itu baru awalan." Firman.


" Awalnya aja udah bagus'e." Udin.


" Allahu Akbar... Allahu Akbar.... Adzan maghrib mas, " Azmi.


" Wes, Mi. Gak usah gitu, nikmati saja." Ahkam menggoda Azmi sambil tersenyum kepada Azmi.


" Lanjut, bang." Aban.


" Siap, Ban. Wajahmu selalu saja terbayang dalam lamunan..."


Lagi-lagi kalimat Muhklis tidak selesai karena sekarang Ali yang heboh.


" Asik, huyy. Masya Allah nih, ukhti." Ali.


" Astagfirullah, " Azmi ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya menunjukkan kalau dirinya tengah malu.


" Meneng'e, masih panjang iki." sentak Muhklis kepada Ali yang memotong ucapannya.


" Iya, bang. Maaf, lanjut-lanjut, " Ali.


" Senyuman manismu membuatku terperosok dalam hatimu..."


" Sakit, " Ahkam.


" Apa lagi sih, Kam?" Muhklis kembali kesal.


" Ya, kan benar aku. Terperosok itu sakit." Ahkam.


" Wes, bang. Itu dipotong daritadi'e." Azmi ia tidak berhenti menyuruh Muhklis untuk membaca surat itu.


" Wah, Azmi udah gak sabar itu, " Firman.


" Sabar, Mi. Bang cepat lanjutin. Kasihan Azmi nungguin lo, " Ali.


" Iya, Mi. Ini aku lanjutin." Muhklis ia kembali membacakan surat itu.


Azmi menghela nafasnya keras, memalingkan wajahnya sampai pipi kirinya menyentuh tembok dan menutup kedua kupingnya. Ahkam dan Aban terus tertawa melihat Azmi yang sedang dikerjai.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2