Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 171. Udah Resiko


__ADS_3

" Bukannya kita takut, tapi masalah kecil kaya gini gak perlu pakai berantem, " Ahkam.


" Iyo, kalian kabeh cuma tiga orang, kita berbanyak lho, " Udin.


" Dengan berantem gak akan menyelesaikan masalah, mas. " Aban.


" Gini aja mas, kami minta maaf Kalau kami udah bikin kalian gak nyaman. Kami cuma 2 hari lagi disini habis itu udah, kalian bisa kembali hadroh. Saya yakin kalian pasti bisa main di banyak tempat. " Azmi.


" Asal, kamu tau, ya. Gara-gara tim kalian ini, banyak orang yang milih datang ke kalian daripada ke kita, " pemuda 1 ia bicara dengan penuh emosi sambil menunjuk-nunjuk Azmi.


Muhklis yang tak terima dengan hal itu langsung maju dan menurunkan tangan pemuda itu dari wajah Azmi.


" Waduuuh, gak usah kaya gini, mas. Santai aja," Muhklis sambil menurunkan tangan pemuda itu.


" Alaah, bilang aja anjeun takut, kan. Sama kami," pemuda 2.


Keadaan malah semakin rumit disaat perdebatan diantara mereka dimulai, Azmi, Ahkam dan Aban mencoba menghentikan dan melerai keributan tapi malah mereka tak dihiraukan.


Untung saja ada Hafsah dan Mufti yang lewat dan mengetahui keributan itu, mereka segera melangkah menghampiri keributan.


" Hey, hey, stop, stop! Ini ada apa, sih? " Mufti menengahi pertengkaran.


" Saha enjeun (siapa kamu)? Berani-beraninya ngelerai kita, " tanya pemuda 3.


" Gue Mufti, kalian kenapa ribut sama teman-teman Gue? " Mufti


" Kami gak suka dengan tim yang viral ini, mereka telah ngehancurin tim hadroh kami," pemuda 1.


" Iya, atuh. Mereka cuma pengen dikenal orang aja, " pemuda 2.


" Dasar, kalian sama sekali tidak mencerminkan sebagai seorang hadroh yang baik dan benar, " sambung pemuda 3.


" Tunggu-tunggu, kayanya kalian salah paham deh, niat kami kesini itu sekedar dapat undangan. Gak ada maksud lain, kalian perlu tau, ya. Tim Syubban ini cuma pendatang, mereka mau memenuhi permintaan masyarakat Bandung yang sekadar hanya ingin melihat penampilan mereka karena yang mereka tau, tim Syubban ini sudah terkenal dan viral. Para pencinta sholawat saya yakin semuanya sudah tau mereka, dan tidak hanya itu penampilan mereka juga bagus. " tegas Hafsah.


Para pemuda itu mulai diam sebentar menatap tajam para anggota Syubban.


" Aaaaa, gus Azmi, eh teman-teman itu tim Syubban, kan? " teriak salah satu gadis yang tidak sengaja melihat mereka menambah kehebohan gadis lainnya yang ikut berjalan bersamanya.


" Eh, iya atuh, ini mah kasep pisan, " gadis 2.


Mereka saling berteriak ingin meminta foto bergerombol terlihat sangat histeris berlarian mendekati tim Syubban.


" Astagfirullah, " Ahkam.


" La'ila haillallah, " Azmi.


" Gawat nih, ayo lari semuanya, " Hafsah.


Mereka semua berlarian sampai masuk kedalam penginapan mereka dan meminta pertolongan satpam untuk mengunci gerbang.


Sementara ketiga pemuda tidak bisa melakukan apapun hanya terdiam menatap banyaknya penggemar yang mengikuti langkah cepat tim Syubban.


" Dasar budak awéwé, éta bener-bener teuing ( dasar cewek-cewek, lebay banget)." pemuda 3.

__ADS_1


" Iya atuh, aranjeunna ngan ukur meunang ganteng (mereka cuma menang ganteng )." pemuda 2.


" Apa, sih hebatnya? Perasaan mereka biasa aja, " pemuda 1.


Teriakan demi teriakan terus hadir dari balik gerbang hingga sentakan pak satpam dan beberapa orang yang ikut mengamankan menghentikan mereka dan meminta mereka pulang mengetahui hari yang sudah mau memasuki waktu maghrib.


" Ya Allah, aku gak nyangka kalau kita sampai kaya gini, " Azmi ia menundukkan kepalanya dan tubuhnya sudah terengah-engah setelah berlari.


Mereka semua terus mengatur nafas hingga Hamdi dan Syafiq yang sudah mengetahui kejadian itu datang membagikan air.


" Udah nasib jadi orang terkenal, Mi. Apalagi kamu ganteng'e, " Hamdi memberikan air kepada Azmi.


" Suun mas, " Azmi menerima air itu dan segera meminumnya.


" Iyeh, Mi. Nak-kanak binik gik buruh sorakin been meloloh ( Iya, Mi. Anak-anak cewek tadi, cuma nyorakin kamu aja), " Ahkam menggunakan bahasa Maduranya.


Mendengar hal itu Azmi yang tau artinya menjadi tersedak menoleh ke arah Ahkam.


" Siah, enjek! (yah, enggak)." Azmi ngegas.


" Ngegas, Azmi. Emang kenyataannya lho, " Aban mendorong pelan lengan Azmi yang merasa risih dengan kejadian tadi.


" Gak usah malu-malu gitu, Mi. Mukamu itu ganteng mirip sama artis korea, ya, gak teman-teman? " Ali.


" Iya benar lho, " jawab Firman.


" Yaah, enggak mas, biasa aja." Azmi ia sempat menundukkan kepalanya.


" Ooo, itu tadi cuma salahpaham aja, " Ahkam.


" Salahpaham gimana, mas? " tanya Mufti ikut menyambung.


" Jadi mereka gak suka kalau kita tampil disini, mereka merasa kita udah ngambil posisi mereka," jawab Azmi.


" Wah, gawat juga, ya. Padahal kita cuma nerima undangan, " Hamdi.


" Iya, Kak. Untung aku sama Mufti ngelihat kalau mereka saling debat dan hampir mau berantem," Hafsah.


" Untung ada penggemarnya Azmi tuh, jadi kita terselamatkan, " Ali yang membuat Azmi menatap kearahnya dan kembali menunduk dengan senyum diwajahnya bersamaan dengan menggelengkan kepalanya.


" Itu emang biasa terjadi, pasti ada aja yang iri sama kita, dan oh, ya Mi, ternyata banyak juga yang nghujat kamu di youtube. Tapi kamu tenang aja karena banyak juga yang ngedukung kamu, Mi." Syafiq.


" Kamu sabar, ya Mi. Kalian juga, tetap semangat sholawatnya, " Hafsah.


" Siap Kak, terimakasih, " Azmi.


" Oke, sama-sama, " jawab Hafsah dengan senyum manisnya.


" Pokok'e kita kudu semangat, rek!" Udin.


Semuanya tersenyum dan anggota Syubban semakin semangat untuk menggemakan sholawat juga siap menerima resiko apapun nanti. Begitu juga Azmi, walau ia sering dipojokkan dengan memuji wajahnya tapi Azmi bersikap biasa saja karena Azmi hanya berniat untuk menyerukan semangat bersholawat.


...******...

__ADS_1


Sehabis sholat isya', Aisyah yang sholat di Mushalla bersama Fitri tidak sengaja bertemu dengan kedua orangtua dan kedua Adik Azmi. Dengan sapaan ramah, Aisyah dan Fitri juga menyalam tangan Abah dan Ummi Azmi.


" Aisyah, ini Fitri ya? " Ummi Azmi.


" Iya, tan.. Eh Ummi, " Fitri ia hampir saja keceplosan dengan menyebut tante untung saja Aisyah segera menyenggol Fitri dan memberitahu.


" Ummi sama Abah mau kemana?" tanya Aisyah.


" Kami mau slametan Kak, buat mas Azmi yang udah terkenal, " jawab Rara.


Seketika Aisyah terdiam ekspresinya juga berubah ketika mendengar nama Azmi.


" Iya, nak. Kalian ikut juga, ya." Abah Azmi.


Melihat Aisyah yang masih murung, Fitri segera menjawab pertanyaan dari Abah Azmi.


" Iya, Abah. Insya Allah, " jawab Fitri.


Abah, Ummi, Rara dan Naufal tersenyum dan senang mengharapkan kehadiran mereka dan banyak orang.


" Mas Azmi, pulang kapan, ya Ummi? " tanya Naufal.


" Insya Allah sehari sebelum puasa kata Ustadz, " jawab Ummi Azmi.


" Ummi, kami mau pamit dulu, ya, " Aisyah sebelum ia pergi tak lupa ia bersama Fitri mencium tangan kedua orangtua Azmi


" Assalamualaikum, " ucap Aisyah.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.


" Hati-hati, Nak. " Ummi Azmi.


" Nggih Ummi, " jawab Aisyah terus melangkah.


" Syah, kamu kenapa, sih? Buru-buru banget mau pulang, " Fitri.


" Gak papa, " jawab Aisyah ia melangkah sangat tergesa-gesa dengan wajah yang cemberut.


Melihat tingkah sahabatnya, Fitri segera menghentikan langkah Aisyah dengan menarik tangan Aisyah.


" Syah, kamu jangan kaya gini, kamu gak suka kalau Azmi terkenal, hah? " tanya Fitri.


" Apaan, sih Fit? Biasa aja, " Aisyah memalingkan wajahnya.


" Dahlah, Syah. Aku tau banget kamu, kenapa, sih kamu kaya gitu sama Azmi? Dia udah minta maaf, Syah. " Fitri.


Aisyah masih terdiam ia sulit untuk mengatakan semuanya.


" Syah, jawab! Ingat, Syah. Allah itu maha memaafkan, " Fitri ia terus meminta Aisyah untuk menjawab pertanyaan.


" Aku gak bisa, Fit. Setiap aku dengar aja namanya, hatiku udah sakit karena kejadian waktu itu, aku juga masih ingat sama Kak Akmal karena tingkah Azmi juga hampir sama kaya Kak Akmal! " Aisyah tiba-tiba air matanya mulai menggenang dimatanya hal itu membuat Fitri kasihan mengerti akan keadaan sahabatnya ia langsung memeluk tubuh Aisyah dengan erat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2