Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 128. Kobarkan Semangat Bersholawat


__ADS_3

Tepat setelah selesai sholat duhur berjama'ah, para anggota Syubban sudah berkumpul di tempat latihan. Dengan wajah yang berseri-seri mereka duduk saling bersebelahan ada yang saling berbicara, ada juga yang sibuk dengan diri sendiri seperti Ahkam yang sedang sibuk pandangannya dengan selembar kertas yang ia pegang dengan kedua tanganya dengan tubuh yang bersender di tembok. Sementara, Ali terlihat lemas dengan wajah yang ia tundukkan dan tangan kanan yang terus memegang dahinya.


Firman dan Udin yang melihat Ali dengan raut sedih tidak senang dengan hal itu, dengan spontan tangan Udin melayang pada pundak Ali yang sedang tertunduk lemas.


" Seng semangat toh Li! Jangan loyo kaya gini! " tegur Udin menyemangati Ali.


Ali segera menegakkan tubuhnya menoleh ke arah Udin dan Firman yang sedari tadi mengawasi dirinya.


" Iya, " jawab Ali dengan suara yang tetap lemas.


Suara langkah kaki Ustadz Mustafa dan Kyai terdengar semakin dekat di telinga para anggota Syubban.


" Kyai datang," ucap Nur dengan suara berbisik membuat semuanya segera berdiri berjejer dengan rapi dengan kepala yang menunduk menyambut kedatangan Kyai dan Ustadz Mustafa.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " ucap Kyai bersama dengan Ustadz Mustafa dengan semangat.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semua anggota Syubban.


Mulailah satu-persatu dari mereka menyalam tangan Kyai dan Ustadz Mustafa setelah menyalam tangan Kyai dan Ustadz Mustafa, para anggota Syubban duduk membentuk barisan seperti biasanya.


" Alhamdulillah, jadi gimana, Ahkam? Kalian semua sudah diskusi?" tanya Kyai memandang dalam Ahkam.


" Alhamdulillah Kyai, sudah, kita semua sepakat kalau seragamnya pakai uang kita sendiri Kyai, teman-teman semua tidak ada yang keberatan dan sudah punya uang yang cukup, " jawab Ahkam dengan suaranya khasnya yang tegas.


Kyai menganggukkan kepalanya beberapa kali.


" Ya sudah kalau begitu, nanti saya akan meminta orang untuk mengurus semua seragam kalian, " Kyai.


" Baik Kyai, " jawab Ahkam.


" Kalian kalau tidak pulang saat masuk bulan suci Ramadhan, bagaimana? Mau tinggal di pondok sama Ustadz Abdullah, Ustadz Ridwan, dan Ustadz Fathur, nanti saya juga akan sering mampir, " ucap Kyai memandang satu-persatu para anggota Syubban yang sangat serius.


Mendengar hal yang tentunya tidak enak bagi seorang santri yang selalu menginginkan ada di rumah ketika bulan suci Ramadhan yang selalu di tunggu-tunggu oleh para santri.Wajah anggota Syubban seketika menjadi datar menunjukkan bahwa mereka tidak siap untuk tetap tinggal di pesantren


Melihat kebisuan para anggota Syubban membuat Kyai dan Ustadz Mustafa saling pandang dan tertawa kecil.

__ADS_1


" Ya gak mau Kyai, orang saya sudah menghitung pulangan, iya toh, anak-anak? " ledek Ustadz Mustafa sembari terus tertawa kecil dengan mata yang mengarah kepada semua anggota Syubban.


Para anggota Syubban juga ikut menyengir sambil menundukkan kepala mereka malu mengungkapkan isi hati mereka yang sudah rindu dengan keluarga dan rumah mereka.


" Tenang saja, kalian pulang kok, cuma nanti catat semua nomer handphone kalian apa namanya kalau anak jaman sekarang? Apa, Mus? " Kyai menoleh ke arah Ustadz Mustafa.


" Nomer wa Kyai, " jawab Ustadz Mustafa.


" Nah iya, nomer wa, atau ada yang gak punya hape di sini? " tanya Kyai.


Anggota Syubban hanya terdiam saling toleh sepertinya diantara mereka semua sudah memiliki handphone.


" Azmi, kamu udah punya Mi? " tanya Kyai.


" Alhamdulillah, sudah Kyai, " jawab Azmi semangat membuat semuanya tertawa kecil.


" Bagus, endik mon Azmi (punya kalau Azmi) Aban, sudah punya handphone? " tanya Kyai kepada Aban yang duduk di sebelah Azmi.


" Alhamdulillah, sudah Kyai, " jawab Aban dengan senyuman manisnya dan kepala yang sedikit menunduk.


" Alhamdulillah, sudah punya semua, ya? " tanya Kyai sekali lagi.


" Maaf Kyai, nanti kalau udah pulang jangan main HP terus, ingat baca Qur'annya!" Ustadz Mustafa.


" Iya, jangan main HP terus nanti, ingat baca Qur'an, sholawat terus, dzikiran, gunakan waktu kalian sebaik mungkin sama seperti di pondok, oke, semuanya! " Kyai.


" Baik Kyai, "


" Insya Allah Kyai, " Udin berbeda sendiri sontak saja membuat semuanya tertawa dengan pandangan mereka yang tertuju kepada Udin termasuk Kyai dan Ustadz Mustafa yang terus tertawa melihat wajah lugu Udin.


" Iya, Iya, Udin benar, Insya Allah, " Kyai menganggukkan kepalanya pelan sembari tertawa sekilas memandang ke arah Udin.


" Kita mulai saja diskusinya, ini tentang jadwal kalian yang memang mulai sangat padat, mereka semua mulai mengenal kalian sebagai tim hadroh sholawat jawa dan madura yang sangat berbakat, " Kyai.


" Iya anak-anak, ustadz minta kalian harus sungguh-sungguh untuk terus bersholawat, Ustadz sangat mengharapkan kalau suatu saat nanti kalian bisa dikenal sampai luar negri, mungkin kalian bisa berkarya membuat lagu-lagu yang disukai remaja sekarang bernuansa sholawat. Jadi, kalian bisa berdakwah sekaligus bersholawat, "jelas Ustadz Mustafa kepada tim Syuban yang sangat fokus mendengarkan.

__ADS_1


" Nggih, Nggih, Ustadz Mustafa sangat benar. Ini ide yang sangat bagus anak-anak, bagimana, Azmi, Ahkam, Aban? Kalian pasti bisa membuat sholawat yang berbeda jadi, semua orang nanti akan suka dan mereka akan semangat dalam bersholawat, " Kyai.


Azmi, Ahkam dan Aban saling pandang dan kembali menunduk.


" Mas Ahkam pintar dalam merangkai kata-kata Kyai, saya yakin beliau bisa, " usul Azmi kepada Kyai dengan nada yang begitu serius.


" Iyo, mas, kamu pasti bisa!" Udin.


Ahkam hanya diam dan tersenyum kecil memandang Azmi dan Udin tidak hanya mereka berdua, semua anggota Syubban, Kyai dan Ustadz Mustafa juga sangat yakin kepada Ahkam.


" Ya sudah, nanti kalian bisa pikirkan itu, yang penting kalian harus semangat! Tapi, kalian jangan pernah sombong dengan apa yang sudah kalian dapat saat ini, selalu ingat diatas langit masih ada langit! Tidak ada yang mustahil untuk Allah, dalam sekejap Allah bisa mengubah semuanya, kalian bisa berdoa kepada Allah untuk minta petunjuk, Insya Allah, kalian akan dapat petunjuk yang baik untuk masa depan kalian di masa depan nanti, " jelas Kyai.


" Aamiin, " ucap semua anggota Syubban sembari mengusap wajah mereka.


" Baik Kyai, nanti saya akan mencoba berkarya, " Ahkam.


" Iya Kyai, Insya Allah saya juga, saya akan mencari inspirasi untuk ini, saya ingin tim hadroh kita maju dan dikenal banyak orang, " Azmi dengan penuh keyakinan dan semangatnya membuat Kyai dan Ustadz Mustafa menyematkan senyum mereka.


" Aamiin, " ucap semuanya.


" Bagus, Azmi, Ahkam, dan semuanya, saya sangat senang dengan semangat jiwa muda yang kalian punya. Ingat selalu untuk terus ikhtiar dan berdoa! " tegas Kyai.


" Jangan pernah menyerah, dan putus asa! Allah tidak suka dengan hamba Nya yang gampang putus asa! Terus kobarkan semangat kalian seperti ini, selalu bersholawat untuk Nabi kita, Allahumma Shalli 'Ala Muhammad! " seru Ustadz Mustafa mengangkat tangan kanan yang ia kepal.


" Allahuma Shalli 'Alaih, " ucap anggota Syubban dengan semangat mereka yang mulai membara.


Kyai sangat senang dan berharap anggota Syubban akan selalu semangat seperti ini.


" Mereka semangat banget, ya, " ucap salah satu anggota Band yang tidak sengaja melihat tim Syubban yang berkumpul di tempat latihan dan menghentikan laju motor mereka di sebrang jalan tempat latihan.


Mufti tertawa kecil dengan kelicikannya menatap tajam anggota Syubban yang sedang berlatih.


" Lihat aja nanti, gue yakin mereka gak akan terkenal, pd amat jadi orang, " ledek Mufti terus mengawasi anggota Syubban dengan tatapan mata sinis.


" Benar lo Muf, mereka itu mimpi banget ya, jadi orang sukses, bisa dikenal banyak orang, gue sih gak yakin sama mereka. Ya kali, jaman sekarang suka sama tabuhan rebana kampung kaya mereka, " ucap salah satu anggota mendukung Mufti.

__ADS_1


Anggota Band itu terus tertawa meledek tim Syubbanul Muslimin yang menurut mereka sangat buruk, di mata mereka tim Syubban hanyalah tim hadroh kampung yang bermimpi terlalu tinggi.


Bersambung....


__ADS_2