Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 112. Amarah Yang Tidak Terkontrol!


__ADS_3

Nama Syubanul Muslimin menjadi terkenal dari wilayah probolinggo hingga meluas ke wilayah-wilayah lainnya yang ada di jawa timur seperti Jember, Surabaya dan Banyuwangi karena kemampuan mereka dalam bersholawat dan belum ada yang bisa menandingi mereka dalam menampilkan sholawat madura dan jawa.


Jadwal mereka juga mulai padat, anggota Syubban harus berlatih keras agar tidak mengecewakan para penggemar mereka. Azmi dan Aban juga harus bisa menyeimbangkan antar sekolah, ngaji dan latihan hadroh.


*************


Suatu ketika tim Syubanul Muslimin yang sedang makan-makan setelah menyelesaikan acara di malam hari.


Pemilik warung makan tersebut memiliki layar lebar yang khusus menampilkan lagu-lagu religi dan kebetulan menyetel lagu yang di bawakan oleh Nisa Sabyan yang terkenal pada waktu itu. Semua orang sangat menikmati lagu religi yang di bawakan Nissa Sabyan, semua orang fokus menatap wajah Nissa Sabyan yang cantik mereka juga mulai ramai membicarakan Nisa Sabyan.


Tim Syubban juga mulai fokus menonton Nissa Sabyan.


" Ayu tenan'e ( cantik banget) " ucap Udin yang sangat terpesona dengan Nisa.


" Benar Din, semoga aja dia jodohku... Aamiin... " sambung Firman.


" Gak oleh, pokok iku jodohku seorang!" Udin tidak terima.


" Dia gak bakal mau sama kamu Din, dan dia pasti maunya sama aku, " Firman.


Mereka mulai dabat untuk memperebutkan Nissa Sabyan.


" Wes-wes, jangan ributin cewek, " Ali.


Azmi hanya tertawa kecil sembari terus melanjutkan makanannya.


Semua orang sudah bisa memaafkan Azmi kecuali Ali yang masih mempunyai sedikit rasa kesalnya.


" Mas-mas semua, kita juga bisa kok terkenal kaya mereka, " Azmi mulai fokus menatap satu-persatu tim Syubban.


" Aamiin... " ucap semua anggota Syubban.


" Tapi gimana caranya Mi? Apa kita akan buat lagu yang beda kaya rencana kamu itu? " Firman.


" Iyo Mi, kayanya kita gak mungkin bisa terkenal kaya mereka itu, " Udin.


" Di dunia ini gak ada yang gak mungkin mas, Allah itu bisa mengubah apapun hanya dalam satu detik. " tukas Azmi penuh keyakinan.


" Aku setuju sama Azmi, aku sama Azmi lagi bikin projek tentang sholawat yang nuansanya beda, ya gak, Mi? " Ahkam.


Azmi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Aku salut deh sama kalian, semoga cita-cita Azmi buat nama Syubban terkenal bisa jadi kenyataan, " Akmal.


" Aamiin... " ucap semuanya sembari mengusap wajah mereka.


Aban juga ikut senang dengan sahabatnya mereka kembali akur termasuk Mukhlis yang sadar dengan sisi baik Azmi lain halnya dengan Ali yang masih kesal dan punya rasa benci yang amat besar dengan Azmi.


Ali menghentikan makannya dan menatap Azmi sinis.


" Kalian kenapa, sih? Kalian sudah maafin dia segampang itu? Kalian gak ingat kalau dia ini pencuri? " Ali memperlihatkan kemarahannya.


" Ali, kamu juga harus ingat kata Ustadz Abdullah yang menyuruh kita untuk memaafkan Azmi karena dia sudah minta maaf dengan tulus, seorang muslim yang baik harus bisa saling memaafkan maka mereka akan mendapatkan tempat yang mulia. " Ahkam dengan suaranya yang adem dan menyejukkan menasihati Ali.


" Mas Ali, mas harus bisa maafin Azmi dia itu orang baik mas, " Aban yang ikut membela Azmi membuat Azmi senang dan melukis senyum manisnya.


" Gampang banget, ya? Kalian ngomong kaya gitu, dia ini cuma pura-pura, sadar! Azmi Askandar yang ada di sini cuma mau terkenal sendiri dia gak pernah mikirin tim Syubban!" Ali menunjuk-nunjuk Azmi dengan penuh amarah.


" Anak-anak sudah selesai makannya, ayo, Hamdi dan adiknya sudah menunggu kita di sana. " Ustadz Mustafa yang tiba-tiba datang membuat Ali terdiam dan meredam kemarahannya.


" Baik Ustadz, " semua anggota Syubban.


Mereka beranjak pergi bersama-sama menuju Kyai yang sudah bersama dengan Hamdi dan Hafsah yang hendak menunjukkan sesuatu.


" Assalamualaikum, " ucap tim Syubban bersamaan.


" Wa'alaikumsalam, " Hamdi, Kyai, dan Hafsah yang seketika pandangannya fokus kepada Akmal begitu juga dengan Akmal yang kaget melihat Hafsah.


" Kamu, kamu ini pasien yang waktu itu, kan? Ingat aku gak? " tanya Hafsah kepada Akmal dengan penuh antusias menunggu jawaban Akmal.


" Kamu Suster itu?" Akmal tidak percaya.


" Kalian udah pada kenal? " tanya Hamdi.


" Iya kak, dia ini pasien di tempat aku magang, " Hafsah.


" Oooo gitu, dia sakit apa? " tanya Hamdi menatap Akmal.


Hafsah terdiam memandang Akmal yang tertunduk mengingat penyakitnya yang parah.


" Udah sembuh kok, Akmal ini orang yang paling kuat mas, daripada kita semua, ya gak? " Firman memukul pelan lengan Akmal dan merangkulnya sebagai tanda simpatinya kepada Akmal.


" Iyo, betul iku, Akmal iki seng paling kuat daripada kita semua, " Udin dengan bahasanya yang selalu campur aduk sembari menunjukkan ekspresinya yang bahagia untuk menyemangati Akmal.

__ADS_1


Azmi ikut tertawa kecil setelah melihat kelakuan Udin yang selalu membuat semua orang tertawa melihat ekspresinya yang lucu.


" Oh ya anak-anak, Hamdi ingin memberikan suatu kabar untuk kalian terutama untuk Azmi yang menjadi vocal dalam lagunya, silakan nak, " Kyai.


" Jadi saya mau ngasih tau untuk kalian semua, nama Azmi sudah terkenal sebagai gus Azmi karena sudah banyak yang menonton dia ini juga sangat berpengaruh untuk kesuksesan tim Syubban. " Hamdi.


" Lho mas, tapi kok pakai gus? Saya bukan gus, mas." ucap Azmi.


Hamdi terdiam membisu menatap Azmi.


" Azmi, udah gak papa nama kamu jadi gus Azmi soalnya, Kak Hamdi salah dia kira kamu itu gus, " jelas Hafsah.


" Emang gak bisa di benerin apa? Mana ada gus yang tukang nyuri kaya dia! " Ali.


" Nyuri? Emang Azmi pernah mencuri? " tanya Hamdi sangat kaget.


Azmi menggelengkan kepalanya sementara semua tim Syubban terdiam tidak tau harus menjawab apa begitu juga dengan Ustadz dan Kyai.


" Itu gak mungkin, Kak, aku sama sekali gak percaya kalau orang sholeh kaya dia ini suka nyuri, Heh! Nama kamu siapa, sih? Kamu gak ingat kalau yang buat tim Syubban itu sukses adalah Azmi tanpa dia tim ini gak akan dikenal se jawa timur! " Hafsah yang keburu emosi melihat Azmi di fitnah seperti itu.


" Ooo, jadi yang buat tim Syubban terkenal itu Azmi, gitu? Hebat banget nih anak kecil, bisa buat nama Syubbanul Muslimin dikenal, dengar semuanya hanya Azmi yang bikin kita sukses dan kalian semua ini gak berguna disini!" Ali menatap Hafsah tajam tanpa memikirkan jika ada Kyai dan Ustadz Mustafa.


Semua tim Syubban kecewa dengan Ali yang selalu tidak bisa mengendalikan emosinya ia menunjuk-nunjuk Azmi dan menatap Hafsah tajam


" Itu tidak benar Kyai, Ustadz, mas Hamdi, Kak Hafsah dan semua teman-teman saya, demi Allah saya bukan pencuri saya sudah di fitnah saya tidak mungkin mencuri, kalian harus percaya sama saya, " Azmi memberanikan dirinya mendekati Kyai dan berdiri di sebelah Ali yang penuh amarah.


Kyai percaya dengan Azmi dan meletakkan tangannya di pundak Azmi sembari mengangguk pelan beberapa kali.


" Iya nak Azmi, saya percaya sama kamu, " Kyai.


" Maaf Kyai, sebaiknya urusan ini di selesaikan dulu, saya permisi assalamualaikum, " Hamdi dengan wajah kecewa masuk begitu saja kedalam mobilnya yang terpakir tidak jauh dari sana.


" Kak, gak bisa gitu dong Kak, Kak Hamdi, tunggu! Kak Hamdi! " Hafsah mengejar kakaknya.


Hamdi dan Hafsah pergi dari sana mengurungkan niatnya untuk bekerja sama dengan tim Syubban yang mulai sukses.


"Ali, kamu harusnya bisa kontrol emosi kamu." Ahkam.


Ali hanya menggelengkan kepalanya dan menatap Azmi tajam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2