
Di saat para santri melaksanakan sholat maghrib di Masjid tapi tidak dengan anak Band yang sangat asyik memainkan musik mereka dengan Mufti yang menyanyikan sebuah lagu romantis di hadapan banyak orang yang mau menonton mereka.
Tidak hanya 1, 2 lagu, Band Mufti terus meramaikan suasana cafe malam itu kadang mereka juga berhenti untuk beristirahat.
Mufti merasa sangat senang karena sebelumnya ia tidak pernah mendapatkan undangan dari manapun dan baru kali ini la terus memainkan vocalnya dengan teman-teman Band yang mengiringi dengan musik mereka.
Setelah sholat maghrib berjama'ah, terlihat beberapa santri yang turun dari Masjid untuk beristirahat atau sekadar duduk bersantai sambil berbincang menikmati indahnya suasana malam pesantren dengan suara-suara tidak sedikit santri yang masih melantunkan ayat-ayat kursi. Sungguh suasana yang sangat adem dan menyejukkan.
Azmi yang juga turun bersama Aban dengan Al-Qur'an yang mereka pegang duduk di kursi panjang dekat kamar mereka sesekali Aban memandang ke arah langit yang sudah gelap.
" Kenapa, Ban?" tanya Azmi khawatir dengan wajah Aban yang sedang bersedih.
Azmi mencium Qur'annya dan meletakkan terlebih dahulu pada bawah ventilasi yang ada di atas begitu juga dengan Aban yang ikut meletakkan Qur'annya terlebih dahulu.
" Aku gak nyangka Mi, kalau semua orang percaya sama video itu, aku masih sedih dengan kejadian tadi, Mi. " jawab Aban menatap dalam Azmi masih dengan ekspresi sedih.
Kejadian buruk yang di alami tim Syubban.
Atas perintah Kyai, semua anggota Syubban hendak membeli apa yang di perintahkan oleh Kyai mengingat hari santri pulangan sudah tinggal menghitung hari.
Saat Azmi membantu Ahkam untuk mengatakan apa saja yang ingin di beli dengan nota yang ada di tangan Azmi ada beberapa warga yang melihat mereka dan mengetahui bahwa Azmi dan Ahkam yang ada pada video yang disebarluaskan oleh Mufti.
" Eh, itu bukan santri yang sok jagoan itu, bukan? " cewek 1.
Setelah mengamati jelas wajah Azmi yang sedang tersenyum manis sejumlah anak-anak muda yang tengah berbelanja langsung membicarakan mereka. Merasa di bicarakan Azmi menoleh membuat semakin kaget para pemuda itu.
Perdebatan terjadi di antara mereka, jumlah anggota Syubban kalah banyak diantara pemuda dan sejumlah warga yang ikut membenci mereka. Tidak sedikit yang menyerang mereka dengan lemparan benda-benda yang lumayan keras bahkan Azmi sempat terdorong oleh seorang ibu yang sangat geram dengannya.
Akhirnya anggota Syubban lari untuk menghindari amukan masyarakat, mereka sungguh tidak menyangka hal buruk seperti itu bisa terjadi kepada mereka.
...*******...
Setelah mengingat kembali kejadian itu Azmi semakin kecewa dan sangat sedih ia menghela nafas keras, menggelengkan kepalanya, memejamkan matanya sebentar dan kembali memandang Aban yang tertunduk masih sedih dengan kejadian tadi. Azmi menaruh tangan kanannya kepada pundak Aban untuk beberapa saat sehingga Aban menoleh ke arahnya.
" Aku juga sedih banget Ban, gak nyangka sama sekali, kalau kita dapat serangan dari orang-orang yang benci sama kita. Padahal kita semua ini masih kecil lo, harusnya mereka gak bersikap kaya gitu sama anak di bawah umur, apalagi mereka cuma nonton dari video itu, tapi aku selalu ingat cerita Kyai, Ban," Azmi.
" Apa, Mi? " tanya Aban.
Azmi menurunkan tangannya kembali memancarkan senyumannya.
" Rasulullah pernah dicaci, dipukuli pakai batu, bahkan diludahi, padahal Rasulullah gak melakukan kesalahan apapun, beliau hanya ingin berdakwah mengajak kaumnya untuk hijrah kejalan Allah. Tapi, walau diperlakukan dengan tidak baik, beliau selalu sabar, Rasulullah sama sekali gak pernah marah sampai akhirnya yang mencaci, memukul, bahkan meludahi Rasulullah mendapat hidayah dan berada pada jalan yang benar. " terang Azmi membuat Aban paham dengan menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali.
" Jadi sekarang, kita harus kuat dan sabar membuat nama tim Syubban balik lagi seperti dulu, kita itu berbanyak Ban, jadi kita harus saling menguatkan. Harusnya, aku yang paling sedih karena nama akulah yang sangat jelek karena, mas Mufti udah buat seolah aku sama mas Ahkam yang salah. Tapi, its okay, itu sama sekali gak masalah buat aku. Karena aku yakin kebenaran pasti akan terungkap, " Azmi.
__ADS_1
" Aku gak ngerti lagi sama mas Mufti, padahal Ustadz Mustafa itu sayang banget sama dia," Aban.
Mendengar ucapan Aban, Azmi tersenyum kecil dan menghela nafasnya karas masih dengan posisi wajahnya kedepan.
" Yah, kita doain aja Ban, semoga mas Mufti cepat dapat hidayah. Semoga juga mas Mufti mau dengarin ucapannya kak Hafsah nanti, aku berharap banget kalau kak Hafsah bisa buat mas Mufti sadar, " Azmi.
" Aamiin, semoga aja ya, Mi. Biasanya ucapan wanita itu selalu bikin njeleb! Masuk kehati dan akan selalu terngiang dalam pikiran, " Aban, wajahnya begitu serius dan yakin menimbulkan tawa manis Azmi.
" Tau aja kamu Ban, " Azmi masih dengan tawa kecilnya.
" Ya tau Mi, kalau ibu aku lagi marahin aku, pasti akan selalu terbayang-bayang apa yang baru aja dia bilang sama aku, " Aban.
Sambil tertawa Azmi menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali, melihat tawa Azmi, Aban juga ikut tersenyum kecil memandang Azmi.
___
___
___
Hafsah tidak mengingkari janjinya, tepat setelah ba'da isya' ia datang pada cafe di mana Mufti bersama teman-temannya tampil. Setelah sekian jam, Band Mufti tampil, Mufti bersama teman-temannya beristirahat pada ruangan yang tersedia untuk mereka.
Pantas saja Hafsah yang sudah masuk dalam cafe tidak menemukan Mufti. Mata Hafsah terus mencari-cari dimana keberadaan Mufti. Setelah cukup lama mencari, Hafsah memilih untuk bertanya langsung kepada pelayan cafe.
" Iya, ada apa, mbak? " tanya pelayan itu.
" Band yang tampil disini kemana, ya? Apa udah pergi? " tanya Hafsah.
" Ooo, Band yang viral itu, ada kok mbak, diruangan mereka, tapi mbak siapanya, ya?" tanya pelayan itu.
Hafsah sempat bingung harus menjawab apa sehingga ia terpaksa berbohong agar bisa menemui Mufti.
" Saya, saya temannya mas, temannya Mufti," Hafsah.
" Mbak, temannya Mufti, ya udah kalau gitu saya anterin, ayo mbak, " ajak pelayan itu.
" Oke mas, " Hafsah.
Pelayan itu mengantarkan Hafsah sampai keruangan Mufti. Tidak lupa Hafsah mengucapkan terimakasih kepada pelayan yang sudah mau mengantarkannya.
Tanpa basa-basi, langkah Hafsah yang berjalan cepat menuju ruangan Mufti bersama teman-temannya. Dengan segera ia langsung membuka pintu ruangan yang sudah terbuka sedikit dengan mengucap nama Mufti penuh emosi.
" Mufti!" teriak Hafsah melihat Mufti yang sedang duduk santai.
__ADS_1
Melihat Hafsah terus mendekatinya membuat Mufti bingung dan bangun perlahan. Teman-teman Mufti juga tidak bisa melakukan apapun dan hanya menyaksikan apa yang ingin dilakukan Hafsah.
Mufti berdiri tepat di hadapan Hafsah yang sudah ada di hadapannya dengan tatapan tajam kepadanya.
" Hafsah, kamu...Lo ngapain disini? " tanya Mufti.
" Aku mau kamu balikin nama baik Syubbanul Muslimin. Kamu emang gak punya hati banget, ya. Kamu pakai cara yang rendah banget untuk buat kamu terkenal." Hafsah tegas.
Mufti malah memperlihatkan senyum liciknya.
" Oo, jadi lo kesini cuma mau nyuruh gue, balikin nama mereka, lo mau gue ngaku semuanya, iya! " sentak balik Mufti membuat Hafsah kaget tetapi ia harus bisa membuat Mufti sadar.
" Iya, aku akan melakukan apapun untuk mereka, karena mereka adalah anak-anak baik, yang mengajak semua masyarakat sholawat, " Hafsah.
Mufti semakin mendekati wajahnya kepada Hafsah yang membuat Hafsah memundurkan tubuhnya.
" Gak akan, gue gak akan ngaku ke semua orang kalau gue yang salah, bukan mereka! Karena ini yang gue ingin, gue ingin mereka hancur kaya gini! Gue senang melihat mereka menderita dan terus dihina sama semua orang! " Mufti.
Hafsah menelan ludahnya ia mencoba tidak rapuh dan kembali bangkit.
" Salah mereka apa? Kenapa kamu mau ngelakuin itu, hah? Justru kamu yang terus membuat mereka sengsara! Kamu harusnya malu, karena kamu terkenal cuma gara-gara orang kasihan sama kamu! " Hafsah.
Mendengar hal itu Mufti seketika terdiam seakan mulutnya sudah terkunci.
" Wah, gak benar lo, masa kita terkenal karena dikasihanin? " anggota Band 1.
" Iya, kita bukan pengemis, gak perlu di kasihanin! " anggota Band 2.
" Aku tau kalian bukan pengemis, tapi dengan cara kalian seperti itu, sama aja kalian ngemis, kalian minta belas kasihan semua orang seolah-olah tim Syubban yang salah! Kalian sama aja kaya pengemis sekaligus kaya pencuri! Karena kalian udah nyuri semuanya dari tim Syubban! Sadar! Yang kalian lakuin ini sama percis kaya pecundang! " Hafsah.
" Cukup! Gue gak mau dengerin lo! Lo itu bukan siapa-siapa gue! Gak usah jadi pahlawan tim rebana kampung itu! " sentak Mufti.
" Aku emang bukan siapa-siapa kamu, tapi aku wajib nasihatin kamu kalau apa yang kamu lakukan itu gak benar! " Hafsah.
" Gue minta lo pergi darisini! Pergi! " sentak Mufti kepada Hafsah meminta Hafsah segera pergi dengan tangannya yang menunjuk kearah pintu.
" Oke, aku akan pergi! Tapi kamu harus ingat kebusukan itu akan segera tercium, Muf! Mau aku yang kasih tau semua orang, atau kamu sendiri yang ngaku! Assalamualaikum," Hafsah ia pergi darisana mencoba tetap tegar dan berharap Mufti mau mendengarkan dirinya walau jelas terlihat kemarahan di wajah Mufti.
" Wa'alaikumsalam, " jawab malas semua anggota Band.
Mufti segera duduk dan memegangi dahinya dengan kedua tangannya ia memijat dahinya dan masih bingung harus berbuat apa.
Bersambung...
__ADS_1