Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 228 Azmi Pamit


__ADS_3

Mufti sudah mencoba untuk tidur tapi dirinya masih memikirkan tantang bukunya itu, Mufti memeluk bantal gulingnya erat mencoba untuk tidur. Ia memejamkan matanya bolak-balik kesana kemari untuk mencari posisi nyaman agar bisa tidur dengan nyenyak.


Tapi semua itu tidak ada hasilnya, Mufti tidak bisa tidur sampai ia tertidur terlentang membuka matanya dan menatap dinding langit-langit kamarnya.


Mufti mengusap wajahnya keras beberapa kali dan kembali menatap dinding langit-langit kamarnya.


" Aduh, kenapa gue gak bisa tidur, sih? Ayo Mufti, paling buku itu jatuh dimana gitu. Udahlah, ayo, tidur." Mufti ia terus mencoba memejamkan matanya, memeluk erat gulingnya dan mulai berusaha tidur.


Adzan subuh terdengar, mata Mufti masih terjaga dan matanya kini menjadi seperti mata panda yang hitam pada kantung matanya tidak hanya itu mata Mufti juga sampai merah karena tidurnya terus terbangun hingga adzan subuh terdengar.


Mufti yang masih memeluk gulingnya hanya bisa pasrah saat tahu kalau ini sudah subuh.


Mufti segera duduk mengambil handphonenya dan mengecek jam.


" Argh! Kenapa lagi gue sampai gak bisa tidur kaya gini? Mana ngantuk banget lagi. Tapi, udahlah. Lagian ini sudah subuh, gue ambil air wudhu aja." ucap Mufti ia mengusap wajahnya dan pergi menuju kamar mandi.


...***...


Setelah sholat subuh, Azmi yang sudah mandi wajahnya tampak begitu cerah dan berseri ia juga sudah siap dengan semua barangnya yang ia letakkan dikoper dan kardus.


Setelah semuanya siap dan Azmi sudah memastikan bahwa tidak ada yang akan ketinggalan Azmi duduk di kasurnya dan menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya.


Waktu memang berjalan begitu cepat dan tidak lama lagi Azmi harus meninggalkan keluarganya untuk kembali dan menuntut ilmu di pesantren tapi bagaimanapun juga Azmi harus berangkat dan menyiapkan mentalnya.


Naufal yang diperintahkan untuk memanggil Azmi segera melangkah ke kamar Azmi. Tepat didepan kamar Azmi Naufal berhenti dan mengetuk pintu kamar Masnya.


" Mas Azmi, dipanggil Ummi, Mas." ucap Naufal setelah mengetuk beberapa kali pintu kamar Azmi.


" Iya, Dek. Kamu buka aja pintunya gak dikunci, kok." Azmi.


Mendengar ucapan Masnya, Naufal segera membuka pintu dan menghampiri Masnya yang masih duduk dikasurnya sembari memasang pecinya.


" Udah siap, Mas? " tanya Naufal yang berdiri di samping Azmi.


Azmi mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Naufal, beranjak bangun dan melukis senyum manisnya kepada Adiknya itu.


" Sudahlah, ayo, bantu Mas bawa barang Mas." Azmi.


" Iya, Mas. " jawab Naufal sembari mengangguk ia mulai membantu Azmi membawa beberapa barang Azmi turun.


Sudah ada sopir travel yang merupakan teman Abah Azmi sendiri.


"Azmi, Abah sama Ummi gak bisa antar kamu sampai ke pondok. Bapak ini yang akan antar kamu. Abah sama Ummi minta maaf karena harusnya Abah dan Ummi bisa antar kamu." Abah.


" Azmi gak papa, kan, Nak? Nanti Ummi sama Abah kunjungi kamu besok saat kamu tampil saat itu baru kami bisa." Ummi.

__ADS_1


Azmi yang terdiam serius mendengarkan Abah dan Umminya seketika mengangguk dan tersenyum.


" Gak papa, Ummi. Azmi udah gede, Azmi gak papa kalau harus berangkat ke pondok sendirian." jawab Azmi dengan suara lirih tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum.


Ummi Azmi memeluk erat putranya dan mencium kening Azmi.


" Ummi tau kamu kuat. Ingat niat kamu dan berdoa sebelum berangkat." Ummi.


Azmi mengangguk dengan wajah datar dan kali ini hanya senyuman kecil dan itu juga hanya sekilas yang tampak pada wajahnya.


" Gimana, yang berangkat sudah siap? " tanya sopir yang sudah siap mengantar Azmi.


Ummi dan Abah sama-sama memandang ke arah Azmi yang menunduk dan melangkah mengambil kopernya.


Azmi melangkah menghampiri pak sopir.


" Sudah siap, Pak. " ucap Azmi.


" Oh, ini anak' sempean. Ganteng tenan'e. Iki seng viral iku, kan?" sopir.


" Alhamdulillah, iya, Pak. " jawab Abah.


Abah dan Ummi saling pandang hingga Abah melangkah mendekati, berdiri dibelakanh Azmi lalu memegangi kedua pundak Azmi. Sementara itu Ummi mengambil barang-barang Azmi yang ada dibantu oleh Naufal dan Rara.


Azmi mencium tangan Abah dan Umminya secara bergantian, Ummi kembali memeluk Azmi dan mencium kening Azmi lalu memberikan doa dan semangat untuk Azmi.


Giliran Rara dan Naufal yang mencium tangan Masnya.


" Mas yang semangat belajarnya," Naufal.


" Semangat Mas Azmi, banyakin makan juga biat gak kurus." tambah Naufal.


Azmi mendengar setelah mendengar ucapan semangat dari kedua Adiknya. Azmi mengusap pundak Naufal dan juga Rara sebelum ia menjawab ucapan kedua Adiknya itu.


" Iya, Mas pasti semangat. Kalian juga. Naufal jangan main ps tok," Azmi.


" Insya Allah Mas, " jawab Naufal.


" Ummi, Abah, Azmi berangnya dulu. Assalamualaikum," Azmi.


" Wa'alaikumussalam," jawab semuanya.


" Hati-hati bawa anak saya Mas," Abah.


" Iyo, pasti iku. Tenang aja, saya bawa Azmi dengan selamat sampai tujuan, " sopir.

__ADS_1


Abah tertawa kecil sembari mengangguk.


" Yo wes, jalan dulu. Assalamualaikum, " sopir sebelum menyalakan mesin mobilnya.


" Wa'alaikumussalam, " jawab semuanya.


Sopir mulai berangkat meninggalkan keluarga Azmi yang hanya bisa memandang mobil yang terus berjalan hingga keluar rumah Azmi.


Kini Azmi sudah berangkat kembali ke pesantren, semuanya terdiam dan masih tidak percaya.


Azmi memandang kaca mobil dan membukanya sedikit melihat jalan desanya yang sudah mulai terang dengan sinar matahari yang menyinari bumi.


Embun pagi juga masih terasa dingin di desa itu, tapi secara kebetulan Aisyah dan Fitri yang tengah berjalan melihat mobil yang membawa Azmi sampai melintas melewati mereka.


" Itu kaya Azmi, " Fitri.


Aisyah hanya terdiam walau ia memang melihat jelas wajah Azmi saat menatap keluar kaca mobil. Tapi Azmi seperti tidak melihat Aisyah dan Fitri dan kembali menutup kaca mobilnya.


" Dia mau kemana, ya? " tanya Fitri.


Aisyah kembali hanya terdiam menoleh ke arah Fitri.


" Syah, apa jangan-jangan Azmi mau balik ke pondok, ya? " tanya Fitri dengan nada yang begitu antusias.


" Masa, sih? Tapi balik ke pondok masih 3 hari lagi, kan? " jawab Aisyah.


" Oh, iya, ya. Terus Azmi mau kemana itu? Kayanya dia cuma sendiri gak sama keluarganya." Fitri.


" Gak tau, Fit. Mungkin Azmi cuma mau jalan aja. Udahlah, kamu gak usah ribet mikirin itu.


Sangat secara kebetulan, Zakir dan Dimas yang berjalan bersama hendak menuju ke rumah Azmi di pagi ini tidak sengaja melihat Aisyah dan Fitri yang terlihat tengah berbincang di pinggir jalan.


" Eh, Kak. Kayanya aku kenal deh, sama cewek itu. Mungkin dia tau rumah Azmi." Zakir.


Dimas melihat Aisyah dan Fitri yang ditunjuk Zakir.


" Iya, iya. Itu cewek yang pernah kamu fitnah waktu dia bicara sama Azmi. Ayo, coba kita tanya," Dimas.


Zakir mengangguk dan segera menghampiri Aisyah dan Fitri.


" Assalamualaikum, " Dimas dan Zakir.


" Wa'alaikumussalam, " jawab Aisyah dan Fitri yang seketika menoleh ke arah Zakir dan Dimas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2