Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 68. Api Cemburu.


__ADS_3

Azmi, Aban dan Rifki sedang asyik berbincang setelah menyelesaikan makan mereka.


" Wishhh, hebat kalian dipilih buat wakilin pesantren kita, semangat buat kalian." Rifki dengan sangat gembira memberi semangat pada Azmi dan Aban yang tersenyum memandang Rifki.


" Iya Ki,makasih ya, " Azmi.


" Makasih Ki, doain kita ya Ki," Aban.


" Sama-sama, pasti aku doain supaya kalian menang. " Rifki.


" Aamiin. " Azmi dan Aban.


" Oh ya Ki, keadaan mas Akmal gimana?. " Azmi yang teringat dengan Akmal.


" Kemarin dia batuk keras terus ustadz Abdullah datang buat kasih obat. " Rifki.


" Kasihan mas Akmal, " Aban.


" Tapi, dia belum tau kan penyakit yang ada dalam tubuhnya. " Azmi.


" Menurut aku sih, mas Akmal belum tau deh, soalnya dia masih biasa gitu. " Rifki.


" Ya Allah, semoga mas Akmal bisa sembuh dari penyakitnya. " Azmi.


" Aamiin. " Aban dan Rifki.


Azmi mulai mengambil minumnya dan minum tiba-tiba datang Dimas, Zakir, Helmi dan Sihin yang duduk tepat di belakang meja makan Azmi. Dimas dengan raut wajah yang menunjukkan kebencian plus kemarahan memandang Azmi tajam.


Rifki yang mengetahui hal itu ingin memberi tau Azmi.


" Mi, " bisik Rifki.


" Hmmm," jawab Azmi sembari masih meneguk minumnya.


Rifki menunggu Azmi menyelesaikan minumnya.


" Kenapa Ki?, " Azmi yang sudah selesai minum dan membuang botol minumnya.


" Coba deh, kamu lihat ke belakang kayaknya kakaknya Zakir itu ngelihatin kamu terus ." Rifki.


Azmi mulai menoleh ke belakang dan benar saja Dimas masih memandang Azmi. Melihat itu Azmi coba tenang dan tersenyum kepada Dimas.


" Kenapa mas?,kok lihatin aku sampai kayak gitu?." Azmi.


Mendengar ucapan Azmi, Dimas memalingkan wajahnya.


" Mas Dimas, mas gak boleh diam aja.Ini kesempatan mas, buat Azmi malu, ayo mas. " bisik Zakir kepada Dimas.


Dimas tersenyum licik karena sudah memikirkan sesuatu untuk mempermalukan Azmi dihadapan banyaknya santri yang sedang makan di kantin.


" Kamu benar Kir, aku harus buat Azmi tau rasa kalau berani ngerebut gelar santri teladan itu, dia sama sekali gak pantas. " Dimas.


Dimas melangkah maju dan menghampiri Azmi yang sedang tertawa karena kelucuan Rifki.

__ADS_1


Melihat kedatangan Dimas, Rifki menghentikan tawanya dan melukiskan wajah ketakutan berusaha memberi tau Azmi dan Aban dengan menggunakan kode lewat matanya.


" Apaan sih Ki?, pakek kode mata segala. " Azmi yang tidak mengerti dengan kode mata Rifki.


" Kenapa Ki?, " Aban.


Karena tidak cepat mengetahui, Dimas menarik kerah baju Azmi dari belakang hingga Azmi berdiri di hadapan Dimas.Zakir ,Helmi, dan Sihin mulai berdiri melihat kejadian itu.


" Astagfirullah, mas Dimas ngagetin aja, ada apa mas?. " Azmi yang mencoba tenang dan menahan emosinya.


" Hai semuanya, lihat kalian tau kan ini siapa?, " Dimas.


Semua santri yang sedang menikmati makanan mereka mulai tertuju pada Azmi yang hanya tertunduk .


" Itu kan anak Syubban, " santri 1.


" Iya,dia itu udah jadi vocal Syubban. " santri 2.


"Dia ini orang yang sok lugu, " Dimas sangat kesal dan memandang Azmi sembari terus memengangi kerah baju Azmi. Azmi malah terlihat tenang dan tidak marah sedikitpun.


" Mas Dimas, lepasin Azmi mas," ucap Aban yang tidak tega melihat Azmi di perhatikan oleh banyak santri.


" Lihat ada sahabatnya yang belain,heh.Siapa namamu?, dengar ya, kamu itu udah salah menilai Azmi,aku akan ngasih tau ke kalian kalau orang kayak dia cuman pengen menangin hati semua ustadz . " Dimas.


Aban ingin maju dan melepaskan Azmi tapi berhasil dihentikan oleh Azmi yang menghalang langkah Aban dengan tangannya.Aban memandang Azmi yang hanya memberi anggukan pelan sembari tersenyum.


" Mi, Azmi, sholawatan dong, pakek cengkok mu itu, " salah satu santri.


" Dimas ,udahlah kamu itu cuman kebawa api cemburu sama Azmi. " Farist datang menenangkan Dimas.


" Apaan sih kalian?,kok malah bela Azmi. " Dimas kesal.


" Emang mas Dimas mau ngapain Azmi sih?, disini gak ada yang ngebela mas Dimas,semua ngedukung Azmi, iya kan semua. " Rifki.


" Iya benar. " jawab para santri yang ada dikantin.


Mendengar hal itu Dimas merasa semakin iri pada Azmi dan semakin membenci sosok Azmi yang tidak melakukan kejahatan apapun padanya.


" Kalian semua harus dengerin aku, Azmi ini gak punya bakat apapun,dia cuman menang ganteng aja, paling suaranya pas-pasan. " Dimas.


" Dimas, kamu itu belum tau suara Azmi ,makanya sekarang kasih dia nunjukin . " Farist.


" Udahlah, aku gak mau dengerin suara dia, gak penting.Kalian lihat aja,aku akan buktiin sifat Azmi yang sebenarnya ." Dimas ,ia pergi begitu saja.


Zakir yang melihat Dimas pergi juga mengikutinya sebelum Zakir melangkah ia beridiri tepat dihadapan Azmi hanya memberi raut wajah kebencian tanpa berbicara apapun.


" Ada apa Kir?. " ucap Azmi santai.


Zakir hanya diam dan mengajak Helmi dan Sihin pergi.


" Ayo Hel, Hin, kita pergi. " Zakir, ia pergi bersama kedua temannya menyusul Dimas yang sudah jauh melangkah.


" Mi, kamu kenapa sih tadi diam aja?, biasanya kamu langsung emosi. " Aban.

__ADS_1


" Kamu tenang aja Ban, aku gak papa kok, aku tau mas Dimas kayak gitu karena sudah dipanas-panasin sama Zakir.Lagian semua dukung aku kok. " ucap Azmi dengan suara lembutnya menjelaskan kepada Aban menaruh tangan dipundak Aban.


Aban tersenyum dan mengangguk.


Farist yang masih ada di sana tersenyum mendengar ucapan Azmi dan mendekati Azmi.


" Hebat kamu Mi, bisa nahan emosi. " Farist.


" Biasa kok mas. " Azmi menoleh ke arah Farist.


" Oh ya kenalin, Farits ,aku anak ustadz Fathur, mungkin kamu belum kenal aku. " ucap Farist memberi jabatan tangannya.


" Azmi mas, iya saya sudah kenal kok nama mas dari mas Ahkam. " Azmi.


" Azmi, katanya mau sholawatan. " santri 1.


" Iya Mi, ayo, entar keburu bel masuk. " santri 2.


" Tapi.... " Azmi.


" Udah Mi, sholawatan aja. " Farist.


" Sama Aban juga lah, " salah satu santri.


" Ya sudah, saya mau. " Azmi .


" Ini Mi, mikrofonnya, aku ambil dari kantor," Rifki.


" Iki ',kamu baik banget deh, " gombal Azmi.


" Ayo akhi, mulai. " salah satu santri.


Akhirnya Azmi mau melantunkan sholawat " Ya Rasullah, Ya habiballah" di depan banyak orang bersama Aban walau hanya sholawat di depan kantin semua terlihat sangat menikmati suara indah Azmi dan Aban.


Azmi juga senang bisa mengenal mas Farist yang merupakan putra dari ustadz Fathur walau hanya menonton, Farist terus mendukung Azmi dan Aban.


Di sisi lain......


Zakir dan kedua temannya akhirnya menemukan Dimas yang sedang duduk di sebuah bangku dengan ekspresi marah. Zakir segera menghampiri Dimas.


" Gawat mas, semua santri lagi dengerin suara Azmi dan Aban yang pas-pasan itu. " Zakir.


Dimas hanya terdiam.


" Ini gak bisa dibiarin, kita harus bikin rencana baru. " Helmi.


Sementara Sihin hanya terdiam dan malas ikut-ikutan.


" Lombanya 2 hari lagi, kita harus bikin Azmi di tertawain di panggung nanti." Zakir.


" Kalian tenang aja, aku udah punya rencana buat ngejebak Azmi supaya dia gak bisa ikut lomba itu dan dia bakal di marahin sama semua ustadz. " Dimas berdiri dan sudah menemukan rencana jahat untuk Azmi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2